Puncak Latihan PPRC di Natuna, Meriam Giant Bow Tak Dioperasikan

19
7
Dok. Meriam 23 mm / Giant Bow (istimewa)

Walau sempat diwarnai insiden pada hari Rabu lalu, TNI tetap menggelar puncak latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) tahun 2017 di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (19/5).

“Tujuannya latihan PPRC, pasukan Kostrad melakukan tindakan terhadap pasukan separatis bersenjata. Di wilayah Kepri ini, dibantu oleh negara tertentu, sehingga gerakan separatis ini ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia,” ujar Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Edy Rachmayadi, seperti dikutip viva.co.id pada Jumat (19/5).

Namun, seluruh meriam Giant Bow tidak dioperasikan pada puncak pelatihan PPRC yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo ini.

“Itu sudah protap. Kalau ada masalah satu potong, itu kita hentikan,” ujar Letjen Edy Rachmayadi yang juga bertugas sebagai Direktur latihan PPRC, di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, pada Jumat (19/5).

Insiden Latihan PPRC TNI di Natuna

Prajurit TNI mengusung peti jenazah Kapten TNI Armada Pertahanan Udara (ARH) Heru Bayu saat upacara pemakaman di Makam Pahlawan Lolong, Padang, Sumatra Barat, Kamis (18/5/2017). (ANTARA /Muhammad Arif Pribadi)

Empat prajurit terbaik TNI Angkatan Darat gugur dalam insiden kecelakaan latihan di Natuna, Rabu (17/5). Insiden tersebut terjadi dalam latihan pendahuluan PPRC TNI yang dilaksanakan pukul 11.21 WIB.

Salah satu pucuk Meriam Giant Bow dari Batalyon Arhanud 1/K yang sedang melakukan penembakan mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi, sehingga tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan 4 orang meninggal dunia dan 8 prajurit lainya mengalami luka-luka karena terkena tembakan.

Keempat personel yang meninggal adalah Danrai Kapten Arh Heru Bayu, Pratu Ibnu Hidayat, Pratu Marwan, dan Praka Edy. Sementara prajurit luka-luka adalah Pratu Bayu Agung, Serda Alpredo Siahaan, Prada Danar, Sertu B Stuaji, Serda Afril, Sertu Blego Switage, Pratu Ridai, dan Pratu Didi Hardianto.

Saat ini, TNI sedang melakukan investigasi mendalam tentang kejadian tersebut.

Sumber: viva.co.id dan Antara

19 COMMENTS

  1. Jangan Beli Senjata Dari China….Apapun Yang Namanya Barang Dari China…Mulai Dari Hp , Motor dan lain lain…Bahkan Rudal C 705 semuanya Barang Rongsokan…Ini lagi Indosat ikut ikutan Beli Satelit dari China…..Hadeeeuhh…Mentang mentang Pemerintahan sekarang Deket dengan China….Apapun dibeli dari China

  2. Negara lain termasuk negara asean sudah berlomba memakai rudal jarak menengah dan jauh….indonesia masih berkutat pakai meriam saja melulu, paling kena hanya helikopter….buatan cina lagi..hadeuh…

  3. Masalahnya Indonesia belum bisa buat.
    Kita itu susah, mau mandiri, teknologi belum ada.
    Mau ToT tapi beli ketengan….
    Mau riset sendiri seperti katanya Cyntia , enggak ada uang
    Kita butuh UANG…..

  4. Aneh… Yg buat saja untuk giant bow aja hanya untuk nampang di parade militer.. Klo operasional baru pake bikinan Rusia… Perlu diusut tuh pembelian Giant Bow, yang pakai Kostrad lagi… Paskhas aja pake Orlikon

LEAVE A REPLY