Rusia Relokasi Militernya dari Afrin Suriah

20
7
dok. Map of Afrin (RT)

Moskow, – Kelompok operasi militer Rusia dan polisi militer telah direlokasi dari Afrin, Suriah, lokasi Turki telah memulai operasi militernya melawan Kurdi. Hal itu disampaikan oleh kantor berita Interfax mengutip kementerian pertahanan Rusia pada Sabtu 20 Januari 2018.

Sebelumnya, Menlu Rusia Sergei Lavrov dan mitranya dari Turki Mevlut Cavusoglu membahas konflik di Suriah dan situasi kemanusiaan melalui telepon, menurut Kementerian Luar Negeri Rusia. “Para menteri membahas persiapan untuk Kongres Dialog Nasional Suriah sebagai tonggak utama dalam perjalanan untuk mencapai penyelesaian dalam masalah politik Suriah,” kata kementerian tersebut.

Sementara itu Xinhua melaporkan bahwa Militer Turki pada Selasa 16 Januari 2018 malam menambah personel militer di tengah kesiagaan tinggi di dekat perbatasan Suriah, saat Ankara bersiap menyerang satu wilayah Kurdi di Suriah Utara, kata stasiun televisi pan-Arab Al-Mayadeen.

Balabantuan pasukan Turki terus berdatangan di satu wilayah perbatasan Turki di dekat Wilayah Afrin, yang dikuasai Suku Kurdi di Provinsi Aleppo, Suriah Utara, kata laporan tersebut. Al-Mayadeen menambahkan siaga keamanan tinggi dikeluarkan di wilayah perbatasan Turki di dekat Ayn Al-Arab, atau Kobane yang dikuasai Suku Kurdi, di bagian lain pinggir utara Aleppo.

Ketegangan militer itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kegiatan militer terhadap pasukan Kurdi di Afrin akan didukung oleh gerilyawan Suriah yang didukung Turki, kata laporan tersebut. Presiden Turki itu juga berikrar akan menghapuskan pasukan keamanan, dengan 30.000 personel, yang saat ini dibentuk oleh AS di daerah yang dikuasai Suku Kurdi di bagian Timur-Laut Suriah.

Di dalam pidatonya pada Selasa 16 Januari 2018, Erdogan mendesak NATO agar menentukan sikap mengenai pasukan perbatasan Suriah dukungan AS, yang akan dibentuk dari Satuan Perlindungan Rakyat (YPG), yang didominasi Suku Kurdi. Ankara menganggap YPG sebagai kelompok teror.

“Saya ingin menyeru NATO, anda sekalian harus melakukan tindakan terhadap pihak yang mengancam keamanan perbatasan sekutu anda,” katanya. Sementara itu Tentara Suriah bertekad untuk mengakhiri segala bentuk kehadiran Amerika Serikat di negara tersebut, kata televisi pemerintah.

Koalisi yang dipimpin Amerika Serikat bekerja dengan milisi Suriah untuk membentuk pasukan perbatasan baru yang terdiri dari 30.000 personil. Langkah tersebut juga meningkatkan kemarahan Turki atas dukungan Amerika Serikat untuk pasukan yang didominasi Kurdi di Suriah.

Kementerian luar negeri Suriah mengecam pasukan perbatasan yang didukung Amerika Serikat sebagai “serangan terang-terangan” atas kedaulatannya, menurut media pemerintah.

Pada 22 Desember 2017, Panglima Komando Sentral AS mengumumkan mereka akan membentuk pasukan perbatasan di Suriah yang ia katakan akan membantu mencegah kemunculan kembali ISIS. (Antara/Reuters)

20 KOMENTAR

  1. Melawan 30.000 ribu pasukan kurdi yg dipersenjatai AS.. Bisa berdarah2 tuh Turki. Hati2 om Erdogan.!! jngan sampai seperti Indonesia di Timor-timur. Lebih baik maen intelijen.. Bujuk baik2 pemimpin kurdi atau musnahkan secara diam2. Inilah yg sebenarnya dinginkan Trio kwek kwek kwek.. AS-ISRAEL-ARAB SAUDI..

  2. Sebelum melakukan oprasi militer di Afrin, Turki telah berkoordinasi dengan Rusia dan kepemerintahan Suriah, akan tetapi Turki tidak berkoordinasi dengan Amerika Cs.
    Saya berpendapat bahwa pasukan Kurdi akan lebih mudah di taklukan, hal ini lebih disebabkan oleh kebijakan Kongres Amerika yang telah memutuskan untuk “SHUTDOWN”
    Garis besarnya adalah jangankan untuk mempush pasukan Kurdi, pemerintah Amerika yang dipimpin oleh Trump akan kesulitan untuk membayar rutin gaji setiap bulannya untuk jutaan pasukannya dan juga misi oprasi militer di manapun.

    Semoga saja program “SHUTDOWN” akan berlangsung lama dan dapat memberikan pelajaran untuk para pemimpin birokrasi di Amerika.

      • SHUTDOWN adalah salah satu langkah pihak partai di dalam Kongres Amerika untuk menyetop membiayai kebijakan kepemerintahan yang berlangsung.
        Pada waktu kepemerintahan Obama, SHUTDOWN tidak berlangsung lama dan jumlah pasukan dan alutista beserta kelengkapannya tidak sebesar sekarang (kepemerintahan Trump)
        @bung Andre Syamsudin silahkan baca mengenai jumlah bomb / rudal / lainnya (alutista dan kelengkapan perang) pada setiap masa kepemerintahan Presiden Amerika.
        Trump adalah Presiden yang haus perang, karena jumlah pengeluaran untuk oprasi militer pada masa kepemerintahannya yang baru memasuki 1 tahun jauh diatas Presiden Amerika yang lain.

    • Shut down hanya terjadi karena Partai Demokrat menginginkan budget untuk menampung imigran, sedangkan Republik khususnya Mr. Trump lebih memilih mendahulukan US Citizen sebagai kebijakan America first. Jika menyebut gara2 USA, terjadi banyak pengungsi ya itu sangat salah. Bahkan sebelum USA ikut campur sekalipun sudah banyak pengungsi akibat masalah dan diktator yg terjadi disana.

      Shut down takkan terjadi begitu lama. Paling lama sekitar 2-3 Minggu karena Demokrat juga tau mereka juga takkan digaji kalo pemerintah Shut down.