Rusia Dorong Zona Aman di Suriah

Su-34 Rusia yang berbasis di Latakia, Suriah (Russian Ministry of Defence)

Astana – Oposisi bersenjata Suriah pada 4/5/2017 menolak rencana Rusia menciptakan daerah aman di Suriah, dan menganggap langkah itu ancaman terhadap keutuhan wilayah negara Suriah.

Mereka juga mengatakan tidak akan mengakui Iran sebagai penjamin rencana gencatan senjata apa pun.

Turki, yang mendukung pemberontak Suriah, dan Iran, yang mendukung Presiden Suriah Bashar al Assad, membicarakan kesepakatan pada Kamis terkait rencana Rusia membuat “daerah penurunan kegiatan” di Suriah, yang disambut Perserikatan Bangsa-Bangsa namun diragukan Amerika Serikat.

“Kami ingin Suriah menjaga keutuhannya,” kata wakil utusan oposisi Osama Abu Zaid setelah Rusia, Turki dan Iran menandatangani memorandum untuk menciptakan daerah aman. Ketiga negara itu melakukan pembicaraan di ibukota Kazakhstan, Astana, untuk mengakhiri pertempuran di Suriah.

“Kami menentang kesepakatan pembagian Suriah. Kami bukan pihak yang setuju dan tentu saja kami tidak akan pernah mendukungnya selama Iran menjadi negara penjamin,” ujar Abu Zaid.

Dia juga menyebutkan tentang “celah besar” antara janji-janji Rusia, yang melakukan campur tangan militer sejak 2015 dengan mendukung Bashar, dan memulai kembali konflik di negara Suriah.

“Kita sudah memiliki kesepakatan di tangan kita, mengapa tidak diterapkan?”Katanya, mengacu pada kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh Rusia pada Desember yang sebagian besar diabaikan di dalam penerapan di lapangan.

“Mengapa kita sekarang membahas zona aman?….. Rusia tidak mampu atau tidak mau menerapkan janji yang mereka buat, dan ini adalah masalah mendasar,” tambahnya.

Rusia, Turki dan Iran tidak segera mengumumkan memorandum, membiarkan rinciannya tidak jelas. Namun zona aman tampaknya dimaksudkan untuk membuat suatu wilayah bebas konflik, membantu memperluas gencatan senjata dan berpotensi dipantau oleh tentara asing.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa terjadi keragu-raguan terhadap keterlibatan Iran sebagai penjamin atas kesepakatan tersebut dan rekam jejak Damaskus atas kesepakatan sebelumnya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa dia mendorong rencana tersebut namun harus benar-benar memperbaiki kehidupan warga Suriah.

Menteri luar negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, mengatakannya saat kunjungannya ke Washington, D.C., mendukung penciptaan zona aman namun dia ingin melihat lebih rinci rencana itu.

Perunding Rusia Alexander Lavrentyev mengatakan di bawah rencana itu, Rusia dapat mengirim pengamat ke daerah aman tersebut. Dia mengatakan bahwa pemantau dari pihak ketiga dapat diundang menurut kesepakatan Iran dengan Turki.

Antara / Reuters

Tinggalkan komentar