May 042014
 

Liputan6.com, Jakarta – Indonesia akan memiliki bandar antariksa beserta roket peluncur satelit sejauh 700 kilometer dalam 25 tahun ke depan. Tak ketinggalan satelit penginderaan jauh dan satelit komunikasi.

Saat ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tengah menyiapkan rencana induk 25 tahun (2015-2040) yang di dalamnya berisi rencana pembangunan program-program tersebut. Rencana induk ini juga untuk mendukung UU Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

Untuk roket peluncur satelit, Lapan kini fokus merancang dan mengembangkan roket muatan atau sonda. Namun pengembangan roket ini mengalami hambatan.

“Cita-cita itu ada, jadi roket untuk peluncur satelit itu menjadi cita-cita pengembangan roket di Lapan,” kata Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin kepada Liputan6.com saat bertandang ke kantornya di Jakarta baru-baru ini.

Namun tak mudah untuk bisa merealisasikan mimpi membangun roket peluncur itu. Sebab, kata Djamaluddin, tak ada institusi di negara mana pun yang bersedia membagi ilmu pembangunan roket begitu saja. “Teknologinya itu tidak bisa dipelajari sendiri.”

“Tidak ada sekolah yang memberikan ilmu pengembangan roket, karena ini sangat sensitif. Roket bisa dimanfaatkan untuk keperluan militer, sehingga negara-negara tidak mungkin memberikan begitu saja teknologi roket itu. Sehingga kita harus mengembangkan sendiri atau mungkin bermitra dengan negara mitra kita,” tandas Djamaluddin.

Belum lagi, kata Djamaluddin, kebijakan Missile Technology Control Regime (MTCR) yang juga harus dipertimbangkan. MTCR itu adalah semacam perjanjian internasional terkait pembatasan teknologi misil, roket yang dimuati persenjataan. Saat ini Lapan tengah mempelajari kebijakan MTCR itu.

“Kita belajar bagaimana Brazil misalkan, ketika membuat bandar antariksa termasuk juga eksperimen peluncuran roket itu. Pada tahap awal memang bersikukuh tidak mau ikut dalam MTCR. Tapi dalam perkembangannya, itu tidak bisa bertahan seperti itu. Kemudian ikut dalam perjanjian internasional tersebut, tetapi dengan aturan-aturan yang ketat,” papar Djamaluddin.

“Kita belum terpikir masalah yang terkait dengan MTCR seperti itu, apakah kita masuk atau tidak? Masih banyak faktor yang dipertimbangkan di sana” imbuh ahli astronomi ini.

Meluncur 2040

Sementara Kepala Pusat Teknologi Roket (Kapustekroket) Rika Andiarti mengatakan, rencana induk ini masih dalam pembahasan. Namun, dia optimistis Indonesia akan mengejar ketertinggalan teknologi peroketan pada 2040 mendatang.

“Kami memang sekarang sedang mempersiapkan rencana induk keantariksaan untuk 25 tahun mendatang. Inginnya di tahun 2040 kami sudah mampu meluncurkan satelit remote sensing seberat 1 ton ke orbit 700 kilometer,” harap wanita berkerudung ini.

Menurut Rika, saat ini Lapan telah mengembangkan roket besar RX-550 dan RX-420 dengan jangkauan di atas 200 kilometer. Untuk menyempurnakan roket ini, Lapan menggandeng beberapa negara lain, salah satunya Ukraina.

(Nadya Isnaeni Panggabean)

Sumber : Liputan6.com

  73 Responses to “RI Luncurkan Roket Satelit 2040”

  1. test…

    • jiiiaahhhh… dapet pertamax! hehe..

    • “Namun pengembangan roket ini mengalami hambatan” ko disetiap berita tentang kemajuan keluhan yang diekspos hampir sama ya (kurang dana/masalah teknis) apakah salah satu strategi pemerintah ato emang beneran..

      • Karena itu kenyataan bung… 😀
        Saya pernah mengantar anak2 sekolah melihat kondisi tempat pembuatan roket, dan mereka ngerti sampai bertanya, kok alatnya tua-tua semua ya?
        Coba lihat di artikel Peristiwa kelahiran Lapan, dan ada itu foto anggaran yg didapat Lapan… Mungkin bisa membantu, 😀

        • pengembangan RX 750 apakah untuk peluncuran roket satelit juga bung Jalo?

