Feb 062019
 

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, menyatakan bahwa versi darat kompleks rudal jelajah jarak jauh berbasis laut Kalibr harus dikembangkan pada 2019-2020 sebagai tanggapan atas keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menangguhkan kewajibannya di bawah Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF).

“Pada 2019-2020, kita harus mengembangkan versi darat dari kompleks Kalibr berbasis laut dengan rudal jelajah jarak jauh, yang telah terbukti efektif di Suriah. Selama periode yang sama, kita harus membuat rudal darat kompleks dengan rudal hipersonik jarak jauh,” kata Shoigu, menambahkan bahwa langkah-langkah itu akan diambil mengingat keputusan Washington tentang Perjanjian INF.

“Selain itu, penting untuk meningkatkan jangkauan sistem rudal darat, yang saat ini sedang dikembangkan,” tambah Shoigu.

Berbicara lebih jauh, pejabat senior itu mengatakan bahwa pengalaman melakukan operasi tempur dengan bantuan senjata presisi tinggi di Suriah menunjukkan bahwa Rusia perlu melengkapi kembali kelompok orbit pesawat ruang angkasa militer.

“Pengalaman Suriah menunjukkan bahwa penggunaan senjata presisi tinggi secara efektif membutuhkan data pengintaian dan kartografi yang terperinci. Data tersebut hanya dapat diperoleh melalui satelit modern yang mampu mensurvei permukaan bumi dalam definisi tinggi,” kata Shoigu.

Pada hari Jumat, Amerika Serikat mengumumkan penangguhan keikutsertaannya dalam traktat era Perang Dingin yang melarang peluncuran rudal darat jarak menengah dengan jangkauan 310-3.400 mil. Hari berikutnya, Rusia juga menangguhkan kewajibannya di bawah perjanjian.

Pada saat yang sama, Duta Besar AS untuk Rusia Jon Huntsman mengatakan bahwa Washington berhak untuk membekukan pemberitahuan penarikannya dari Perjanjian INF jika Rusia kembali ke kepatuhan yang dapat diverifikasi dengan pakta pembatasan senjata dalam waktu enam bulan.

Sumber: Sputnik News

 Posted by on February 6, 2019