May 312017
 

Sebuah render rudal hipersonik Zircon buatan Rusia. © Science and Technology

Pekan lalu, seorang kontributor di National Interest, Kris Osborn menulis bahwa Angkatan Udara AS, berharap dapat menerima senjata hipersonik pertamanya di pertengahan tahun 2020-an dan pada pertengahan 2040-an Pentagon mungkin mempunyai platform serangan hipersonik.

Dalam artikelnya, Kris Osborn menyebutkan bahwa AS tidak bertumpu kepada keunggulan hipersoniknya, di mana Pentagon sepenuhnya menyadari bahwa AS bukanlah satu-satunya negara yang terlibat dalam menciptakan platform senjata yang mampu meluncur kecepatan melebihi 5 Mach.

Selanjutnya, laporan dari Badan Studi Angkatan Udara AS mengindikasikan bahwa pesaing Amerika Seriakt tersebut, termasuk Rusia dan China, sudah terlibat pada pengujian senjata hipersonik.

Mengomentari artikel Osborn, analis militer dan kontributor Svobodnaya Pressa, Vladimir Tuchkov, menyebutkan bahwa suasana optimis tentang pengembangan senjata hipersonik AS dalam waktu dekat, di ikuti oleh platform serang hipersonik kemudian, mungkin adalah hal yang terlalu optimis, seperti dilansir dari Sputnik News.

“Pada kenyataannya, para ilmuwan dan insinyur Amerika harus mengencangkan urat saraf, hanya untuk menghindari tertinggal terlalu jauh dari Rusia di wilayah ini”, tulis Tuchkov.

Misalnya saja, para insinyur AS masih dalam tahap melakukan percobaan di laboratorium eksperimental mereka, sementara Rusia telah menjalankan berbagai uji coba senjata yang sebenarnya. Secara khusus, kita berbicara tentang rudal jelajah anti kapal Zircon, tambah Tuchkov.

Dalam sebuah wawancara dengan Kris Osborn bulan lalu, kepala ilmuwan Angkatan Udara AS Geoffrey Zacharias mengatakan bahwa AS kini terlibat dalam pekerjaan pembangunan di berbagai bidang.

“Saat ini kami fokus pada pematangan teknologi sehingga semua bahagian, panduan, kontrol navigasi, ilmu material, amunisi, perpindahan panas dan sebagainya”, kata Zacharias.

Membaca pernyataan Zacharias dengan saksama, Tuchkov mencatat fakta bahwa ilmuwan kepala tidak menyebutkan usaha penyempurnaan mesin scramjet sebagai salah satu rincian ilmiah dan teknik utama yang harus dikemukakan sebagai indikasinya.

“Bisa diasumsikan bahwa orang Amerika cukup puas dengan apa yang telah dicapai di daerah ini dan diimplementasikan pada pesawat scramjet Boeing X-51A. Percobaannya dimulai pada tahun 2010. Perkiraan kecepatannya berkisar antara 6-7 Mach”, kata Tuchkov.

Tuchkov menyebut bahwa ada tiga tes peluncuran kendaraan prototipe ini melalui pesawat pembom B-52. Yang pertama, pada bulan Mei 2010 lalu, rencananya mesin scramjet dapat beroperasi selama 300 detik, tapi sayang pengujian tersebut hanya berjalan 210 detik saja, dengan kecepatan maksimun 5.1 Mach. Hal itu memicu perintah penghancuran diri sendiri, karena perilaku roket tersebut menjadi tidak dapat diprediksi.

Senjata eksperimental X-51A Waverider dibawah sayap pesawat pembom B-52 AS. © US Air Force

Pengujian selanjutnya pada bulan Agustus 2012, dan kendaraan uji kedua hancur pada saat melintasi Samudra Pasifik, hanya 15 detik ke setelah penerbangannya.

Akhirnya, pada bulan Mei 2013, sebuah pesawat B-52 mengangkut X-51A di ketinggian 15 km sebelum diluncurkan. Dalam 26 detik, senjata eksperimental itu melaju pada kecepatan 4.8 Mach. Setelah meluncur sejauh 18 km, menghadapi sedikit hambatan udara, kecepatan maksimum yang tercatat adalah 5.1 Mach.

Dalam pengujian akhir tahun 2013 tercatat bahwa program tersebut telah menelan biaya senilai US $ 300 juta sejak tahun 2004 dan Pentagon melihatnya sebagai proyek “proof of concept” atau “pembuktian konsep”, yang menunjukkan mesin scramjet dapat melakukan peluncuran secara hipersonik dari sebuah pesawat terbang.

Namun, Tuchkov menekankan bahwa dalam menciptakan pesawat hipersonik, ada banyak masalah yang sama sulitnya dan harus dipecahkan, termasuk dalam pengendalian terbang, pertukaran informasi dengan komando, kemampuan untuk bermanuver dan penargetan.

