Mar 022019
 

Mockup jet tempur multiperan generasi 4,5 KF-X / IF-X © Rangga Baswara Sawiyya via Angkasa Review

JakartaGreater.com – Menko Polhukam Wiranto menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Korea Selatan (Korsel), Kim Chang-Beom. Menurut Wiranto, di dalam pertemuan tersebut dibicarakan rencana kunjungan ke Korsel untuk negosiasi proyek pesawat tempur Korean Fighter Experimental/Indonesian Fighter Experimental (KF-X/IF-X), seperti dilansir dari laman Detik Finance pada hari Jumat.

“Kita mau ke Korsel untuk negosiasi KF-X. Biasakan, Dubes dateng untuk menyampaikan beberapa hal dalam rangka kunjungan itu”, ujar Wiranto di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Proyek KF-X/IF-X digarap Korea Selatan. Pada tahun 2009 Indonesia menyatakan minat untuk terlibat, yang ditandai dengan penandatangan letter of intent (LoI). Kemudian, ini berlanjut dengan kesepakatan pengembangan bersama.

Rencananya, pesawat KF-X/IF-X tersebut akan diproduksi sebanyak 168 unit dengan Korsel memperoleh 120 unit dan Indonesia diperkirakan menerima 48 unit. Produksi massalnya direncanakan dimulai pada tahun 2026 nanti.

Foto menunjukkan desain KF-X yang dipersenjatai dengan sistem rudal Eropa © DAPA

Wiranto menolak menjelaskan apa saja yang akan dibahas dalam negosiasi dengan pihak Korea Selatan. Dia hanya mengatakan bahwa materi negosiasi akan dibahas lebih lanjut di sana (Korsel).

“Kita belum bicara mengenai negosiasi, di sana pemimpinnya Menteri Pertahanan, di sini saya. Nanti sampai di sana baru kita akan bicarakan negosiasi itu, intinya bagaimana, kebijakannya bagaimana, dan nanti tim teknis yang akan melanjutkan. Itu nanti di sana, kita nggak mendahului, tapi yang pasti di sana”, tutur Wiranto.

Dia menambahkan pertemuannya dengan Dubes Korsel ini sebagai pendahuluan sebelum negosiasi. Menurut Wiranto, Dubes Korsel nanti yang akan mengatur pertemuan untuk negosiasi tersebut.

“Dubes Korsel itu untuk secara pendahuluan begitu, untuk mengatur pertemuan di sana bagaimana, itu saja”, tutur Wiranto.

Mengurangi kontribusi dan pesanan

Sebelumnya, sebuah sumber menyebut bahwa Pemerintah Indonesia ingin mengurangi kontribusinya dalam proyek KF-X/IF-X menjadi 15 persen (sebelumnya 20 persen). Dan Indonesia disebut juga ingin mengurangi secara drastis jumlah pesanan pesawat tempur yang akan dibeli, dari rencana semula 48 unit menjadi separuhnya atau bahkan bisa lebih sedikit lagi, sementara itu Korea Selatan akan membeli sekitar 150 unit KF-X, seperti di beritakan laman Kompas.com pada pertengahan Januari 2019.

Render komputer jet tempur KF-X Angkatan Udara Korea Selatan dalam pertempuran © Korea Aerospace Industries

Lebih lanjut, dikatakan bahwa Indonesia menuntut pula agar produksi KF-X/IF-X itu bisa dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat, beserta hak-hak untuk menjual pesawat.

Pembagian kerja untuk manufaktur pesawat memang baru akan diatur dalam perjanjian berikutnya sebelum tahap produksi dimulai pada tahun 2026. Meski demikian, sejak awal Indonesia sudah paham bahwa produksi kemungkinan besar tetap akan dilakukan di Korea Selatan, sedangkan PTDI hanya akan mendapat jatah membuat komponen airframe, yaitu sayap.

Dan oleh karena itu, Indonesia ingin pembagian kerja produksi disepakati di awal sebagai “syarat utama” untuk kelanjutan partisipasinya dalam program KF-X. Semua tuntutan itu merupakan refleksi bagaimana Indonesia mencoba mengatasi berbagai masalah yang telah mendera partisipasinya di KF-X/IF-X sejak Korea Selatan mencanangkan sebagai program pesawat tempur generasi 4,5 dengan kemampuan melampaui pesawat tempur non-stealth lain di pasaran tetapi masih di bawah F-35.

Korea Selatan menganggap program KF-X/IF-X sebagai sarana meningkatkan kemampuan teknologi dirgantara yang sebelumnya telah diasah melalui pengembangan jet latih T-50 bersama Lockheed Martin. Adapun Indonesia menganggap IF-X ini sebagai platform alih teknologi untuk naik taraf dari bidang yang selama ini telah dikuasai, yaitu pengembangan pesawat turboprop.

Seorang insinyur yang terlibat dalam program KF-X menyebutkan bahwa Indonesia sudah menguasai 90 persen teknologi pesawat turboprop dan 60 persen teknologi untuk dapat membuat pesawat tempur. Dengan alih teknologi melalui program KF-X/IF-X diharapkan membuat penguasaan teknologi Indonesia dalam pengembangan jet tempur bisa setara dengan pesawat turboprop.