Nov 112014
 

kfx-engine

Bagaimana jalan dan peluang Indonesia dalam mencipta pesawat tempur buatan dalam negeri ?. Kita sudah sering mendengar rencana itu, tapi kita belum familiar dengan seperti apa rencana detil dari turunan rekayasa pesawat tempur tersebut. Ada baiknya pemerintah mulai mengeluarkan listing, daftar teknologi yang sudah dikuasai dan yang belum.

Kalau perlu dibuatkan satu gedung di Monas dengan daftar list komponen Indonesia Fighter Xperiment sehingga setiap orang bisa mengakses informasinya.


Rekan Antonov pun tergelitik, untuk mendalami item-itemnya:

ToT pesawat tempur Gen 4+, berbeda jauh dengan pesawat transport semacam NC-212 atau 235.

Fuselage + sayap: Mulai dari plat baja, plat aluminium, atau plat carbon fibre yang diperlukan, rivet-nya dan lem-nya, alat sambungnya rivet atau lem, alat tekuknya, untuk kulit dan rangkanya, serta alat jig untuk merangkai semuanya. Semua dari bahan mentah sampai dengan rivet dan lemnya, termasuk peralatan pemasangnya harus diimpor, karena kita belum mampu produksi sendiri, sebab semuanya tersebut di atas harus tahan momentum, gaya, temperatur pada kelincahan dan kecepatan supersonik pesawat tempur.

Engine: ini mutlak masih harus diimpor.

Radar dan avionik: semua harus diimpor. Sudahkah kita punya pabrik semi konduktor ?.

Instrumentasi : kita belum punya industri instrumentasi untuk aviasi. Masak kita mau pasang instrumentasi analog mobil di pesawat?

Software: semua pespur gen 4+ sudah memakai teknologi fly-by-wire yang diatur oleh software. Justru di sini kita punya banyak ahlinya, tetapi pertanyaannya apakah akan diterima secara utuh plus izin pengembangannya?

Jenis peralatan yang “biasa”: ban+roda, dan fuel tank. Apakah kita sdh sanggup produksinya? Ban punya persyaratan kusus take off/ landing; fuel tank punya persyaratan harus ringan dan punya proteksi kebakaran. Jangan-jangan untuk ban NC-212 pun masih impor.

Walhasil pada akhirnya kita tetap menjadi “penjahit” saja, karena industri belum menunjang. Sekarang misalnya kita jadi ambil ToT pespur 4+ dengan investasi yang sangat besar. Yang beli cuma pemerintah sebanyak 1 atau 2 skadron saja, selanjutnya mandek. Lantas investasi mau dikemanakan, jadi besi tua? Perusahaan bisa kolaps karenanya, dan ini pernah terjadi (hampir).

Khusus untuk ToT pespur, jalan yang logis adalah mulai dulu dengan MRO, kemudian pelan-pelan secara bertahap mulai dengan perakitan dan selanjutnya produksi. Kita lihat contoh NC-212 dirakit diproduksi dan dikembangkan jadi NC-219, itupun butuh waktu 3 dekade. Tapi industri pendukungnya sendiri masih belum berkembang. Lihat pula contoh China.

Sekarang kita lihat ToT KFX/IFX. Mumpung masih ada waktu, perlu dibuat road map pengembangan industri pendukungnya. Banyak cara antara lain dengan lisensi, kerjasama dll. Kalau bagian “sotware” kita punya banyak ahli, tetapi bagian “hardware” inilah yang paling susah. (by: Antonov).

  107 Responses to “Indonesia Fighter Xperiment (Road Map)”

  1.  

    itu dongeng bung Reog. seperti halnya kalo kita buat kopi susu sendiri mulai dari nol. Dimana kita tanam sendiri pohon kopinya sampai panen terus kita sangrai sendiri, tebu kita tanam terus panen kita buat gula sendiri, sapi kita peras susunya sendiri, terhitung 5 tahun baru bisa kita merasakan kopi susu buatan sendiri, dan jerih payah sendiri. itu hanya kopi susu…..
    kalo pesawat ceritanya seperti yg di atas.

    •  

      Ijin like

      •  

        Numpang izin like juga… Entah sampai kapan saya bisa minum kopi susu buatan sendiri.. Saya yakin koki terhandal di dunia pun susah mau buat hanya sekedar kopi susu…
        NKRI HARGA MATI

    •  

      Aroma kopi yg terkenal cita rasanya di dunia masih dipegang indonesia lho he he he he
      kemandirian bgs indonesia di bidang ks, roket, rudal, tank, panser, kcr sd frigat, pespur, satelit, drone, dll hrs terus kita suport lwt warjag ini. Permasalahan utama memang dana, klo soal sdm insyaallah indonesia berlimpah untuk orang2 pintar. Tinggal
      kemauan, kerja keras, jujur, kreatig inovatif, semangat, dukungan aturan hukum , dukungan dana .

