Rusia dan Amerika Kembali Memanas

14
6

Amerika Serikat Rupanya tidak mau menerima protes dari Rusia pascaserangan yang dilakukan AS terhadap tentara pemerintah Suriah. AS justru malah menyebut Rusia sebagai negara sok jago. Pernyataan tersebut dilontarkan Duta Besar AS untuk PBB, Samantha Power.

Samantha memprotes balik Rusia yang langsung menggelar pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB setelah serangan tersebut. Dia meminta semua pihak untuk menghormati AS yang sedang melakukan penyelidikan serangan terhadap tentara Suriah.

“Rusia benar-benar perlu menghentikan tindakan sok jago, pura-pura dan fokus pada apa yang penting, yang merupakan implementasi dari sesuatu yang kita negosiasikan dengan itikad baik dengan mereka,” tegas Samantha, dikutip dari Guardian, Minggu (18/9).

Dia menambahkan, sikap Rusia terhadap AS merupakan tindakan yang dapat menggagalkan gencatan senjata di Suriah, dan terkesan sinis, juga munafik.

14 COMMENTS

  1. Strategi ganda AS, di satu sisi bantu kurdi hamcurkan ISIS, sisi yg lain trs suplai senjata dan amunisi serta bantuan satelit utk melancarkan serangan kilat di irak maupun syria. Pura puranya menghancurkan ISIS, tetapi yg di sasar adalah lokasi yg sdh di tinggalkan oleh ISIS atau sempalan daesh yg asli org arab saja yg di sasar rudal. Jadi serangan AS ke Syria tdk ada yg gratis, ada maksud utk mempertahankan daesh tetap kuat di Irak maupun Syria….buntutnya adalah Israel, mempermudah mewujudkan Israel raya yg akan membentang dari Irak hingga Syria dan Mesir.

  2. To talk about complication;
    Most people in US is exclaimed that Russia is a their sworn enemy, yet they have got no clue what that is supposed to mean. That is an arbitrary public stereotype, if not domestic proxy. LOL !
    While on the other hand, Russian general views are not in dengue-twisted to USA as the land of hope anymore, — in contrast of Russian government’s policy.
    All in all, I think the domestic sentiment of Russia is more than likely to re-define their place on earth. That is usually the sound of spelling for tougher and far more nationalistic rhyme.
    😀
    Indonesian foreign policy should be able to adapt and change strategy from time to time to insert national interest, including obtaining transfer of techology.
    For Indonesia, lacking of domestic military research and industry only means time is of the essence before everything explodes.

LEAVE A REPLY