Mei 302012
 

Mungkin kita sudah mendengar bagaimana F-18 US dengan seenaknya melintasi wilayah udara Indonesia. Begitu pula dengan pesawat negara lain, seperti Australia dan Malaysia.

Bahkan 2 jet tempur F-16 RI yang datang menghalau, justru di-“lock” oleh F-18 US di perairan Bawean dan disuruh menjauh.

F-18 US

TNI-AU telah menjalankan tugasnya dengan mengirim F-16 dan mengidentifikasi pesawat asing yang dianggap menerobos.

Tapi bagaimana dengan peran Arhanud ?.

Tentu Arhanud tidak bisa berbuat apa-apa karena sistem pertahanan mereka tidak bisa menjangkau F-18 US. Kalau demikian, satuan mana yang bertanggung jawab menjaga wilayah udara Bawean ?. Padahal tugas Arhanud adalah pertahanan udara medan operasi serta pertahanan udara nasional.

Meriam Anti-Udara Zur 23mm

Dari kasus tersebut, terlihat jelas ada “black hole” dalam sistem pertahanan udara Indonesia.

Kondisi ini membuat kewibawaan Indonesia berkurang, khususnya terhadap negara-negara tetangga. Mereka mengetahui Arhanud Indonesia hanya bisa bertahan total sambil menunggu diserang.

Itu baru ancaman penyusupan (intruder). Bagaimana pula dengan peran Arhanud untuk melindungi gerakan satuan lain seperti, Batalyon Tank Leopard 2A6,Heli Serbu MI-35, MLRS, Skuadron UAV dan lain sebagainya.

Teknologi senjata pesawat telah berkembang dengan pesat. Musuh tidak perlu lagi menghampiri sasaran untuk melakukan penghancuran. Apakah kondisi ini harus dihadapi satuan darat Indonesia, dengan mencoba melindungi diri sendiri mengandalkan rudal panggul jarak pendek/manpads ?.

Diskursus dan pengkajian mendalam tentang pertahanan udara nasional telah dilakukan secara mendalam. Arhanud juga telah mengusulkan dilengkapinya peralatan mereka dengan rudal anti-udara jarak menengah.

Apakah kekosongan pertahanan udara itu akan tetap dibiarkan ?. Akankah pesawat pesawat asing dengan seenaknya melintasi wilayah RI ?.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia terus membeli peralatan tempur yang canggih dan tentunya mahal. Antara lain: Jet tempur Sukhoi, Helicopter Serbu MI-35, Korvet Sigma, Meriam 155mm Caesar, UAV Heron, Tank tempur Utama Leopard 2A6, dan sebagainya.

Armada perang yang canggih dan mahal itu membutuhkan “Umbrella”, agar bisa berfungsi dengan maksimal.

Pengadaan rudal jarak menengah tampaknya harus menjadi keniscayaan bagi modernisasi alutsista TNI. Namun, apakah rudal tersebut akan dibeli ?

Jika tidak salah rudal jarak menengah telah masuk ke dalam daftar belanja alut sista TNI tahun 2011. Namun rudal yang dipilih, belum jelas.

Rudal Anti-Udara S 300 Rusia

Kandidatnya bisa saja S-300P (SA-10 Grumble). Saat ini Rusia benar-benar mengandalkan rudal S-300P untuk melindungi ibukota negara mereka, Moscow. bahkan ada sekitar 80 baterai S-300 di sekitar Moscow, untuk melindungi penduduk dan aset-aset berharga di kota itu.

Teater S-300 yang digelar Rusia, membuat banyak negara yang juga menggunakan rudal ini, termasuk: China, Vietnam, Korea Utara, Suriah, Iran, serta negara-negara Amerika Latin dan Eks-Uni Soviet.

Negara terakhir yang tertarik dengan S-300 adalah Turki yang nota-bene anggota NATO.

Uji Tembak S-300 Iran

S-300P mempunyai jarak tembak di atas 150 km dengan kecepatan 4 Mach. Rudal pintar ini mampu menyergap benda yang terbang rendah maupun tinggi (25M- 25KM). Rudal anti serangan udara ini mampu mendeteksi, menyergap dan menghancurkan: Pesawat, Helikopter, Drone, Roket Balistik, serta Peluru Kendali. Varian yang populer saat ini adalah: S-300PMU-1, S-300PMU-2 Favorit (SA-20).

China yang menggunakan SAM S-300 sejak tahun 1990-an, berhasil mengeluarkan varian nyadengan nama HQ-12 atau FT-2000. Namun HQ-12 lebih didisain untuk menghancurkan Intelligence Surveillance dan Reconnaissance seperti: E-3 AWACS, E-8 JSTARS dan E-2C Hawkeye. China mengkombinasikan S-300P dan HQ-12, untuk pertahanan udara mereka.

Jika tidak berhasil mendapatkan S-300P Rusia, tampaknya Indonesia akan melirik HQ-16 atau KY-80. Aparat TNI dari Kosek Hanudnas Tiga Medan, telah melihat uji tembak HQ-16 di Gurun Gobi China, akhir tahun 2011.

