Mar 312018
 

Sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia. © Vitaly V. Kuzmin (13/04/2012) via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia berharap dapat meneken kesepakatan untuk mengirimkan sistem rudal anti pesawat S-400 ke India pada tahun 2018, sebut Wakil Kepala Dinas Federal untuk Kerjasama Teknis-Militer, Vladimir Drozhzhov kepada wartawan dalam pameran ArmHiTec pada Kamis yang dilansir dari laman TASS.

“Saya harap demikian”, katanya dalam menanggapi pertanyaan apakah dokumen tersebut akan ditandatangani tahun ini.

Pada bulan Januari 2018, CEO perusahaan Rostec, Sergey Chemezov berkata dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan portal Defense News India bahwa negosiasi untuk kontrak kini memasuki tahap lanjut dan pihak-pihak memilih rincian teknis.

Pada bulan Oktober 2016, Delhi-Moskow menjalin perjanjian antar pemerintah tentang pengiriman sistem rudal pertahanan udara S-400 ini.

Pejabat Angkatan Udara India sebelumnya memberitahu parlemen negara itu bahwa diperlukan untuk membeli sistem rudal anti pesawat Rusia, menekankan bahwa sistem ini akan memungkinkan India untuk berhasil mengusir kemungkinan ancaman dari Pakistan atau China, menurut situs berita tersebut.

Dibandingkan dengan pendahulunya S-300, sistem pertahanan udara S-400 dilengkapi dengan sistem radar yang lebih baik dan perangkat lunak yang telah diperbarui. S-400 dapat menembakkan empat jenis rudal permukaan-ke-udara (SAM) baru.

Salah satu rudal baru pada sistem S-400 adalah yang disebut 40N6 dengan jangkauan operasional sejauh 400 km (248,5 mil) dan ketinggian hingga 185 km (607.000 kaki). Rudal itu mampu melakukan intersepsi exo-atmospheric dari hulu ledak rudal balistik jarak menengah dalam fase terminal mereka.

S-400 juga dipersenjatai dengan rudal 48N6E2 yang disempurnakan dengan jangkauan 250 km (160 mil). Sistem pertahanan udara tersebut juga bisa menembakkan dua rudal tambahan, 9M96E dan 9M96E2 dengan masing-masing berkisar 40 km (25 mil) dan 120 km (75 mil).

China adalah pelanggan global pertama dari S-400. Sistem pertahanan udara terampuh di dunia dikirimkan oleh Moskow ke Beijing tahun lalu. Rusia juga diharapkan bisa mulai menerapkan kontrak pengiriman sistem S-400 pesanan Turki pada awal 2020.

Sementara itu, terlepas dari upaya India menyelesaikan kesepakatan sistem pertahanan udara S-400 yang akan datang, Sitharaman juga berharap untuk meneruskan diskusi tentang kolaborasi bilateral yang diusulkan mengenai pengembangan pesawat tempur generasi kelima (FGFA).