Jul 032017
 

ilustrasi : Hutan di Kalimantan (Hendrojkson)

Samarinda – Sekitar 400 warga Kelurahan Lempake, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menyisir hutan sekitar permukiman penduduk dibantu Babinsa dan kepolisian, memburu dugaan binatang buas yang membunuh 34 ekor kambing dan 24 ekor ayam dalam dua pekan ini.

“Sasaran ratusan warga yang hari ini menyisir hutan dan perbukitan adalah hewan liar seperti anjing dan sejenisnya, kucing hutan dan sejenisnya mengingat ternak warga mati tidak wajar yang diduga pelakunya hewan liar,” ujar Camat Samarinda Utara Samsu Alam di Samarinda, dilansir ANTARA, 2/7/2017.

Hal itu diungkapkan Samsu setelah melepas ratusan warga Lempake menyisir kawasan hutan. Mereka dilepas dari halaman Masjid At-Taqwa RT 19. Sementara hutan dan perbukitan yang disisir tersebar di 14 RT, yakni kawasan RT 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 42, 43, 37, 36, 30.

Menurutnya, aksi sisir hutan dilakukan karena diperkirakan hewan liar tersebut bersembunyi di kawasan itu, namun ia berpesan kepada warga agar mengutamakan keselamatan masing-masing tim karena setiap warga yang turut menyisir hutan menggunakan senjata tajam seperti parang dan arit, bahkan ada yang membawa senapan angin.

Meski para menyisir hutan merupakan warga setempat, namun ia tetap minta mereka hati-hati karena bisa jadi masih ada beberapa titik yang tidak mereka hapal medannya sehingga setiap warga harus menjaga agar senjata yang dibawanya tidak melukai teman.

Sekitar 400 warga tersebut dibagi dalam beberapa tim untuk menyisir masing-masing titik sesuai pembagian tugas yang diatur oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa). Setiap ketua tim membawahi 5-10 orang. Ketua tim bertanggungjawab terhadap keselamatan anggota. Ketua tim dipilih berdasarkan pertimbangan penguasaan kawasan yang akan disisir.

Ia melanjutkan, kambing gembel dan ayam potong milik warga mengalami kematian tidak wajar karena sebelumnya tidak sakit, sementara perkiraan bekas gigitan hewan liar juga masih diragukan karena jika hewan liar baik ular, serigala, kucing hutan maupun jenis hewan liar lainnya tidak seperti itu cara membunuhnya.

“Kalau ular pasti ditelan dan tidak meninggalkan bangkai, kalau anjing hutan atau kucing hutan atau hewan buas lainnya, pasti ada bekas gigitan, bahkan dicabik-cabik dan sebagian dagingnya dimakan. Tapi kejadian di Lempake ini misterius karena tidak ada bekas digigit, namun tiba-tiba ternak mati hanya meninggalkan bekas luka kecil seperti untuk menghisap darahnya saja,” tutur Samsu.

Kambing dan ayam yang mati tersebut berubah menjadi lebih kurus seolah darahnya dihisap oleh pembunuhannya, sementara secara keseluruhan tidak ada daging yang dimakan sehingga hal inilah yang menjadi pertanyaan warga karena masih misterius.

“Kami sudah koordinasi dengan bagian kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Samarinda. Untuk hasil pasti penyebab kematian hewan ternak masih dalam uji laboratorium, namun dugaan sementara, itu bukan bekas gigitan hewan,” ujar Samsu.

Hasil Nihil

Perburuan terhadap hewan liar yang diduga telah membunuh sedikitnya 34 ekor ternak kambing gimbal dan 24 ekor ayam ras yang dilakukan ratusan warga Lempake, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu, berakhir nihil, meskipun telah melakukan penyisiran kawasan hutan dan perbukitan.

“Meski perburuan hari ini hasilnya nihil, tapi itu bukan masalah karena yang terpenting dari usaha ini adalah adanya persatuan masyarakat dibantu kepolisian dan Babinsa dalam mencari apa penyebab kematian tidak wajar terhadap hewan ternak,” ujar Camat Samarinda Utara Samsu Alam di Samarinda, Minggu.

Kawasan hutan dan perbukitan yang disisir oleh warga dan dibagi dalam puluhan tim itu tersebar di 14 RT, yakni kawasan RT 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 42, 43, 37, 36, dan 30.

Menurut Samsu, warga Lempake geram karena dalam dua pekan terakhir hewan ternak tersebut mati, padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakit.