          • Iya itu untuk riset, pengembangannya tinggal nunggu RX-550. Kalau RX-550 bisa, RX-750 juga bisa. Untuk ilmu rekayasanya gak beda jauh, belum di uji statis dan terbang karena kalau langsung dimasukin bahan bakar, anggaran lapan untuk 3 roket RX-550 langsung habis…. 😀

        • lagi2 terpentok masalah klasik ya bung…capres2 2014 belum ada sedikit pun yang menyentil masalah kemandirian teknologi bangsa..

  2. Cepot is here..keduaxxxxx

    • 2040 – 2014 = 26 tahun……..hmmmm

      Wajib di NOS………………karena terlalu lama.
      Kemungkinan AS, Rusia, Eropa, China, dll sudah bikin perumahan di Mars di tahun itu.

  3. keren.. lanjutkan bung..

    jgn ikut perjanjian macem macem lah..

    itu cuma akal akalan negara sekutu aja untuk melindungi keunggulan mereka…

    (ben ora kalah maksud te)

  4. yah 26 tahun lagi. . .masi lama. . .

  5. amin…..
    semoga ALLAH mewujudkan impian dan cita2 kita bersama

  6. Aminnnn
    Maju terus bangsaku

  7. klo bisa dipercepat aja, jangan nunggu lama-lama
    kasian mbah-mbah tua yg ada di warjag, uda pada dimakan cacing duluan
    moga aja saya masih bisa mendapatkan dan merasakan kebanggaan sebagai WNI pada waktu itu.. aminnn

  8. Aduh lama banget sampai 2040, udah keburu perang dunia 3 tuh, kita masih mau test roket 200 km aja masih susah yg jelas itu lcs udah semakin memanas dlm 5 atau 10 thun kedepan, yg penting rudal-rudalnya dulu dong di percepat test nya dan sekalian tuh sama guidence, biar bisa di install di pantai-pantai kita bung jalo.

    • Hehehehe, kok saya…
      Saya cuman manusia biasa yg gak punya andil untuk itu. Kalau mau cepat sebenarnya gampang, cukup pemerintah memberikan perhatian dan cukupi permintaan peneliti kita. Insyallah semua bisa terlaksana, seperti contoh Kemenhan memberikan perhatian agar bisa menciptakan R-Han, hasilnya tidak perlu waktu lama muncul R-Han 122 dan 220 (karena didukung anggaran bagus melalui konsorsium roket). Nah kalau untuk antariksa kan murni Lapan sendiri, 😀

      • Benar bung jalo, harus ada perhatian dan keinginan pemerintah utk memajukan industri dan riset roket kita salah satunya dgn meningkatkan dananya dan konsentrasinya utk kemajuan roket kita.

        Saya berharap pemerintah yg akan datang bisa meneruskan atau bahkan meningkatkan roadmap yg sdh dibuat oleh lapan tsb.

        • Iya bener, sekarang agar bisa mengejar ketinggalan teknologi setiap penelitian dan pengembangan dibuatkan konsorsium. Seperti konsorsium roket, radar, satelit, dll. Hal ini agar bisa menopang kekurangan SDM, fasilitas dan anggaran. Iya benar, semoga pemerintah kedepan melihat masalah ini.

  9. ayo dipercepat……kita perlu teknologi satelit sebagai mata diatas air dan darat. kita perlu teknologi roket untuk menimbulkan efek deterjen:-) . kita perlu teknologi sonar dan kapal selam sebagai mata bawah air. fokus….fokus….fokus. pilih presiden yang pro teknologi

    • Ada perbedaan dalam pengaplikasian roket ke bidang antariksa atau militer. Kalau militer itu menggunakan jarak jangkauan dan kalau antariksa itu fokus ke ketinggian. Yg sulit itu untuk ketinggian, nah kalau militer saya yakin dalam waktu dekat sudah bisa digunakan, kalau antariksa ini perlu waktu yg lama karena berkaitan dengan gaya dorong ke ketinggian. 😀

