JakartaGreater.com - Forum Militer
Aug 042017
 

Presiden RI Pertama Soekarno bersama Nikita Khrushchev, Leonid Brezhnev, dan kosmonot Yuri Gagarin di Kremlin, Moskow, Juni 1961.

Moskow – Republik Indonesia dan Federasi Rusia tak hanya memiliki hubungan diplomatik sejak tahun 1950. Persahabatan Indonesia dan Rusia -dahulu Uni Soviet- ditunjukkan dengan persahabatan pemimpin kedua negara.

Ketokohan Presiden I RI Soekarno pada masa lalu di negeri Beruang Merah ini tetap aktual dan relevan dalam menggambarkan betapa dekat hubungan kedua negara hingga kini.

Wilayah Indonesia seluas 1,905 juta kilometer persegi atau nyaris hanya sepersepuluh dari wilayah Rusia yang seluas 17,125 juta kilometer persegi, tidak memengaruhi dalam kesetaraan hubungan kedua negara.

Rusia tidak merasa lebih besar meskipun wilayah negaranya terbesar di dunia dan Indonesia tetap gagah setegak lambang Burung Garuda. Kedua negara setara.

Bila kita membuka album foto lama yang menggambarkan Soekarno bergandengan tangan dengan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev, Leonid Brezhnev, dan kosmonot Yuri Gagarin di Kremlin, Moskow, pada Juni 1961, mereka tersenyum dan sangat akrab serta setara.

Soekarno berkunjung ke Soviet beberapa kali, pertama awal 1956 setelah Soviet memenuhi permintaan Soekarno, mencari dan menemukan makam ulama besar Imam Bukhori di Samarkand (kini masuk negara Uzbekistan).

Dalam waktu yang berbeda, Soekarno kembali ke Soviet dan sempat meresmikan masjid Jamul Muslimin yang berkubah biru di kota St Petersburg, atau dikenal juga dengan sebutan masjid biru atau masjid Soekarno.

Kisah-kisah itu kini dituturkan kembali oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia M Wahid Supriyadi di Moskow dalam beragam kegiatan rangkaian Festival Indonesia kedua di Moskow pada 4-6 Agustus 2017.

Sejumlah kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota juga bertemu di Moskow untuk menghadiri Festival Indonesia Kedua yang diselenggarakan Kedutaan Besar RI Moskow di Hermitage Garden itu.

Dalam jamuan makan malam oleh Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia M Wahid Supriyadi di Moskow, Kamis (3/8), tampak hadir Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

Hadir pula sejumlah bupati dan wali kota dari berbagai daerah di Indonesia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beserta jajarannya di Kementerian Perdagangan juga menghadiri jamuan makan malam itu.

Wahid menegaskan bahwa hubungan bilateral antara pemerintah Indonesia dan Rusia telah berjalan lebih dari 60 tahun dan selama ini berjalan sangat baik.

Ia menyampaikan bahwa sosok dan ketokohan Presiden I RI Soekarno sangat dihormati oleh rakyat Rusia ataupun semasa masih bernama Uni Soviet.

Dubes mengajak para kepala daerah juga mempromosikan seluruh potensi daerahnya untuk mengembangkan berbagai kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Rusia.

Sementara itu Enggartiasto mengatakan tak perlu khawatir dengan Rusia yang pada masa lalu berhaluan komunis selama masih bernama Uni Soviet.

Perekonomian Rusia sangat terbuka dan menjalin kerja sama berbagai bidang dengan banyak negara termasuk Indonesia.

“Hubungan Indonesia dengan Rusia yang sangat baik sampai sekarang ini,” ujarnya.

Dubes Wahid juga menambahkan bahwa Partai Komunis Rusia dalam Pemilu Parlemen 2016 hanya meraih 13 persen sedangkan pemenangnya adalah Partai Rusia Bersatu (partainya Presiden Rusia Vladimir Putin) mengantongi sekitar 54 persen dari jumlah 450 kursi di Senat Duma.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menyatakan bahwa daerahnya mempromosikan busana seperti batik dan busana muslim serta industri kreatif.

“Itu memang kekuatan potensi Jawa Barat,” katanya.

Persahabatan Indonesia dan Rusia lekat juga dalam bidang perdagangan.

Pesawat Tempur Su-35 Rusia (istimewa)

Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin tersebut dinilai memiliki peranan penting dalam hubungan dagang Indonesia. Rusia menjadi pintu gerbang produk Indonesia ke zona Uni Ekonomi Eurasia, yang terdiri dari Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kyrgyzstan.

Rusia juga merupakan pasar nontradisional terbesar untuk produk dan jasa layanan Indonesia di Eropa Tengah dan Timur.

