Des 262018
 

Ilustrasi tank tempur utama T-14 Armata menembakkan meriam © Veterans Today

JakartaGreater.com – Diplomat senior Moskow berpendapat bahwa Rusia telah melakukan yang terbaik untuk menghindari konflik dengan Amerika Serikat, akan tetapi kedua negara tampaknya berada di jalur tabrakan yang berbahaya karena kurangnya komunikasi, seperti dilansir dari laman Newsweek.

Ditanya pada hari Senin tentang kemungkinan perang habis-habisan antara aliansi militer Barat pimpinan-NATO yang dipimpin AS dengan Rusia, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan kepada Sputnik bahwa “semua orang didunia memahami hal ini dengan baik. Sebuah konflik bersenjata yang melibatkan dua kekuatan nuklir utama, Rusia dan AS, akan memiliki konsekuensi bencana bagi kemanusiaan”.

Lavrov mengatakan bahwa Washington beserta sekutu-sekutunya terobsesi dengan ambisi geopolitik mereka sendiri dan tidak siap untuk beradaptasi dengan realitas global yang tidak berubah sesuai keinginan mereka. Akibatnya, dia mengatakan bahwa dialog telah dibekukan dan perjanjian internasional seperti perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF) kini berada dalam bahaya dibatalkan, menciptakan situasi yang bahkan lebih berbahaya.

“Konflik semacam itu, yang didasarkan pada instrumen kekuasaan tidak dapat terhindarkan, mengarah kepada ketidakseimbangan lebih lanjut dari arsitektur keamanan global dan berkontribusi kepada perlombaan senjata”, terang Lavrov. “Suatu situasi mungkin muncul ketika nilai kesalahan atau kesalahpahaman telah fatal”.

Krimea dalam referendum 2014 yang telah menerima pengakuan internasional terbatas di tengah kerusuhan politik yang sedang berlangsung di Ukraina. Tuduhan bahwa militer Rusia telah membantu separatis yang memerangi pasukan Ukraina di timur makin memaksa NATO untuk meningkatkan perbatasannya dengan lebih banyak pasukan dan pertahanan dunia, dan itu membuat Moskow meningkatkan posisinya sendiri.

Tank tempur utama M1A1 Abrams Angkatan Darat Amerika Serikat. © Sgt. Leon Cook (U.S. Army)

Situasi genting di Eropa diperburuk oleh tuduhan bahwa Kremlin berusaha mempengaruhi pemilihan presiden AS 2016 yang mendukung kandidat Republik saat itu Donald J. Trump. Meskipun Trump berjanji akan melakukan reset dalam hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Washington telah memperluas sanksi terhadap Rusia dan Gedung Putih telah mengumumkan niatnya untuk mengakhiri perjanjian INF, perjanjian 1987 yang melarang penyebaran peluncur berbasis darat dengan jangkauan antara 310 – 3.400 mil.

Putin pada hari Selasa mengatakan bahwa Rusia akan dipaksa mengambil langkah – langkah tambahan demi memperkuat keamanan jika Washington meninggalkan perjanjian INF. Juru bicaranya, Dmitry Peskov pada hari Jumat mengatakan bahwa Rusia harus menargetkan setiap rudal AS yang ditujukan padanya di Eropa.

Selain itu, Lavrov juga menyatakan keprihatinan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika tak menanggapi upaya menegosiasikan pembaruan New Strategic Arms Reduction Treaty alias START, yang menetapkan batas untuk persenjataan nuklir kedua negara dan akan berakhir pada tahun 2021. AS berpendapat bahwa Rusia melanggar kewajiban era Perang Dinginnya.

Militer AS telah mempertahankan kepemimpinan yang cukup besar pada kecakapan militer Rusia, tetapi telah melihat pertumbuhannya dengan kecurigaan yang mendalam. Dokumen-dokumen strategis top dari Washington dan Pentagon telah menunjukkan melawan Moskow sebagai tujuan utama bagi negara itu. Dilain pihak, Rusia pun mengumumkan pengembangan senjata canggih baru dalam upaya untuk mempersempit kesenjangan antara kedua kekuatan utama.

Render drone nuklir bawah laut Poseidon buatan Rusia© Russian MoD

“Tentu saja, kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi melindungi kepentingan nasional kami dan memperkuat kemampuan pertahanan negara”, kata Lavrov.

“Presiden Putin telah membicarakan hal ini lebih dari sekali. Disaat yang sama kami berharap bahwa akal sehat akan tetap menang. Lagi pula, dengan semua posisi yang berbeda, baik itu Rusia dan negara-negara Barat bersama-sama memikul sebagian besar tanggungjawab untuk masa depan semua umat manusia, untuk mencari jawaban yang efektif atas banyak tantangan dan ancaman di zaman kita”, terangnya.

Ketegangan internasional seputar konflik Ukraina telah berkobar sejak penyitaan Rusia atas tiga kapal angkatan laut Ukraina bulan lalu yang dituduh melanggar hukum maritim di Selat Kerch yang disengketakan antara Laut Hitam dan Laut Azov. Personel dan kapal tetap dalam tahanan, sementara Kiev telah memperingatkan kemungkinan perang yang akan terjadi dengan Moskow.

Ukraina bukanlah “anggota” NATO, jadi serangan terhadap negara bekas republik Soviet tak akan memicu respon “Pasal 5” dari koalisi.

AS, bagaimanapun telah memberikan kontribusi pasukan dan peralatan untuk membantu Ukraina dalam perjuangan melawan pemberontak pro-Rusia dan sehubungan dengan kebuntuan baru-baru ini telah berjanji untuk memperluas dukungannya kepada Kiev.

jakartagreater.com

  2 Responses to “Rusia: Perang dengan AS Bisa Terjadi Akibat Salah Paham Fatal”

  1.  

    Jika terjadi konflik yg Sesungguhnya, Eropa dan US NATO akan diselimuti kabut hitam

  2.  

    AS sebegitu mudahnya memberi sangsi kpd negara yg berseberangan dgnnya karena ada NATO dibelakangnya tanpa itu bskah AS bersikap demikian? Klu terjadi ww3 dunia yg akan hancur2an.