JakartaGreater.com - Forum Militer
Oct 152014
 
RAFALE
RAFALE
SU-35
SU-35

 COMPARISON

 Overall Table :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Rate of Climb max. 300 m/s – 60k ft/min max. 280 m/s – 55k ft/min
Thrust/Weight 1.13 1.10
Service Ceiling 17 km – 55k ft 18 km – 59k ft
Speed 2.00 Mach 2.25 Mach
Fuel Economy 0.27 km/l – 0.63 NM/gallon 0.19 km/l – 0.44 NM/gallon

 

BVR Armament Comparison :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
BVR AAM missile MBDA Meteor Vympel R-77M
Nation NATO RUSSIA
Range (mile) 62 99
Range (km) 100 160
Speed (mph) 2640 2970
Speed (km/h) 4248 4779
Speed (Mach) 4 4,5
Weight (lb) 407 497
Weight (kg) 185 226

 

Dogfight (armament: only cannon) :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Cannon GIAT 30M/719B GSh-30-1
Caliber (mm) 30 mm 30 mm
Rate of Fire (rpm) 2500 rpm 1800 rpm
Muzzle Velocity (m/s) 1025 m/s 850 m/s
Maneuverability (x/10) 9,5 8,4
Thrust/Weight Ratio 1,13 1,10
Total Points 65 33
Probability of winning 66% 34%

 

General Data Table :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Length 15.27 m – 50 ft 1 in 21.90 m – 72 ft 10 in
Wingspan 10.80 m – 35 ft 4 in 15.30 m – 50 ft 3 in
Height 5.30 m – 17 ft 3 in 5.90 m – 19 ft 4 in
Weight 10,100 kg – 22,6k lb 18,500 kg – 41k lb
Power 2 x 75 kN – 17k lbf 2 x 142 kN – 32k lbf

 

Armament :

DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
14 HARDPOINTS 14 HARDPOINTS
1 × 30 mm GIAT 30/719B cannon (125 rounds) 1 × 30 mm GSh-30-1 cannon (150 rounds)
MBDA MICA IR/EM (AAM missile) Vympel R-27R, R-27ER, R-27T (AAM missile)
Magic II (AAM missile) Vympel R-27ET, R-27EP, R-27AE (AAM missile)
MBDA Meteor (AAM missile) Vympel R-77, R-77M1, R-77T (AAM missile)
MBDA Apache (AGM missile) Vympel R-73E, R-73M, R-74M (AAM missile)
SCALP EG (AGM missile) Kh-31A, Kh-31P Anti-radiation (AGM missile)
AASM (AGM missile) Kh-59 (AGM missile)
AM 39 Exocet (AGM missile) Kh-29T, Kh-29L (AGM missile)
ASMP-A (nuclear AGM missile) KAB-500L, KAB-1500 (bomb)
Paveway II (bomb) FAB-250, FAB-500 (bomb)
LGB-250 (bomb)
B-13, S-13 (rocket)
B-8, S-8 (rocket)
S-25LD, S-250 (rocket)

 

Dassault Rafale – Sukhoi SU-35 : Results Comparison

Sukhoi SU-35 Is Faster.
Sukhoi SU-35 Is Better Armed.
Dassault Rafale Is Better Dogfighter.
Dassault Rafale Is Smaller Than Sukhoi SU-35.
…lalu pertanyaan saya, kita, dan sebagainya adalah, seberapa besar kemungkinan masing-masing kandidat pesawat dapat kita miliki ? Dan berapa Skadron kira-kira masing-masing..? 😉

 

image005

by: PapaAugusta

 

Source: aviation, google

Berbagi

  203 Responses to “RAFALE “HEAD TO HEAD” SU-35”

  1.  

    vote su 35

    •  

      Vote Dassault Rafale, sans compromis hehe

      •  

        vote juga bung for SU-35 min 1 skuad sebagai tambahan SU-27/30 yg sdh ada.

        Rafale/Thypoon semoga diambil juga utk pengganti F-5E Tiger II. berharap ToT utk pengembangan IFX. Jika IFX molor siap-siap ditambah lagi Rafale/Thypoon sebagai pengganti F-16/Hawk 109-209 yg semakin tua di th 2020.

      •  

        bener bung stmj mending ambil rafale, kalu minat sukhoi mending sekalian nunngu pakfa masuk line produksi karena su35 hanya dijadikan stop gap sampai pakfa terbang, jdi komposisinya nanti ada jet generasi 4 diisi elang botak dkk, gen 4++ rafale dan gen 5 pakfa.
        nah sambil nunngu pakfa ada baiknya tni nabung dulu biar nantiny langusng full 1squadron lengkap dengan senjatanya. 😀

    •  

      Numpang pertamax bung,
      Kyk nya gw tau sumber artikel ini,
      Tp ko ga di cantumin sumber nya yah?

      Ini kan sumber nya?
      http://www.aviatia.net/versus/rafale-vs-su-35/

      Copypaste yah?

      •  

        Bukan cuma su 35 vs rafael
        Eurofighter vs su 30 juga ada
        Nih buka disini http://www.aviatia.net/versus/eurofighter-vs-su-30/

      •  

        Kalau bung cermati lg saya tulis kog source nya dibawah. Mungkin tidak lengkap saya tuliskan websitenya. Dan saya kan tidak menulis bahwa artikel ini ditulis oleh saya pribadi, Atau pengalaman pribadi. Saya hanya menyumbangkan data dari source. Maaf saya tidak tahu kalau menyumbangkan data disini harus dari pemikiran pribadi tidak boleh copypaste ya? Selama data itu bisa akurat saya rasa sah sah saja. 🙂
        Salam hangat,

        •  

          Maaf tidak liat tulisan di bawah nya, cos pas lg buka situs nya sama dgn artikel ini,
          Sorry bung PapaAugusta,,

          •  

            Buat bung Andri cahyadi
            Makanya baca dulu sampai selesai sebelum mengkritisi, jangan ngasal aja.
            Lagian klo emang copas dan gak ada sumbernya jadi merugikan buat anda..? Bagi saya sih gak ada ruginya.
            Hitung2 buat kreativitas mencari sumbernya yg valid.

