Rusia Bangun Pangkalan Militer Permanen di Suriah

23
4

Russian military jets are seen at Hmeymim air base in Syria

Pemerintah Rusia berencana akan membangun sebuah pangkalan militer Angkatan Laut di wilayah Tartus, sebelah barat Suriah. Pangkalan militer tersebut akan dibangun permanen. Dihadapan parlemennya, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Nikolay Pankov mengatakan, saat ini pemerintah sedang menyelesaikan seluruh dokumen yang berhubungan dengan pembangunan pangkalan militer tersebut.

“Kami akan memiliki pangkalan Angkatan Laut permanen di Tartus . Dokumen yang relevan telah disusun. Mereka menjalani koordinasi antar instansi dan kami berharap bahwa segera kami akan meminta Anda untuk meratifikasi (perjanjian),” ujar Pankov, dikutip dari Sputnik, Selasa (11/10/2016).

Dia berharap agar Parlemen Rusia membantu proses pembangunannya dengan cara meratifikasi dokumen yang diperlukan. Wilayah Tartus dipilih menjadi lokasi pembangunan pangkalan militer, karena sejak tahun 1977, Tartus telah menjadi basis pendukung Angkatan Laut Rusia di Mediterania.

“Fasilitas Tartus diawaki secara eksklusif oleh warga sipil. Pada tanggal 26 Agustus 2015, perjanjian antara Rusia dan Suriah telah ditandatangani soal penyebaran kelompok penerbangan Angkatan Udara Rusia di bandara Hmeymim yang berada di Latakia,” lanjut Pankov.

23 COMMENTS

  1. Lah paman Gober yg super pelit bantu Carin juga ada maunya kok, pakai ngomongin orang lain. Pertama Carin dikasih permen gulali rasa mocha, lalu dodol jeruk terkahir bakso rudal, pamrihnya agar carin mau mencucikan dan menyetrika baju paman kan? Sambil pijat sana pijat sini kan?

    Tidak ada makan siang yg gratis, begitu moto kaum sekuler yg jauh dari rasa ikhlas. Dalam diplomasi antar negara pun, hal seperti itu sdh jamak, jd tdk perlu kaget sampai kelojotan seperti itu, membaca arah kepentingan nasional suatu negara terhadap negara lain dg bungkus bantuan atau dukungan politik sampai militer terhadap negara kawan yg sdg tertimpa perang. Tidak terkecuali Rusia, USA sbg negara gede power pun sdh terbiasa bersikap seperti itu. Ingat ketika awal kejatuhan presiden Soekarno pun, ada tangan-tangan CIA yg ikut memoles kebangkitan rezim Soeharto untuk duduk di singgasana kekuasaan Republik Indonesia. Apakah CiA sbg kepanjangan kepentingan USA memiliki kebaikan yg tulus? Tentu saja tidak, karena dg naiknya rezim Soeharto segera saja USA seperti mendapat “durian runtuh”, dapat rejeki nomplok yg tiada tara besarnya. Dengan mendudukan rezim Soeharto, USA memperoleh banyak keuntungan strategis, misalnya dari sisi pulitik USA memperoleh kemenangan dlm upaya membendung paham komunis yg sdh merongrong Vietnam, agar paham komunis tdk bisa mencapai daratan Asia Tenggara khususnya pd negara seksi nan molek, Indonesia. USA boleh kalah perang di Vietnam, namun gembira bahagia memperoleh sekutu penting di Asia Tenggara. Di bidang ekonomi dan penguasaan sumber daya alam, jangan ditanya keuntungan apa yg diperoleh USA. Freeport sbg daerah penghasil tambang emas terbesar dan terbaik di dunia segera dg mudah dikuasai USA yg bahkan sampai kini msh kuat dicengkeram, belum lagi berbagai konsesi pertambangan minyak bumi banyak di kuasai perusahaan mijyak asal USA. Lalu berbagai lembaga donatur bentukan USA seperti IMF, World Bank dan IGGI dengan antusias memberi berbagai pinjaman modal untuk pembangunan berbagai infrakstruktur di Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa hasil pembangunan rezim Soeharto dari hasil ngutang dan eksplorasi sumber daya alam Indonesia memang ada hasilnya, namun ongkos biaya pembangunan yg kemudian menguap di korup oleh para sekondan Soeharto juga tdk sedikit. Ma’af, ini hanya sekadar sekelumit crita yg mungkin ada korelasinya dg artikel di atas.

    Lah Rusia mengirim ribuan tentara dan pilot kemudian berbagai alutsista nan canggih dan mahal berikut para teknisinya, tentu dg biaya yg mahal dalam rangka memenuhi undangan pemimpin Suriah, presiden al Assad untuk menggempur ISIS dan tentu (para pemberontak Assad), apakah ongkosnya di gratiskan begitu saja? Tentu saja tidak, Rusia tentu sdh berhitung apa saja konsesi atau keuntungan bagi Rusia dg mendukung Assad….

  2. Itu kan baru dalam uji coba, bukan dalam perang sesungguhnya. Baiklah dlm uji coba rudal berak Israel mampu merontokan yakun, namun dlm perang kan banyak faktor yg bisa mempengaruhi jalanya perang. Taktik dan strategi masing-masing pihak bisa juga mempengaruhi jalannya pertempuran. Siapa tahu pd waktu terjadi serangan, operator rudal berak sdg ngantuk sehingga telat memencet tombol fire ketika rudal yakun sdh sampai diujung hidung kapal milik Israel.

  3. untuk mnumpas isis tdk usah ngirim tentara maupun heli serang dan psawat tempur atau tank
    krn yg dihdapi musuh senjtax sangat komplex,jdi bgusx mnggunakan drone tempur yg dlengkapi missile operatorx tinggal bermain dblik layar tekan remot stick sambil minum kopi….tdk klr keringat
    terus perbtasan dperkuat,krn isis lewat melalui jalur perbtasan yg d danai tuanya,,,qlo perlu setiap perbtsan pasang sniper2 handal

  4. Saya pribadi mendukung rusia bikin pangkalan permanen di Suriah ,untuk mengimbangi Amerika yang terkamannya makin kuat di tim teng .Kerja jahat amerika adalah membuat negara negara ISLAM terpecah dan lemah ,amerika sudah berhasil di Libya,mesir ,tunisia yaman dan suriah . Dan langkah amerika terhenti di Suriah untuk sementara karena Rusia terpaksa turun tangan karena jika suriah jatuh ke tangan amerika maka rusia akan terkepung dan tentu tidak di ingini rusia . Bahkan jika harus perang nuke sekalipun rusia tak akan membiarkan suriah jatuh ketangan pengaruh amerika.

    Untuk Indonesia ,amerika tidak punya proyek khusus sementara ini ,karena sibuk untuk melakukan kepungan terhadap china .Jadi dengan kata lain indoensia sedikit di untungkan dengan ulah bakal china. Kesempatan yang tersedia ini harus di manfaatkan dengan cerdik ,maka ini adalah saatnya rebut tehnologi modern seperti rudal dan radar . Perkuat pondasi ekonomi sehingga tidak bisa di goyang dari luar maupun dalam .

LEAVE A REPLY