Rudal Jarak Menengah Segera Masuk Daftar Arsenal TNI AD

51
217
Sistem rudal pertahanan udara S-300PMU2 “Favorit” © Vitaly V. Kuzmin via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Dengan luas wilayah udara lebih dari lima juta kilometer persegi, Republik Indonesia memerlukan payung udara yang mumpuni untuk melindungi kedaulatan nasionalnya, seperti dilansir dari laman Antara News pada hari Minggu.

Salah satu pemangku kepentingan di tubuh militer Indonesia adalah Korps Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) di TNI AD yang hari ini memperingati hari jadinya yang ke-72 di Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara TNI AD di Batu, Jawa Timur.

Sejauh ini, pengadaan paling akhir persenjataan modern untuk korps dengan warna baret coklat muda itu di antaranya baterai peluru kendali jarak pendek Starstreak dari Thales, Inggris, yang memakai dua pijakan, Mistral (Rheinmetal, MBDA), radar pengendali misi mobile CM-200 (Prancis) dan Mistral Coordination Post. Semuanya diadakan beberapa tahun sebelum 2018, pada fase kedua rencana strategis Kekuatan Esensial Minimum kedua (2014-2019).

Sistem pertahanan udara jarak menengah, MBDA Aster-30. © Georges Seguin Wikimedia Commons

Bersama dengan sistem man-portable air-defense systems (MANPADS) RBS-70 buatan SAAB, Swedia, yang diadakan pada awal dasawarsa 90-an, mereka masuk ke dalam kelas peluru kendali anti serangan udara alias rudal darat-ke-udara jarak pendek, dengan jangkauan dibawah 12 kilometer.

“Proyeksi ke depan, kami akan mengembangkan satuan artileri pertahanan udara di perbatasan dan cakupan-cakupan kekuatan akan masuk ke Indonesia timur. Peluru kendali jarak pendek sudah ada dan akan dilengkapi dengan peluru kendali jarak menengah”, kata Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara TNI AD Brigjen Toto Nugroho.

“Kami sudah mengajukan spesifikasi teknis kepada satuan atas dan instansi terkait, dan sudah mulai melakukan kajian”, terangnya.

Sistem peluncur rudal THAAD Amerika Serikat. © U.S. Army via Wikimedia Commons

Dalam daftar arsenal peluru kendali kelas menengah dengandengan tempuh sekitar 100 kilometer, terdapat banyak pilihan, diantaranya ASTER 30 dari MBDA (Prancis), Medium Extended Air Defence System (MEADS) dari Amerika Serikat, Italia dan Jerman yang meliputi THAADS dari Boeing Co., AS, NASAMS 2 atau Norwegian Advanced Surface to Air Missile System yang berbasis rudal AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air-to-Air Missile) dan kemudian itu dinamai sebagai SLAMRAAM (Surfaced Launched AMRAAM), termasuk juga sistem rudal S-300 dari Rusia.

Dia katakan bahwa sistem pertahanan titik mobile itu akan ditempatkan di kawasan pintu-pintu masuk Indonesia atau yang terkait dengan itu dan dalam operasinya mampu dapat beroperasi secara gabungan dengan korps lain di TNI AD ataupun matra TNI lainnya.

Sistem pertahanan udara jarak menengah NASAMS (Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System) © Nederlands MoD via Wikimedia Commons

Pengadaan peluru kendali jarak menengah, menurut Brigjen Toto Nugroho sesuai dengan paradigma baru tentang hakekat dan pengertian ancaman nasional dari udara.

“Dulu, pengertiannya adalah pesawat udara, namun kini meliputi peluru kendali, mortir dan UAV. Semua itu berpotensi menjadi ancaman dan kita harus melakukan lompatan besar dengan cara menguasasi dan memiliki teknologi-teknologi terkait”, katanya.

Brigjen Toto Nugroho juga menekankan akan keperluan peluru kendali jarak pendek yang mampu bergerak bersama satuan mobile di lingkungan TNI AD, mulai dari batalion infantri dan infantri mekanis, kavaleri hingga zeni.

Sistem pertahanan udara S-300PMU Rusia. © Kremlin.ru via Wikimedia Commons

Hingga saat ini, arsenal yang mendukung misi itu adalah RBS-70 yang telah diremajakan kedua kali hingga mampu dioperasikan melewati batas paling maksimal dari usia pakainya, yaitu 30 tahun dan kini sudah dikembangkan generasi terbarunya, yakni RBS-70 NG.