      • menurutku bukan masalah ketinggian dan jangkauan tetapi pengaplikasian dan kecepatan. kl indonesia bisa membuat peluncur satelit maka bisa buat icbm. kl aq baca icbm mempunyai tingkatan daya dorong sebelum mencapai sasaran. kalau tingkat terakhir bermesin supersonik maka mantap sekali. kita luncurkan keatas melewati atmosfer lalu balik langsung menghujam ke sasaran. memanfaatkan rotasi bumi. dikira meteor garden 🙂

        • Iya bener bung, itu sekitar dia atas ketinggian 500-600… Tapi untuk pertahanan untuk ICBm tidak dilimpahkan ke Lapan. Tapi ada yg.lain akan membangunnya, tenang aja yg akan membuatnya ini “jagoan” semua. Sekarang masih riset, mungkin 15 tahun lagi Insyallah akan terlaksana, Lapan difokuskan untuk meluncurkan satelit. Biar kita gak ada ketergantungan dengan negara lain, umur satelit itu rata 5-7 tahun, jadi akan ada pergantian terus

          • Bung kalau 3 digit di atas 200 km kapan ya kira2 bisa? hehehe .. saya senyum2 baca “jagoan” ..

          • Ok buat bung Ghi, teman2 masih merekayasa ke Low Cost Cruise Missile (150-200 km) itu menggunakan mesin turbojet. :mrgreen:

            Clue terakhir 😛

          • Keren … mini Tomahawk … semoga lancar Bung (ini doa mewakili Bangsa Indonesia) :D. Saya nggak tanya clue lagi deh kalau terakhir … 🙂

        • “dikira meteor garden”..ha.ha.ha..

  10. Maksud dari tulisan diatas adalah Roket bermuatan 1 ton jadi bisa sampai 10-15 satelit kalau menggunakan satelit Mikro (50-100 kg), jadi bisa diartikan kita akan menyewakan jasa. Kalau target Lapan meluncurkan satelit sendiri itu pada tahun 2021, untuk satelit (-30kg) mudah2an bisa diluncurkan pada 2019. Semoga umur kita panjang agar bisa melihat salah satu sejarah bangsa dalam kemandirian teknologi Keantariksaan ini. Amieen

    • Tak apa satelit mikro dulu. Bung Jalo, apakah satelit mikro sudah bisa digunaka untuk satelit militer dan “GPS”?

      • Iya, sudah bisa untuk satelit militer dikisaran 100 kg. Itu bukan tipe eksperimen lagi (tipe A). Bisa di buatkan ke B, nah yg buat bukan Lapan aja tapi konsorsium satelit

        • Kalau dalam pikiran saya: satelit militer, “GPS”, dan telekomunikasi. Yang terakhir ini besar kecilnya sepertinya juga tergantung jumlah transpondernya ya?. Kalau dengan jenis mikro bisa dihandle, moga-moga 5 sd 8 tahun lagi kita sudah mandiri, meskipun masih dengan beberapa keterbatasan.

        • Nah itu definisi satelit militer itu saya belum dapat. Yg saya tahu itu B1, untuk militer. Kalau fungsi pastinya komunikasi dan penginderaan jauh pasti akan masuk disitu. Soalnya satelit yg akan diluncurkan di India itu termasuk membantu militer juga, yaitu melakukan pengawasan di laut kita. Kalau umurnya 5-7 tahun, makanya kalau kita punya bandar antariksa sendiri yg rencana 2040 itu terlaksana jadi kedepan kalau sudah umurnya selesai kita bisa dengan cepat menggantinya. 😀

          • Gak menemukan definisinya karena militer banyak yang dirahasiakan ya .. hehehe. trims penjelasannya. saya teruskan cari-cari lagi ..

          • Kalau GPS di satelit A2 yg akan diluncurkan tahu depan sudah dipasang Bung Ghi… Nih untuk informasi aja tentang jarak orbit satelit…

            3 Jenis orbit yang paling umum dari beberapa jenis orbit satelit yang ada adalah :

            1. LEO (Low Earth Orbit) Satelit pada lingkaran low earth orbit ditempakan sekita 161 hingga 483 km dari permukaan bumi. Karena sifatnya yang terlalu dekat dengan permukaan bumi menyebabkan satelit ini akan bergerak sangat cepat untuk mencegah satelit tersebut terlempar keluar dari lintasan orbitnya. Satelit pada orbit ini akan bergerak sekitar 28163 km/jam. Satelit pada orbit ini dapat menyeselaikan satu putaran mengeliling bumi antara 30 menit hingga 1 jam. Satelit pada low orbit hanya dapa terlihat oleh station bumi sekitar 10 menit.