Faktanya, menurut catatan Tuchkov, bahwa hasil yang telah dicapai Amerika Serikat pada tahun 2013, sudah lebih dulu terlampaui oleh Uni Soviet sejak lama.

“Pada tahun 1970-an, Biro Desain Raduga telah memulai proyek penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk mempelajari kemungkinan membangun rudal jelajah yang mampu mencapai kecepatan 5 Mach”.

“Saat itu, masalah ini hampir tidak dapat dipelajari. X-15 AS pada tahun 1960-an terbukti gagal, karena mengunakan mesin jet berbahan bakar cair. Bahan bakar cair memang bagus untuk penerbangan luar angkasa, tapi untuk penerbangan di atmosfer, dibutuhkan mesin scramjet sebagai bahan pengoksidasi udara dari atmosfer, bukannya oksigen cair dari tangki”, jelas Tuchkov.

Sebuah rudal hipersonik yang dirancang oleh Biro Desain Raduga, Rusia. © Sergey Mamontov

Tuchkov juga menyebut bahwa pada 1980-an, Biro Desain Raduga telah mampu membuat beberapa prototipe rudal jelajah hipersonik, yang dikenal sebagai rudal Kh-90. Itu adalah rudal jelajah dengan kecepatan 5 Mach, berbobot 15 ton, memiliki panjang 9 meter, lebar sayap 7 meter dengan jangkauan diperkirakan 3.000 km.

“Beberapa tes penerbangan telah dilakukan, kecepatan yang dicapai mulai dari 3 Mach hingga 4 Mach. Namun, terlepas dari hasil ini, proyek tersebut dibatalkan pada tahun 1992 karena masalah pendanaan”, menurut Tuchkov.

Pada tahun 1979, riset dan pengembangan scramjet yang dikenal dengan proyek “Kholod” atau “Cold” telah dimulai dengan menggunakan teknologi kriogenik oleh Baranov Central Institute of Aviation Motor Development.

Dengan berbasis rudal anti pesawat 5B28 dari sistem pertahanan udara S-200, para insinyur membuat laboratorium terbang, Dengan beberapa varian scramjet yang di tes. Hasil terbaik dicapai pada tahun 1998, ketika mampu mencapai kecepatan 6.5 Mach.

Pada saat itu, para insinyur memulai penelitian mengenai Kholod-2, yang rencana teknisnya meminta agar mampu mencapai kecepatan sampai 14 Mach – batas teoretis sebuah scramjet adalah 20 Mach.

“Tapi ini masih terbatas pada konstruksi model mockup, yang ditunjukkan pada pameran MAKS di tahun 1999. Tapi sayang proyek tersebut akhirnya dihentikan karena kekurangan dana”, kenang Tuchkov.

Vladimir Tuchkov menekankan bahwa para insinyur Rusia telah membantu orang Amerika, yang pada waktu itu memanggil kita sebagai “teman” mereka, sangat luar biasa. Semua hasil tes dari laboratorium terbang Kholod telah dijual ke AS. Pengujian terakhir yang di lakukan pada tahun 1998 adalah dilakukan dengan menggunakan dana dari AS.

Namun demikian, Tuchkov menambahkan bahwa baik tercatat atau tidak, para insinyur AS masih belum dapat menyamai rekor program Kholod, dimana kecepatan tertinggi X-51A itu hanya 5.1 Mach.

“Disini menariknya, bahwa Rusia disebutkan hanya dalam judul artikel National Interest pleh Osborn, tanpa menyebut program Rusia secara spesifik, terutama rudal anti kapal Zircon. Sama sekali mustahil seorang ahli militer Amerika tidak mengetahuinya”, tulis Tuchkov.

Zirkon 3M22 dikembangkan oleh biro desain roket NPO Mashinostroyeniya dikota Reutov, Moskow. Pengujian telah dimulai pada tahun 2015, dengan berhasil meluncurkan lima rudal sejauh ini.

Rudal jelajah hipersonik Brahmos II yang dikembangan bersama oleh Rusia dan India adalah varian ekspor dari rudal Zircon 3M22. © militarurussia.ru

Tuchkov menyebut bahwa dalam pengujian terakhir, mampu menembus rekor kecepatan 6 Mach – laporan media yang menyebut tes tersebut mampu mencapai 8 Mach telah dibantah oleh pengembang.

Mengingat kemampuan bermanuver dalam penerbangan, kecepatan 6 Mach sudah lebih dari cukup untuk mengatasi sistem pertahanan rudal, bukan hanya sistem pertahanan rudal yang ada saat ini, namun diperkirakan sistem baru yang akan muncul dalam 2 dekade mendatang. Menurut salah satu sumber menyebut bahwa rudal Zircon 3M22 memiliki jangkauan antara 500-1.000 km.