Tahun lalu, perdagangan antara Indonesia dan Rusia mencapai 2,11 miliar dolar AS. Indonesia mengantongi surplus sebesar 411 juta dolar AS. Nilai perdagangan tersebut mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan nilai pada 2015 sebesar 1,9 miliar dolar AS.

Ekspor nonmigas Indonesia ke Rusia tumbuh sebesar 8,5 persen dalam lima tahun terakhir dengan nilai ekspor pada 2016 sebesar 1,3 miliar dolar AS.

Pada periode Januari-Mei 2017, total perdagangan Indonesia-Rusia juga mengalami peningkatan sebesar 54,43 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan nilai perdagangan sebesar 1,12 miliar dolar AS.

Indonesia surplus 77,45 juta dolar AS dengan nilai ekspor sebesar 599,97 juta dan nilai impor sebesar 522,52 juta dolar AS. Produk ekspor utama Indonesia ke Rusia antara lain kelapa sawit dan turunannya, kopi, karet, minyak kelapa, dan coklat.

Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, misi dagang ke Rusia juga dilakukan sebagai upaya diplomasi minyak kelapa sawit berkelanjutan Indonesia. Upaya ini telah dimulai sejak kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia tahun lalu untuk meningkatkan ekspor kelapa sawit berkelanjutan.

“Strategi pertumbuhan Indonesia selalu memperhitungkan komitmen pemerintah Indonesia terhadap lingkungan. Indonesia jelas mendukung ekspor kelapa sawit berkelanjutan,” kata Enggartiasto.

Selain memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi yang telah dibangun sejak lebih dari 65 tahun silam, rangkaian kegiatan Misi Dagang Rusia juga dilakukan melalui Forum Bisnis Kelapa Sawit, Forum Bisnis Indonesia-Rusia, one-on-one business matching, serta kunjungan ke Paviliun Indonesia di Food City.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga akan menindaklanjuti rencana imbal dagang dengan perusahaan asal Rusia, Rostec, yang ingin melakukan barter pesawat Sukhoi SU-35 dengan karet Indonesia.

Pemerintah juga akan menawarkan komoditas lain kepada Rostec selaku rekanan Indonesia dalam skema imbal dagang tersebut.

Rencana imbal dagang ini sudah hampir final. Namun, kami masih menawarkan produk Indonesia lainnya untuk diekspor ke Rusia selain karet yang mereka minta, kata Enggartiasto.

Selain itu pemerintah juga ingin mempercepat terbentuknya Indonesia-Russia Preferential Trade Agreement (PTA) atau Perjanjian Perdagangan Produk Tertentu dan Kesepakatan Perdagangan Bebas Indonesia-Eurasia (FTA) agar dapat mendorong perdagangan yang seimbang dengan Rusia dan negara-negara di kawasan Eurasia. Dirilis Antara, 4/8/2017.

Bagikan:

  18 Responses to “RI Tawarkan Produk Lain ke Rostec, Produsen Su-35”

  1.  

    ,…………………..,…..………… Ember. Mana ember…. Huek2 …huek2….. /SEPERTI sinetron TERSANJUNG 1;2;3;4;5;6;7;8;9 dst….. Kalau ada resuffle kabinet ….. Segera saja siapa yang diganti ,……… Su35…..

  2.  

    Good job…lanjutken, terusken dan realisasiken….
    bilaperlu T90s dan s400 nya jg sekalian…
    Mbt kita msh kurang utk diluar jawa…

  3.  

    Sip, lanjut…

  4.  

    lusiah setlong…..xixixi

  5.  

    Harmonis sekali hbgn indonesia rusia….yg selalu di ggu usa cs

  6.  

    Mantap…

  7.  

    Indonesia barter produk domestik dengan 11 sukhoi 35..barusan berita nya nongol di tV wan!!

  8.  

    masakan di rusia hampir semuanya rasanya hambar,,mungkin indonesia juga perlu ekspor rempah2 ke rusia..mungkin bisa barter sama S-400 !!!!

  9.  

    Ada pengaruh jg gak dgn kondisi Rusia skrg yg baru diembargo As terhadap hubungan Rusia-Indonesia?

  10.  

    Baik pun ketika ada mau nya…

  11.  

    deal aj blum , sdh mantap..hahaha..ntar klo gk jd kuciwa

  12.  

    mumpung lagi di embargo & kontra embargo, dollar nggak laku,, beras ketan mau..!?

  13.  

    Detik2 menjelang tanda tangan kontrak malah salesnya ngumpettt.. Xixixixixixixi

 Leave a Reply