Bahkan kematiannya juga tidak wajar, karena seolah darahnya disedot mengingat di bagian leher dan bagian paha ada bekas luka kecil sebesar ujung pulpen yang diduga sebagai titik untuk mengisap darah.

Misteri inilah yang coba dipecahkan aparat bersama warga sampai kemudian berdasarkan hasil musyawarah dilakukan penyisiran semua hutan yang mengitari rumah penduduk. Sedangkan sebelumnya hanya intensif melakukan ronda malam, namun masih ada kambing yang mati.

“Meski perburuan dugaan adanya hewan liar pembunuh puluhan ternak hari ini tidak mendapat hasil, namun saya nilai apa yang dilakukan warga bukan merupakan hal yang sia-sia, tapi dampak dari perburuan hari ini justru sangat besar, seperti persatuan warga, efek jera bagi pelaku, dan ajang silaturahmi bagi semua,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Lempake Nurharyanto mengatakan, sejak adanya kematian ternak yang tidak wajar sebelum Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah, warga aktif melakukan ronda malam, namun masih saja ada peternak yang kecolongan atas kematian ternaknya oleh makhluk yang belum diidentifikasi wujudnya.

“Salah seorang peternak yang kecolongan adalah Pak Ngateman. Tadinya dia punya 12 kambing gimbal, tapi kini tinggal empat ekor karena yang lainnya mati seperti darahnya diisap. Pertama Pak Ngateman kehilangan enam ekor kambing, besoknya lagi dua ekor kambingnya mati,” ucap Yanto.

Menurutnya, satu kambing harganya variatif antara Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta, sehingga jika dirata-ratakan satu ekor seharga Rp3 juta, maka untuk 34 kambing gimbal yang telah mati tersebut peternak kambing di Lempake menderita kerugian senilai Rp102 juta.

“Sekarang kambing milik Pak Ngateman yang sisa empat ekor ini dititipkan di kandang milik Pak Ali, supaya lebih mudah menjaga bersama. Kambing Pak Ali juga ada tiga yang mati dengan tanda-tanda kematian yang sama seperti kambing lainnya. Untuk mencegah agar musibah ini tidak terulang ronda malam dan kewaspadaan warga kita tingkatkan,” ujar Yanto lagi.

Bagikan:

  21 Responses to “Ratusan Warga Samarinda Buru Pembunuh 34 Kambing”

  1.  

    Waduhhhh

  2.  

    iya betul ni , kebetulan domisili saya juga dekat dengan lempake

  3.  

    Situs TNI bisa dipercaya.

  4.  

    Akibat habitat nya mulai rusak

  5.  

    Pernah nonton di history Chanel korban bukan hanya ternak bahkan manusia kelelawar vampir penghisap darah

  6.  

    Kasihan Bung Kambing.

  7.  

    Waaaah, ko blum ktahuan dalangnya

  8.  

    Saya sudah beberapa kali membaca berita-berita semacam ini terjadi di beberapa tampat di Jawa beberapa tahun lalu. Dan semuanya berlalu tanpa jawaban. Tak pernah diketahui penyebabnya. Misterius. Bikin penasaran.

    Mungkin perlu dijebak dengan menyediakan 1 kambing sebagai pancingan, sementara di sekitarnya bersiap-siap para peronda mengintai untuk meringkusnya.
    Semoga yang terjadi di Samarinda ini nantinya bisa teratasi dan dapat terungkap secara jelas pelakunya. Sehingga tidak ada lagi keresahan masyarakat.

  9.  

    Hutan habis di babat, ilegal logging, pemburuan liar, sungai2 habis di tambang (peti),, mengakibat kan binatang Predator seperti macan kumbang, macan dahan, macan tutul, kucing hutan, beruang, dan predator lain nya mau tak mau memburu ternak pelharaan warga,, jadi siapa yang salah?,,

  10.  

    34 kambing dalam 2 pekan ? Kalau macan habisakan 1 ekor kambing, 1 Minggu kemudian baru cari mangsa lagi

  11.  

    Aku kira kmeren berita ini hoax

  12.  

    orang barat bilangnya chupacabra :v

  13.  

    Macan 1 rt kali

  14.  

    dekat rumah saya kejadian

  15.  

    bisa di duga ini adalah perbuatan si gerandong, kita harus minta bantuan pada kalagondang šŸ˜€

  16.  

    tidak ada inisiatif pasang camera cctv kah?

 Leave a Reply