Nov 032017
 

A satellite photograph of Cuarteron Reef in the South China Sea’s Spratly islands, showing a lighthouse, probable communications and radar towers, a probable bunker, and a possible observation post constructed by China. The photo was taken on January 24, 2016. (CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe)

Beijing. Jakartagreater.com – China mengharapkan Amerika Serikat dapat “membantu dan tidak menimbulkan masalah” di Laut China Selatan (LCS) yang diperselisihkan, kata seorang diplomat senior China pada Jumat, 3/11/2017 menjelang lawatan Presiden Donald Trump ke Beijing minggu depan.

AS telah mengeritik konstruksi pulau-pulau oleh China dan pembangunan fasilitas-fasilitas militer di laut itu, dan khawatir fasilitas-fasilitas tersebut dapat digunakan untuk membatasi gerakan bebas di laut.

Kapal-kapal Angkatan Laut AS juga telah melakukan patroli kebebasan navigasi di wilayah itu, yang membuat marah China.

Ketika berbicara kepada wartawan mengenai lawatan Trump, Wakil Menteri Luar Negeri China Zheng Zeguang mengatakan China memiliki kedaulatan yang tak dapat dipersengketakan atas pulau-pulau dan perairan sekitar di Laut China Selatan.

Esensi dari masalah Laut China Selatan ialah pendudukan ilegal atas beberapa pulau China dan pulau karang oleh beberapa negara regional, kata Zheng, dengan menambahkan China ingin menyelesaikan isu-isu dengan damai melalui pembicaraan dengan negara-negara yang terlibat langsung.

A satellite photograph of Johnson South Reef in the South China Sea’s Spratly islands, showing a probable radar tower being constructed by China on February 9, 2016. (CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe)

“Isu Laut China Selatan bukan sebuah isu antara China dan Amerika Serikat,” tambahnya. “Kami mengharapkan pihak eksternal, Amerika Serikat dapat menanam lebih banyak bunga dan lebih sedikit duri, membantu dan tidak menimbulkan masalah.” Zheng mengatakan ia mengharapkan Amerika Serikat dapat secara obyektif memandang perkembanagn-perkembangan positif di Laut China Selatan dan menghormati usaha-usaha oleh China dan negara-negara anggota di Asia Tenggara untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di sana.

Tak ada isu dengan kebebasan navigasi di Laut China Selatan dan China menentang pihak-pihak yang menggunakannya sebagai “alasan” untuk mengganggu kedaulatan dan kepentingan keamanan China, tambahnya.

Pemerintah Trump telah berjanji akan melakukan operasi-operasi lebih tegas di kawasan tersebut.

Klaim-klaim China di Laut China Selatan dipermasalahkan oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan. Diperkirakan setiap tahun perdagangan dengan menggunakan kapal senilai 55 triliun dolar AS melintasi kawasan tersebut.

Seorang diplomat senior China yang berbicara pada Jumat pagi mengatakan China dan Vietnam telah sepakat untuk mengelola pertikaian mereka di Laut China Selatan melalui pembicaraan persahabatan, menyusul percekcokan pada musim panas antara kedua negara komunis bertetangga itu.

China dan Vietnam telah lama belum menemukan titik temu atas isu tersebut, dengan Vietnam sebagai pihak penentang paling vokal terhadap klaim-klaim China atas sebagian besar laut regional tersebut. (Antara/Reuters).

 Posted by on November 3, 2017  Tagged with:

  9 Responses to “Reaksi China Atas Kebijakan Amerika Serikat di LCS”

  1. Trus, apa faedahnya buat indonesia….???
    Apa kabar c705, Rhan 450,550,750…???

  2. KEDAULATAN ATAS DASAR KLAIM SEJARAH MASIH AJA DIPERTAHANIN ADA ADA SAJA COUNTRY JAMAN NOW

  3. Pilihan yg ada : DAMAI ato PERANG … ini buat konsumsi publikasi publik.

    Presiden Amrik mau dtg ke China, kalo bahas isu LCS sdh pasti materi dan hasil rundingan nya dirahasiakan, paling jg barter win win solution yg berlaku utk kepentingan kedua negara.

  4. Bagaimana persoalan LCS ini solusinya PERANG, yang kalah mundur yang menang berkuasa. asalkan perang ini juga melibatkan NATO dan RUSIA biar tambah rame, kadang PERANG memang dibutuhkan untuk melihat negara mana yang siap dg SUPER POWER nya antara USA dan CHINA dan negara yg terlibat di LCS termasuk Indonesia.

    kalau solusinya selain perang ya dialog tapi gak ada solusi dg CHINA yang konon memiliki senjata pamungkas yaitu Status QUO bisa memveto keputusan PBB, jadikan percuma habis uang dan tenaga.

  5. Skenario dua negara, amerika tak mau kepentinganya diusik jika hasinya sama sama enak maka sandiwara ttp dilanjut tapi harus 50 50 bagi keuntungan

  6. Ngebahas bagi2 lahan jarahan SDM di Asia Tenggara kali, kan AS dan China sama2 opurtunis gak ada kawan dan lawan sejati yg ada kepentingan yg hakiki.he3

 Leave a Reply