            2. MEO (Medium Earth Orbit) Satelit dengan ketinggian orbit menengah dengan ketinggian 9656 km hingga 19312 km dari permukaan bumi. Pada orbit ini satelit dapat terlihat oleh stasiun bumi lebih lama sekitar 2 jam atau lebih. Dan waktu yang diperlukan untuk menyeleseaikan satu putaran mengitari bumi adalah 2 jam hingga 4 jam.

            GEO, or Geostationary Earth Orbit. Satelit dengan orbit GEO mengitari bumi 24 jam dan relative diam terhadap bumi (berputar searah rotasi bumi). Sama dnegan waktu yang dibutuhkan bumi berotasi pada sumbunya. Umumnya ditempatkan sejajar dengan equator bumi. Karena relative diem terhadap bumi maka spot (wilayah radiasi sinyal ) juga tidak berubah. Jarak ketinggian dari permukaan bumi sekitar 35895 km. GEO satelit akan selalu terlihat oleh stasion bumi dan sinyalnya dapat mengjangkau 1/3 dari permukaan bumi. Sehingga 3 buah GEO satelit dapat mengjangkau seluruh permukaan bumi kecuali pada wilayah kutub Utara dan kutub Selatan. Untuk Orbit LEO dan MEO , umumnya merupakan Polar Orbit karena inklinasi lintasan terhadap ekuator sangat besar.

            Nah kayaknya kita masih dilingkungan LEO, 2021 itu target Lapan dibawah 400-500 km. Kalau tahun 2040 700-1000 km. Untuk informasi aja, rata2 satelit mata2 itu dikisaran 700 km. Jadi yah masih lama bung Ghi, hehehehehe..

            Untuk 200-300 km, rencana tahun ini (mungkin habis pemilu) kita akan mencoba RX-420 dengan sistem multi stage. Lalu ada penyempurnaan RX-550 dengan double stage, kalau RX-550 bisa berhasil tinggal dinaikin ke tingkat multi stage dengan kisaran target 500 km.

            Sekedar info tambahan, untuk renstra kedua (2015-2019) ada pengembangan untuk roket berdaya jelajah sampai 1.000 km. Nanti dilihat dari pengembangan RX-550. 😀

            Pasti ada yg nanya, kok bisa sampai 2040? Kalau untuk terbang saja mudah2an di renstra kedua sudah bisa. tapi masalahnya yg dikembangkan itu roket muatan atau sonda. Nah yg lama itu membuat roket bermuatan yg bisa membawa muatan sebanyak 1 ton jadi dibutuhkan waktu lama. :mrgreen:

          • Yang geostasioner seperti satelit telekomunikasi sipil yah. Saya baca yang orbitnya di ekuator ada sekitar 900 an alias sudah sesak.
            Kalau 2021 bisa yang 500 km, ngarep kalau bisa 2025-2030 sudah yang 700-1000 km .. hehehe. (moga-moga kabar 2040 tuh sekedar biar nggak bikin hoex-hoex .. 🙂 ..)
            Jadi pengen mukul pantatnya pemerintah nih, biar ngasih NOS .. 😀
            Soalnya kalau sudah sampai di level itu plus ICBM/jelajah, perusahaan dan pemodal asing plus pemerintahnya nggak akan petentang-petenteng lagi .. huh .. jengkel saya lihatnya .. pengen nonjok saja .. (btw: gimana sih bikin emoticon wajah marah .. saya kehilangan contekan .. 🙂 .. )

          • Coba lihat project Ariane family, itu berapa banyak negara yg terlibat. Kalau kita ada beberapa yg mau menawarkan ikut dalam project kita, kalau skrg baru 2 tapi masih penjajakan kerjasama. negara2 ini tidak berada di garis ekuator jadi mau ngajakin kerjasama karena lokasi kita. kalau mereka buat di daerah mereka, itu butuh cost gede baik bahan bakar ekstra dan roket harus bermanuver, kalau kita kan tinggal lurus aja. DI Biak berada pas, kalau di morotai itu sekitar -2 derajat. Kalau di negara mereka bisa – atau + berapa? mungkin ratusan, :mrgreen: . Mudah2an kalau negara ini terlibat bisa jadi NOS, karena mereka sudah terbukti dalam hal teknologi peroketan. 😀

          • Iya Bung Jalo katanya begitu karena jauh dari ekuator .. :).
            Kita ini dianugerahi harta luar biasa: SDA, SDM, dan posisi geografisnya. Kalau tak digunakan untuk semaksimal kesejahteraan bangsa berarti membuang anugerah.

