Jun 212017
 

Turki telah mengirim pasukan ke Qatar (APACHE @apachekiowa)

Doha/Paris – Qatar tidak akan bernegosiasi dengan negara-negara tetangga untuk menyelesaikan masalah diplomatik di kawasan Teluk jika mereka tidak terlebih dahulu mencabut boikot perdagangan dan perjalanan yang mereka terapkan dua pekan lalu, kata menteri luar negeri Qatar, 20/6/2017.

Uni Emirat Arab, yang bersama-sama dengan Arab Saudi, Mesir dan Bahrain mengambil langkah-langkah yang mengucilkan Qatar, mengatakan sanksi terhadap negara itu bisa berlangsung selama bertahun-tahun, kecuali jika Doha mengabulkan tuntutan negara-negara kuat Arab.

Tuntutan direncanakan akan diungkapkan dalam beberapa hari mendatang.

Qatar membantah tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh para negara tetangganya bahwa pihaknya mendanai terorisme, memicu ketidakstabilan kawasan atau membangun hubungan yang nyaman dengan musuh mereka, Iran.

Perselisihan itu telah menimbulkan keretakan di antara beberapa negara sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mendukung langkah-langkah tegas terhadap Qatar, bahkan ketika Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS selalu berupaya untuk bersikap netral.

Pasukan Bersenjata Turki telah tiba di Qatar. © Qatar Agency News

Pada Senin, Qatar menggelar latihan perang bersama pasukan Turki, untuk menunjukkan bahwa negara itu masih memiliki negara-negara sekutu setelah dua pekan dikucilkan untuk pertama kalinya.

Qatar tidak akan bernegosiasi dengan negara-negara tetangganya sejauh mereka masih menerapkan “blokade”, kata Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani.

“Mereka harus terlebih dahulu mencabut blokade jika ingin bernegosiasi,” tegasnya di depan para wartawan.

“Sampai sekarang, kita tidak melihat ada kemajuan soal pencabutan blokade, yang merupakan syarat untuk melangkah maju (menuju perundingan, red).” Negara-negara yang telah menjatuhkan sanksi membantah bahwa mereka berniat melakukan blokade.

Qatar mendapatkan dukungan dari Turki selama masa perselisihan.

Saluran televisi berita yang didanai pemerintah, Al Jazeera, memperlihatkan satu baris pesawat antipeluru pengangkut personel berbendera Turki berada di pangkalan militer Tari bin Ziyad di Doha.

Al Jazeera melaporkan bahwa pasukan tambahan Turki telah tiba di Qatar pada Minggu untuk melakukan latihan perang. Namun, sejumlah sumber militer di kawasan mengatakan kepada Reuters bahwa operasi itu sebenarnya melibatkan pasukan Turki yang memang sudah ada, bukan pasukan tambahan.

Antara/Reuters

  3 Responses to “Qatar Tolak Negosiasi Jika Boikot Tidak Dicabut”

  1. Suasana di timur tengah jd tmbh gak karuan :games

  2. Inilah urut-urutan “pecah belah timur tengah :
    1. Sunni – Syah harus semakin diperuncing perbedaannya. Sunni-Syah harus dikondisikan agar Salah satu harus hilang dari muka bumi dan klaim satu yang paling benar
    2. Sunni – Sunni harus dipecah lagi, dimulai dengan fraksi Al Qaeda menjadi sempalan-sempalan kecil. Kemudian Kerajaan / negara Sunni harus dipecah menjadi fraksi-fraksi negara moderat vs otokrasi
    3. Kerajaan Monarki Sunni – Demokratis Sunni, harus dipecah dengan sikap saling curiga pada partai lintas negara dengan monarki
    4. Syah – Dunia Islam, pengucilan Iran/Syah dengan membentuk Aliansi Militer Negara Islam (yang naif)

  3. Pada terbujuk rayuan Zionis…. Perang aj dah biar cpet kelar…

 Leave a Reply