RI Renegosiasi Proyek IF-X Akibat Kekurangan Dana

Desain jet tempur eksperimental, KF-X / IF-X © KAI via Flight Global

JakartaGreater.com – Pemerintah Indonesia berharap dapat menegosiasikan kembali kemitraannya dalam program jet tempur masa depan, KF-X/IF-X dengan Korea Selatan, seperti dilansir dari laman Flight Global.

Tim yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto akan menuju ke Seoul untuk membahas masalah ini, menurut situs web kementerian pertahanan Indonesia.

Masalah utama bagi pihak Indonesia adalah biaya, akibat semakin melemahnya nilai tukar rupiah. Rupiah telah kehilangan sepertiga dari nilainya terhadap dolar dalam lima tahun terakhir dan semakin mengalami tekanan yang hampir sama buruknya dengan won Korea Selatan.

Desain jet tempur KF-X © KAI

Hal tersebut mendorong Presiden Indonesia Joko Widowo untuk mengirim Wiranto. Diskusi diharapkan memakan waktu hingga satu tahun. Isu renegosiasi dibangkitkan selama kunjungan oleh presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia pada bulan September silam.

Menurut ketentuan kesepakatan proyek KF-X/IF-X yang asli, pemerintah Indonesia akan membukukan 1,7 triliun won atau sekitart 22,7 triliun rupiah dari total proyek senilai 8,5 triliun won atau 113,5 triliun rupiah.

Selain itu, pemerintah RI juga mengkhawatirkan sejumlah bidang seperti pembagian anggaran, biaya produksi, jumlah transfer teknologi yang akan diterima dan bidang-bidang lainnya.

Model pesawat tempur KFX Korea Selatan diresmikan pada ADEX 2017 di Seoul. © Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via Wikimedia Commons

Menurut laporan media dari Indonesia menunjukkan bahwa RI mengkhawatirkan adanya kontrol ekspor oleh AS yang ditempatkan kepada teknologi tertentu untuk KF-X / IF-X. Lockheed Martin memainkan peranan penting dalam pengembangan jet tempur bermesin ganda dibawah perjanjian offset atas akuisisi Korea Selatan pada 42 unit jet tempur siluman F-35A.

Dalam wawancara televisi pada bulan Mei, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan bahwa Indonesia ingin meninjau kembali keterlibatannya, secara efektif menekan tombol pause pada program tersebut.

Dia menambahkan bahwa kontrak pengembangan jet tempur, yang ditandatangani antara KAI dan Dirgantara Indonesia pada awal tahun 2016, dianggap tidak lengkap, meskipun ia tidak memberikan rincian mengenai hal ini.

Pada tahun 2016, KAI mengatakan bahwa Indonesia Aerospace, juga dikenal sebagai PTDI, akan mengirim 100 staf ke pabrik Sachon, KAI untuk membantu dalam desain pesawat tempur baru, yang diramalkan lebih maju daripada Lockheed Martin F-16, tetapi masih dibawah jet siluman F-35.

Rencana awal menyerukan pemerintah Korea Selatan untuk menanggung biaya 60% dari program. KAI dan mitranya akan menanggung 20%. Jakarta akan menyediakan cicilan sebesar 1% dari total anggaran sebelum April 2016, dan lebih dari 2% untuk cicilan mulai tahun 2017.

Kehadiran Indonesia dalam program KF-X / IF-X bukan tanpa kontroversi. Beberapa pengamat mengatakan bahwa itu akan membuat pemerintah AS enggan memberikan lisensi ekspor untuk teknologi yang terkait dengan jet tersebut.

Proyek KF-X ditakdirkan untuk menjadi program akuisisi pertahanan terbesar Korea Selatan. Yang akan memproduksi 120 unit jet tempur bermesin ganda untuk dikirim ke Angkatan Udara Korea Selatan dan 80 unit untuk TNI Angkatan Udara.

Tinggalkan komentar