Des 082018
 

Sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 Rusia. © Russian Federation MoD

JakartaGreater.com – Secara khususnya, Almaz-Antey Group telah menempatkan sistem rudal anti-pesawat jarak jauh S-400 di dalam chiller pada suhu sekitar -45°C. Teknisi kemudian melakukan pemeriksaan stabilitas operasional S-400 tersebut.

Menurut TV Zvezda Rusia, proses ini berlaku untuk banyak jenis sistem persenjataan selain sistem S-400. Senjata dapat beroperasi secara normal pada suhu mulai dari -45° C hingga 50° C, mengarungi rawa dan salju setebal 140 cm – 200 cm, dinilai sebagai viabilitas (kelangsungan hidup) dimanapun di dunia.

Fakta bahwa senjata Rusia dan terutama S-400 dapat beroperasi dengan suhu ekstrim seperti itu memberikan keuntungan besar Rusia atas Amerika Serikat, dengan sebagian besar senjata yang telah diuji oleh Pentagon dalam kondisi beku yang sama.

Dan sistem rudal S-400 membuat AS merasa prihatin bahkan para pejuang F-35 dan pesawat MMA P-8A berisiko menjadi tidak berguna ketika dioperasikan pada kondisi suhu ekstrim.

Jet tempur siluman F-35A Angkatan Udara Jepang yang beroperasi di Pangkalan Udara Misawa. © USAF photo by Staff Sgt. Deana Heitzman

Agar tidak membeku, F-35 dan P-8 membutuhkan bantuan bahan kimia khusus. Tapi yang membuat Amerika tidak nyaman adalah dilarangnya digunakan. F-35 dan P-8 di pangkalan Arktik bisa menderita kerugian hampir $ 200 juta setelah angkatan udara dilarang menggunakan bahan kimia urea-depleting untuk melindungi pesawat tempur di musim dingin.

Di musim dingin, teknisi AS secara rutin menggunakan bahan kimia pencairan untuk melindungi pesawat dan mempertahankan operasi dibandara. Namun, mereka dilarang menggunakan bahan kimia yang tidak membahayakan jet tempur siluman F-35, tetapi menghancurkan lingkungan di sekitar pangkalan Amerika.

Dan bukannya urea, Angkatan Udara AS hanya diizinkan menggunakan Aviform L50, bahan kimia yang dapat menimbulkan korosi dan berkarat pada armada F-35, tetapi kurang beracun bagi lingkungan.

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh AS juga menunjukkan bahwa F-35 hampir tak mungkin untuk beroperasi pada lingkungan Arktik tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Dan ini jelas tak dapat diterima untuk negara-negara dengan cuaca dingin yang memilih membeli F-35.

Kelemahan lain dari jet tempur siluman F-35 adalah fakta bahwa ia memiliki teluk bom – weapon bay – tertutup, ketika teluk senjata terbuka di udara dingin. Maka hal ini bisa mempengaruhi kinerja struktur di dalam kompartemen senjata.

Namun semua telah diuji oleh Amerika Serikat dengan F-35 di Alaska, akan tetapi hasil tes khusus ini belum diumumkan. Dan jika tes ini berhasil, itu akan menjadi kekuatan pendorong baru bagi AS di Arktik.

Bagikan:

  8 Responses to “Rusia Buktikan S-400 Bisa Beroperasi Pada Suhu -45°C”

  1.  

    Maknyusss…..

  2.  

    Akhir 2019, Ruang Udara Batam dan Natuna Kembali Milik Indonesia

    Sabtu,08-12-2018 Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan Flight Information Region (FIR) sektor A yang mencakup Batam dan Natuna akan diambil alih Indonesia dari Singapura pada akhir 2019 mendatang.

    Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah membentuk tiga tim, terdiri dari Tim Teknis yang mencakup airnav, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), yang menyiapkan sarana dan prasarana untuk pengambilalihan ini. Kemudian, Tim Regulasi yang menyiapkan peraturan dan Tim Diplomasi untuk berunding dengan Singapura dan Malaysia.

    “Insyaallah akhir tahun 2019 sudah diambil alih Indonesia,” tegas Budi Karya kepada kumparan, Jumat (7/12).

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana Banguningsih Pramesti, menambahkan saat ini proses yang berjalan dalam tahap melakukan melobi negara Singapura.

    “Saat ini tahapnya itu tim kita sedang lobi Singapura agar semuanya dipercepat. Insyaallah akhir tahun 2019 selesai,” tambahnya.

    sumber : kumparan.com

 Leave a Reply