  2.  

    anda mulai buka aib tahun 2005? di perbatasan kalimantan? berapa tank yang hancur punya ATM? berapa parajurit ATM yang tewas? berani ga cerita peristiwa tahun itu kala tentara malaysia banyak yang tewas oleh TNI? berani ga? BACOD doank lu.

  3.  

    betul bung, dan jangan sampai proyek in digagalkan oleh pihak luar karena kalau sukses, akan mengurangi pangsa pasar mereka, bahkan akan menggerogoti bisnis bidang pesawat tempur. Maka maju terus pantang mundur untuk INDONESIA JAYA.

  4.  

    Pasti bisa dan sukses!!,,,IFX adalah cita cita NKRI bukan demi kepentingan segolongan orang…

  5.  

    Saya kira analisa bung antonov ini supaya bisa menjadi koreksi…..kalo mau bikin alutsista harus totalitas….tot bukan hanya sekedar pencitraan yang wah…tp hasilnya kosong….kalo mau tot harus dengan perjanjian yang serius ketat….bila negara yang diajak mitra menghentikan sepihak atau mengembaro dan mencampuri urusan kedaulatan harus dituntut..di blacklist….Indonesia negara besar kok dari menguprek f5 aja pasti bisa membuat……intinya jangan muluk muluk…tapi tetap bekerja….iran aja bisa bikin pesawat padahal diembargo..pakistan bisa bikin……indonesia kenapa tidak…..apakah nunggu ada tot baruu bisa…….

    Yang perlu dbangkitkan adalah jiwa patrionalisme….jiwa Memiliki bangsa…karena orang indonesia itu pintar pintar tetapi enggan mau berbagi keahlian….malah banyak yang bekerja di perusahaan asing…

    •  

      Bung NKRI dulu pernah saya angkat soal permasalah ToT. COba baca disini :
      http://jakartagreater.com/anda-percaya-kami-pasti-bisa-jilid-iii/

      Jadi begini sebelum, untuk sampai ke program Transfer of Technology kita harus punya yang namanya Road Map Penguasaan Teknologi. Yang pertama yang harus tahu adalah Basic Knowledge, lalu Self Improvement dan yang terakhir adalah Acquired. Awalnya kita mengukur sebearapa besar basic knowledge kita, lalu kemudian dengan sdm, fasilitas, dll kita ukur Self Improvment, dan akhirnya muncul Acquired atau pengetahuan yang akan kita cari dari ToT.

      Saya sudah baca sejumlah program ToT termasuk tawaran perakitan dan apa yg kita dapat dari perakitan pesawat tempur ini. Dalam pesawat itu ada ribuan core komponen, dari sini kita harus ngitung lagi sejauh mana kemampuan kita dan apa yg harus dikembangkan. Dari situ, mana yg tidak bisa, lalu kita tawarkan. Dalam Airframe ada berapa banyak komponen, mana yg gak bisa kita tawarkan kerjasamanya.

      Contohnya dari airframe ada 100 core, yg kita bisa sekitar 50 core. Lalu pihak yg kita ajak kerjasama mau berbagi 30 core, sisanya kita harus punya yang namanya pengetahuan yang dikembangkan sendiri atau nantinya bisa berlanjut ke program life time dengan pihak produsen tersebut maupun sub-con yg lain. Jadi gak segampang yang kita bayangkan. Itu baru airframe, nantinya kita juga harus memikirkan komponen2 lainnya.

      Dulu waktu negara kita kembangkan pesawat CN-235, banyak yg menolak menjual beberapa komponen yg dibutuhkan termasuk negara yang pesawat tempur yg anda idolakan itu. Akhirnya, EADS yg membantu melalui sub-con mereka, padahal mereka menjual nama mereka kalau project pengembangan ini gagal nama mereka akan hancur, makanya produsen2 lain tidak berani.

      Itu baru ToT yang diatas masuknya rencana induk jangka menengah, disini termasuk didalamnya masalah :

      – Program penyiapan dan integrasi Teknologi (peningkatan Local content, kandungan lokal serta menguasai berbagai aspek organisasi dan manajemen QCD (quality, cost, delivery) produksi, jaringan vendor dan industri pendukung, pemasaran, penjualan dan layanan purna jual, dll)

      – Program Pengembangan Fasilitas
      – dan Program Pengembangan SDM

      Nah nanti masuk ke Program Jangka Panjang, disini termasuk didalamnya Desain sendiri dan R&D.

