Oct 242018
 

Desain jet tempur eksperimental, KF-X / IF-X © KAI via Flight Global

JakartaGreater.com – Pemerintah Indonesia berharap dapat menegosiasikan kembali kemitraannya dalam program jet tempur masa depan, KF-X/IF-X dengan Korea Selatan, seperti dilansir dari laman Flight Global.

Tim yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto akan menuju ke Seoul untuk membahas masalah ini, menurut situs web kementerian pertahanan Indonesia.

Masalah utama bagi pihak Indonesia adalah biaya, akibat semakin melemahnya nilai tukar rupiah. Rupiah telah kehilangan sepertiga dari nilainya terhadap dolar dalam lima tahun terakhir dan semakin mengalami tekanan yang hampir sama buruknya dengan won Korea Selatan.

Desain jet tempur KF-X © KAI

Hal tersebut mendorong Presiden Indonesia Joko Widowo untuk mengirim Wiranto. Diskusi diharapkan memakan waktu hingga satu tahun. Isu renegosiasi dibangkitkan selama kunjungan oleh presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia pada bulan September silam.

Menurut ketentuan kesepakatan proyek KF-X/IF-X yang asli, pemerintah Indonesia akan membukukan 1,7 triliun won atau sekitart 22,7 triliun rupiah dari total proyek senilai 8,5 triliun won atau 113,5 triliun rupiah.

Selain itu, pemerintah RI juga mengkhawatirkan sejumlah bidang seperti pembagian anggaran, biaya produksi, jumlah transfer teknologi yang akan diterima dan bidang-bidang lainnya.

Model pesawat tempur KFX Korea Selatan diresmikan pada ADEX 2017 di Seoul. © Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via Wikimedia Commons

Menurut laporan media dari Indonesia menunjukkan bahwa RI mengkhawatirkan adanya kontrol ekspor oleh AS yang ditempatkan kepada teknologi tertentu untuk KF-X / IF-X. Lockheed Martin memainkan peranan penting dalam pengembangan jet tempur bermesin ganda dibawah perjanjian offset atas akuisisi Korea Selatan pada 42 unit jet tempur siluman F-35A.

Dalam wawancara televisi pada bulan Mei, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan bahwa Indonesia ingin meninjau kembali keterlibatannya, secara efektif menekan tombol pause pada program tersebut.

Dia menambahkan bahwa kontrak pengembangan jet tempur, yang ditandatangani antara KAI dan Dirgantara Indonesia pada awal tahun 2016, dianggap tidak lengkap, meskipun ia tidak memberikan rincian mengenai hal ini.

Pada tahun 2016, KAI mengatakan bahwa Indonesia Aerospace, juga dikenal sebagai PTDI, akan mengirim 100 staf ke pabrik Sachon, KAI untuk membantu dalam desain pesawat tempur baru, yang diramalkan lebih maju daripada Lockheed Martin F-16, tetapi masih dibawah jet siluman F-35.

Rencana awal menyerukan pemerintah Korea Selatan untuk menanggung biaya 60% dari program. KAI dan mitranya akan menanggung 20%. Jakarta akan menyediakan cicilan sebesar 1% dari total anggaran sebelum April 2016, dan lebih dari 2% untuk cicilan mulai tahun 2017.

Kehadiran Indonesia dalam program KF-X / IF-X bukan tanpa kontroversi. Beberapa pengamat mengatakan bahwa itu akan membuat pemerintah AS enggan memberikan lisensi ekspor untuk teknologi yang terkait dengan jet tersebut.

Proyek KF-X ditakdirkan untuk menjadi program akuisisi pertahanan terbesar Korea Selatan. Yang akan memproduksi 120 unit jet tempur bermesin ganda untuk dikirim ke Angkatan Udara Korea Selatan dan 80 unit untuk TNI Angkatan Udara.

  7 Responses to “RI Renegosiasi Proyek IF-X Akibat Kekurangan Dana”

  1.  

    selain persoalan dana proyek jet tempur ifx/kfx mungkin akan dipersulit oleh amerika yg menjadi penyuplai teknologi utk jet tempur ifx/kfx,jgn kan indonesia jepang yg sekutu dekat amerika dipersulit oleh amerika ketika mengembangkan jet tempur F2 yg merupakan varian jet tempur F16 versi jepang

  2.  

    Sebenarnya “tidak sulit”, klo pemerintah memang “serius”, pasti akan diusahakan untuk melobi pemilik teknologi yang bakal digunakan pada KFX/IFX sampai keujung langit…

    Bukankah Indonesia “dulu” terkenal dengan kemampuan melobinya? Dan bagaimana kemampuan yang sekarang? Entahlah… Dan jika seandainya IFX tidak menggunakan teknologi yg sama persis dengan KFX, kenapa pemerintah tidak melobi pemilik teknologi dari Eropa Barat atau Eropa Timur?

    Semua kembali lagi kepada pemerintah RI.

    serius atau tidak

  3.  

    Apakah kita yg ngadalin korsel ato korsel yg ngadalin kita.mosok 20% dapat 80 pesawat.

  4.  

    Ini lho Ntung, berita yg bener di artikel ini. Tanpa dipelintir. RI kekurangan dana akibat depresiasi nilai tukar rupiah.

    Masih jg ngimpi mau borong alutsista kah Ntung.?

    Kalo negosiasi transfer teknologi atau mau diperbolehkan menjual itu gak masalah Ntung, asal mau nambah duit maka pihak korsel pasti bersedia.
    20% kok mintanya neko2……mbok yo mikiiirrr

  5.  

    Wehhh nunda 1 thn lagi nih ceritanya?

  6.  

    Seandainya pespurnya sudah terwujud dan operasional. Terus kita ada gasekan dengan negeri tetangga apa bisa digunakan? Kan ini teknologinya sebagian besar dari barat.

 Leave a Reply