            Buat bung Papa
            Saya acung jempol buat dech…thanks infonya…salam

            Kalo menurut paham saya, kepengennya sih kedua jenis pespur bisa diakuisisi pemerintah kita.
            SU35….yess
            Rafael….monggo

          •  

            Bank Ruskye, saya rasa kalau sepenuhnya mengambil dan memindahkan seyogyanya memang menyebutkan sumbernya. Jika masalah etika bukan persoalan, paling tidak kita bisa trace back ke sumber asli, siapa tahu ada tambahan info yang bisa kita baca di sumber aslinya.
            Kalau berupa kompilasi, ok lah untuk forum semacam ini, dilihat dari etika penulisan, tak menyebutkan sumbernya. Tapi juga lebih baik menyebut sumber untuk kepentingan trace back jika pembaca ingin tahu lebih jauh.
            Begitu imho. Salam

          •  

            @Ronggo Warsito terima kasih atas masukannya.. Seperti yang anda katakan lebih menghargai.. Disini tertulis nama saya yg lengkap dan benar adalah “PapaAugusta” bukan “PapaAgus”. Salam hangat untuk anda,

        •  

          Ini adalah web untuk kita berdiskusi masalah kemiliteran dan alutsista. Selama ini warjager tidak pernah mempermasalahkan apakah tulisan original atau copas atau kombinasi beberapa sumber. yang penting ada sumber aselinya.

          Artikel yang menarik bung eh udah papa kok disebut bung 🙂

          Tapi sekali lagi, artikel ini hanya membahas mengenai head2head 2 pesawat, bisa menjadi bahan pertimbangan petinggi TNI-AU, tapi kita juga mesti melihat perkembangan kawasan.

          Kedepan yang sudah pasti, kita dikepung oleh F-35 dan Su-35 PLAF. Untuk dogfight mungkin ukuran diatas bisa mencerminkan kondisi di lapangan nanti, namun bagaimana kemampuan radar bvr Typhoon dibanding Su-35 dalam menghadapi the pigeon F-35?

          •  

            wah kok jadi kecampur aduk ma typhoon yah, gara-gara baca 2 halaman jkgr soal typhoon ma rafa neh jadi ngaco 🙂

        •  

          Alhamdulillah saya dan keluarga sehat-sehat bung Amhar Dusu..bagaimana dengan bung Amhar..semoga senantiasa juga sehat selalu disana.
          *info list A1 itu yang mencetuskan bung Nara bukan saya.. 🙂

    •  

      all couple…lethal package

    •  

      vote for SU35 and Rafale, utk ganti F5 dan skad baru.
      haha

    •  

      Comparison among F-22A, Su-35, EF-2000, and RAFALE C

      1. Normal take-off?
      * F-22A: 27,200 kg
      * Su-35: 25,300 kg
      * EF-2K: 17,000 kg
      * Rafale: 15,000 kg

      2. MTOW?
      * F-22A: 28,120 kg
      * Su-35: 34,500 kg
      * EF-2K: 23,500 kg
      * Rafale: 24,500 kg

      3. Internal Fuel?
      * F-22A: 9,330 kg
      * Su-35: 11,500 kg
      * EF-2K: 5,000 kg
      * Rafale: 4,750 kg

      4. Maximal Payload?
      * F-22A: unknown
      * Su-35: 8,000 kg
      * EF-2K: 7,500 kg+
      * Rafale: 9,500 kg

      5. Maximal Speed, 11,000 m?
      * F-22A: 2.00 Mach+ (2.25 ~ 2.42 Mach)
      * Su-35: 2.25 Mach
      * EF-2K: 2.00 Mach+ (2.25 Mach)
      * Rafale: 1.80 Mach+ (2.00 Mach)

      6. Maximal speed, 200 m?
      * F-22A: 800 kts
      * Su-35: 1,400 km/hr
      * EF-2K: 1.14 Mach
      * Rafale: 750 kts

      7. Climb rate?
      * F-22A: 350 m/sec, sea-level
      * Su-35: 280 m/sec+, 1,000 m
      * EF-2K: 315 m/sec+, sea-level
      * Rafale: 305 m/sec+, sea-level

      8. Operational Altitude?
      * F-22A: 70,000 fts
      * Su-35: 59,000 fts
      * EF-2K: 65,000 fts
      * Rafale: 55,000 fts

      9. Ferry range?
      * F-22A: 3,500 km (Internal Fuel)
      * Su-35: 4,500 km (Internal Fuel + 2000 L tanks*2)
      * EF-2K: 2,600 km (Internal Fuel)
      * Rafale: > 2,100 km (Internal Fuel)

      10. Acceleration?

      * F-22A: unknown.

      * Su-35: 13.8 secs from 600 km/hr to 1,100 km/hr, and 8 secs from 1,100 km/hr to 1,300 km/hr?with 50% internal fuel, standard A-A configuration, and height of 1,000 m?.

      * EF-2K: less than 20 seconds from 200 kts to Mach 0.9 (Twin-seaters with one 1,000 L tank and two ASRAAM, altitude unknown).

      * Rafale: around 20 seconds from 300 km/hr to 1,000 km/hr at low altitude.

      11. Normal upper G-limit?
      * F-22A: +9.5G
      * Su-35: +9.0G
      * EF-2K: +9.0G
      * Rafale: +9.0G

      12. T/W ratio of normal take-off?AB / Max. Mil.??
      * F-22A: 1.17 ~ 1.30 / 0.85 ~ 0.87
      * Su-35: 1.10 ~ 1.15 / 0.69 ~ 0.70
      * EF-2K: 1.08 ~ 1.14 / 0.72 ~ 0.83
      * Rafale: 1.02 ~ 1.03 / 0.68 ~ 0.69

      13. Take-off with standard A-A configuration?
      * F-22A: 244 m
      * Su-35: 400 to 450 m
      * EF-2K: 228 ~ 275 m?Emergency take-off?to 457 m?Normal take-off?.
      * Rafale: 400 m

      14. Landing?
      * F-22A: unknown.
      * Su-35: 650 m?with the help of braking and parachute?
      * EF-2K: 500 to 700 m
      * Rafale: 400 m?with the help of braking only?

      15. Radar’s range?

      * F-22A: Tracking target of RCS = 1 m2 at the range of 200 km away –> Detecting target of RCS = 3m2 at the range of 375 to 440 km away theoretically –> 329 ~ 386.

      * Su-35: Detecting target of RCS = 3m2 at the range of 350 to 400 km away –> 307 ~ 351.

      * EF-2K: Tracking target of RCS = 5 m2 at the range of 160 ~ 185 km away –> Detecting target of RCS = 3m2 at the range of 200 to 272 km away theoretically –> 175 ~ 239.

      * Rafale: Detecting target of RCS = 5 m2 at the range of 130 ~ 148 km away –> Detecting target of RCS = 3m2 at the range of 114 to 130 km away theoretically –> 100 ~ 114.

      16. Maximal horizontal scanning angle of Radar?
      * F-22A: +/- 60 degrees
      * Su-35: +/-120 degrees
      * EF-2K: +/- 70 degrees
      * Rafale: +/- 60 degrees

      17. Capability of multiple target engagement?
      * F-22A: Tracking 100 and engaging 6+.
      * Su-35: Tracking 30 and engaging 8.
      * EF-2K: Tracking 20+ and engagine 6 to 8.
      * Rafale: Tracking 40 and engaging 4 to 6.