            Ini sedikit oot. Pas saya ikut upacara hari pendidikan, tiba-tiba saya ingin coba cermati kata per kata pembukaan UUD 45. Dan kemudian saya tersadar kembali dan takjub, betapa hebatnya para pendiri bangsa ini. Sampai saya geleng-geleng kepala sendiri.

            Moga-moga pemerintah benar-benar mau concern, supaya datanya bung Jalo tentang anggaran Lapan bisa berubah di tahun-tahun ke depan .. 🙂

          • satelit yang berada di LEO ini yang ada dipikiranku. kecepatannya tinggi andai yang ditaruh adalah missile bukan satelit. gimana bung jalo ada ahli kita berpikiran gitu? icbm kayaknya sampai 15rb km. hampir 2 kali lipat dari icbm. semoga mereka mempunyai gagasan sama denganku.

          • Kayaknya gak, kita negara defensif bukan ofensif… 😀
            Kita ada kerjasama dengan Rusia untuk mengantisipasi bahaya meteor, cuman itu aja. Dan negara kita ini pencinta damai. Kalau mau buat pasti ada keinginan, tapi lihat lagi landasan negara kita. 😀

  11. tertinggal 1 generasi dengan negara2 yang telah berhasil meluncurkan satelitnya sendiri..

    duh sangat mirisnya.., untuk negara yang sebesar indonesia ini…
    maju terus dan jangan putus asa ibu pertiwiku

  12. Bung jalo, untuk saat sekarang ini yng paling urgen adalah pertahanan rudal udara dan darat kita mohon di percepat realisasinya, selain kita import rudal rudal dari uncle bear,dan kerjasama dgn uncle panda, dan dengan negara lain, tapi kita harus bisa punya pinsil pinsil canggih buatan anak negri kalau bisa harus lebih unggul dari asu, agar asu yg berada di cocos itu tidak sembarangan dgn kita saya rada curiga kenapa asu buat pangkalan disono, pasti ada apa-apanya, dan kita juga harus konsentrasi penuh dgn papua asu itu besar kali kepentingannnya di sono.
    Mohon pencerahannya.
    Tq, bisa nimbrung lagi
    Assalamualikum.

    • Hehehehe, tenang bung Indra, semua sudah disiapkan di master plan.
      Mudah2an dalam waktu dekat kita sudah punya hasil made in Indonesia…. 😀

      • Moga-moga bisa cepat terealisasi yg bung jalo, biar bisa tidur nyenyak nih kita-kita rakyat Indonesia karena udah tahu tni udah punya pertahanan dri serangan rudal musuh dan pesawat pembom dari negara asing yg kita tidak tahu kapan terjadinya,karena perubahan dunia sekarang begitu cepatnya,sehingga kita bisa intersep serangan itu jauh sebelum melewati zee kita.

  13. Semangat pejuang teknologi indonesia mantabb

  14. Bujug buneng!!! 26 taun lg??? Pastinya warga warjag dah pada sepuh bener aka tua bangget…

    • Itu mungkin untuk bandar antariksa seperti punya Perancis di kourou di daerah amerika selatan. Kalau satelit sendiri awalnya insyallah akan dicoba pada 2021…

