Jul 302017
 

Manado – Enam negara yang tergabung dalam pertemuan Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF CBT), akan menggandeng perusahaan media sosial dalam melacak keberadaan teroris.

“Salah satu poin yang disepakati dalam pertemuan ini, yakni mendorongan kerja sama di antara enam negara dan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan media sosial, video file sharing dan messaging,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, di Manado, Minggu, 30-7-2017, seperti dilansir Antara.

Enam negara tersebut adalah : Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, dan Selandia Baru.

“Jadi perusahaan-perusahaan sosial media ini nantinya ikut membantu kami mencari keberadaan teroris atau menangkal secara langsung,” ujar Wiranto Dia menegaskan pemerintah akan memaksimalkan peran media sosial untuk membendung pengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Hal itu ditempuh seiring marak perekrutan pendukung kelompok teroris dengan memanfaatkan media sosial.

Enam negara akan mengajak semua perusahaan media sosial, untuk ikut bersama memerangi terorisme dan radikalisme melalui pesan perdamaian dan toleransi.

Jika dilihat ISIS memang kerap kali menggunakan media sosial untuk merekrut anak muda bergabung dalam jaringan tersebut, sehingga hal yang sama mustinya juga akan dilakukan untuk memproteksi anak muda kita dari propaganda mereka, kata dia pula.

ISIS adalah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah. Meski dilabeli sebagai kelompok teroris, tapi sebagian warga mendukungnya.

Pertemuan pertama Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF CBT) berlangsung di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Forum Foreign Terrorist Fighters

Pertemuan Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF CBT) juga menyepakati akan membentuk FTF untuk memberantas terorisme.

“Kami sepakat membentuk forum tentang Foreign Terrorist Fighters atau FTF dalam rangka memperkuat kerja sama information sharing dan kerja sama antara penegak hukum dan badan intelijen,” ujar Wiranto.

Wiranto mengatakan bahwa ISIS pertama kali menggunakan konsep seluruh militansi dilatih untuk berperang.

Saat ini, katanya lagi, mereka menggunakan metode mendirikan basis di semua negara khususnya Asia Tenggara, sehingga enam negara yakni Indonesia, Australia, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Selandia Baru menyepakati untuk peningkatan kerja sama Foreign Terrorist Fighters.

Melalui kerja sama itu, enam negara ini akan memajukan kemitraan bidang informasi intelijen dan pembangunan sistem IT di bidang intelijen.

Hal itu dinilai akan memudahkan negara-negara tersebut bekerja sama dalam memberantas terorisme.

“Kami bersepakat untuk berbagi informasi intelijen yang diikuti dengan pembangunan sistem teknologi informasi intelijen untuk semakin mempermudah penanganan terorisme global,” ujarnya lagi.

Bagikan :

  4 Responses to “RI & 5 Negara, Bentuk Forum Foreign Terrorist Fighters”

  1.  

    Aya2 wae….mboh kah

  2.  

    he……eh

  3.  

    Kenapa singapur gak ikut ya?

  4.  

    Awas klo sudah sepakat buat aliansi (Forum) masih suka berantem sesama teman

 Leave a Reply