Radar HQ-16 mampu menjejak sasaran sejauh 150 km dan melakukan pencegatan hingga 50 km. Rudal ini diklaim China bisa menembak pesawat tempur, rudal terbang tinggi dan rendah, hingga Drone/UAV.

HQ-16 China

Untuk urusan kehandalan rudal, mungkin China bisa membusungkan dada. jangankan pesawat atau misil, Satelit yang berada di ruang angkasa saja, pernah ditembak jatuh oleh China, untuk menunjukkan kemampuan rudal mereka. So…mau pilih yang mana ?(Jkgr).

  63 Responses to “Rusia Tawarkan Rudal S-300”

  1.  

    klo ga bisa S300, mestinya ambil yang kw-1nya, HQ-9 atau KS-1 China aja….
    memanfaatkan tingginya tensi china dengan penggelaran USS’s US Navy di s’pore
    jangan lupa ToT missile C705 china, produksi aja di batam
    dan gelar MLRS di Pulau Nipah
    ini akan jadi diplomasi yang manis buat 2 jiran kita

  2.  

    yess aq se7 bgt ama comen diatas tp klo bs te2p usahakan dari rusia yg sdh jelas kualitasnya, tp ngmng2 pak pur orgnya plinplan ga konsen dl udh msk program dan daftar pembelian tp skrg bagaimana kbrnya KS improved killonya pak pur, pdhl br dgr pesen aja para tetangga udh pada merinding…ee.ee..buntut2nya kok nyaplem, sy ni sbg rakyat jelata ibaratnya jatah bantuannya cicabut rela asalkan buat beli KS killo, dgr2 katanya msh da KE dari rusia please pak pur itu aja diteruskan buat beli KS dari rusia utk herdernya selain dr cahbodonya made in korsel

  3.  

    mending chang bogo lah kan dapat 3 + tot dari pada kilo cuma dapat 2 enggak dapet tot lagi

    •  

      Yaelah mas mas, negara kita ini kan penuh dengan orang2 ber-ide and innovative. Sekarang memang belum akan kelihatan manfaat nya, tetapi setelah dapat menguasai sebagian besar teknologi pembuatan kapal selam, industry kapal selam kita akan melejit dan mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri baik dr segi kualitas dan kuantitas. Mau beli terus amat lah mahal secara jangka panjang. Hari ini kita chang bogo, 20 tahun mendatang mungkin kita akan buat yang lebih superior.

    •  

      buat dede= beli kilo lebih abgus di banding cahbodo ibarat kata nih cahbodo dari korea itu sedan terbaru keluaran korea sebut aja sedan timor, sedangkan kilo dari rusia itu selevel BMW dari jerman.. hanya orang bodoh aja yg mau beli mobil korea, mending beli BMW biar mahal tapi kuat. mesin ok. kira2 begitu

      •  

        Semua ada alasan dan hitungannya; pengusaha beli sedan korea untuk taksi (taktis), sedan BMW disewain untuk mobil pengantin atau limousine (strategis)…

      •  

        KS kilo (russia) memang tidak diragukan lagi kemampuannya dan itu sudah teruji,,menurut saya alasan knp indonesia memilih KS changbogo karena ada TOT didalammnya,,jika sudah mendapat TOT otomatis indonesia akan mampu membuatnya sendiri jadi kedepannya sudah tidak harus beli lagi,,biar banyak uang klw selamanya beli kapan bisa mandirinya..salam

  4.  

    Mending ambil S 300 Rusia, karena Rusia tidak akan mngekspor S 400 sampai 2015

  5.  

    Sangat berharap sekali TNI segera memiliki S-300 ini….krn fungsinya penting sekali….tapi…lebih mudah utk mencari anggaran….agar bisa beli S-300…daripada berurusan dgn DPR…ruwet..birokratis…dan tdk support sama sekali terhadap kemajuan TNI dan bangsa ini….

  6.  

    setuju sekali rudal S300 ini muantap klo S400 tambah lagi dahsyat, F15, sukhoi & F18 tetangga bakal rontok kalau berani masuk ke RI,beli saja 10 biji arahkan ke tetangga yg paling usil,,dijamin kapal laut dan udaranya ngeper. jarak ratusan km sudah terkunci misil apa gak pucat tuh tetangga wkwkwk

    •  

      Pertama, harganya mahal, mencapai USD 150 juta perbiji. Jadi kalau mau beli 10 ya siapin aja duit USD 1,5 milyar. Kedua, kok kapal laut tetangga ikutan ngeper? Ni rudal kan nggak bisa buat nargetin kapal laut, namanya aja rudal anti pesawat alias surface to air missile, bukan rudal anti kapal alias antiship missile.

      •  

        Mungkin maksud bro londoo S-300 ini dikombinasikan dgn rudal yakhont, setelah indonesia berhasil uji tembak rudal yakhont berjangkauan 300 Km, tetangga pada ngeper karena terobosan RI telah merontokan dominasi daya tembak terjauh dari negara-negara lain,

        Kalau misil-misil ini saling back up otomatis kapal laut dan udara tetangga tidak bakal berani masuk ke perbatasaan

  7.  

