Okt 072019
 

Semarang, Jakartagreater.com  – Pada upacara peringatan HUT Ke-74, selain persenjataan lainnya, Arhanud TNI AD menampilkan Shikra, Radar yang mempu mendeteksi sasaran udara sejauh 250 km. Hal ini disampaikan Komandan Batalyon (Danyon) Arhanud 15/DBY Letkol Arh Muhammad Ufiz, Sabtu 5-10-2019 di Semarang, Jawa Tengah.

Diterangkan Muhammad Ufiz, keterlibatan satuan yang dipimpinnya pada peringatan HUT Ke-74 TNI tahun 2019, yaitu keikutsertaannya pada pergelaran parade alutsista yang dimiliki Yon Arhanud 15/DBY saat ini.

“Dari segi Alutsista, satuan mengikutsertakan satu unit Radar CM 200 (Shikra), 3 unit Rudal Multi Mission System (MMS) serta, 3 unit Rudal Lightweight Multiple Laincer (LML),’’ ujarnya. “Sementara itu untuk Rudal, masing-masing diawaki oleh 3 orang, radar Startrek diawaki oleh 2 orang, serta pendukungnya 15 personel, sehingga total seluruhnya 23 orang,’’ terangnya.

Menurutnya, sebagai satuan yang memiliki tugas 4 fungsi, meliputi pencarian dan penemuan (detection), pengenalan (identification), penjejakan (tracking) dan penghancuran (destruction), sangatlah tepat Yon Arhanud 15/DBY sebagai bagian dari parade Alutsista yang dimiliki TNI AD.

“Masyarakat Indonesia, mungkin belum banyak yang mengetahui, bahwa saat ini Arhanud TNI AD telah dilengkapi berbagai Alutsista modern, salah satunya Radar Shikra, yang dapat mendeteksi ke sasaran udara sampai 250 km, dengan dilengkapi perangkat Electronic Counter-Countermeasures (ECCM), menjadikannya aman dari serangan Pernika, serta memiliki kemampuan mendeteksi 200 sasaran secara bersamaan,’’ ucapnya.

Lanjutnya, sementara itu 2 jenis Rudal LML dan MMS, dimana keduanya mampu mengatasi ancaman udara, baik pesawat udara maupun sasaran lainnya seperti UAV(Unmanned Aerial Vehicle).

“Dengan berat yang ideal dan sifatnya portable, menjadikan Rudal LML dapat digelar diberbagai bentuk medan, dan dengan waktu kurang 2 menit, Rudal ini siap digunakan untuk tempur. Selain itu juga, dengan mencari pemancar gelombang elektromagnetik sebagai sasaran, menjadikan rudal ini sulit untuk dideteksi lawan,’’ jelasnya.

“Jarak tembak efektif pada misil ini sekitar 7,2 km, dengan kecepatan 3,5 Mach setara dengan kecepatan 4.321,8/jam, dengan ketinggian 4,6 km, serta dapat juga digunakan pada misil darat-udara atau darat-darat,’’ tutur Alumni Akmil 2001 ini.

Berbeda dari Rudal MMS, dimana Rudal ini ditempatkan menjadi satu pada kendaraan, menjadikannya memiliki mobilitas yang tinggi, serta memiliki multi missile turret yang memungkinkan penggunaan misil untuk melakukan penyerangan terhadap berbagai bentuk sasaran udara dengan waktu yang reaksi cepat.

“Karena dilengkapi Infra Red Camera, Rudal ini pun sulit dilacak atau dihancurkan oleh Rudal pencari emisi gelombang elektromagnetik. Jarak deteksi sasaran secara pasif dengan menggunakan Thermal Infrared sampai dengan 15 km,’’ urainya.

“Dengan kecepatan 3,5 Mach (4321,8 km/jam), ketinggian 5 km, jarak tembak 7,2 km, dan waktu reaksi dalam penyerangan kurang dari 5 detik kepada sasaran, menjadikan Rudal ini memiliki Kill Probability mencapai 95% yang artinya 1 shot 1 Kill Aircraft,’’ tambahnya.

Dirinya berharap, dengan keterlibatan Alutsista yang dimiliki Yon Arhanud 15 menjadikan masyarakat mengenali berbagai jenis Alutsista satuan Arhanud TNI AD.

“Ini juga sebagai ajang Show of Force kepada dunia Internasional bahwa Militer Indonesia juga memiliki kesenjataan pertahanan udara yang canggih, yang setara dengan negara-negara maju lainnya seperti Inggris dan Perancis,’’ pungkasnya. (tniad.mil.id).

Bagikan:

  17 Responses to “Radar Arhanud TNI AD Dapat Deteksi Sasaran Sejauh 250 Km”

  1.  

    Punya Ground Master 200 Shikra, punya startreak, punya Skyshield, punya NASAMS. Tinggal dijadikan satu batalyon dan diperbanyak hingga 3 Divisi. Itu dah lebih dari cukup untuk mengkover hampir seluruh wilayah Indonesia. Kalo ditambah dg satrad yg ada jelas seluruh wilayah Indonesia hingga ZEE bisa terpantau.

    Kalo sudah gitu Indonesia bisa menerapkan ADIZ di Natuna dg catatan FIR udah diambil alih.

  2.  

    Wuuuik….edan tenan….cuman ancaman terbesar sekarang adalah ada di LCS dan wilayah pasifik. Pikiren sendiri…idealnya gimana….wkwkwkwkwk

  3.  

    Senjata pertahanan udara yg dimliki tni pd dasarnya senjata hanud jarak pendek/shorad contohnya startreak,mistral,grom,skyshield yg bisa dibilang cukup utk melindungi pasukan dr serangan heli ataupun pesawat yg terbang rendah sementara nassam yg memiliki jangkauan lbh tinggi akan ditempatkan dilokasi strategis .

  4.  

    Kebanyakan senjata arhanud yg dimiliki tni jenisnya SHORAD atau pertahanan udara jarak pendek seperti mistral, starstreak ,skyshield, dll yg cukup utk melindungi diri dr serangan heli ataupun pesawat yg terbang rendah sementara nassam yg memiliki jangkauan lbh tinggi mungkin hanya akan ditempat kan diobjek vital.

  5.  

    moto kita itu kita tdk akan menyerang negara lain.
    lawong sedari dulu itu kita yg di serang.tp embg petinggi kita pd ayem tentrem kog.knp kita yg sibuk mikirin petrrahanan

    •  

      Saatnya main setnya di rubah, Pertahanan iya dan counter attack juga iya. Di Zaman sekarang ini, negara2 besar seperti China, AS, Rusia dan beberapa negara NATO , pada dasarnya mereka mengutamakan serangan udara berupa rudal habis2an ke wilayah musuh, baru serangan darat masuk. Beda dengan dulu saat PD2, hanya mengandalkan serangan udara dengan di dukung pasukan darat. Wilayah Indonesia di kelilingi lautan, musuh datangnya dulu lewat laut, tapi sekarang, musuh bisa menembakan rudal dari laut dan pulau terdekat. Jadi Pertahanan lautlah senjata utama untuk memukul musuh di lautan. Mestinya KRI lah yg di perbanyak dan di persenjatai rudal.

  6.  

    Wow dapat mendeteksi sasaran sampai 250 km, tapi terus nembaknya pakai apa pak? kita cuman punya Rudal2 shorad, NASAMS masih kosong, dikit lagi belinya