RAFALE “HEAD TO HEAD” SU-35

203
384
RAFALE
RAFALE
SU-35
SU-35

 COMPARISON

 Overall Table :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Rate of Climb max. 300 m/s – 60k ft/min max. 280 m/s – 55k ft/min
Thrust/Weight 1.13 1.10
Service Ceiling 17 km – 55k ft 18 km – 59k ft
Speed 2.00 Mach 2.25 Mach
Fuel Economy 0.27 km/l – 0.63 NM/gallon 0.19 km/l – 0.44 NM/gallon

 

BVR Armament Comparison :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
BVR AAM missile MBDA Meteor Vympel R-77M
Nation NATO RUSSIA
Range (mile) 62 99
Range (km) 100 160
Speed (mph) 2640 2970
Speed (km/h) 4248 4779
Speed (Mach) 4 4,5
Weight (lb) 407 497
Weight (kg) 185 226

 

Dogfight (armament: only cannon) :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Cannon GIAT 30M/719B GSh-30-1
Caliber (mm) 30 mm 30 mm
Rate of Fire (rpm) 2500 rpm 1800 rpm
Muzzle Velocity (m/s) 1025 m/s 850 m/s
Maneuverability (x/10) 9,5 8,4
Thrust/Weight Ratio 1,13 1,10
Total Points 65 33
Probability of winning 66% 34%

 

General Data Table :

CATEGORY DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
Length 15.27 m – 50 ft 1 in 21.90 m – 72 ft 10 in
Wingspan 10.80 m – 35 ft 4 in 15.30 m – 50 ft 3 in
Height 5.30 m – 17 ft 3 in 5.90 m – 19 ft 4 in
Weight 10,100 kg – 22,6k lb 18,500 kg – 41k lb
Power 2 x 75 kN – 17k lbf 2 x 142 kN – 32k lbf

 

Armament :

DASSAULT RAFALE SUKHOI SU-35
14 HARDPOINTS 14 HARDPOINTS
1 × 30 mm GIAT 30/719B cannon (125 rounds) 1 × 30 mm GSh-30-1 cannon (150 rounds)
MBDA MICA IR/EM (AAM missile) Vympel R-27R, R-27ER, R-27T (AAM missile)
Magic II (AAM missile) Vympel R-27ET, R-27EP, R-27AE (AAM missile)
MBDA Meteor (AAM missile) Vympel R-77, R-77M1, R-77T (AAM missile)
MBDA Apache (AGM missile) Vympel R-73E, R-73M, R-74M (AAM missile)
SCALP EG (AGM missile) Kh-31A, Kh-31P Anti-radiation (AGM missile)
AASM (AGM missile) Kh-59 (AGM missile)
AM 39 Exocet (AGM missile) Kh-29T, Kh-29L (AGM missile)
ASMP-A (nuclear AGM missile) KAB-500L, KAB-1500 (bomb)
Paveway II (bomb) FAB-250, FAB-500 (bomb)
LGB-250 (bomb)
B-13, S-13 (rocket)
B-8, S-8 (rocket)
S-25LD, S-250 (rocket)

 

Dassault Rafale – Sukhoi SU-35 : Results Comparison

Sukhoi SU-35 Is Faster.
Sukhoi SU-35 Is Better Armed.
Dassault Rafale Is Better Dogfighter.
Dassault Rafale Is Smaller Than Sukhoi SU-35.
…lalu pertanyaan saya, kita, dan sebagainya adalah, seberapa besar kemungkinan masing-masing kandidat pesawat dapat kita miliki ? Dan berapa Skadron kira-kira masing-masing..? 😉

 

image005

by: PapaAugusta

 

Source: aviation, google

203 KOMENTAR

  1. Disebut Operational cost Su-35 flanker $36.000 – $40.000 per hour. Dari mana datanya? Ini kan sama dengan F-35. Kalau dari segi BBM, sdh pernah sy bahas di sini, saya repost lagi di bawah :

    Tentang biaya terbang :
    Saya bingung dngan ongkos terbang, perawatan dan spare part dari Sukhoi yg pernah disebut mencapai angka 500 jt rph, yg kalau dianggap 1 USD = Rp. 12000, menjadi USD 41.667 per jam. Fantastis besar sekali mendekati F-35 dan F-22!!