  15. Biar ktinggalan gk apa2, apa mau dikata emg kita startny udah telat, tpi yg pnting para ahli kita ttp trus bkerja dn breksperimen utk mncapai titik hasil yg ditunggu2 sluruh rakyat Indonesia, meskipun dg dana riset serba trbats dn peralatn yg sdh masuk kategori loleksi musium. Mungkin aja dlm wkt2 akn dtg muncul putra bangsa yg jenius yg akn mlahirkn brbabagai pnmuan monumental dlm bid peroketan. Semua tdk mustahil krn rusia bs mncapai teknologi tinggi berkat andil putra bngsa mereka yg jenius dlm meriset dn merekayasa teknologi, shgg keilmuan mrk mjdi sesuatu yg sangat mahal yg tdk bisa dibeli dg uang. Mari kita ttp optimis dn hilangkn sikap apatis thd kmajuan bngsa trcinta. Tiba saat dn masanya pasti putra bngsa Infonesia akn mmpu mncapai teknologi tinggi dg sgala dukungan dn smngat militan bngsa Indonesia. Jayalah Bansaku jayalah negeriku Indonesia.

  16. Mudah mudahan diperlancar jalannya 🙂

  17. Bung Jalo, kalau target pada 2040 adalah muatan dengan bobot 1 ton, apakah roketnya udah sekelas Proton-M russia atau Ariane prancis gitu dan juga dengan muatan segitu apakah indonesia sudah bisa mengirirm astronot ke angkasa…???

  18. semoga aku diberi umur panjang untuk menyaksikan kehebatan Indonesia di tahun 2040. Aminnn.

  19. Btw brarti teknologi inti yg dikembangkan sampe 2040 itu hanya booster yg kuat aja atau ada yg lain bung jalo…

    • Banyak bung, untuk bosster tergantung mau bahan bakar cair atau padat itu harus diteliti dulu disetiap roket eksperiment. Lalu ada propelan disini aja banyak yg harus diketahui seperti star, cylindar, wagon wheel, dan kombinasi2nya. Lalu ada WPSOR, Sustain, mesin pendorong, telemetri, manuver, pengujian radiografi, treatment method, dll. Jadi ini teknologi yg susah, kata orang beli lalu bongkar dan curi aplikasinya. Dikira ini mobil, disini banyak teknologi sensitif, seperti meneliti bahan bakarnya aja dulu, itu memerlukan sekitar 3 tahun agar bisa dikembangkan sendiri. Lalu belum yg lainnya, sustain, booster, insulasi termal, material, path profil, dll.

      Jalan tercepat adalah melakukan mitra kerjasama dan transfer of technologi, seperti nossel kita kerjasama dengan Ukraina dalam 3 tahun kita sudah bisa membuat, merekayasa dan memodifikasinya. Dan masih banyak lagi, kalau saya sih yg diutamain adalah anggaran.

      Tahun 1976 Lapan dan Kohanudnas (Proyek Swasat) melakukan reverse engineering Roket SA75 berbahan bakar cair ini. Sayangnya program hanya berjalan selama setahun, terhenti karena masalah anggaran dan SDM. lalu project Kappa-8, terhenti pada tahun 1978 karena masalah dana. Lalu tahun 1976 kita kerjasama dengan fairchild AS, terhenti juga karena masalah dana. Lalu tahun 1977 kerjasama dengan Aerojet Liquid Rocket Company, AS, terhenti juga karena keterbatasan dana. Dan masih banyak lagi kasus lain karena keterbatasan dana.

      Makanya dana itu, penting, kenapa ada yg nanya program roket Lapan lamban, silahkan baca kasus2 di atas. itu barus sedikit aja yg saya kasih contoh, masih banyak lagi yg lain. 😀

      • Waduh .. dana lagi dana lagi .. gemes soalnya lihat korupsi di mana-mana .. 🙁

      • Mo nanya bung @Jalo..pernah baca nih soal propelan yg dikembangin dari bahan asphalt..itu apa termasuk propelan yg sedang dikembangin ya..untuk propelan lain sudah sampai mana ya pengembangannya..thks bung @Jalo

        • Untuk propelan sudah tidak ada masalah, cuman lagi mencoba dengan material2 yg lebih baik aja… kalau bahan asphalt ini setahu saya lagi dilakukan pengujian agar bisa digunakan untuk mengganti roket exocet dan strella.Ini dilakukan tim UGM, PT DATAREKA dan dislitbang TNI AL. Hasilnya kan sudah ada di artikel sebelumnya, 😀

          • Oic..ternyata yg dr asphalt itu utk replacement propelan exocet ama strella yg dah kadaluarsa itu ya..sedikit bagi pengetahuan dong bung..untuk perbandingan padat sama cair..mana yg yg lebih baik ya..ataukah tergantung peruntukannya semisal untuk antariksa maupun untuk rudal..maaf sedikit nanya bung @Jalo..hehehe

          • Gak ada masalah, yg penting sekarang kita sudah bisa membuat sendiri seperti AP dan HTPB biar kita gak bergantung lagi ama luar. Selama ini kita dipersulit membeli, jadi kita kembangkan sendiri. Tinggal sekarang pemerintah realisasikan agar bisa di produksi massal itu sudah membantu.