Sistem peluru kendali buatan SAAB, Swedia, ini sangat kompak dan mobile, bahkan tiga personel dengan memakai kekuatan ototnya bisa memindahkan itu secara diam-diam ke puncak-puncak gedung tinggi.

“Kami juga sudah melakukan kajian, apakah yang berbasis kendaraan roda penggerak rantai sehingga mampu mengikuti pergerakan satuan manuver ataupun yang dioperasikan perorangan secara mandiri”, katanya.

51 KOMENTAR

    • Kelihatan nya …harapan semakin kecil untuk memiliki trio SAM BUK Pantsyir Dan S300/400/500…just forget it..
      Paling cuma NASAMS ..
      Itupun karena Tidak mau repot meng integrasi kan ke system standard NATO yang kita sudah punya lama …tinggal plug in ..

  1. Melihat kondisi faktor politik internasional.. Dan calon konfilk kawasan.. Saya memilih Medium Extended Air Defence System (MEADS)

    Karena S 400 di samping mahal.. Juga tekanan politik nya terlalu kuat mengingat kita udah beli su35..

    Sedangkan NASAM.. bisa juga dijadikan cadangan.. Cuma rudal AAM 120C7 nya kurang akurasi nya di bandingkan dgn rudal Medium Extended Air Defence System (MEADS)

  2. atau mungkin kemarin pas nyoba rafale,,,jangan2 pilot tni au juga nge jajal menembus radar kohanudnas…..
    dan kemudian radar dan pertahanan udara nkri udah diobok-obok sama rafale kemarin….

    sampai staff radar melihat dilayar monitor rafale nonggol dimonitor kemudian hilang, kemudian nonggol lagi….
    staffnya pun sampai keringat dingin,,,sambil bergumam, coba klo ini serangan betulan bisa koit nich kite…..
    langsung lapor ke atasan….pak pokoknya kita harus beli medium sam… 😆

    tpi diatas hanya cerita khayalan saya saja jgn terlalu diseriusin…….

  3. s-400 terbaik.. minta rusia mengupgrade lg sistem karena s300 dan s400 sudah dicrack israel, berarti tidak hanya israel, amerika jg butuh info utk keperluan serangan sama sama kemauan israel. Kalau rudal2 pertahanan barat, semua bisa dicrack oleh israel dan teknologi sendiri bisa dijebol oleh para produsen sendiri jika negara musu menggunakan sistem itu. S400 terbaik karena barat tidak bisa menjebolkan.. kepentingan dunia, paling berbahaya adalah barat dan cina, karena tiap2 waktu mereka bisa menyernag negara2 di dunia termasuk indonesia

  4. saya pribadi lebih percaya keluarga S untuk pertahanan udara indonesia, karna tetangga mendominusasi pespur buatan eropa keluarga S dirancang memang lebih fokus untuk target buatan Eropa, begitupun sebaliknya, jika kita beli pertahanan udara eropa dan untuk melawan target udara buatan eropa sepertinya kurang tepat, berdasarkan pengalaman dan rancangan suatu senjata sudah di sesuaikan lawan.

  5. Ehem…

    NASAMS khan sudah buat AURI.

    Dan ehem juga karena ini bukan soal berani atau tidak karena ada faktor teknis yang terkait.

    Rudal yang mau dicari ini adalah sistem rudal yang mudah terkoneksi atau kompatibel datalinknya dengan radar Kohanudnas.

    Radar Kohanudnas yang dipakai saat ini dari Eropa dan Amrik. Jadi singkirkan kandidat S series sebab kagak nyambung dengan datalink Eropa dan Amrik.

    Walau Kohanudnas tergabung dengan AU tapi yang cari rudal jarak menengah ini adalah TNI AD. Sedangkan kita tahu kalau TNI AD pasti ambil alutsista yang premium. Alutsista premium sehubungan rudal ini adalah THAAD , kalau meleset ya Aster 30 dari sistem SAMP/T.

  6. Bung Colibri masih bersembunyi……..
    Halata HUHA masih mencari jawaban……..
    Aming LEE masih misteri…….
    Dunia semakin sempit……………. Next Asia Army First War mulai berdetak. itu mahluk ghaib masih bersembunyi…………..Kwakk………….Kwkak…………Kwkakk………..

    • Loe tdk salah, mmng aming lee lg merahasiakn pria trsebut, jk tdk demikian? Bisa rusak cita²nya karna tdk diakui, oleh karna itu mash dirahasiaknnya, sambil menunggu keluarga & istrinya tdk ada lg, karna istrinya juga bisa menggerebek mrk berdua, hampir sama sperti kasus angel lelga yg digrebek suaminya brserta masarakyat sekitar
      😆 😆