Jan 292019
 

JakartaGreater.com – Pemerintahan Trump kemungkinan akan menarik diri dari perjanjian tahun 1987 antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang melarang penggunaan rudal jarak menengah, menurut analis militer David Axe di laman National Interest hari Senin.

Langkah konyol tersebut telah memicu alarm di Moskow dan di ibukota sekutu AS di Eropa. Satu keberatan dari AS yang lebih mengejutkan lagi adalah China.

Seperti diketahui bersama, bahwa Beijing bukan penandatangan perjanjian kekuatan nuklir jarak menengah atau INF. Para pejabat China dan bahkan beberapa pejabat di pemerintahan AS yakin perjanjian itu membatasi Amerika Serikat sementara memberikan China kebebasan untuk mengembangkan rudal jarak menengah.

Itu merupakan pemahaman yang buruk atas perjanjian dan efeknya, para ahli berpendapat.

Presiden AS Ronald Reagan dan Perdana Menteri Soviet Mikhail Gorbachev telah meneken perjanjian INF pada tahun 1987 setelah 6 (enam) tahun negosiasi yang menegangkan.

Perjanjian tersebut memaksa kedua negara untuk membuang semua rudal balistik dan rudal jelajah darat yang diluncurkan dengan jarak antara 310 – 3.400 mil. Dimana selama Perang Dingin, Soviet dan Amerika masing-masing mengerahkan ratusan nuklir jarak menengah ini di Eropa.

Implementasi INF dan faktor-faktor lainnya berkontribusi terhadap penurunan tajam dalam ukuran persenjataan nuklir baik Uni Soviet maupun Amerika Serikat.

Kemudian pada tahun 2014, Departemen Luar Negeri AS menuduh Rusia telah melanggar perjanjian dengan menguji coba rudal jelajah baru. Kremlin menegaskan rudal baru jatuh di luar batasan jangkauan perjanjian, tetapi para pejabat Amerika skeptis.

Presiden Barack Obama menolak untuk menarik Amerika keluar dari Perjanjian INF, tetapi penggantinya Donald Trump malah merasa senang. Pada Desember 2018, Sekretaris Negara Pompeo mengatakan Rusia memiliki waktu 60 hari untuk kembali mematuhi perjanjian itu. Pertemuan antara pejabat AS dan Rusia pada Januari 2019 berakhir dengan jalan buntu.

Sistem rudal balistik anti-kapal supersonik CM-401 buatan China © Bharat-Rakshak

Rudal China sebagai alasan konyol

Selain dugaan sikap keras kepala Rusia, pemerintahan Trump juga mengutip China sebagai alasan kedua bagi Amerika Serikat untuk keluar dari Perjanjian INF.

“Beberapa analis dan pejabat AS berpendapat bahwa mereka harus mundur dari Perjanjian INF karena perjanjian itu mencegah Amerika Serikat menanggapi rudal darat jarak pendek dan menengah yang ditempatkan oleh China”, jelas Gregory Kulacki, pakar senjata nuklir di Union of Concerned Scientists yang berbasis di Massachusetts, AS.

“Mereka berpendapat Amerika harus meninggalkan perjanjian kontrol senjata bilateral yang dimaksudkan untuk mencegah Rusia dari mengancam Eropa Barat agar lebih mudah bagi Wahington untuk mengancam Beijing”, tambah Kulacki.

“Ini adalah argumen yang meragukan dan bodoh”, bantah Kulacki. “Gudang senjata nuklir AS itu 10 kali lebih besar daripada militer China dan mereka mengakui bahwa AS memiliki keunggulan militer konvensional”.

China memang memiliki banyak rudal. Sejak pertengahan 1990-an, China telah membangun gudang senjata rudal yang diluncurkan dari darat, ini terbesar dan paling beragam di dunia”, menurut klaim laporan Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan AS-China.

“Inventaris China terdapat lebih dari 2.000 rudal balistik dan jelajah, sekitar 95 persen di antaranya, menurut klaim para pejabat AS, akan melanggar Perjanjian INF jikalau China dulu ikut menandatanganinya”, tambah komisi itu.

“Baik rudal nuklir maupun konvensional yang ada dalam inventaris China yang akan tunduk pada pembatasan dalam Perjanjian INF merupakan dasar bagi strategi militer Beijing secara keseluruhan, yaitu untuk membuat pasukan AS dalam bahaya jika mereka memilih campur tangan dalam konflik regional, meskipun rudal konvensional menimbulkan masalah yang lebih konsekuensial bagi kekuatan militer AS dan sekutunya di Asia”, menurut komisi itu.