    Saya coba menghitung dulu biaya komponen fuel yg mudah dihitung :
    Max internal fuel SU-35 adalah 11,500 kg. Asumsi tipikal training sortie diisi 50% (ini sdh lebih dari cukup) yaitu 5750 kg JP8, atau sekitar 1897 USgallon. Dengan harga 1 USgallon = USD 3,13, maka komponen bahan bakar adalah USD 5936 atau sekitar Rph. 71.230.000,-.
    Total biaya komponen2 lainnya (spare part, perawatan, gaji pilot + ground crew dll) adalah selisih USD 41.667 – USD 5936 = 35.731; apa iya sedemikian besar? Manhour rate pilot + ground crew kita sudah jelas sangat kecil.

    Kesimpulannya angka 500 jt rph/ flight hour itu sangat patut diragukan. Kemungkinan diembuskan broker pesawat saingan.

    (BTW cek lagi perhitungan saya, mungkin salah).

    Saya ingin juga menampilkan Fuel fraction dari beberapa pespur modern.
    Fuel fraction adalah angka yg dihitung untuk mengekspresikan bahan bakar internal sebagai bagian berat pesawat (dengan asumsi konfigurasi bersih). Aturan praktis bagi pespur modern dengan afterburner, minimum fuel fraction = 0,25. Kurang dari itu tidak akan cukup untuk pertempuran dog fighting atau bahkan untuk waktu di CAP (combat air patrol).

    Super Hornet F/A-18E – 0.31

    F/A-18C Hornet – 0.22

    F/A-22A Raptor – 0.45

    F-14D Tomcat – 0.26

    Boeing F-15C Eagle – 0.30

    F-16C Fighting Falcon – 0.26

    JAS 39A/E Gripen – 0.26 / 0.27

    MiG-29M Fulcrum – 0.27

    MiG-31 Foxhound – 0.40

    Su-30 Flanker – 0.29
    Su-35 Flanker E – 0.39 ~ 0.41

    Dassault Rafale M – 0.31

    EF2000 Typhoon – 0.29

    Chengdu F-7MG – 0.27

    AV-8B Harrier II – 0.32

    Fuel fraction SU-35 itu kira-kira 1,3 kali Rafale.
    Masing2 negara memerlukan pespur yg cocok dengan kondisi geografisnya. Misalnya EU banyak negara2 yg kecil wilayahnya, sehingga fuel fraction bukan faktor penting. Sebaliknya negara Rusia, China, USA, Australia dan last but not least Indonesia, dengan wilayah yg sangat luas, fuel fraction adalah faktor utama dalam pespur.

    Ingat bahwa fuel fraction adalah rasio. Jadi misalnya SU-30, Rafale dan Typhoon punya fuel fraction sama (0.29-0.31), namun karena lebih besar badannya, SU-30 dapat mengusung lebih banyak internal bahan bakar.

    Tentang harga :
    Jelas SU-35 lebih murah dari Rafale (termasuk persenjataannya). Secara kasar, kita bisa beli 1,5 kali lebih banyak.

    Tentang ToT :
    Kita sudah ToT KFX/IFX. Apakah PT DI sanggup sekaligus proyek ToT dua pesawat canggih yg sangat beda?

  2. ….sesuai tupoksi ketiga matra TNI yang selalu omnirole….ada baiknya diakuisisi semua jenisnya baik block russia , block eropa , dan block usa….untuk heavy, medium, light fighter aircrafts yg juga berkemampuan omnirole…ya masing-masing ada 1-3 skadron per jenis fighters.

    …kemanfaatan yang diperoleh adalah knowledge dan pengalaman yang tidak ternilai disamping daya pukul dan efek gentar yg timbul karenanya…dimana masing2 saling melengkapi gap yang ada dan bisa bersinergi.

