Jan 222018
 

Jet tempur Su27 dan Su-30 TNI AU berpartisipasi dalam latihan Pitch Black 2012 di Australia. © Commonwealth of Australia

JakartaGreater.com – Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsekal Muda TNI Imran Baidirus mengatakan sudah saatnya Indonesia menetapkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ), untuk memaksimalkan pengamanan wilayah udara nasional.

“Indonesia memiliki wilayah udara yang luas. Letak dan kondisi geografis Indonesia yang terbuka membuatnya berpotensi mengalami masalah pelanggaran wilayah udara”, katanya, dalam obrolan dengan Antara di Jakarta. (16/1/2018)

Terlebih kini wilayah udara di atas Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) semakin sering dilintasi pesawat. Hal itu juga karena wilayah tersebut telah menjadi jalur penerbangan dan seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan.

Marsda Imran menambahkan bahwa perkembangan teknologi membuat kekuatan udara sebagai aspek militer setelah darat dan laut mengalami percepatan dan perubahan terbesar.

“Kita dihadapkan pada pada meluasnya spektrum ancaman di wilayah udara. Selain ancaman konvensional, ada juga ancaman-ancaman asimetris yang diperkirakan akan semakin mengemuka di waktu mendatang,” kata Imran.

Ancaman yang intens dengan teknologi itu memiliki spektrum yang sangat luas. Mulai dari wilayah antariksa yang menjadi wilayah bersama masyarakat dunia hingga balon udara dan pesawat tanpa awak.

Terkait dengan itu, lanjut dia, Indonesia mutlak harus membangun kekuatan udara yang maksimal. Aspek yang harus diperhatikan bukan saja dari sisi perangkat keras seperti seperti jumlah dan gelar pesawat tempur serta radar, tapi juga perangkat lunak seperti kebijakan, struktur militer, dan kualitas sumber daya manusia.

“Hingga kini Indonesia yang memiliki wilayah udara paling luas di ASEAN, tapi tidak memiliki undang-undang (UU) tentang kedaulatan udara. Padahal, dengan dasar UU tentang kedaulatan udara, hukum menjadi lebih jelas bahkan untuk dunia internasional. Ini menjadi dasar kuat pula untuk menetapkan ADIZ.”

Imran menegaskan, dengan memiliki ADIZ pengamanan wilayah udara nasional menjadi semakin kuat dan maksimal. Sudah saatnya Indonesia memiliki regulasi tentang kedaulatan udara termasuk yang mengatur ADIZ di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE).

Konsep Indonesia ADIZ telah disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara kepada Panglima TNI sejak dua tahun lalu. Sayangnya hingga kini, hal itu masih menunggu langkah lanjutan bersama dengan Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Perhubungan. Padahal dengan konsep itu Indonesia dapat mengontrol seluruh ruang udaranya secara maksimal. (Antara).

Bagikan :

  52 Responses to “RI Perlu Tetapkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara”

  1.  

    Sudah seharusnya Indonesia menerapkan ADIS,biar pesawat negara lain gak selonong boy memasuki ruang udara Indonesia.
    Tentunya juga harus ditambah lagi peralatan penunjang dan pendukungnya untuk menerapkan ADIS.

  2.  

    Sangat setuju, ADIZ wajib dibuat khususnya di laut Natuna Utara, Laut Pasifik barat daya sekitar ZEE antara Pulau Morotai dan Mapia, ZEE laut Arafuru dan ZEE Samudera Hindia dari ujung selatan Rote, Selatan Pulau Jawa hingga P.Christmast lanjut ke Pulau We. Kalo itu dilakukan, Kohanudnas butuh sekitar 6-8 ska. 3 di ADIZ Selatan, 1 di ADIZ Arafuru, 2 di ADIZ Pasifik barat daya dan 2 di ADIZ Laut Natuna Utara.

    1 skuadron bisa full pesawat sejenis atau mix dg berbagai pesawat sesuai dg kebutuhan dan anggaran. Bisa diisi dg AWACS, MPA, Medium dan Light fight. Juga ditambah tanker udara.

  3.  

    Syarat utama mau netapkan ADIZ itu apa.? Soalnya yg saya tau cuma Adiz Adelia sang artis itu aja…..xicixicixi

  4.  

    Harus punya rudal penangkis serangan udara jarak jauh ,radar anti pesawat siluman dan su 35 hrs sudh stand by

  5.  

    penguasaan secara dejure dan defakto sarat ADIZ …sistem radar dan sistem tempur{penegakan hukum} mampu mengcounter wilayah tersebut…baru aja beritanya dateng S400 udah rusak kena badai…laa ini malah bicara zona pertahanan udara ..xixixizzzZ

  6.  

    Myanmar gak banyak tingkah, begitu rencana langsung tanda tangan.

    Russia will supply six Su-30 fighter jets to Myanmar, according to an agreement reached during Russian Defense Minister Sergey Shoigu’s visit to the republic, Russian Deputy Defense Minister, Lieutenant General Alexander Fomin said on Monday.

    Klo disini udah 3 tahun juga masih akan dan akan

  7.  

    bung lingkar diajak sius…bisa kebolak didunia…xixixizzzZ….

  8.  

    Perlu percepatan pengadaan alutista untuk mendukung program tsb gak pake “akan”.he3

 Leave a Reply