“Sebagian kecil dari rudal China membentuk satu kaki dari pasukan penangkal nuklir yang kecil namun ini terus berkembang”, sebut komisi itu. “Para ahli di Proyek Informasi Nuklir dengan Federasi Ilmuwan Amerika memperkirakan bahwa China memiliki sekitar 120 rudal berbasis darat yang dapat membawa 186 dari total cadangan hulu ledak nuklir milik Beijing, namun sebagian besar rudal itu adalah kategori ICBM dan tidak bisa dibatasi oleh Perjanjian INF”.

Kapal perusak USS Laboon (DDG 58) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. © US Navy via Wikimedia Commons

Ditempat lain, bahkan militer AS telah mengembangkan cara-cara baru untuk mencocokkan dengan kemampuan persenjataan rudal Tiongkok. Rudal Tomahawk yang diluncurkan dari laut dan rudal JASSM-ER yang diluncurkan dari udara bahkan tidak tunduk pada INF, jelas itu melanggar ketentuan INF, sebut Matt Korda dan Hans Kristensen, pakar senjata nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika.

“Pentagon memiliki ribuan Tomahawks dan JASSM, tidak ada persyaratan militer yang saat ini tidak dapat kami penuhi karena kepatuhan kami dengan Perjanjian INF”, kata Jenderal Angkatan Udara AS Paul Selva, Deputi Ketua Kepala Staf Gabungan, kepada Kongres AS pada tahun 2017.

Dengan kata lain, Perjanjian INF bahkan tidak mencegah militer AS untuk mempertahankan keunggulan luar biasa atas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Mundur dari INF tidak akan serta merta membantu AS untuk memperluas kepemimpinan militernya bila dibandingkan tinggal di dalam perjanjian yang membatasi kekuatan relatif Amerika terhadap China.

Dengan mundurnya Amerika Serikat dari Perjanjian INF kemungkinan tak akan mengubah keseimbangan kekuatan antara Amerika dan China. Itu malah bisa membuat Eropa tak stabil dengan membebaskan Rusia untuk meluncurkan senjata nuklir baru yang diluncurkan dari darat tanpa kerangka hukum untuk membatasi penyebaran senjata semacam itu.

Kebijakan pemerintah Trump “hanya meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam perang nuklir”, Bruce Blair, seorang sarjana nuklir di Universitas Princeton memperingatkan.

  6 Responses to “Rudal China, Alasan Konyol AS Keluar dari Perjanjian INF”

  1.  

    Klo tentang Trump ya harap maklum aja… anggap aja dia lagi naik jet siluman F-52 saat ini

  2.  

    Bung SP, kayakanya diskusi kita bisa dipindah disini.

    China secara komparatif, tidak bisa dibandingkan dg USA soal senjata dan hulu ledak nuklir. Tapi dg kepemilikan senjata MRBM termasuk rudal jelajahnya jelas China mampu untuk mengancam seluruh Asia dimana 40% PDB dan 60% lalu lintas perdagangan dunia ada disana. Siapa yg akan menjamin kalo China suatu saat tidak melakukan hal ceroboh menembakkan rudal untuk mengancam negara lain?? Nabrakin kapal aja berani apalagi nembakin rudal. Kecuali Rusia mau mendiamkan perlombaan senjata disana itu lain cerita. Wajar aja Rusia diam, kan China sekutunya.

    •  

      Itu engak masuk akal dek…kepentingan cina bukan untuk stabilitas pertumbuhan kawasan diperlukan untuk mendukung negaranya tetap tumbuh dan terus berkembang…yang akan menimbulkan gejolak adalah negara negara yang sudah mentok pertumbuhan ekonominya jadi gejolak dan perang adalah salah satu cara meningkatkan ekonomi…walau cina sendiri tidak sungkan berkomplik karna populasi bisa besar bisa jadi masalah besar bila tidak diiringi pertumbuhan ekonomi besar…tingal tungu pemicu akan meledak…dan kita masih harus bergantung pada FPDA….untuk mengamankan wilayah…xaxaaxaaa…!!!
      Kecuali angaran militer kita ditingkatkan hingga 100 billion dolar us