Mei 302018
 

Kapal perusak USS Laboon (DDG 58) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia akan membangun sistem peperangan elektronika (pernika) atau jammer baru untuk melawan rudal jelajah setelah mengumpulkan data dari 2 rudal Tomahawk buatan AS yang disita akibat tidak meledak dalam serangan udara di Suriah, seperti dilansir dari laman Sputnik.

Koalisi pimpinan AS telah meluncurkan serangan rudal pada sejumlah situs yang diduga memproduksi senjata kimia di Suriah pada awal tahun ini. Sejumlah rudal itu berhasil mencapai sasaran mereka, sementara beberapa lainnya gagal meledak.

Militer Rusia mengklaim telah memperoleh dua rudal hasil sitaan sekutu Suriah mereka dan sedang mempelajari rudal-rudal tersebut serta mengembangkan sistem peperangan elektronika yang dirancang untuk mencegat rudal-rudal ini.

“Atas dasar pengalaman ini, tugas-tugas teknis untuk pekerjaan baru sedang dipersiapkan. Mereka akan mempertimbangkan semua informasi yang diperoleh untuk membantu kami membangun prototipe sistem jammer baru”, menurut Vladimir Mikheev, penasihat wakil direktur utama KRET Rusia.

Mikheev menambahkan bahwa dengan memperoleh rudal itu, Rusia bisa dengan jelas memahami apa saluran komunikasinya, informasi dan kontrol, navigasi dan jangkauan rudalnya.

Dengan mengetahui semua parameter tersebut, kita akan dapat lebih efektif melawan rudal jelajah ini di semua tahap penyebaran mereka dalam pertempuran, tegasnya.

Mengenai kerangka waktu pengembangan sistem jammer baru, Mikheev pun mencatat bahwa sesuai dengan persyaratan negara sebagai pelanggan, siklus dari pengembangan penuh pada sistem jammer akan membutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun dan prototipe ini tidak akan menjadi pengecualian.