      Jadi smeua sudah dipikirkan, masalah embargo, peingkatan komponen lokal biar gak di cap tukang jahit saja silahkan baca UU Nomer 16 Tahun 2012 tentang Inhan, mungkin bisa dilihat di Bagian Ketujuh terkait Pengadaan, Pemeliharaan, dan Perbaikan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan. Masalah totalitas, itu buktinya dari CN-235 nanti lahir N-245.

      •  

        Saya setuju anda bung Jalo..ilmuan kita pasti bisa bikin pesawat…walaupun buat pesawat ga semudah bikin kacang goreng apalagi pesawat tempur…saya juga ga anti pesawat blok barat dan timur…….tp melihat perkembangan kawasan dan politik saat ini saya menilai indonesia harus punya alutsista unggulan…dan potensi musuh utama kita dari blog barat …dan kroni kroninya…tot harus jalan tp dengan tidak melemahkan pertahanan bangsa…so saya sementara ini tetap berpendapat alusista timur yang paling bagus buat pertahanan bangsa kalo bisa ya dapat tot kalo tidak ya dibeli dulu sambil cari tot lain…..

        •  

          Iya bener bung NKRI, bikin pesawat tidak semudah bikin kacang goreng. Apa yg anda lihat bahwa Indonesia harus punya alutsista kuat itu bersandar pada pandangan tradisional. Ingat kekuatan nasional itu ada yg namanya Hard Power dan Soft Power. Memang dasar pandangan tradisional ini juga tidak boleh dikesampingkan. Tapi saat ini perang tujuan utama lagi, tapi tujuan akhir.

          Sekarang kembali kepada kita menjadi bangsa “kuat” atau “pintar”…

          •  

            Mantap bung jalo…namun kepintaran harus dsertai keberanian….diplomasi kuat tidak disertai hard power …tidak akan mempan diplomasi…masih ingat perundingan KMB…tanpa kekuatan gerilnya mustahil belanda mau berunding…masih ingat rengas dengklok….tanpa keberanian ga mungkin proklamasi didendangkan…

            Kesimpulannya…kepintaran penting tapi keberanian bertindak itu lebih utama…..bangsa yang maju bukan hanya kepintaran saja..tapi yang berani bertindak …perubahan …..mengatakan yang dimau…melaksanakan tujuan…kepintaran bisa dipelajari…tapi keberanian…hanyayang bermental baja yang bisa…..

            Saya cuma ingin indonesia sadar bahwa lambang Negara garuda…ga mungkin ia akan terus hidup bersama ayam…walaupun dicokoki makanan..karena makanannya sejatinya beda….lama lama ia akan mati kelaparan….kalau ia garuda terbanglah seperti garuda…..

          •  

            Kan yg saya sebutkan itu soal “kuat” dan “pintar”, kuat juga butuh keberanian begitu pula “pintar”. Itu 2 definisi yg berbeda.

            Konsepsi Trisakti yg dicetus oleh Bung Karno, didalam konsepsi itu ada 3 faktor yang diutamakan yakni Ekonomi, Politik dan Budaya. Kenapa militer tidak masuk? Mungkin anda bisa cari referensinya.

            Untuk masalah ayam mungkin bisa melihat artikel bung STMJ disebelah.

    •  

      saya kok punya keyakinan…bahwa kopian F5 buatan Iran…(ekor ganda). itu sesungguhnya
      buatan putra2 indonesia yang bekerja disana. dulu tahun 90 an…aku sempat lihat rancangan F5 kopian PT DI, tapi karena krisis proyek nggak jelas kabarnya.

      tahu2 Iran yang malah mengeluarkan F5 kopian dg ekor ganda.
      dan disana banyak sekali engineer2 jebolan PT DI kalao gak salah.

  6.  

    Justru dari kita mencoba kita akan tau sampai di mana level kita.
    dengan begitu kita bisa memetakan masalah dan dari mana cari solusinya.

    kita tidak boleh kalah sebelum mencoba, pesimis harus jauh jauh dari jiwa NKRI.
    tidak ada yang sia sia dari sebuah proses belajar. sekalipun biaya besar harus amsyongg tak berbekas.

    Saya percaya kita memang masih jauh untuk mandiri membuat pespur. cuma itu hanya masalah waktu. tidak ada yang tidak mungkin.

    kita juga mesti sadar bahwa musuh bukan hanya tetangga nakal sebelah tapi juga dari sifat malas dan pesismis.

