Nov 072016
 

rusia-rudal

Rusia dikabarkan tengah mengembangkan sebuah torpedo berkecepatan tinggi dan misil bawah laut. Informasi yang beredar hanya torpedo tersebut yang diberi nama Khischnik.

Sayang, tidak ada satupun pihak yang mau memberikan keterangan detail mengenai spesifikasi dari torpedo ini, serta bagaimana karakteristik teknisnya. Proyek ini benar-benar sangat rahasia. Selain nama dari torpedo yang baru diketahui, informasi lain menyebutkan, bahwa torpedo tersebut dikembangkan oleh Biro Desain Elektropribor yang memiliki spesifikasi di bidang teknologi aviasi.

Satu hal yang pasti, dalam segi spesifikasi utama, Khischnik akan lebih unggul dari pendahulunya yang terkenal, Shkval.
Tahun 1970 Uni Soviet berhasil membuat sebuah torpedo Skhval, dan baru digunakan oleh militer pada tahun 1988 hingga saat ini. Bisa dibilang

Skhval belum memiliki tandingan, dari sisi kecepatan topedo ini mampu melest dengan kecepatan tiga kali lipat dari torpedo lainnya.
Rahasia kecepatan Skhval ada pada mesin khusus yang berjalan dengan bahan bakar padat. Jika torpedo biasa dibantu dengan baling-baling,

Shkval mengunakan kapitasi super. Desain khusus mesin ini membuat torpedo dapat mencapai efek fisik yang unik, yakni membentuk gelembung gas di sekeliling torpedo saat bergerak, sehingga proyektif akan bergerak di ruang hampa secara virtual dan meminimalisasi dorongan.

Sama halnya dengan Khischnik, torpedo Shkval merupakan salah satu desain militer Rusia yang paling dirahasiakan. Meski telah beroperasi hampir 40 tahun, beberapa karakteristik teknisnya masih bersifat rahasia.

Sumber : rbth

Berbagi

  25 Responses to “Rusia Ciptakan Saingan Torpedo Shkval”

  1.  

    Pertamini

    •  

      Sebenarnya peneliti Indonesia sudah bisa menciptakan bahan bakar roket yang bisa tetap menyala dalam air .Bahan bakunya dari aspal tai karena pernah kecelakaan meledak sebelum di gunakan proyek ini di hentikan .Padahal bisa di kembangkan untuk tenaga terpedo maupun roket padat.

  2.  

    Di blog sebelah….singapur beli caracal, kok pak supriyatna malah ngebet pengen AW-101?

    Nggak salah nih….

    •  

      @Weka

      Tapi bapake marsekal masih geram, jagoannya gak dibeli…sampe2 bu connie & al araf ikut nimbrung

    •  

      @Uling Putih : Indonesia memesan 6 unit helikopter EC-725. Helikopter ini diperuntukan untuk misi khusus SAR Tempur.
      Namun, Indonesia membuka kemungkinan menambah heli sejenis ini hingga mencapai 16 unit atau full 1 Skadron.

      Kutipan link di atas…

      Pendapat saya pribadi, mungkun ada pertimbangan lain jika harus di gantikan / di penuhi kekurangannya dengan AW-101

    •  

      Singapore sudah punya heli dengan rear ramp yaitu Chinook. Jumlahnya 8 unit. Chinook bisa untuk angkut rantis.

      Jadi mereka tak perlu heli rear ramp lainnya. Makanya mereka mau beli caracal hanya untuk angkut pasukan.

      RI memang mau beli Chinook dan jumlahnya sedikit demi sedikit akan mencapai 24 unit. Tetapi itu.hanya untuk AD. AU butuh juga heli dengan pintu belakang seperti Chinook tetapi tak mau ambil Chinook. Keluarga Super Puma seperti Caracal tak ada pintu belakangnya.

      Mengapa AU tak mau beli Chinook juga ?
      Mungkin penyebabnya adalah kemungkinan embargo. Jadi perlu diversifikasi jenis.

      Mengapa tidak NH90 ? Militer Jerman sendiri mengeluh tentang lemahnya lantai, tempat duduk maupun rear doornya.

      Mengapa bukan Mi26 ? Dengan kapasitas Mi26 yang serupa dengan Hercules mungkin kegedean ukurannya. Dengan kecepatan yg mungkin lebih rendah dari Hercules maka Mi26 lebih beresiko kena manpads.

      AW101 lebih kecil dari Mi26, punya rear ramp juga.

      Makanya AU ngotot ingin beli AW101 yang buatan Italy supaya tidak kena embargo.

      Jika PTDI berani lakukan inovasi dengan penambahan rear ramp maka AU mungkin akan lebih suka ke PTDI.

      Namun ternyata PTDI terkesan lebih suka jualan saja tanpa inovasi. Lagipula PTDI lebih suka memenuhi pesanan negara lain daripada mengutamakan pesanan AU.

    •  

      @tukang iteung,phd

      Wow….aw-101 adl produk kolabautrasi itali dan inggris (yang pernah mengembargo RI).

      Untuk negara yang kemampuan dananya mumpuni, mungkin bukan masalah, tapi bgmn dg negara kita?

      Dg asumsi sederhana saja, populasi berbanding lurus dg kemudahan mendapatkan dukungan sucad….aw-101 dikawasan asia hanya dioperasikan oleh AL jepang.

      •  

        @tukang itung,phd

        Diasia pasific, dg mudah bisa dijumpai populasi heli super puma/caracal dan chinook….mulai dr jepang s/d aussy, dari turki s/d png.

        Tapi heli aw-101 (bukan varian heli AW yang lain lho) hanya dipake oleh jepang…bisa dibayangkan urusan sucadnya

    •  

      @Weka

      Sekalipun berita tsb akhirnya benar2 terlaksana, tapi subyek aw-101 ini bahasannya berbeda….bisa disamakan dg pak supriyatna pengennya beli V-22 ospyrey.

      Kalo keluarga heli AW yang lain (aw-109/aw-139) diasia pasifik populasinya sudah banyak om…

      Heli aw-101…sudah mahal, helinya membutuhkan perawatan yang intensif dan hanya negara dg kemampuan keuangan yang bagus yang sanggup mengoperasikan (itali, inggris, norwegia, jepang)

      •  

        Bung Uling,

        Melihat spesifikasi AU yang butuh helikopter dengan rear ramp (pintu belakang) yang mana AU mencalonkan AW101… namun bagaimanapun juga keputusan pembelian ada di tangan Menhan

        Kemenhan mungkin akan belikan helicopter dengan rear ramp juga tetapi dengan merek lain. Bisa jadi yang akan dibeli adalah Chinook juga atau malah Mi26.

      •  

        @tukang ngitung

        Moga-moga chinooknya….amin.

  3.  

    .

  4.  

    Bungkus…

    Untuk KS Changbogo IV dan seterusnya…

    Torpedonya pakai Shkval, rudalnya pakai Calibr…

  5.  

    namanya jg rahasia ya musti di bungkus bu xexexe..

  6.  

    !

  7.  

    !!!

  8.  

    Sdh waktunya torpedo sut mesti dihentkan produksinya,waktunya beralih ke torpedo seahake yg sepabrik dg sut. Sekalian mkn minat torpedo skval ya beli juga. Syukur2 dpt tot biarpun yg versi export.

  9.  

    bungkus bleh.

  10.  

    Borooong…….
    TOT wajib borong

 Leave a Reply