    …logistics nightmare?…ehhmmm…selama ada uang(assets) maka “money can talk” baik di pasar white market ato black market…..

    ….usulan sopir truck di warung pojokan

    • hehe makanya di bawah artikel saya tanya sama rekan-rekan disini..bukan harus memilih yg mana.. “kira-kira berapa biji yang bisa dimiliki masing-masing kandidat”
      hmm kalau boleh mungkin bung bisa jelaskan maksud dari…”logistics nightmare?…ehhmmm…selama ada uang(assets) maka “money can talk” baik di pasar white market ato black market”. ?? 😉
      salam hangat bung Pager Wojo

  3. Untuk pengganti F 5 Tiger kalau boleh berandai andai ane pilih Rafale sedangkan utk penambahan skuadron baru ane pilih SU 35 karena SU 35 baru masuk line produksi varian ekspor di tahun 2017 jadi utk stop gap rasanya Rafale pantas dikedepankan 🙂

  4. Untuk wilayah seluas indonesia su 35 memang jawabanya.mampu patroli jarak jauh,menenteng rudal yg banyak,jangkauan radar yg jauh.jika bbm nya mampu dicampur biofuel maka biaya akan turun,dan bagian yg mahal pd sparepat sukhoi dapat dipertukarkan dgn proyek kfx nanti,pastilah lb murah.kurang adil nampaknya kalau harus membandingkan pespur kelas berat vs medium.

  5. DUA DUANYA JUGA BOLEH……SU 35 buat interceptor kelas berat,RAFALE buat nemenin IFX sebagai workhorse, F-16 grounded aja (tapi kalo IFX dah jadi lho).
    Rafale emang tidak sekuat SU 35 tapi lebih baik dari pada Thypoon , di konflik Libya Rafale lebih banyak melakukan serangan sedang Thypoon kebanyakan cuman melakukan misi patroli.

  6. Para Warjagers
    Banyak yg berpikir bahwa jumlah pespur kita sudah cukup dengan yg ada, karena itu saya ingin menampilkan Hukum Lanchester Square, jg kira2 berbunyi sbb:

    “Keunggulan kualitas berbanding kuadrat dengan keunggulan kwantitas”.

    Artinya bila lawan punya keunggulan kwantitas 2 : 1, untuk seimbang saja kita harus punya keunggulan kwalitas 4 : 1, yg kenyataannya hampir tidak mungkin terpenuhi.

    Sebagai contoh diambil potensi lawan kita Ossie :
    – Kedepan akan punya 72 F-35
    – Sekarang sdh punya 24 Super Hornet dan 71 Hornet.

    Teorinya Super Hornet dan Hornet dihadapi dengan F-16, F-5, dan Hawk; serta F-35 dihadapi dengan SU27/30. Super Hornet dan Hornet dikesampingkan dulu mengingat combat persistance-nya yang rendah.

    Tinggal 16 SU27/30 melawan 72 F-35, rasio kuantitas 4,5 : 1. Dengan demikian menurut Hukum Lanchester Square, kita harus punya keunggulan kwalitas 20,25 : 1, sesuatu yg tidak mungkin!

    Jelas kita harus menambah pespur kita dengan pespur yg jelas2 superior dari F-35, dimana calon yg kredibel sekarang adalah SU-35. Berapa? Sementara 3 skadron dulu, sehingga bersama dengan SU27/30, kita akan punya total 64 Flanker. Rasio kuantitas menjadi 1,125 : 1, dan kita harus punya keunggulan kwalitas 1,26 : 1. Menurut saya angka ini masih mungkin mengingat kinerja SU-35 di atas F-35.