    YAKIN KITA PASTI BISA

  7.  

    klo gitu bikin lagi saja artikel yg utuh bung antonov, dengan data2. hehe bung diego suka maksa nih.

  8.  

    kalau teringat tentang kandasnya n 250 memang sangat di sayangkan, moga kita dapat belajar dari kegagalan masa lalu yang di sebabkan bukan oleh penguasaan teknologi tapi oleh politik

  9.  

    Sbnrnya msh banyak skali komponen yg sudah bisa di buat di dalam negri oleh para ahli kita. Kembali lg pd pemerintah yg kurang perhatian dan maryarkat yg cenderung kurang percaya kpd produk buatan dalam negri

  10.  

    Klo di Kasii yaa alhamdulillah…tpi jgn mau di Kasai truss yaa..?

  11.  

    Klo di Kasii yaa alhamdulillah…tpi jgn mau di Kasii truss yaa..?

  12.  

    Klo di Kasii yaa alhamdulillah…tpi jgn mau di Kasii truss yaa..?

  13.  

    Iya bung Arya jawa , Kami mohon berikan Ling yang bersangkutan yg menyatakan akan membuat mesin jet ComersiL . Terima Kasih 🙂

  14.  

    Tentara asing kok dibanggakan….
    Emang ga pede sama kekuatan sendiri?

  15.  

    Nah kan makanya ini nih yang saya khawatirkan.. Transfer teknologi nya tidak beserta pembuatan mesinnya..
    berarti sebenarnya membeli pesawat rusia tanpa TOT bukanlah pilihan yang buruk.. menurut saya, Pemerintah Harus lebih dewasa memilih partrner Alutsista TNI, jangan hanya terpaku Perjanjian TOT tapi pas di ujung unjung Hanya untuk menjahit saja tanpa Transfer teknologi Mesinnya.. dengan iming2 TOT menjahit Uang USD 5 milyar melayang… padahal saya yakin kalau hanya sekedar Menjahit PT DI Jauh lebih dari BISA, Sungguh disayangkan Coba 5 milyar USD itu semuanya dibeli ke Sukhoi PAK-FA / Su-35 sepertinya udah dapat Banyak pesawat Dengan Efek Deteren Mumpuni 🙁 🙁 🙁

    •  

      Maaf sebelumnya tapi kalo beli terus tidak baik juga, masa mau beli selamanya. nanti klo pas barang yg tersedia jelek gimana?

      TOT memang tidak mungkin semuanya, tak mungkin ada negara yang mau kasih TOT dari nol sampe jadi lahh mereka aja masih ada beberapa bagian yg lisensi dari perusahaan lain kok.

      jadi memang sedikit2 satu satu, terus kita belajar nyulam klo masih blum ok di situ tugas kita untuk menyempurnakan.

      Mungkin kira2 begitu.

  16.  

    Pesimis amat sih bung dengan Indonesia. Masalah komponen pesawat nya sebagian masih kita impor itu wajar bung. Yang penting teknologi nya kita sudah kuasai, tinggal kita kembangkan lagi kedepan agar seluruh komponen pesawat bisa kita buat sendiri.
    SSJ nya Russia aja sebagian komponen nya juga impor, Sukhoi pun juga begitu. Russia loh ini bung masih impor jg…
    Bagaimana dengan Indonesia? Ya kita start dari sekarang belajar nya. Kalau gk start dari sekarang, kapan bisa nya kita?
    Yang jelas menurut pendapat pribadi saya, kita harus tetap optimis dgn IFX ini.

    Tapi 1 hal yg lebih penting, jgn terlalu fokus juga dengan program IFX dan melupakan ancaman2 uang sudah nyata, sambil mnunggu program IFX kita kelar dan sukses, untuk sementara jika anggaran mencukupi kita akuisisi pespur yg setidaknya bisa mengimbangi pespur milik tetangga dan musuh potensial, baik itu pespur yg mereka sudah mikiki, maupun pespur yg akan segera mereka miliki.

    Cuma pendapat awam, maaf jika keliru.
    Salam

  17.  

    Bung-Bung semuanya,

    Ma’af nanya nih, gambar pesawat yang dipertontonkan ke pelajar di formil sebelah dengan judul “Pesawat Tempur TNI AU Dipamerkan ke Pelajar” itu pesawat tempur jenis apa yah?
    Ma’af oot…

  18.  

    otak orang malyesia…emang cuma segini ya…?
    memalukan. orang dunia.

 Leave a Reply