Jun 072018
 

Konsep rudal jelajah Tomahawk diluncurkan dari kapal selam kelas Ohio © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Hacker pemerintah China telah dituduh mencuri data sensitif dari komputer kontraktor Angkatan Laut AS, termasuk rencana untuk rudal jelajah anti-kapal supersonik yang diluncurkan dari kapal selam.

Peretasan terjadi pada bulan Januari dan Februari, sebut pejabat AS kepada Washington Post, yang berbicara dengan syarat anonimitas tentang penyelidikan yang saat ini sedang berlangsung dan dipimpin oleh Angkatan Laut AS (US Navy) dan turut dibantu oleh Biro Investigasi Federal (FBI).

Angkatan Laut AS menolak berkomentar selain mengatakan: “Sesuai peraturan federal, ada langkah-langkah di tempat yang mengharuskan perusahaan untuk memberitahu pada pemerintah ketika ‘insiden siber’ telah terjadi yang memiliki efek merugikan secara aktual atau potensial pada jaringan mereka yang mengandung kontrol informasi bukan rahasia. Tidak tepat membahas detail lebih lanjut saat ini”.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan para pejabat tidak tahu apa-apa tentang peretasan yang dilaporkan tersebut, akan tetapi menurut Reuters, menambahkan bahwa pemerintah China “kukuh menjunjung keamanan siber, dengan tegas menentang dan memerangi semua bentuk serangan siber sesuai dengan hukum”.

Peretas diyakini telah menargetkan situs kontraktor yang bekerja untuk Naval Undersea Warfare Center, di Rhode Island.

Material terdiri dari 614 gigabyte yang berkaitan dengan proyek yang dikenal sebagai Sea Dragon, serta sinyal dan data sensor, informasi ruang radio bawah laut yang berhubungan dengan sistem kriptografi dan perpustakaan perang elektronik kapal selam Angkatan Laut AS, menurut laporan Washington Post.

Surat kabar tersebut juga mengatakan, pihaknya setuju untuk menahan beberapa rincian tentang proyek rudal yang dikompromikan setelah Angkatan Laut AS mengatakan bahwa perilisan mereka dapat membahayakan keamanan nasional.

Data yang dicuri memiliki sifat yang “sangat sensitif” meskipun ditempatkan pada jaringan yang tidak diamankan oleh kontraktor, kata Washington Post mengutip para pejabat.