Rusia Kembangkan Radar untuk Deteksi Kawanan Drone

Jakartagreater –  Selain Rusia, segelintir negara lain, termasuk AS, Cina, Italia, Inggris, Jepang, dan Israel diketahui sedang mengerjakan teknologi yang terkait dengan penyebaran massal kendaraan udara tak berawak, baik itu untuk digunakan dalam pertempuran maupun pengintaian, dirilis Sputniknews.com pada Selasa 25-8-2020.

The Scientific and Research Institute for Long-Distance Radar Communications (akronim Rusia ‘NIIDAR’), pengembang sistem radar utama Rusia, saat ini sedang mengerjakan radar mutakhir baru yang mampu mendeteksi presisi kawanan drone, ujar juru bicara dari layanan pers perusahaan.

Berbicara kepada Sputnik di sela-sela pameran militer ARMY-2020 yang sedang berlangsung di luar Moskow, juru bicara tersebut menjelaskan bahwa meskipun sistem radar yang ada dapat mendeteksi kawanan Drone, mereka tidak dapat membedakan jumlah persisnya, dan pendeteksian bisa berbintik-bintik tergantung pada ukuran Drone.

“Beberapa versi sistem sedang dikembangkan – untuk sektoral dan untuk kendali wilayah udara omnidirectional, dengan kemampuan untuk mendeteksi kendaraan udara tak berawak kecil dan kecepatan rendah, termasuk yang beroperasi dalam kawanan. Jumlah objek yang dapat dideteksi secara bersamaan hanya dibatasi oleh daya komputasi sistem,” kata juru bicara tersebut.

Menurut Direktur Jenderal NIIDAR Kirill Makarov, di tengah penggunaan Drone secara massal dalam berbagai pengaturan saat ini, pembuatan radar baru akan membantu operator memastikan keamanan infrastruktur penting dari pelanggaran wilayah udara untuk spionase industri, atau tujuan ilegal lainnya.

Perusahaan yakin bahwa sistem radarnya dapat bermanfaat bagi pemerintah dan swasta, dan memiliki potensi ekspor yang besar.

Drone Swarm Warfare.

Pengembang di beberapa negara sedang mengerjakan teknologi swarm (kawanan) Drone dan anti-Drone swarm untuk aplikasi militer.

AS sendiri memiliki beberapa program terpisah di bidang ini, dengan Defense Advance Research Projects Agency (DARPA). Pentagon mengerjakan konsep-konsep termasuk antarmuka komputer-otak untuk memungkinkan manusia mengendalikan segerombolan Drone dengan pikirannya, dan proyek GREMLIN oleh Dynetics, yang membayangkan penyebaran Drone dari dan ke pesawat angkut C-130.

Pada awal Agustus 2020, Komando Pengembangan Kemampuan Tempur Angkatan Darat AS mengeluarkan pemberitahuan kepada kontraktor pertahanan tentang kemampuan yang mereka inginkan untuk dapat diterapkan di UAV generasi berikutnya, atau ‘Air-Launched Effects’.

Angkatan Darat menginginkan kawanan Drone baru memiliki kemampuan untuk melakukan serangan mematikan, bertindak sebagai umpan terhadap sistem pertahanan udara terintegrasi, dan melakukan pengintaian.

Selain itu, Angkatan Darat menginginkan 2 jenis Drone yang berbeda, termasuk UAV ‘kecil’ dengan berat tidak lebih dari 100 pound (45,35 kg), dengan jarak jelajah setidaknya 100 km dengan kecepatan 30 knot. Sebuah Drone ‘besar’ memiliki berat tidak lebih dari 225 pound (102 kg), memiliki jangkauan 350 km, dan kecepatan jelajah setidaknya 70 knot.

Industri pertahanan AS juga diketahui bekerja pada pertahanan kawanan Drone, dengan Laboratorium Penelitian Angkatan Udara baru-baru ini menguji peralatan baru yang dikenal sebagai ‘Penanggap Operasional Taktis Berkekuatan Tinggi’, yang dikatakan mampu menjatuhkan beberapa target udara tak berawak sekaligus menggunakan serangan elektromagnetik.

Coyote, sistem ‘amunisi berkeliaran’ yang dikembangkan oleh Raytheon untuk menjatuhkan Drone musuh menggunakan kekuatan kinetik, adalah program lain yang telah disetujui oleh Pentagon.

Pengembang di China, Italia, Inggris, Jepang, dan Israel juga mengerjakan teknologi swarm / anti-Drone swarm mereka sendiri, dengan satu produk dari raksasa pertahanan Israel Rafael menggunakan laser untuk menjatuhkan Drone komersial kecil secara berurutan.

Bulan lalu, Abishur Prakash, ahli masa depan geopolitik dan penulis buku ‘The Age of Killer Robots’, mengatakan kepada Sputnik bahwa kemajuan pesat teknologi termasuk Drone kamikaze, drone bertenaga AI, dan kawanan Drone, menjadikannya penting bagi negara-negara untuk setidaknya berbicara tentang kemungkinan menetapkan aturan atau perlindungan untuk sistem persenjataan baru tersebut untuk menjaga dari potensi bencana.

Satu pemikiran pada “Rusia Kembangkan Radar untuk Deteksi Kawanan Drone”

Tinggalkan komentar