Aug 132019
 

Jakarta   –   Jakatagreater.com ,  Dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jenis Landing Ship Tank (LST) di bawah pembinaan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) akan dilepas dari jajaran Alusista (alat utama sistem senjata) TNI AL. Dua kapal perang tersebut adalah KRI Teluk Ratai 509 dan KRI Teluk Bone 511.

Berakhirnya masa penugasan dua KRI tersebut, ditandai dengan Upacara Penurunan Ular-ular Perang yang rencananya akan dilaksanakan pada medio Agustus 2019 di salah satu dermaga di Komando Armada RI II, Surabaya.

Sekilas KRI Teluk Ratai, sebelum diresmikan sebagai Kapal Perang Republik Indonesia, kapal ini milik Amerika Serikat bernama INAGUA SHIPPER-678. Kapal ini dibuat di Galangan Chicago Bridge dan Iron Co. USA pada tanggal 30 Juni 1944.

Pada 31 Maret 1960 kapal ini resmi diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan masuk dalam jajaran TNI AL pada tahun 1967 sebagai unsur Satuan Kapal Amfibi Koarmatim dengan nama KRI Teluk Ratai-509 dan mulai tanggal 1 April 1990 dialihbinakan ke Kolinlamil untuk memperkuat jajaran Satlinlamil Surabaya, dengan nomor lambung 509.

Sedangkan KRI Teluk Bone-511 merupakan kapal ex USS Iredell Country (LST 839) yang dibangun oleh American Bridge Company, Ambridge, Pennsylvania. Kapal ini diluncurkan pada tanggal 12 November 1944 di New Orleans, Louisiana dengan komandan pertama Lieutenant Waldo F McNeir.

LST 839 digunakan oleh Amerika Serikat selama Perang Dunia II (1945-1946) dan perang Vietnam (1966 – 1970). Pada tanggal 15 Juli 1970 USS Iredell Country diganti namanya menjadi KRI Teluk Bone-511 di San Diego, California, USA dan diserahkan kepada TNI AL tanggal 12 Desember 1970 untuk memperkuat jajaran Satfibarmatim. Selanjutnya mulai tanggal 01 Januari 1990 dialihbinakan ke Kolinlamil untuk memperkuat Satlinlamil Surabaya hingga sekarang.

Selama setengah abad lebih, 2 kapal perang itu banyak dilibatkan dalam operasi militer, antara lain Operasi Dwikora, Operasi Seroja Timor-Timur, Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya, TNI/ABRI Masuk Desa, Angkutan Laut Militer (Anglamil) pasukan penjaga wilayah perbatasan RI, dan operasi penanggulangan bencana alam tsunami di Aceh serta bantuan angkutan laut dalam mendukung pembangunan nasional.

Kapal sepanjang 100 meter dan lebar 15,5 meter itu mampu mengangkut 20 tank dan 200 pasukan, serta dipersenjatai meriam 40 mm dan 37 mm anti-serangan udara dan senapan mesin 12.7 mm. Dan untuk memudahkan pendaratan pasukan beserta persenjataannya, kapal ini memiliki rampa depan dengan kemampuan mendarat langsung di pantai/Beaching.

Panglima Kolinlamil Laksda TNI Heru Kusmanto, S.E., M.M mengatakan 59 tahun lalu (KRI Teluk Ratai-509) dan 49 tahun lalu (KRI Teluk Bone-511), Upacara Penaikan Ular-ular Perang bagi kedua KRI merupakan tanda dimulainya pengabdian sebagai kapal perang dan selalu berkibar di tiang gapel, maka Upacara Penurunan Ular-ular Perang nanti merupakan upacara resmi yang menandakan berakhirnya perjalanan sejarah pengabdian sebuah KRI sebagai unsur kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.

Lebih lanjut dikatakan bahwa beban tugas yang dipercayakan pada kedua KRI begitu banyak, dan berhasil dengan baik. Oleh karena itu pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia melalui Kolinlamil yang cukup lama tersebut patut kita kenang dan kita banggakan.(tnial.mil.id)

  8 Responses to “Purna Tugas KRI Teluk Ratai 509 dan KRI Teluk Bone 511”

  1.  

    Antik ..
    Perlu segera dirombeng Atau ditembak dengan missile untuk uji coba…

  2.  

    baiknya dijadikan platform test …
    dek atas diperkuat buat parkiran Leopard, MLRS, Meriam 155mm, terus uji coba tembakan ke pantai, dari lantai bawah pasang jembatan ke dek atas

  3.  

    Setubuh dengan komen atas. Lebih baik dijadikan bed test unt pengujian2 teknologi alutsista TNI.

  4.  

    Indonesia beruntung punya kapal yg pernah bertempur di Normandia dan Pasifik. Hanya ada sedikit dari LST ini yg masih tersisa di dunia. Harusnya itu dijadikan museum kapal terapung di Priok atau Tanjung Perak. Dijadiin kayak USS Missouri atau KRI Pasopati di Gubeng, apalagi jasa kedua LST udah sangat berjasa besar dari Dwikora, Trikora, Seroja, hingga saat terjadi pemberontakan GAM di Aceh. Terlalu sayang kalo cuman dijadikan sasaran tembak. Kecuali kalo yg komen orang yg gak paham sejarah maritim Indonesia yg sangat kaya dan bernilai.

  5.  

    kapal yang sangat lemot …… teluk ratai , aki-aki sdh layak rehat

  6.  

    Dah tua waktunya pensiun

  7.  

    salam kenal dengan warga jakarta greater, tahun lalu 5 oktober 2018 saya dapat sms ultah HUT TNI, rasanya bangga bukan main, mungkin karena pernah komen di blog ini, KRI Teluk Bone 511, waktu itu Raimuna Nasional 1997, saya ingat ketika kami berangkat dari tanjung priok juli 1997 naik kapal ini, turun dengan jaring tangga mirip marinir, tetapi kami tidak boleh masuk ke ruangan bridge kapal, sekalian mau tanya pada para sesepuh apakah radar dan komunikasi KRI Teluk Bone sebelumnya sudah diupgrade sampai saat masuk masa pensiunnya ? terima kasih TNI AL, terima kasih Jakarta Greater

  8.  

    buat tempur mungkin sudah dianggap tua tapi kalau buat angkut sembako/hasil bumi antar pulau di daerah2 kepulauan yang sering kesulitan/kekurangan armada kapal angkut/penyeberangan, kapal ini masih kuat hadapi ombak laut sampai sea state level 5 dan masih sangat berguna….untuk target tembak dilaut gunakan saja plembungan gambot statis kampul-kampul supaya gampang perkenaannya….