  7. Thank’s Bung infonya, mmm… jadi tambah bingung neh. F 5 tiger emang perlu diganti, pespur diganti pespur emang harus gitu ya? (mohon pencerahan bung2). SU 35 enam biji aja, sisanya buat SU27/30 biar tambah banyak. La kan ndak dpt TOT dong? Apa ndak rancu dgn program IFX, kan pasti dlm program tsb udah dipikirkan TOT yg didpt. Mohon maaf jika salah

  8. hehe..ya saya ok ok saja lah dengan bung.. tetapi bagaimana kalau yg melewatinya pesawat dengan kemampuan “full stealth” yang benar-benar sangat sulit terdeteksi radar dan mempunyai BVR dengan air to ground missile nya yg canggih..dalam sekian detik-menit skipped kalau orang bilang bisa amsyong kite bung.. 🙂 hmm ya tetap jet fighters sbg interceptor dengan kemampuan BVR dan AAM yang mumpuni wajib dimiliki sebagai senjata pemukul..imho. salam hangat bung Frans,

  9. Thank’s Bung, unt pembelian SU family dr Om PapaBear ndak usah mengharapkan TOT (melanggar UU ya? maaf he he..), wong MEF baru dibawah 40 % kok (masih keadaan darurat ? hehe). TOT pespur mandiri ya mengharapkan dr IFX walau kemungkinan banyak kendala….., mohon maaf jika salah, salam kenal moga sehat2

  10. Calon lawan di sekitar kita itu blok barat (kecuali RRT) krn dalam sejarahnya yg terbukti mengganggu kedaulatan kita ya blok mereka, kalau beli pesawat dari blok barat juga, bukan bisa bikin gentar tapi malah bikin geli mereka. Mereka akan tertawa sambil gulung2 habis itu tidur nyenyak sambil mendengkur. xixixixi.

  11. tentu kita inginkan yg terbaik kawan,cm saya sangat tertarik jk indonesia yg maha luas ini di pagari dulu dgn perisai rudal,paling tidak bs membuat negara lain berfikir seribu kali utk melanggar wilayah nkri..salam hormat untuk kawan PapaAugusta

    • Yakin dengan kedahsyatannya… kalo dimarinya sampai saat ini otak saya sudah terlanjur kecuci sama A1 ndan nara, untuk hal itu saya tidak menyesalinya malah ketagihan dan karena itu juga yg menyebabkan saya terdampar di sini 😀 salam hormat dan hangat bung Papa Agusta

  12. Ada rencana kemenhan untuk membeli simulator sukhoi, ada dua pertanyaan bagi orang awam, terlalu besar biaya operasional sukhoi atau mau menambah jumlah skuadron sukhoi?? Menurut saya lebih banyak deal pembelian su 35, karna walaupun tinggi biaya operasionalnya apa lagi lebih dari 1 skuadron tempur, sepertinya harga kedaulatan udara Indonesia lebih mahal, bahkan lebih mahal daripada pembelian sukhoi 35 sejumlah 10 skuadron , semoga ekonomi Indonesia semakin meningkat di presiden yang baru, sehingga anggaran militer maupun pos anggaran yang lain bisa meningkat berbanding dengan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia, salam bung…

    • Backward firing / rearward firing missile di jaman modern combat dan warfare saat ini tidak akan terlalu efektif bung.. Dan itu pun hanya berlaku dalam situasi dogfight. Dengan kemampuan BVR jet fighters sekarang BVRAAM missiles lebih sangat dioptimalkan dan dikembangkan..imho.
      salam hangat untuk anda,

  13. untuk ciri fisik su-35 hampir identik dengan su-27. sedikit perbedaan dengan su-35bm adalah rentang sayap lebih lebar dari su-27. sirip belakang su-35bm sedikit lebih kecil sehingga tidak sejajar nozzle. tail boom sedikit lebih runcing dari su-27. cmiiw. “well bung Suroboyo, you need to see closer to make sure” :mrgreen:

  14. untuk ciri fisik su-35 hampir identik dengan su-27. sedikit perbedaan dengan su-35bm adalah rentang sayap lebih lebar dari su-27. sirip belakang su-35bm sedikit lebih kecil sehingga tidak sejajar nozzle. tail boom sedikit lebih runcing dari su-27. cmiiw. “well bung Suroboyo, you need to see closer to make sure” :mrgreen: