Sep 232018
 

Rudal balistik anti-kapal jarak menengah DF-21D (Dong-Feng 21D) buatan China © National Interest

JakartGreater.com – Anda akan kesulitan untuk menemukan dua musuh terbesar dari Iran selain Arab Saudi dan Israel. Negara terakhir telah lama terganggu oleh retorika anti-Israel yang digaungkan oleh Teheran, bahkan telah melepaskan ratusan serangan dan pemboman artileri yang menargetkan upaya Iran untuk mempersenjatai pasukan Hizbullah di Libanon dan Suriah.

Seperti dilansir dari laman National Interest, Riyadh sendiri, tampaknya melihat dirinya terlibat dalam perjuangan epik untuk dominasi Timur Tengah dan telah mengorientasikan kebijakan luar negerinya dalam memerangi ancaman Iran, dan bahkan di tempat-tempat pengaruh paling moderat dari Teheran.

Iran disibukkan oleh upaya untuk memperoleh senjata nuklir yang dapat dikirimkan lewat rudal balistik, mengingat keterbatasan dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut Teheran.

Perkembangan Iran secara terus-menerus atas rudal tersebut telah diusulkan sebagai casus belli dan dikutip untuk membenarkan langkah penarikan AS dari kesepakatan nuklir yang terjadi pada tahun 2014 yang membatasi Iran dari mengembangkan hulu ledak nuklir, tapi bukan rudal balistik untuk membawanya.

Namun, AS sendiri ternyata lebih sering mengabaikan bahwa Israel dan Arab Saudi sendiri memiliki sejumlah persenjataan rudal balistik terbesar di kawasan ini, yang terakhir adalah subyek dari artikel ini.

Rudal balistik taktis SCUD buatan Uni Soviet © US Navy Wikimedia Commons

Program rudal balistik Iran sendiri dimulai selama fase “Perang Kota” antara Iran dan Irak yang menghancurkan, ketika Baghdad menghujani kota-kota besar di Iran dengan ratusan rudal SCUD. Meskipun Iran berhasil memperoleh beberapa SCUD dari Libya untuk dapat digunakan membalas terhadap kota-kota Irak, tapi sebagian besar hanya bisa menyerang balik dengan serangan udara yang menempatkan armada jet tempur AS dalam bahaya.

Arab Saudi juga menjadi “gugup” karena mengetahui persenjataan rudal Irak yang sangat besar. Akibat ditolak memiliki rudal balistik AS, Riyadh akhirnya mengetuk pintu Beijing, yang sebelumnya telah terbukti bersedia mengekspor senjata ke Iran ketika Moskow dan Washington menolak untuk melakukannya pada waktu itu.

Pada tahun 1987, China mengirimkan sekitar 120 rudal balistik jarak menengah (MRBM) Dong-Feng 3A (DF-3A) alias East Wind atau Angin Timur yang memiliki panjang 24 meter dan selusin truk Transport-Erector-Launcher (TEL).

Rudal balistik berbahan bakar cair DF-3A dapat menyerang target sejauh 2.700 mil. Arab Saudi membentuk Pasukan Rudal Kerajaan Saudi untuk mengoperasikan senjata-senjata tersebut, yang sangat mengganggu Washington.

Dan hanya dalam waktu 4 tahun kemudian, Arab Saudi pun akhirnya berperang melawan Irak, dan sekitar 46 rudal SCUD Irak jatuh ke wilayah Saudi. Namun Riyadh tidak pernah repot membalas serangan rudal ke Baghdad. Mengapa?

Rudal balistik jarak menengah (MRBM) DF-3A (Dong-Feng 3A) buatan China © Chinesse Military Review

Masalah dengan DF-3 adalah bahwa rudal balistik ini, punya tingkat kesalahan melingkar hingga 300 meter. Ini berarti bahwa jika Anda menembakkan setengah lusin pada target yang diberikan, kemungkinan hanya ada tiga rudal yang mendarat dekal lokasi tujuan, dan tiga lainnya bisa jatuh entah dimana. Menurut sumber-sumber lain mengklaim bahwa CEP dari rudal DF-3 bisa sebesar satu atau dua mil.

Senjata yang tidak akurat sangat tidak berguna untuk menyerang target militer kecuali itu dilengkapi dengan hulu ledak nuklir, sebagaimana DF-3 dirancang.

Namun China tidak akan menjual rudal nuklir ke Arab Saudi. DF-3 itu malah dimodifikasi untuk membawa 3.000 pon bahan peledak. Ini berarti, DF-3 Arab Saudi hanya berguna untuk menjatuhkan bahan peledak pada target sebesar kota dan secara acak membunuh warga sipil yang tidak beruntung dan kebetulan berada di dekat titik jatunya.

Lebih dari satu dekade kemudian, Riyadh pun mulai tertarik memperoleh pencegah rudal strategis yang lebih efektif, dan sekali lagi beralih ke China dengan IRBM DF-21 yang jauh lebih akurat, dengan CEP hanya 30 meter. China bahkan mengembangkan model DF-21D yang dirancang untuk menghancurkan kapal perang di laut. Selanjutnya, DF-21 memakai roket berbahan bakar padat dan dapat diluncurkan dalam waktu yang sangat singkat.

Meskipun memiliki jangkauan yang lebih pendek, sekitar 1.100 mil, rudal berbobot 15 ton sangat memadai untuk mencapai target di seluruh Timur Tengah dan itu akan sulit untuk dicegat karena terjun langsung ke arah targetnya dengan kecepatan 10 mach.

Dilaporkan bahwa lokasi peluncuran rudal Arab Saudi yang ditujukan untuk ditembakkan ke Iran dan Israel, meskipun mengingat aliansi yang semakin terbuka antara Riyadh dan Tel Aviv dalam beberapa tahun terakhir, bagian terakhir mungkin lebih untuk pamer.

Kendaraan peluncur rudal balistik Dong-Feng 21A buatan China © Wikimedia Commons

Pada tahun 2014, Newsweek mengungkapkan bahwa CIA benar-benar telah membantu menengahi penjualan rudal China ke arab Saudi asalkan DF-21 tidak memiliki hulu ledak nuklir. Jadi, setelah serangkaian pertemuan rahasia antara mata-mata Washington dan pejabat Arab Saudi, pada tahun 2007 dua agen CIA dikirim untuk memeriksa rudal dalam peti pengiriman sebelum mereka ditransfer ke Arab Saudi.

Arab Saudi dilaporkan tidak pernah menguji tembak persenjataan misilnya tersebut, yang meninggalkan pertanyaan akan kesiapan operasional pasukan rudalnya. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan 4 atau 5 fasilitas bawah tanah untuk menampung senjata.

Akhirnya di bulan April 2014, ketika tumbuh ketakutan Riyadh akan pulihnya hubungan Amerika Serikat dengan Iran karena kesepakatan nuklir, Arab Saudi pun mengarak rudal raksasa secara terbuka dalam sebuah parade.

Perihal senjata pencegah itu adalah bahwa meski mereka tampak sebagai ancaman, namun mereka juga dapat melayani tujuan utamanya dengan menakuti musuh serta menghindari permusuhan. Namun, penangkal itu tidak dapat terjadi jika musuh tidak menyadari sejauh mana ancaman yang ada karena dirahasiakan, sehingga Arab Saudi memutuskan untuk mulai memunculkannya.

Ada juga desas-desus bahwa Riyadh telah mengakuisisi sejumlah kecil senjata nuklir dari Pakistan, atau telah mengatur agar beberapa diantaranya untuk dipindahkan ketika terjadi konflik. Lagi-lagi, eksistensi dari desas-desus tersebut berguna sebagai penangkal Saudi, terlepas dari kebenaran ada atau tidaknya masalah ini.

Susunan slide foto menujukkan sistem rudal pertahanan udara Bavar-373 buatan Iran © Tasnim News Agency

Bahwa Tehran melihat ancaman Saudi secara serius, di dukung oleh pernyataan jenderal Iran yang mengklaim pada bulan September 2018 bahwa Iran sebelumnya telah menguji sistem rudal permukaan-ke-udara Bavar-373 untuk mencegat rudal balistik. Pengujian ini kemungkinan ditujukan pada kemampuan rudal Arab Saudi atau pun Israel. Bavar-373 ini tampaknya menjadi salinan domestik yang berhasil dari sistem rudal pertahanan udara  jarak jauh S-300PMU-2 Rusia.

Pada akhirnya, Washington tampak tidak terlalu keberatan atas kepemilikan rudal balistik dan kemampuan nuklir yang mungkin dimiliki oleh sekutu-sekutu dekatnya. Baik Iran dan Arab Saudi, korban serangan rudal balistik, tampaknya percaya bahwa menggembungkan senjata semacam itu akan saling menghalangi dari permusuhan yang jelas.

Bagikan:

  6 Responses to “Rudal Balistik Arab Saudi dari China, Jadi Misteri”

  1.  

    panda semakin banyak memberikan pilihan ditengah produk eagle dan bear..
    sekarang negeri panda panen dari buah produktivitas bangsanya yang luar biasa..
    dengan moto ATM,amati..tiru dan modifikasi..xixixixixixi

  2.  

    Ulasan yang bagus.. Thanks

  3.  

    Dan hanya cina yang bebas beli maupun jual senjata yang dilarang…

  4.  

    strategi negara2 di timteng adlah nyetok alutsista sekuat dan sebanyak mungkin sehingga kemungkinan ancaman perang simetris antar negara akan semakin kecil.

  5.  

    minyak jadi aktor paling penting disini 🙄
    kedua negara kan produsen minyak….
    jadi siapa yg cepat nyikut lawannya dia yg menang…
    klo minyaknya berceceran, harga saham perusahaannya juga berceceran.

    iran punya kapabilitas utk menghancurkan kilang minyak arab, tapi rudal dan serangannya bisa dengan mudah ditampol arab.

    sedang arab punya rudal serang yg sedikit, tpi armada f-15 dan typhoonnya cukup utk operasi penghancuran kilang minyak iran…
    tapi ya itu….. 🙄 butuh waktu lama……

 Leave a Reply