      18. Frontal minimal RCS / Ratio of RCS / Ratio of range being detected:
      * F-22A: 0.00015 ~ 0.0006 m2 –> 1 ~ 4 –> 1.00 ~ 1.41
      * Su-35: 1.0 ~ 3.0 m2 –> 6666 ~ 20000 –> 9.03 ~ 11.89
      * EF-2K: 0.1 ~ 0.5 m2 –> 666 ~ 3333 –> 5.08 ~ 7.60
      * Rafale: 0.1 ~ 0.2 m2 –> 666 ~ 1332 –> 5.08 ~ 6.04

      19. Su-35 v.s other western fighters:

      * Theoretically, F-22A shall be able to detect / track Su-35 at the range of 285 to 440 km / 200 to 308 km away in head to head engagement.
      * Theoretically, Su-35 shall be able to detect / track F-22A at the range of 29 to 48 km / 17 to 34 km away in head to head engagement.

      * Theoretically, EF-2K shall be able to detect / track Su-35 at the range of 153 to 272 km / 107 to 163 km away in head to head engagement.
      * Theoretically, Su-35 shall be able to detect / track EF-2K at the range of 150 to 256 km / 90 to 180 km away in head to head engagement.

      * Theoretically, Rafale shall be able to detect / track Su-35 at the range of 87 to 130 km / 52 to 91 km away in head to head engagement.
      * Theoretically, Su-35 shall be able to detect / track Rafale at the range of 150 to 203 km / 90 to 142 km away in head to head engagement.

      •  

        iquote “Theoretically, Su-35 shall be able to detect / track F-22A at the range of 29 to 48 km / 17 to 34 km away in head to head engagement”/quote.
        itu terori sumber darimana ya..?

        setahu aku sumber dari bung jalo, tih SU35 dg IRST malah mampu mendeteksi F22 pada jarak sekitar 75 km….lhah kok malah separohnya?

  2.  

    horeeeeeeeee

  3.  

    pertamax,,

    yes!

  4.  

    ya alloh ora sdo nomer siji hikzz… :'(

    ora sdo manganan iki 😀

  5.  

    aduh —

    archiles si biro

  6.  

    ajibbb

  7.  

    Absen 😆

  8.  

    vote yang mau ngasih teote,, trus irit operasional biar pilot2nya bisa sering latihan jadi skillnya tetep mumpuni.. berikutnya baru milih mana yang lebih sangarrrrr 😀
    imho

  9.  

    Klo ane sih pilih dua2nya, su buat interecpt kalo rafale buat nemenin f16 patroli wah mantep tuh

  10.  

    nderek nyemak saking pati

  11.  

    Perbandingan harga perolehan,maintenance cost dan operational cost nya brapa ya papa? Soalnya itulah yg pertama dilihat pemerintah kita…soal daya pukul sih no.16 kayaknya… :mrgreen:

    •  

      Jadi inget waktu F16 bersaing dgn Mirage 2000 memperebutkan satu skadron baru fighter kita di tahun 80 an…secara kemampuan mirage lebh unggul dari Elang botak…pilot kita menyukainya sewaktu pertama kali mencobanya…tp harganya muahal banget sehingga kalau kita milih mirage cm dapet setengah skadron…akhirnya pemerintah milih elang botak karena dapet 1 skadron dan offset nya lebih besar…

      Tp benar kata orang kulon…price never lies…

      •  

        Mirage gagal gara – gara “off set” bung Wehrmact, deal akhir Lockheed menawarkan off set 35% sedangkan Dassault hanya 25%. Btw kalau unsur ekonomis yang menjadi pertimbangan pemerintah kita, saya yakin pemerintah sedari awal tidak akan mempertimbangkan mengambil Su-family, karena biaya operasionalnya paling besar diantara teman seangkatannya. cmiiw

        •  

          Itu karena terpaksa… politis bung STMJ…kita tdk punya pilihan…mabes (mama besar :mrgreen: ) membeli sukhoi karena melanjutkan kebijakan orde baru yg merintis pembelian sukhoi sejak tahun 95 melalui ginanjar mission untuk mengurangi efek embargo barat akibat tragedi tim tim…saat itu orba oke untuk membeli sukhoi dan barat tdk ingin kita memilikinya sehingga di guncanglah ekonomi kita pd th 97…pembelian lanjutan oleh kabinet SBY semata karena kita sdh terlanjur memiliki beberapa unit sukhoi yg tdk mungkin dibiarkan sendiri karena akan mahal biaya perawatan apabila kita memilih merk lain untuk melengkapi satu skadron…padahal embargo sdh di cabut…

          Skrg kita sdh punya satu skadron sukhoi…scr ekonomis akan lebih baik kita mengambil sukhoi lagi karena commonality suku cadang,pelatihan,familiarisasi dan kemudahan perawatan akan membuat maintenance cost lebih rendah…akan lebih mahal apabila kita memilih merek lain karena hrs mulai dari awal lagi…

          So,meskipun mahal di acquisition cost kita mendapatkan blessing in disguisse dlm mengoperasikan sukhoi selanjutnya…

          •  

            Ya..saya sependapat dengan bung Wehr..plus pertimbangan dari user nya sendiri.. Namun yaa gitu deehh faktor politis dan embel-embel bisa saja mempengaruhi keinginan user serta pertimbangdari faktor cost maintenances, spare parts, etc..tersebut.

        •  

          Benar, embargo memang yang menjadi dasar pertimbangan pembelian sukhoi namun pemicu utamanya adalah kasus pulau Bawean dimana F-16 kita di usir dirumahnya sendiri. Kejadian itu begitu menampar wajah militer Indonesia dan menyadarkan pemerintah betapa lemahnya pertahanan udara kita.

          Sukhoi diambil karena pada waktu itu tidak ada opsi lain, walau biaya operasionalnya tinggi dan belinya pun ngecer, demi kebutuhan yang mendesak maka jadilah hajatan sukhoi Indonesia. Karena biaya terbangnya yang tinggi itu pula sukhoi kemudian di plot sebagai tukang gebuk yang hanya keluar sekali kali bila diperlukan saja. Mengenai hubungan sukhoi dan krismon 98, dalam pandangan saya tidaklah berhubungan, terlalu jauh kaitannya. Karena pada saat itu yang diterpa adalah persoalan ekonomi politik internal, sedang wacana sukhoi pada masa orba hanyalah gertak sambal belaka.