            Mau lihat perbedaan silahkan mampir kesini…
            http://id.wikipedia.org/wiki/Roket

          • Makasih banyak bung..btw salut buat peneliti kita yg dah bisa ngeracik propelan yg teknologinya susah didapet itu..mengingat pelitnya ilmu dr negara yg udah bisa duluan…

      • sekitar masalah pendanaan, kita harus membuat terobosan. jangan hanya mengandalkan dana dari pemerintah. misalkan kerja sama pembiayaan riset roket tersebut dengan saudi arabiya. kita bikin proposal yang melibatkan ahli2 mereka. kita lakukan sharing terhadap hasil riset kita dan disisi lain kita akan mendapatkan dana yang berlimpah. coba dilihat berita belakangan, mungkin rudal css dari china mereka perlu isi ulang bbmnya. jika mengenai material pelapisan nozzle mungkin bisa bekerja sama dengan np dan sk. agar nozzle yang harganya rp 2m itu tahan terhadap propelan berenergi tinggi yang sudah dihasilkan.

  20. Sudah saya baca bung, teknologi pentingnya sudah kita terapkan dan banyak laporan itu tidak menyatumkan teknologi pentingnya. Mungkin sedikit membantu, sekarang tidak hanya Indonesia banyak negara2 lain yg mencari transfer teknologi ke negara2 maju. rata2 negara maju tidak mau berbagi karena itu sudah ciri khas roket2 mereka. Coba lihat perbedaan2 roket2 antariksa negara2 maju, itu berbeda2, termasuk Lapan juga membuat roketnya berbeda dari negara2 maju.

    • mudah-mudahan para ahli roket kita mampu merancang dan membuat roket terbaiknya kelak om @jalo. terus terang bergetar didada saya ketika membaca cerita2 om @jalo. 😀

  21. Sedikit berbagi info negara kita dalam upaya mengejar penguasaan teknologi roket…

    1. Tahun 1964 program penguasaan teknologi roket pengorbit satelit (RPS) melalui reverse engineering roket Lambda (Jepang) dengan Prof. Hideo itokawa. Diawali dengan roket Ionosfer Kappa-8 (Sub-orbital 200 km). Upaya tersebut terhenti karena gejolak politik 1965.

    2. Tahun 1976, program kemandirian dalam sistem antariksa termasuk RPS kerjasama dengan Werher Von Braun (Fairchild) AS. Terhenti karena keterbatasan dana.

    3. Tahun 1977, program reverse engineering reaktivasi roket Kappa-8. Belajar tentang upaya statik dan operasi peluncuran roket Kappa-8 dengan misi pengukuran karateristik atmosfir atas dan lingkungan antariksa (x-ray, gamma ray). Ini bekal untuk membangun roket2 RX. Namun tahun 1978 terhenti karena dana.

    4. Tahun 1977 program roket sonda kerjasama dengan Aerojet Liquid Rocket Company, AS. Program ini terhenti juga karena masalah dana.

    5. Tahun 1988, program Wahana Peluncur Satelit Orbit Rendah (WPSOR), tersendat karena dana. dan masih banyak program2 lainnya yg gagal karena dana dan politik lainnya.

