Jun 082018
 

Jet tempur Rafale di RIAT 2009 © TIm Fence via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – India akan menerima pesawat tempur Dassault Rafale mulai bulan September 2019, kata Kepala Staf Angkatan Udara India (IAF), Marsekal BS Dhanoa, seperti dilansir dari laman The Week.

Dia menambahkan bahwa keseluruhan 36 unit pesawat akan dikirimkan pada April 2022.

Sebelumnya Kepala Staf IAF, Marsekal BS Dhanoa membela kesepakatan Rafale dengan mengatakan bahwa itu “tak terlalu mahal” dan pemerintah menegosiasikan kesepakatan yang sangat bagus.

Rafale adalah salah satu dari enam jet tempur yang bersaing dalam kompetisi MRCA India untuk pengadaan 126 pejuang multiperan. Awalnya, Mirage 2000 telah dipertimbangkan untuk mengikuti kompetisi, namun Dassault menariknya dan mengajukan Rafale.

Pada bulan April 2011, IAF menentukan Dassault Rafale dan Eurofighter Typhoon telah lolos seleksi awal untuk kontrak senilai $ 10,4 miliar. Pada tanggal 31 Januari 2012, IAF mengumumkan bahwa Rafale sebagai penawar yang dipilih.

Diusulkan bahwa 18 unit Rafale akan dipasok kepada IAF pada tahun 2015 dalam kondisi “fly-away”, sedangkan sisanya 108 unit akan diproduksi Hindustan Aeronautics Limited (HAL) di India dengan perjanjian transfer teknologi. Kontrak pengadaan 126 unit rafale, servis dan suku cadang mungkin bernilai hingga $ 20 miliar.

Kesepakatan itu sempat terhenti karena ketidaksepakatan atas produksi di India. Dassault menolak 108 unit Rafale untuk diproduksi HAL, karena keberatan mengenai kemampuan HAL untuk mengakomodasi manufaktur yang kompleks dan transfer teknologi pesawat.

Meskipun Dassault mengatakan akan merundingkan dua kontrak produksi terpisah oleh kedua perusahaan, namun Kementerian Pertahanan India malah menginginkan Dassault bertanggung jawab sepenuhnya atas penjualan dan pengiriman 126 unit pesawat.

Pada bulan Mei 2013, negosiasi tersebut “kembali ke jalur” dengan rencana pengadaan 18 unit Rafale pertama yang akan dikirimkan pada tahun 2017. Pertentangan lainnya adalah ketentuan dimana Dassault harus menginvestasikan kembali dari 50 persen kesepakatan ke sektor pertahanan India, baik melalui pembelian atau alih teknologi.

Pada bulan Maret 2014, kedua belah pihak dilaporkan telah setuju bahwa 18 unit pesawat pertama akan dikirim ke India dalam kondisi “fly-away” dan 108 sisanya akan dibangun oleh HAL.

Pada bulan Desember 2014, dilaporkan bahwa pemerintah India dan Prancis berharap untuk menandatangani kontrak tersebut pada bulan Maret 2015.

Pada bulan April 2015, selama kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Paris, India meminta pengiriman 36 unit Rafale dalam kondisi terbang-jauh dipercepat. Menhan India Manohar Parrikar menyatakan bahwa Rafale akan dilantik ke IAF dalam waktu dua tahun.

India secara resmi membatalkan tender 126 unit pesawat MMRCA tanggal 30 Juli 2015. Tak lama setelah itu, India dan Prancis gagal mencapai target menyelesaikan perjanjian untuk 36 unit pesawat. Ketentuan yang sebelumnya disetujui pada bulan April berjumlah $ 8 miliar untuk 36 unit Rafale dengan harga $ 200 juta per unitnya.

Pada bulan Januari 2016, pemerintah India juga mengarahkan Angkatan Laut India untuk melakukan briefing singkat dengan Dassault untuk pengadaan Rafale versi angkatan laut bagi kapal induk India. Pemerintah India menginginkan ada kesamaan antara logistik dan suku cadang untuk jet tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara India, yang berpotensi hingga 54 unit Rafale untuk Angkatan Laut India.

Pada 30 September 2016, Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar dan mitranya dari Prancis Jean-Yves Le Drian menandatangani kontrak pembelian 36 Rafale di luar negeri dalam sebuah kesepakatan senilai € 7,8 miliar dengan opsi tambahan 18 unit dan harga yang disesuaikan dengan inflasi.

Berbagi

  14 Responses to “Rafale India Mulai Dikirim September 2019”

  1.  

    Pesawat mahal…..!!!!!!!! Minus tot.kursi pelontar kadang rewel bisa eject sendiri walaupun tombolnya belum dipencet.stick kemudi kadang nggak balance.tuas di geser ke kiri,pesawat malah lari kekanan.sangat berbahaya buat keselamatan para pilot yg menerbangkannya.ane sarankan buat india,jangan beli pespur ini.terlalu beresiko tuk ente.

  2.  

    Setuju, buat pilotnya yg suka ngantuk kursinya diganti kursi listrik

  3.  

    hahahaha. sampe segitunya bung. pespur favorit ane ini, reinkarnasi mirage 4000 aka super mirage, sayang harganya mahal.

  4.  

    tapi pemasoknya banyakan dari perancis sendiri, jadi logistiknya gak terlalu ribet dibandingkan adeknya yang lebih mungil yang pemasoknya dari seluruh dunia. ane yang kerja jadi vendor dah pernah ngerasain kalo pemasoknya dr seluruh dunia, ribetnya ampun ampunan dah.

    •  

      Harus diakui….kelebihan Dassault memang itu.mesin safran snecma buatan mereka jga.pokoknya all about france.kelemahan hanya diharga yg gila2an.bisa bangkrut negara klo beli nich toys.

  5.  

    TNI AU Siap-Siap Digoda Si Seksi Rafale, Akankah Berpaling dari F-16 Viper?

    Defense News (8/6)
    memberitakan bahwa
    Perancis akan mencoba untuk
    membuat TNI AU, yang sudah
    sangat kesengsem dengan
    F-16V Block 72 Viper untuk
    mengisi Koopsau III,
    berpaling dengan lekukan
    seksi jet tempur mereka,
    Rafale.
    Melalui misi khusus bersandi
    Pegase 2018, Angkatan Udara
    Perancis menjadikan
    Indonesia sebagai salah satu
    negara sasaran yang akan
    disinggahi oleh ‘rombongan
    sirkus’ yang terdiri dari 3 jet
    tempur Rafale, satu pesawat
    tanker KC-135, satu pesawat
    angkut A400M, dan satu
    pesawat kodal A310M.
    Rombongan Perancis ini
    sejatinya akan mengikuti
    latihan Pitch Black 2018 yang
    akan dilaksanakan oleh
    Australia, namun tentu
    kesempatan yang ada bisa
    juga dipakai untuk
    menawarkan jet tempur
    Rafale ke Indonesia. Rafale
    sendiri sudah pernah mampir
    ke bandara Halim
    Perdanakusuma, 2 tahun lalu.
    Perancis yang sudah
    memegang order 36 jet
    tempur Rafale meyakini
    bahwa masih ada peluang di
    ASEAN untuk memasarkan
    pesawat tempur buatannya,
    yang walaupun mahal namun
    dari segi avionik tetap lebih
    canggih dibandingkan F-16
    Viper.

  6.  

    duite kgk ada…..mau bayar pake apa ?
    pisang ? ……… kakakakaka
    manjat pohon ahhhh…….

  7.  

    Harga yg mahal apa sebanding dgn kecanggihannya yg digadang2 terbaik?

  8.  

    Kemungkinan pengiriman rafale ditahun 2019 bisa dibatalkan india, karna msh lebih canggih lg su 35

    Hahhaahaaaa

  9.  

    SU-35 Batal Karena Rusia Ngotot Tdk Mau Memberikan Offset T.o.T 40% Shg Sampai Skrg Belum di tanda tangani, Pantas Saja Bung Jimmy Ngilang tau2x Beliau Lg Asyik Berselancar di medsos Twitter Mencari The Way Of Selangkangan 🙂

  10.  

    Muehol bingit $ 200 juta per unit, ternyata jauh lebih mahal dibandingkan si talkun gendut. Harga segitu nggak mungkinlah Indonesia beli, Lhaa wong untuk 11 biji su 35 aja dah ngos-ngosan. Ibarat kata nafsu kuda tenaga ayam. Tapi nggak masalah, toh Indonesia tidak sedang berperang.

 Leave a Reply