          Secara ekonomis tetap lebih baik Rafale/Tyhpoon/Gripen bung Wehr. Masalah pelatihan teknisi itu sudah satu paket dalam harga pembelian tidak akan menjadi beban berarti, sementara kemudahan perawatan pun tidak akan bertambah lebih baik kecuali jika maintenance base-nya dibangun di Indonesia dan kita menerima tot-nya. Maintenance cost sukhoi juga tidak akan berkurang hanya karena kita memiliki lebih banyak. Mengapa? Sederhana saja, akumulasi dari harga spare part + jam terbangnya yang relatif rendah dibandingkan pesaing + biaya terbang per jam yang sangat tinggi, menyebapkan sukhoi pada akhirnya hanya akan menjadi barang pajangan yang mahal karena jarang dipakai, hanya murah di harga beli tapi menohok di pemakaian. Maka jelas jika pembelian sukhoi dilanjutkan ini bukan karena masalah ekonomis, tapi lebih kepada ego dan harga diri dan tentunya politik. imho

          •  

            Sependapat dengan bung STMJ. itu kenapa kog saya lbh memilih penguatan radar dan pertahanan sam medium mwpn long kita akuisisi sekaligus penguatan kemampuan pertahanan di kaprang mwpn alutsista serta cadangan BBM dan jg membekali dgn amunisi2 dan rudal2 secara masif istilahnya bkn cara2 ketengan sprt saat ini syukur2 rhan kita naik derajatnya menjadi sekelas rudal yg mana senjata inilah sebenarnya inti dari sebuah senjata peperangan modern. rudal.. rudal dan rudal yg perlu diperbanyak dan bila perlu di ledakan di depan hidung siapapu yg ingin mengancam kedaulatan negara kita. berkacalah pada kasus iran, korut, china, india, pakistan yg mana mrk mengutamakan kemampuan penguatan rudal dan radar terlebih dahulu baru memikirkan alat2 utk transportasi ria di medan perang. tp begitupun krn srategi jendral2 dan kemauan politik yg ingin memperbanyak dulu alutsista2 terutama yg berbentuk sejenis kenderaan2 tempur, yah gitu deh mau bijimana lg namanya suara ane kan suara kuli, kagak ada ngaruhnya di kuping mrk. tp sbg orang yg tau bersyukur, ttp aja SU35 ttp saya syukuri bila datang dan memperkuat dimari. Salam bung stmj.. bung wehr.. papa agusta dan bung2 yg lain. hehehe..

          •  

            bener bung STMJ

            Jauh Lebih Mahal Harga Diri NKRI
            ketimbang sukhoi dan perawatannya

            NKRI HARGA MATI

          •  

            maaf bung STMJ,
            seingat saia, sukhoi 2 ekor sudah ada waktu insiden bawean terjadi (baru datang), tapi masih belum ada senjata sama sekali.

            f18 diatas bawean main2 (mungkin mancing2 sih), tapi sukhoi kita gak berani keluar karena msh ompong.
            akhirnya yang keluar si elang botak dari madiun

            cmiiw

          •  

            Blessing in disguise dari embargo. Sakit, tapi menyadarkan bahwa memang tak boleh bergantung pada satu sumber.
            Biaya operasi secara tak langsung adalah harga yang harus dibayar. Namun kehadiran Sukhoi juga harus diakui memberikan manfaat.
            Maka ketika “menguji” Sukhoi head to head dengan pesawat lain yang dianggap bisa saling menggantikan (asumsi: kesamaan misinya), semua faktor menjadi harus diperhatikan. Skor akhir merupakan komposit dari banyak faktor.
            Betul atau salah atas pilihan? bisa amat terbuka untuk didiskusikan tentunya.

      •  

        Hehe infonya diduluin bung papa.. kalo patokannya persis seperti yg dibilang bung wehrmacht, dijamin kemhan dan TNI akan pusing krn skor 1-1.. nilai plus rafa adalah langsung nyetel dengan ground control karena mayoritas radar hanud kita adalah buatan Prancis. Kalo saya pribadi sih maunya beli dua2nya :mrgreen:

        •  

          Hehe bung EA silahkan saja kalau ingin menambahkan data ..saya sangat open dan berterima kasih malah..
          salam hangat,

          •  

            Kurang lebih sama kok bung papa.. saya sedikit banyak juga setuju dengan bung wehrmacht bahwa bicara detterent SU-35 lah jawaranya.. Tapi sayang tuh rafale dengan omnirole-nya kalo nggak diambil. Makanya diatas saya bilang pengin dua2nya hehe..
            Salam kenal bung…

          •  

            Hehe amin. Kalau dua-duanya masuk kesini bagaimana bung.. Ya ditunggu saja bung benar apa tidaknya 1-5 tahun kedepan kira-kira sudah nangkring disini tau belum :mrgreen:
            salam.kenal.juga dan salam hangat bung EA,

      •  

        hehe ya mungkin benar bung.. “price never lies” namun harus dilihat juga “masa pakai” nya tahan berapa lama.. Kalau masa pakai dengan harga yg lebih murah justru bisa lebih lama patut dipertimbangkan juga.. Ya balik lagi bagaimana “maintenance” nya.. Bung tau sendiri masalah maintenance di negeri kite seperti apa.. 🙂

    •  

      Selamat malam bung Wehr..
      Cost per unit varian Rafale $95 – $115 millions.
      Cost per unit Varian Su-35 flanker $65 – $85 millions.

      Operational cost Rafale $14.000 – $16.500 per hour.
      Operational cost Su-35 flanker $36.000 – $40.000 per hour.

      •  

        Nah loh…berarti kalau di rata rata biaya sama tp daya pukul sukhoi lebih besar…harga deteren berapa ya bung papa (maklum…kerjaan pegang kalkulator mulu :mrgreen: )

        Saya sukhoi deh… :mrgreen:

        •  

          Haha, yes exactly! rafa unit cost lebih mahal tetapi opr. cost jauh lebih murah.. Sedangkan su-35 sebaliknya.

          O i see..jadi jagoan bung yang itu rupanya.. Kalau saya #no comment ah ga enak kalau ngomong..neutral saja deh :mrgreen:

          •  

            Ha ha…sy malah lebih suka typhoon bung papa karena ada kedekatan dgn airbus sehingga peluang tot lebih besar…

            Tp kalau hrs memilih diantara rafa dan sukhoi memang sy pilih sukhoi…kalau masih beli sekalian yg ultimate…

          •  

            Kawan Wehr.. Saya pernah baca katanya ET cacat produksi pada bagian belakang badan pesawat? Ahli dari germany yg mendeteksi. sehingga germany mengurangi order pesawat ET.. apa benar itu bung?