    Peneliti kita di lapan ada tidak sampai 300 orang, untuk perekayasa dibawah 30 orang, teknisi litkayasa dibawah 200 orang, perancang UU itu dibawah 5 orang.

    ini foto anggaran Lapan tahun 2012 (kolom ke tiga APBN, APBN Perubahan dan Perubahan). Di tahun 2013 dan 2014 anggaran malah turun.

    dari total itu dibagi lagi ke pusat2 teknologi dan bidang2 lainnya. Dan ini hasil Pustek roket dan Pusteksat…

    • Bung Jalo, terima kasih (tidak henti2nya) untuk pencerahan2 ini, Juga kepada sesepuh JKGR lainnya.
      Miris lihat rangkuman singkat sejarah peroketan di atas. Kelihatan sekali kalau masalahnya karena tidak ada kemauan politik. Tapi kenapa kemauan itu tidak pernah ada ya? Masak sekian puluh tahun selalu pupus? Apa memang pemimpin2 bangsa ini tidak terbuka matanya atau ada “hal-hal” lain atau mungkin “pihak” lain yang menghambat?
      #pertanyaanabadi

  22. Referensi … bagaimana negara tetanga kita membangun R&D yang tampaknya lebih baik daripada kita ..

    Security implications of Singapore’s 10-year drive to raise 100 nuclear engineers and scientists by 2024
    Singapore’s intention to raise a core group of 100 engineers and scientists who specialise in nuclear technology by 2024 means our security forces have about 10 years to up their game.

    It is an urgent task as the security forces and protocols needed to safeguard nuclear-related research facilities, radioactive material and research personnel will demand niche skills that surpass our nuclear incident contingency plans now grouped under Ops Iodine.

    As of today, we are not ready to host 100 experts in labs dedicated to nuclear research. By 2024, we better be.

    The Singapore Armed Forces (SAF) and Home Team agencies must be prepared to raise the bar and do so quickly as the 10-year window is a relatively short time frame to introduce capabilities that our security forces lack.

    Here’s the back story: On 23 April’14, Singapore energised its goal of grooming 100 nuclear experts under the 10-year Nuclear Safety Research and Education Programme, which will have a war chest of $63 million set aside for the first five years. Spearheaded by the National Research Foundation (NRF), the programme forms part of long-term plans to keep Singapore abreast of nuclear technology developments in the region.

    NRF Chief Executive Officer, Professor Low Teck Seng told the Today newspaper:“Many of our neighbours are looking at nuclear technology and it is important, as the Prime Minister says, for us to be aware, be knowledgeable and, as such, be able to assess the technology and its impact on Singapore — be it in terms of the potential it has for us, in terms of the risk we face, as well as the ability to harness its potential in every aspect.”

    A capability infusion is likewise needed to ensure safeguards for nuclear technology will march in step with NRF’s focus on nuclear tech.

    Falling short would expose a major security loophole in an area of research that stands high on the wish list of the world’s terrorist groups. If we fail to deter such elements, it will not be long before the world’s terror elite sense an opportunity and try to test the system.

    Security protocols must be drafted to oversee the movement of nuclear material that our research labs may require. These protocols would, in turn, require specialised firepower in the form of equipment, vehicles, maritime vessels and aerial assets (above) to protect nuclear material in transit, as well as rapid reaction forces that can intervene in an instant should unauthorised elements challenge the security protocols.

    As nuclear material would be involved, the rapid reaction forces must pack more than just the firepower under the estab of the SAF’s Special Operations Task Force (SOTF). The job of securing our future nuclear know-how will demand skill sets and know-how that go beyond the capabilities of our present-day CBRE units.

    Beyond SOTF firepower, CBRE sensors and incident mitigation protocols, our intelligence assets must up their game by ensuring all individuals and organisations involved in our expanded nuclear research drive are screened thoroughly. In order to do so, we must have the smarts to know which areas of nuclear research are in demand as such research may be adapted for anti-social purposes, putting researchers with such knowledge at higher risk.

    At the same time, Singapore’s friends will need assurance about the type and depth of work done in nuclear technology that will put Singapore on the watch list of the world’s nuclear watch dogs. In short, a corporate communications apparatus of sorts will be needed to ensure compliance with nuclear energy safeguards and signal to friends and frenemies that our intentions are above board and proper.

    It is clear there’s lots to do with so little time.

  23. Bung Preman, itu beneran dana RnD-nya segitu…
    Subhanallah, nih pemerintah kita tahu masalah ini gak ya…
    Kayaknya tahun depan masuk di buku putih, 😀

  24. apa ga’ udah pada meninggal tuh ahli lapan thun 2040…heheee,hanya becanda.semoga dpt terlaksana lebih cepat. aamiin .

  25. Mudah”an sy msh hidup tuk melhtny..

 Leave a Reply