Rusia Kembangkan Samun, Artileri Nirawak Anti-Drone

40
Ilustrasi artileri penangkal drone © Vitaly Timkiv via Sputnik

JakartaGreater.com – Meningkatnya penggunaan pesawat tanpa awak (drone) oleh militan membuat para perancang senjata Rusia mengembangkan persenjataan canggih, seperti di lansir dari laman Russia Beyond pada hari Rabu.

Rusia tengah mengembangkan sebuah modul tempur yang mendukung teknologi kecerdasan buatan alias AI. Tugas utamanya adalah melawan drone kecil yang terbang rendah yang kian populer diantara para militan yang berperang di Timur Tengah.

Pengembangan sistem baru ini pertama kali dilaporkan oleh media Rusia di akhir Desember lalu, mengutip keterangan dari Umakhan Umakhanov, kepala perancang perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.

Untuk sementara ini, sistem artileri terbaru itu disebut Samum. Selain untuk melawan UAV murah pembawa bom, senjata itu juga dapat memberikan perlindungan terhadap pesawat-pesawat tempur taktis dan penyerang, bahkan termasuk helikopter.

“Modul kendali jarak jauh nirawak ini dapat dipasang kepada platform mandiri mana pun, seperti kendaraan-kendaraan lapis baja atau kapal perang. Jadwal dari implementasiannya tergantung pada pesanan. Sejauh ini, ini hanya berupa inisiatif dari biro riset dan desain”, kata Umakhanov dalam sebuah wawancara.

Saat ini, ada dua prototipe sistem:

  1. Artileri yang mampu mengenai sasaran pada ketinggian 1,5 km dan jarak 2,5 km
  2. Roket artileri yang mampu mengenai sasaran pada ketinggian 3,5 km dan jarak 6 km, yang dilengkapi dengan rudal darat-ke-udara tipe Igla atau Verba.
Sejumlah drone yang digunakan militan untuk menyerang pangkalan Rusia di Suriah © Sputnik

Mengapa Perlu Senjata Khusus untuk Melawan Drone?

Ada beberapa alasan mengapa drone menjadi senjata utama teroris.

  1. Setiap drone murah dan standar bisa melakukan serangan. Teknisi mana pun dapat mengutak-atik dan memasang bahan peledak pada drone tersebut.
  2. Sistem pertahanan udara dunia umumnya dirancang untuk menghancurkan target yang lebih besar, seperti rudal dan pesawat terbang. Mengarahkan proyketil teknologi tinggi yang mahal pada drone kecil sangatlah boros dan tidak efisien.

Cara yang lebih murah dan efektif untuk menghancurkan drone kecil sekarang jadi sebuah kebutuhan. Samum kini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Selain sistem artileri Samum, yang baru dalam tahap awal pengembangan, Rusia memamg telah memiliki senjata elektromagnetik portabel yang dirancang untuk menghancukan drone.

REX-1, senjata counter-unmanned aerial vehicle (UAV)

Pistol Elektro-Magnet Portabel

Pistol elektromagnetik portabel REX-1 untuk unit infanteri serta keperluan khusus dibuat oleh Kalashnikov Concern, produsen senapan tersohor asal Rusia.

“Ini adalah senjata eletromagnet yang berfungsi mematikan kontrol dan saluran transmisi data drone paling umum di dunia. Senjata ini juga memiliki sejumlah unit elektromagnet dan inframerah yang dapat dipertukarkan, yang mematikan saluran GSM, GPS, Glonass, Galileo”, ujar Nikita Khamitov, kepala proyek khusus di Zala Aero Group, anak perusahaan Kalashnikov Concern, pengembang senjata baru itu, kepada Russia Beyond.

Dia menambahkan bahwa untuk setiap fungsi dan tugas tertentu, “larasnya” bisa diubah dan digantikan dengan komponen yang diperlukan hanya dalam hitungan detik, seperti halnya mengganti magazen senapan serbu.

Ini memungkinkan operator menghemat daya baterai (pistol dapat digunakan selama empat jam dengan sekali pengisian daya). Operator kemudian dapat mengisi ulang selama empat jam menggunakan soket 220 volt biasa atau slot baterai tambahan untuk penggunaan tanpa gangguan.

Ketika dihadapkan dengan senjata ini, drone dapat bereaksi secara berbeda: mereka dapat kembali ke titik awal pengiriman atau dipaksa mendarat.