Jul 212018
 

Jet tempur Eurofighter Typhoon Arab Saudi. © Gordon Zammit via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Upaya Qatar untuk meningkatkan utang guna membeli jet tempur canggih dari Inggris telah memaksa penundaan dalam kesepakatan hingga akhir tahun ini, seperti dilansir dari laman The National.

Emir Qatar akan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk makan siang pada hari Selasa dan mengadakan pertemuan dengan menteri Inggris lainnya pada siang hari. Pesanan terhadap jet tempur buatan Inggris adalah jantung dari hubungan Inggris dengan Qatar. Keputusan Doha untuk mengumpulkan anggaran dari pasar modal untuk pembelian tersebut tampaknya telah mengejutkan orang-orang yang dekat dengan kesepakatan itu.

Desember lalu, Qatar menyetujui kesepakatan senilai $ 6,7 miliar dengan raksasa industri pertahanan BAE Systems untuk 24 unit jet tempur Typhoon dan pembayaran pertama diharapkan akan dilakukan saat ini. Namun, sumber yang dekat dengan kesepakatan itu menegaskan bahwa Qatar sedang mencari pinjaman sebesar $ 4 miliar untuk memenuhi kewajibannya yang menunda pembayaran dan membuat perjanjian itu menjadi tak pasti.

“Awalnya pembayaran diharapkan saat ini, tetapi (sekarang telah didorong) kembali ke kuartal ketiga pada catatan keuangan, mungkin akhir Agustus, sehingga kesepakatan itu bisa dilalui”, sebut sumber anonim. “Kami tidak tahu mengapa mereka perlu melakukan ini (mencari pinjaman), itu adalah proses internal mereka yang tak kami perjuangkan, tetapi kami masih yakin pembayaran akan dilakukan dan berharap kesepakatan akan dilalui”.

Pembiayaan akan didukung oleh lembaga kredit ekspor. Desember lalu, BAE mengatakan kesepakatan tersebut tunduk pada “kondisi keuangan dan penerimaan oleh perusahaan pembayaran pertama, yang diharapkan akan dipenuhi paling lambat pertengahan 2018”.

Pemerintah Inggris mengatakan diskusi itu adalah masalah negosiasi komersial antara BAE Systems dan Doha. “Typhoon akan meningkatkan misi Qatar untuk bisa mengatasi tantangan yang sama-sama kami alami di Timur Tengah”, kata seorang juru bicara. “Ini adalah masalah komersial yang sedang berlangsung antara BAE Systems dan pemerintah Qatar, yang terus mengembangkan kesepakatan yang akan mendukung ribuan pekerjaan dan menyuntikkan miliaran dollar ke dalam perekonomian kita”.

Mengingat kekayaan bersejarah Qatar, tak disangka akan diperlukan pinjaman keuangan untuk membiayai angsuran pertama. Sejak boikot diplomatik yang diberlakukan di Qatar oleh Kuartet Arab, termasuk Arab Saudi dan UEA, tahun lalu, Doha telah terlibat dalam serangkaian langkah penerbitan utang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada bulan Juni tahun lalu, boikot sejumlah negara memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduh negara itu mendukung terorisme dan berpihak kepada Iran. Kebuntuan berdampak pada ekonomi negara, pergeseran perdagangan dan mengarah ke pembatasan anggaran di Doha.

Bank Dunia mengatakan pada bulan April bahwa ekonomi Qatar telah stagnan setelah pengumuman itu. “Pertumbuhan PDB Qatar diperkirakan tetap stagnan pada 2,2 persen tahun 2017, sebagian mencerminkan efek dari keretakan yang jini sedang berlangsung dengan tetangganya”, katanya.

Sementara para pejabat Inggris bersikeras bahwa mereka mengharapkan kesepakatan jet tempur untuk dilalui, itu tetap melemparkan awan hitam diatas kesepakatan yang dipuji oleh para menteri Inggris sebagai pengamanan penting pekerjaan Inggris di tengah waktu yang tidak menentu ketika Brexit membayangi.