          •  

            Menurut ket pabrikan ini karena kesalahan bae system yg tdk menaati SOP pembuatan komponen yg menjadi tanggung jawabnya…lubang bekas bor pd satu komponen tdk dihaluskan jd bkn karena cacat desain…

            Standar eropa terkenal ketat untuk produk jd walau bs di recall untuk diperbaiki cacat tetaplah cacat di mata mereka…meski begitu sy tetap optimis ini masalah yg bs diatasi karena bkn desain dasar…

            Gimana mereka liat barang rusia ya? Pasti pusing melihat kualitas pengerjaannya…tp tetep fungsi dan menakutkan tokh :mrgreen:

          •  

            Infonya SU35 totally bebeda dengan SU27/30 yang kita miliki dr segi avionic, air frame, datalink, dll
            Jika benar bukakah akan sama dengan memiliki pespur dengan jenis lain dan biaya maintenance juga sekaikin besar
            Cmiiw

      •  

        Saya tetap Rafale, demi efisiensi operasional dan efektifitas pemakaian. Sukhoi tidak perlu banyak – banyak, secukupnya saja biar sekedar untuk tambal sulam, omnirole-nya yang perlu ditambahi. :mrgreen:

  12.  

    Vote Su 35
    Vote Su 35
    Vote Su 35
    Vote Su 35
    Vote Su 35
    Vote Su 35

    HARGA MATI

  13.  

    buset su35 luweh gede luweh karo strong

  14.  

    Kayaknya GoLden EagLe kita ada yg aneh bentuknya jangan2 JITENBI ALias LAVi rasa nusantara yah he he he 🙂

  15.  

    SU-35 is the best heavy fighter to destroy F-35 aussie + sng.

    Minimum 3 ska is a must! Let’s play the game.

  16.  

    Dua bblaast

  17.  

    wkwkwkwkwk spek rafale dengan SU35 antara langit dan sumur :mrgreen:

    sudah familiar dengan sukhoi,jangan nambah varian yang bikin puyeng :mrgreen:

  18.  

    SAlaam….melihat kecendrungan arah pertempuran modern yang merupakan pertempuran jarak jauh, vote for SU 35. maafkan pendapat newbie yang awam ini..

  19.  

    kl soal body sexy saya suka rafa,hehe… yg lainya su-35 aja,dr gendongan,kacamata,telinga ma sepatunya lebih semua..

  20.  

    dua2nya ambil…

  21.  

    ambil dua duanya!
    desault untuk perimbangan(sekiranya musuh yang di hadapi adalah china di lcs.dan su 35 sekiranya musuh USA+fpda).

    maaf analisa ngawur!

  22.  

    SU 35 : 2 squadron + rudal jarak jauh, jauh banget, menengah, dekat, bom pintar + free fall bom
    Rafale : 3 squadron + beserta rudal2 made in France

  23.  

    Kalo cewe saya lebih suka cewe prancis drpd rusia om..huehehehehe

  24.  

    semuanyanya aja ambil hehehehe

  25.  

    Rafael ambil klo su 35 jangan,Jangan ragu” ndan. 🙂

  26.  

    Super Duper ExeceIlent SU-35 ID…
    ibarat pria tingi kurus melawan pria macho kekar..mau adu tinju dengan tangan kosong

  27.  

    Full armed dan long range heavy fighter. Cocok sbg bull dog penjaga udara kita, lengkap sdh penjaga bumi pertiwi ini. Krn disemua area ada bulldognya. Di udara, ada SU35, di laut ada kirov class, di dlm laut ada akula class, dan di darat ada MBT kita yg terbaru. Strategi jitu utk kembalinya kejayaan nusantara. Semoga pemerintahan terbaru bisa meningkatkannya apalg bila rencana anggaran militer 1.5% benar2 terwujud.

  28.  

    Wes ane maunya su 35 doank….yg lain boleh di ambil tp su 35 tu sdh sifatnya wajib…hehehe

  29.  

    Tetepp ambill..su35 biar mantap su family.ny byk…
    Stlah itu ambil pula rafa..kehkehkeh..
    Singkatnya ambil semuanya..wkwkwk

  30.  

    hmmm, menarik nih

    semoga bisa akuisisi dua-duanya. Rafale 2 ska, SU35 2 ska

  31.  

    Tinggal pihak kita mengajukan syarat harus ada ToT nya gak…klo syarat tersebut diajukan mungkin saja Rafael ato Malah Typhoon yg lebih besar kemungkinan kepilih ketimbang SU-35 krn kita sudah ada kerjasama dng mereka lewat PT.DI dan krn pihak rusia sangat sulit memberikan ToT ke negara Lain beda crita klo kita pesan kyak India yg sekali pesan langsung puluhan bahkan ratusan unit klo PLA mereka berani copy paste pesawat Sukhoi karena mereka punya dana dan infrastruktur yg mendukung
    Jadi tinggal apa yg nanti dikabulkan Apa permintaan TNI-AU sbg Primary user ato kita mengejar ToT utk Industri strategis bidang militer hanya waktu yg bisa menjawab

  32.  

    SU 35

  33.  

    kalo bisa dua2nya kenapa harus milih salah satu 🙂

  34.  

    ni pespurr favorit ane semua ?? bungkussss semua aja 🙂 🙂

  35.  

    Rafale vs SU 35 itu ya omnirole vs air superiority…
    Jadi ya ambil keduanya krn kita butuh keduanya kok..

  36.  

    pilihan utama kudu & musti SU35 … punya kelebihan fungsi sbg AEW mini utk bimbing fighter type lain dlm air battle, IRBIS radar cukup mumpuni tuh … satu SU35 bisa peran ganda sbg komando &pengarah tempur utk 6 unit SU27/30

  37.  

    Pilih F22 raptor akh.

  38.  

    klo budget cukup dua2ny diambil,klo cukup 1 sku aja ambil SU 35 lebih superior.terutama SU 35 punya radar irbis.
    maaf oot.com

  39.  

    q milih yg anti EMBARGO

  40.  

    Abang abang dan om om, kalau kasih komentar yg realitis dunk, negara Kita masih membangun, klau Kita beli barang mahal. Biaya pembangunan yang lain Gimana, Sudah era perubahan transisi kekuasaan, jokowi lead now, Rafale tdk mungkin Di beli, Karena mahal, Sukarno, pun dlm pidato Nya, orang Yg tdk tdk percaya kemampuan diri sendiri, pd, adalah bangsa kerdil, India dlm website defence pun ragu beli rafale, Karena expensive, kemungkinan malysia beli pesawat mig lagi iyu saya baca web berbahasa asing ke tikka saya search engine, maaf spelling saya ku rang bagus
    Karens pakai ipad

  41.  

    Saya pilih yg menyertakan ToT…. UU Nomer 16 Tahun 2012 suda jelas cara pembelia n yg harus diikuti. 🙂

    •  

      Bung Jalo ganti avatar nih ceritanya 🙂
      hehe kl su-35 dikasih TOT up to 60% gimana tuh kawan..? Plus free maintenance costs for lifetime. Tp dengan syarat min akuisisi 64 units. 😀

      •  

        He he kalau itu sih kayaknya di kasih syarat sama rusia harus pindah ideologi :mrgreen:

        •  

          Wahduh bisa makin berabe donk bung..sudah jet fighters kita gado-gado..ideologi juga semakin gado-gado.. Hilang sudah Integritas dan identitas bangsa kite deh.. 🙂

        •  

          Waktu pembelian berjubel barang Rusia pada jaman bung Karno itu bukan offset yg dikasih, tapi ideologi. 🙂

          Nah untuk masalah ToT 60%, itu ada lagu Pak Tani ciptaan Slank. Mungkin dibagia Reff lagu itu bisa menjawab, 😀

          Saya cuman minta satu contoh Rusia memberikan Offset dengan skema pembelian ketengan?

          •  

            Nah kalau itu Dassault juga berat bung Jalo

          •  

            Saya akan dukung siapa aja yang berani membujuk Pak Moel supaya melanggar UU No. 16 2012 🙂

          •  

            Gimana kalo kita minta tot mirage aja sama dassault? Sy ngefans banget ini pesawat… Kan sudah gak diproduksi lg kayak marder…tinggal modernisasi aja avionik dan persenjataan…

            Mandiri kan gak hrs baru teknologinya..msh bs dikejar…

        •  

          maksudnya ideologi pengadaan aluitsista ya bung @wehrmacht….? lebih enak tetep “bebas aktif” bung…

  42.  

    sukhoi 35s 2 skadron + raffale dassault dua2nya saling melengkapi ,,

  43.  

    Su35 oke, Rafa jga oke. klo bisa ke2nya diambil. mantap artikelnya menambah wawasan. salam bung Papa.

  44.  

    @bung Papa agusta, perasaan msh Blum lengkap klo Blum dibahas kemampuan dari masing2 klenengan sapi ( jammer ) nyang dipake. Bijimane kemampuan klenengan sapi nyang mereka bawa dlm mereduksi killing prob aam lawan…. :mrgreen:

  45.  

    Udah, ambil dua” nya saling ngelengkapi buat kill Si lightning :mrgreen:

  46.  

    Disebut Operational cost Su-35 flanker $36.000 – $40.000 per hour. Dari mana datanya? Ini kan sama dengan F-35. Kalau dari segi BBM, sdh pernah sy bahas di sini, saya repost lagi di bawah :

    Tentang biaya terbang :
    Saya bingung dngan ongkos terbang, perawatan dan spare part dari Sukhoi yg pernah disebut mencapai angka 500 jt rph, yg kalau dianggap 1 USD = Rp. 12000, menjadi USD 41.667 per jam. Fantastis besar sekali mendekati F-35 dan F-22!!

    Saya coba menghitung dulu biaya komponen fuel yg mudah dihitung :
    Max internal fuel SU-35 adalah 11,500 kg. Asumsi tipikal training sortie diisi 50% (ini sdh lebih dari cukup) yaitu 5750 kg JP8, atau sekitar 1897 USgallon. Dengan harga 1 USgallon = USD 3,13, maka komponen bahan bakar adalah USD 5936 atau sekitar Rph. 71.230.000,-.
    Total biaya komponen2 lainnya (spare part, perawatan, gaji pilot + ground crew dll) adalah selisih USD 41.667 – USD 5936 = 35.731; apa iya sedemikian besar? Manhour rate pilot + ground crew kita sudah jelas sangat kecil.

    Kesimpulannya angka 500 jt rph/ flight hour itu sangat patut diragukan. Kemungkinan diembuskan broker pesawat saingan.

    (BTW cek lagi perhitungan saya, mungkin salah).

    Saya ingin juga menampilkan Fuel fraction dari beberapa pespur modern.
    Fuel fraction adalah angka yg dihitung untuk mengekspresikan bahan bakar internal sebagai bagian berat pesawat (dengan asumsi konfigurasi bersih). Aturan praktis bagi pespur modern dengan afterburner, minimum fuel fraction = 0,25. Kurang dari itu tidak akan cukup untuk pertempuran dog fighting atau bahkan untuk waktu di CAP (combat air patrol).

    Super Hornet F/A-18E – 0.31

    F/A-18C Hornet – 0.22

    F/A-22A Raptor – 0.45

    F-14D Tomcat – 0.26

    Boeing F-15C Eagle – 0.30

    F-16C Fighting Falcon – 0.26

    JAS 39A/E Gripen – 0.26 / 0.27

    MiG-29M Fulcrum – 0.27

    MiG-31 Foxhound – 0.40

    Su-30 Flanker – 0.29
    Su-35 Flanker E – 0.39 ~ 0.41

    Dassault Rafale M – 0.31

    EF2000 Typhoon – 0.29

    Chengdu F-7MG – 0.27

    AV-8B Harrier II – 0.32

    Fuel fraction SU-35 itu kira-kira 1,3 kali Rafale.
    Masing2 negara memerlukan pespur yg cocok dengan kondisi geografisnya. Misalnya EU banyak negara2 yg kecil wilayahnya, sehingga fuel fraction bukan faktor penting. Sebaliknya negara Rusia, China, USA, Australia dan last but not least Indonesia, dengan wilayah yg sangat luas, fuel fraction adalah faktor utama dalam pespur.

    Ingat bahwa fuel fraction adalah rasio. Jadi misalnya SU-30, Rafale dan Typhoon punya fuel fraction sama (0.29-0.31), namun karena lebih besar badannya, SU-30 dapat mengusung lebih banyak internal bahan bakar.

    Tentang harga :
    Jelas SU-35 lebih murah dari Rafale (termasuk persenjataannya). Secara kasar, kita bisa beli 1,5 kali lebih banyak.

    Tentang ToT :
    Kita sudah ToT KFX/IFX. Apakah PT DI sanggup sekaligus proyek ToT dua pesawat canggih yg sangat beda?

    •  

      like bung

    •  

      su35 sudah hadir disini akhir tahun

    •  

      Untuk ToT itu untuk membantu fasilitas IFX kedepaan. Karena KFX/IFX itu mengikuti kondisi geografis Korea selain itu kita memerlukan mitra agar nantinya bisa mengembangkan sesuai kondisi geografis dan kebutuhan kita. Kan di UU nomer 16 tahun 2012 sudah dijelaskan minimal offset dan TKDN. Apa perlu kita hapus UU ini aja,

      •  

        kalo sampe dihapus kapan mandirinya bung jalo. masak harus mulai dari nol lagi, kalo bisa dibilang indonesia ini termasuk beruntung karena di ajak join kfx/ifx, walaupun cuma setor 20%

    •  

      salut buat bung Antonov, salam kenal bung, infonya sangat detail.

      yg digosipkan Operational cost SU Family sebesar $36.000 – $40.000 per hour itu memang sepertinya tdk mungkin sebesar itu, buktinya hampir siang malam 2-3 SU-27/30 muter2 dilangit Makassar, kalau memang sebesar itu biaya operationalnya apa tidak pemborosan klu siang malam latihan.

      •  

        Ada yang belum dihitung bung, biaya sparepart dan durabilitynya. Sparepart sukhoi seperti mesin misalnya, itu umur pakainya setengah dari mesin F-16 dan mesin-mesin jet buatan Eropa. Harganya pun lebih mahal.

      •  

        @bung Z4p4r, itu data saya kutip berdasarkan tahun 2013 dikatakan bahwa op.cost su-35 mencapai 400 juta. dengan asumsi saat itu ( 1 USD = 10.000 – 11.000). bahkan seperti yang bung @Antonov katakan saat ini diasumsikan bisa mencapai 500 juta. kalau ingin tahu persis real op.cost tentu sangat susah dihitung secara pasti, banyak faktor yang mempengaruhi. *saat operasi militer perancis di Mali waktu lalu op.cost Rafale bahkan dikatakan mencapai $19.000. jauh lebih tinggi dari reguler op.cost nya.
        bung Z4p4r katakan “kalau memang sebesar itu biaya operationalnya apa tidak pemborosan klu siang malam latihan”.. yaa memang mahal bung..makanya hal itu yang juga menjadi faktor pertimbangan. Su-35 mungkin tidak diprioritaskan sebagai “sky patrol”..tetapi mungkin sebagai interceptors, combat fighters, etc.

        •  

          yup betul om papa…TNI AU kan lg butuhin pesawat penggati intercept F5e…jd kalo SU 35 dipakek buat ngeronda emang sayang sih…kemahalan di biaya ops. ama maintenennya lebihcocok kalo yg ngeronda si Golden eagle ama si Falcon plus pesawat tengker…maap pendapat orang awam saja

          •  

            hehe ya betul itu bung Jobel.. dan buat apa upgraded falcon dibawa kesini kalau tidak buat disuruh ngeronda “kawasan sebelah sana tuh tuh..” :mrgreen:

    •  

      Hee..Hee.. TOT… TOT… beli 5 jenis pesawat mau TOT dengan 5 jenis juga?
      Ujung2nya bubar semua tuh karena kurang dana.
      Fokus… Fokus..
      Prioritas… Prioritas..
      1. Pertahanan
      2. Kemandirian

    •  

      Uraian yg sempurna bung. Sy suka pencerahannya. Jadi nambah ilmu lebih banyak selain dari para sesepuh yg lain.

  47.  

    tetap saya suka Su-35 flanker, biar lebih strong TNI-AU kita

  48.  

    klo untuk ngeronda mending Rafale Klo tuk Gahar-Gaharan mending SU-35, Asal Jangan Elang botak ASU

  49.  

    ….sesuai tupoksi ketiga matra TNI yang selalu omnirole….ada baiknya diakuisisi semua jenisnya baik block russia , block eropa , dan block usa….untuk heavy, medium, light fighter aircrafts yg juga berkemampuan omnirole…ya masing-masing ada 1-3 skadron per jenis fighters.

    …kemanfaatan yang diperoleh adalah knowledge dan pengalaman yang tidak ternilai disamping daya pukul dan efek gentar yg timbul karenanya…dimana masing2 saling melengkapi gap yang ada dan bisa bersinergi.

    …logistics nightmare?…ehhmmm…selama ada uang(assets) maka “money can talk” baik di pasar white market ato black market…..

    ….usulan sopir truck di warung pojokan

    •  

      hehe makanya di bawah artikel saya tanya sama rekan-rekan disini..bukan harus memilih yg mana.. “kira-kira berapa biji yang bisa dimiliki masing-masing kandidat”
      hmm kalau boleh mungkin bung bisa jelaskan maksud dari…”logistics nightmare?…ehhmmm…selama ada uang(assets) maka “money can talk” baik di pasar white market ato black market”. ?? 😉
      salam hangat bung Pager Wojo

  50.  

    Comparasi yg bagus. keduanya cepat atau lambat akan seliweran dimari. ane optimis.

  51.  

    Untuk pengganti F 5 Tiger kalau boleh berandai andai ane pilih Rafale sedangkan utk penambahan skuadron baru ane pilih SU 35 karena SU 35 baru masuk line produksi varian ekspor di tahun 2017 jadi utk stop gap rasanya Rafale pantas dikedepankan 🙂

  52.  

    :mrgreen: bs mati ksetrum om frans….jatuh laksana meteor dsiang bolong

    •  

      hehe…kawan [email protected] saya ilustrasikan jk listrik tegangan tinggi tsb adalah S400 yg canggih dan komplek itu adalah wilayah NKRI,saya yakin tdk satupun ada yg brani melewatinya jk nusantara ini di pagari dgn perisai rudal s400

      •  

        & sepantasny rumah mewah yg brnama NKRI dipagari dgn tembok yg kokoh plus setrum tegangan tinggi…serta dikawal oleh penjaga yg sllu siaga,,kekar & ahli beladiri…. 😀 maka keamann dr rumh tsb bs dpstikn mncapai 99%

  53.  

    Untuk wilayah seluas indonesia su 35 memang jawabanya.mampu patroli jarak jauh,menenteng rudal yg banyak,jangkauan radar yg jauh.jika bbm nya mampu dicampur biofuel maka biaya akan turun,dan bagian yg mahal pd sparepat sukhoi dapat dipertukarkan dgn proyek kfx nanti,pastilah lb murah.kurang adil nampaknya kalau harus membandingkan pespur kelas berat vs medium.

  54.  

    Enggak usah ribut… Dua-duanya sudah dibayar…

  55.  

    DUA DUANYA JUGA BOLEH……SU 35 buat interceptor kelas berat,RAFALE buat nemenin IFX sebagai workhorse, F-16 grounded aja (tapi kalo IFX dah jadi lho).
    Rafale emang tidak sekuat SU 35 tapi lebih baik dari pada Thypoon , di konflik Libya Rafale lebih banyak melakukan serangan sedang Thypoon kebanyakan cuman melakukan misi patroli.

  56.  

    Para Warjagers
    Banyak yg berpikir bahwa jumlah pespur kita sudah cukup dengan yg ada, karena itu saya ingin menampilkan Hukum Lanchester Square, jg kira2 berbunyi sbb:

    “Keunggulan kualitas berbanding kuadrat dengan keunggulan kwantitas”.

    Artinya bila lawan punya keunggulan kwantitas 2 : 1, untuk seimbang saja kita harus punya keunggulan kwalitas 4 : 1, yg kenyataannya hampir tidak mungkin terpenuhi.

    Sebagai contoh diambil potensi lawan kita Ossie :
    – Kedepan akan punya 72 F-35
    – Sekarang sdh punya 24 Super Hornet dan 71 Hornet.

    Teorinya Super Hornet dan Hornet dihadapi dengan F-16, F-5, dan Hawk; serta F-35 dihadapi dengan SU27/30. Super Hornet dan Hornet dikesampingkan dulu mengingat combat persistance-nya yang rendah.

    Tinggal 16 SU27/30 melawan 72 F-35, rasio kuantitas 4,5 : 1. Dengan demikian menurut Hukum Lanchester Square, kita harus punya keunggulan kwalitas 20,25 : 1, sesuatu yg tidak mungkin!

    Jelas kita harus menambah pespur kita dengan pespur yg jelas2 superior dari F-35, dimana calon yg kredibel sekarang adalah SU-35. Berapa? Sementara 3 skadron dulu, sehingga bersama dengan SU27/30, kita akan punya total 64 Flanker. Rasio kuantitas menjadi 1,125 : 1, dan kita harus punya keunggulan kwalitas 1,26 : 1. Menurut saya angka ini masih mungkin mengingat kinerja SU-35 di atas F-35.

  57.  

    Thank’s Bung infonya, mmm… jadi tambah bingung neh. F 5 tiger emang perlu diganti, pespur diganti pespur emang harus gitu ya? (mohon pencerahan bung2). SU 35 enam biji aja, sisanya buat SU27/30 biar tambah banyak. La kan ndak dpt TOT dong? Apa ndak rancu dgn program IFX, kan pasti dlm program tsb udah dipikirkan TOT yg didpt. Mohon maaf jika salah

  58.  

    hehe..ya saya ok ok saja lah dengan bung.. tetapi bagaimana kalau yg melewatinya pesawat dengan kemampuan “full stealth” yang benar-benar sangat sulit terdeteksi radar dan mempunyai BVR dengan air to ground missile nya yg canggih..dalam sekian detik-menit skipped kalau orang bilang bisa amsyong kite bung.. 🙂 hmm ya tetap jet fighters sbg interceptor dengan kemampuan BVR dan AAM yang mumpuni wajib dimiliki sebagai senjata pemukul..imho. salam hangat bung Frans,

  59.  

    Thank’s Bung, unt pembelian SU family dr Om PapaBear ndak usah mengharapkan TOT (melanggar UU ya? maaf he he..), wong MEF baru dibawah 40 % kok (masih keadaan darurat ? hehe). TOT pespur mandiri ya mengharapkan dr IFX walau kemungkinan banyak kendala….., mohon maaf jika salah, salam kenal moga sehat2

  60.  

    Calon lawan di sekitar kita itu blok barat (kecuali RRT) krn dalam sejarahnya yg terbukti mengganggu kedaulatan kita ya blok mereka, kalau beli pesawat dari blok barat juga, bukan bisa bikin gentar tapi malah bikin geli mereka. Mereka akan tertawa sambil gulung2 habis itu tidur nyenyak sambil mendengkur. xixixixi.

  61.  

    kenapa gak kita wacanakan pensil iskander aja ya…., (gak nyambung)

  62.  

    saya Pesen SUkro 2 lusin om gak pake lama yah….

  63.  

    tentu kita inginkan yg terbaik kawan,cm saya sangat tertarik jk indonesia yg maha luas ini di pagari dulu dgn perisai rudal,paling tidak bs membuat negara lain berfikir seribu kali utk melanggar wilayah nkri..salam hormat untuk kawan PapaAugusta

  64.  

    yakin apa nih bung..? haqqul yaqin akan ada 1 ska disini maksudnya atau bagaimana.. :mrgreen:
    salam hangat bung Rafly,

    •  

      Yakin dengan kedahsyatannya… kalo dimarinya sampai saat ini otak saya sudah terlanjur kecuci sama A1 ndan nara, untuk hal itu saya tidak menyesalinya malah ketagihan dan karena itu juga yg menyebabkan saya terdampar di sini 😀 salam hormat dan hangat bung Papa Agusta

  65.  

    Ada rencana kemenhan untuk membeli simulator sukhoi, ada dua pertanyaan bagi orang awam, terlalu besar biaya operasional sukhoi atau mau menambah jumlah skuadron sukhoi?? Menurut saya lebih banyak deal pembelian su 35, karna walaupun tinggi biaya operasionalnya apa lagi lebih dari 1 skuadron tempur, sepertinya harga kedaulatan udara Indonesia lebih mahal, bahkan lebih mahal daripada pembelian sukhoi 35 sejumlah 10 skuadron , semoga ekonomi Indonesia semakin meningkat di presiden yang baru, sehingga anggaran militer maupun pos anggaran yang lain bisa meningkat berbanding dengan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia, salam bung…

  66.  

    Rafale bisa menembak kebelakang gak ya ? seperti Su 35, china tertarik karena teknologi tersebut

    •  

      Backward firing / rearward firing missile di jaman modern combat dan warfare saat ini tidak akan terlalu efektif bung.. Dan itu pun hanya berlaku dalam situasi dogfight. Dengan kemampuan BVR jet fighters sekarang BVRAAM missiles lebih sangat dioptimalkan dan dikembangkan..imho.
      salam hangat untuk anda,

  67.  

    S 400produk om ruskie lho bung, kok tumben bung frans mau ngrekomedasisin produkom ruskie, :mrgreen:

  68.  

    Sukhoi Su-35s super flanker, RAFALE, & EUROFIGHTER TYPHOON……………..SEMUA DIBELI !!!! Tapi sekarang yang menjadi teka-teki adalah siapa yang akan diumumkan SECARA RESMI sebagai pengganti F-5E/F Tiger II

  69.  

    KETIGA PESPUR TSB TELAH BERHASIL MENYISIHKAN 4 PESPUR LAIN : F-15 SILENT EAGLE, F-16 C/D BLOK 60, F/A-18 E/F SUPER HORNET, DAN GRIPEN

  70.  

    untuk ciri fisik su-35 hampir identik dengan su-27. sedikit perbedaan dengan su-35bm adalah rentang sayap lebih lebar dari su-27. sirip belakang su-35bm sedikit lebih kecil sehingga tidak sejajar nozzle. tail boom sedikit lebih runcing dari su-27. cmiiw. “well bung Suroboyo, you need to see closer to make sure” :mrgreen:

  71.  

    untuk ciri fisik su-35 hampir identik dengan su-27. sedikit perbedaan dengan su-35bm adalah rentang sayap lebih lebar dari su-27. sirip belakang su-35bm sedikit lebih kecil sehingga tidak sejajar nozzle. tail boom sedikit lebih runcing dari su-27. cmiiw. “well bung Suroboyo, you need to see closer to make sure” :mrgreen:

  72.  

    Duite ora ono, dicolong wong

  73.  

    maybe 20% Rafale – 80% SU 35.

  74.  

    Rafale di compare sama SU35…. iseng banget..

  75.  

    salam hormat bung diego…testing format baru..masih belajar ….

  76.  

    Rafale sedap juga… Tp tetep su35

 Leave a Reply