Tuchkov mencatat bahwa Zirkon 3M22 diklasifikasikan sebagai rudal anti-kapal. Dan akan dipasang pada kapal jelajah rudal kelas berat Proyek 1144, yaitu kapal Admiral Nakhimov serta Peter The Great yang akan menggantikan sistem rudal Granit dan Onyx.

Kapal lain yang direncanakan mengangkut rudal hipersonik ini adalah kapal selam generasi kelima Husky-Class, yang sedang dikerjakan oleh Biro Teknik Kelautan St. Petersburg. Dan
dalam jangka panjang, modifikasi berbasis udara dan darat dari Zircon akan dibuat, dimana pekerjaan tersebut saat ini juga sedang berlangsung, Tuchkov menambahkan.

“Zircon adalah senjata yang siap di tahap pengujian. Senjata itu di perkirakan akan ditambahkan ke gudang senjata Rusia antara tahun 2018-2020. Dan AS bermaksud merespon rudal hipersonik Rusia pada pertengahan 2020. Tapi, rencana ini masih menimbulkan keraguan”, tegas sang ahli.

Seperti telah disebutkan di atas, X-51A bukanlah proyek dasar yang perlu penyetelan ulang, namun sebuah laboratorium terbang. Kompleks industri militer AS sedang mengembangkan rudal berdasarkan data yang diperoleh selama uji X-51A. Serta pengembangannya masih di tahap awal, sama seperti Rusia setelah ditutupnya program Kholod-2, menurut kesimpulan Tuchkov.

  13 Responses to “Rusia Masih Unggul Dari AS Dalam Lomba Senjata Hipersonik”

  1. Ramjet…cara kerjanya sederhana tapi kecepatan nya maksimal…secara teori bisa mencapai 20 mach
    ..buijuugh ini kagak pake hulu ledak juga ,ntu kapal induk bisa bolong..

  2. Coba klo RX-420 udh bs dibikin pemandunya. Jadi rudal match 4,5. Ehhmmm…

  3. Tetangga2ne tante juga pada pake pioner lho….pioner bibit djagung

  4. Yang penting AKURASI
    Hypersonik tapi ngak akurat sama juga bohong
    AS punya THAAD, ngak butuh hulu ledak seperti S400/S500, THAAD hanya butuh tabrakan karena sangking akuratnya rudal ini
    Harga THAAD jauh lebih murah dari S-400/S-500

    • THAAD Perbatterei Harganya Sekitar 2.25 Milyar USD. Dan Itu Cuma Dpt 3 Peluncur,48 Rudal Dan beberapa Kendaraan/Alat Pendukung. Sedangkan Harga S-400 Perbatterai Itu 400-420Jt USD Dan Itu Sudah Dpt 8 Peluncur,112 Rudal Dan Kendaraan Pendukung Plus Dari Segi Jangkauan/Ketinggian Terbang S-400 Jauh Lebih Unggul Dari THADD.

      Sumber : Copas dr koemntar Agen Rosoboronexport (Jimmy)

    • ”Harga THAAD jauh lebih murah dari S-400/S-500″

      ——————————

      Coba Kasih Bukti Macam Link/Brosur Yg Mencantumkan Harga THAAD Lebih Murah Dari S-400… Lah Wong Patriot Aja Klau Di Belikan S-400 Bisa Dpt 2 Batterei Apalagi THAAD… 😛

      #Nyales Sukarela Ya Bang?…

  5. otak gile weeew mach 20 mikir gimana ya?

  6. Amerika memiliki program hipersonik yang memproduksi rudal lebih cepat daripada Rusia. HiFiRE (Program gabungan Amerika dan Australia) telah membangun roket yang berhasil yang memiliki kecepatan Mach 7.5.

    http://www.popsci.com.au/tech/aerospace/nasa-and-australia-successfully-test-a-hypersonic-rocket,419847

    Amerika telah mengembangkan mesin yang handal dan sangat cepat yang bisa digunakan untuk mengembangkan rudal. Yang dibutuhkan hanyalah memiliki hulu ledak dan kontrol ditambahkan, dimana Amerika memiliki versi yang sangat canggih yang sudah berproduksi.

    Alasan utama mengapa AS tidak meluncurkan rudal hipersonik ke penggunaan aktif adalah mereka tidak melihat adanya kebutuhan akan hal itu dalam waktu dekat.

  7. Klu kita sebagai orang awam mah hy bs manyun dan garuk2 kepala melihat keunggulan Teknologi kedua Negara besar tsb! Ngareb sih SDM kita bs menyamai teknologi mereka!

 Leave a Reply