Apr 112018
 

Spc. Jeremy Squirres mempersiapkan drone Shadow 200 di Forward Operating Base Warhorse, Irak © US Army via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Militer Rusia telah memacetkan beberapa drone militer AS yang beroperasi di langit atas Suriah dengan “jammer”, yang sangat mempengaruhi operasi militer Amerika, menurut empat pejabat AS, seprti dilansir dari NBC News.

Rusia mulai mengganggu beberapa drone AS beberapa minggu lalu, kata para pejabat, setelah serangkaian serangan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta timur yang dikuasai pemberontak. Militer Rusia khawatir militer AS akan membalas serangan dan mulai mengganggu sistem GPS sejumlah drone yang beroperasi disana, para pejabat menjelaskan.

Senator Ben Sasse, bereaksi terhadap berita tentang pencegatan Rusia pada hari Selasa dengan mengatakan bahwa Rusia ingin merusak kepentingan AS disetiap kesempatan.

“Sungguh gila untuk berpikir bahwa Rusia sebagai hal lainnya melainkan seorang musuh”, kata Sasse.

Jamming, yang berarti memblokir atau mengacak penerimaan sinyal dari satelit GPS, bisa jadi tidak rumit, menurut Dr. Todd Humphreys, direktur Laboratorium Navigasi Radio di Universitas Texas di Austin.

“Alat penerima GPS yang terdapat di sebagian besar drone dapat dengan mudah di kacaukan dengan jammer”, katanya.

Humphreys, seorang yang ahli tentang spoofing dan jamming GPS, memperingatkan ini bisa berdampak signifikan pada operasional drone AS, menyebabkan mereka gagal berfungsi atau bahkan crash.

“Setidaknya itu bisa menyebabkan kebingungan serius bagi para operator drone di lapangan jika drone mereka melaporkan posisi yang salah atau bahkan hilang”, katanya.

Analis AS pertama kali menangkap pesawat militer Rusia di timur Ukraina empat tahun lalu, setelah invasi Crimea, menurut Humphreys. Dia mengatakan bahwa jammer pada awalnya terdeteksi sebagai sinyal samar dari angkasa, memantul dari permukaan bumi. Jammers memiliki dampak yang “cukup signifikan” pada drone pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mencoba untuk memantau daerah dan terpaksa menghentikan pengumpulan data intelijen dari udara.

Departemen Pertahanan AS tidak akan mungkin mau mengatakan apakah gangguan itu menyebabkan pesawat jatuh, dengan alasan keamanan operasional.

“Militer AS tetap mempertahankan penanggulangan dan perlindungan yang cukup untuk memastikan keselamatan pesawat berawak dan tak berawak, pasukan dan misi yang mereka dukung”, menurut juru bicara Pentagon Eric Pahon.

Namun seorang pejabat menegaskan bahwa taktik jamming tersebut memiliki dampak operasional yang nyata pada operasi militer AS di Suriah.

Para pejabat mengatakan bahwa peralatan yang digunakan serta dikembangkan oleh militer Rusia saat ini sangat canggih, terbukti efektif bahkan terhadap beberapa sinyal terenkripsi dan bahkan alat penerima anti-jamming.

Drone yang terkena dampak sejauh ini adalah pesawat pengintai yang berukuran kecil, dibandingkan dengan Predator dan Reaper yang lebih besar yang sering beroperasi di lingkungan pertempuran dan dapat dipersenjatai.

“Jammer sedikit berdampak mematikan dibandingkan peluru kinetik tapi kadang-kadang efeknya bisa sama-sama merusaknya. Ini sama seperti menembaki drone dengan gelombang radio dan bukan dengan peluru”, jelas Humphreys.

Dr Humphreys mengatakan bahwa meskipun serangan tersebut terjadi di dunia maya, namun hasilnya masih berdampak serius.