    Smuanya bisa diatur yg penting wani pironya

  8.  

    Ngomongin sistem pertahanan udara tentu gak bisa lepas dg sistem HanUd yaitu Hanud titik, terminal & Area. RI saat ini sdh menggelar satuan radar di penjuru tanah air dr mulai Satrad Sabang hingga Satrad Merauke yg baru2 ini diresmikan, sehingga hampir slrh wil RI saat ini sdh masuk dlm radar cover. Radar berfungsi sebagai mata & telingax sistem Hanud RI. Masalahx klo radar RI menangkap sasaran yg mencurigakan trus bagaimana penindakannx?..ini mslh klasik krn kita hanya mengandalkan pswt2 tempur yg nota bene byk tergelar di wil jawa sbg interceptor. Perlu waktu yg lama dr mulai detection hingga penindakan, kasus bawean sbg contoh. Utk hanud kita jg bru memiliki rudal panggul QW 3 yg dioperasikan Paskhasau serta rapier AD yg udh out of date yg berfingsi sbg hanud titik krn daya jangkau yg terbatas. Maka rencana utk mengakuisi rudal hanud jarak menengah spt S 300 P adlh sesuatu yg wajib hukumnya. Pastix klo kita punya S 300 P atau yg sekelas maka hornet2 aussie gak akan berani lg seliweran di wilyah timur RI.

    •  

      Masalah penggelaran pesawat memang harus dipikirkan ulang oleh petinggi TNI-AU. Misalnya pesawat latih mau tak mau harus terbang, dari pada terbang di atas Jawa yang lalu lintasnya padat, kenapa tidak di-dwifungsi-kan sebagai pesawat intai dan disebar. Misal AS Bravo/Grob(?) di Pontianak, KT-1B / T-34C di Manado, Hawk MK-53/T-50 di Ambon/Sorong. Akan meningkatkan military presence RI dan menghalau para maling ikan.

      •  

        Ngaco. Terus pesawat latihnya dipersenjatai gitu ya? Lupa juga ya kalau pesawat latih berarti pilot2nya masih belajar, kok disuruh mantau perbatasan dan maling ikan? Melototin pake mata telanjang doang lagi. Tau juga nggak kalau pesawat latih jangkauannya terbatas karena tangki bahan bakarnya nggak gede. Kira2 bisa disuruh ronda berapa jauh sih kl gitu?

        •  

          Lebar ZEE yang perlu dipantau cuma 200 mil (UNCLOS)
          AS 202 Bravo: cruise speed 211km/h, endurance 4,5 hours. KT-1B: range 1,668 km.
          Hawk Mk-53: range 2,000+ km.
          Semua pesawat cukup dilengkapi kamera+zoom yang diterima real-time di op center (Jakarta), instruktur+calon penerbang tidak perlu celingukan. Klo perlu senjata, kecuali Bravo, KT-1B memang dasarnya light attack aircraft, idem Hawk.
          Ngaco? Siapa maksudnya?

          •  

            Iya ngaco, lebar ZEE memang dihitung 200 nautical mile dari garis pantai, tapi panjangnya gimana? Itu panjangnya mulai dari perairan papua sampai ujung sumatera tuh. Lagipula range diatas kertas itu harus dibagi dua, emang pesawatnya nggak perlu balik lg ke pangkalan? Trs berhubung pilotnya masih pada belajar, kl ada kondisi darurat mau emergency landing di mana tuh, nyemplung aja ke laut? At least kl di daratan msh bisa nyari tanah lapang atau airstrip terdekat. Buat patroli ya pake pesawat patroli dong, kan kita punya MPA Cassa 212-400 dan bentar lg ditambah CN-235 versi MPA. Di dunia militer itu semua ada spesialisasi fungsi, nggak kayak motor bebek yg bs disambi buat ngojek. Make pesawat latih buat patroli itu ibarat make gayung buat madamin kebakaran hutan, mungkin bisa aja dipakai tp nggak bakal efektif.

          •  

            Soal make kamera zoom yg diterima real time di op center, sy mau tau transmisinya pake apa? Koneksi satelit? Kita punya nggak satelit khusus transmisi militer? Kl bikin transmisi jarak jauh segampang itu ngapain banyak negara harus impor teknologi UAV dgn transmisi jarak jauh sampai dar israel segala? Bung Danu tau kan dgn yg namanya UAV? Drpd pusing2 ngoprek pesawat latih supaya jadi pesawat patroli jejadian, jauh lbh efektif dan efisien beli UAV jarak jauh aja. Nah kl pake UAV nggak bakal ngumpanin para calon pilot dan instrukturnya ke ikan hiu in case terjadi emergency dan terpaksa nyemplung ke laut.

      •  

        Iya. Sayang juga kalau Super Tucano yang sebentar lagi datang, ditempatkan di Malang. Apa yang mau di-“coin” di pulau Jawa ?. Lebih baik Super Tucano digeser ke Kalimantan atau Papua yang rawan pembalakan liar dan penyelundupan.

        •  

          Malang kan cuma homebase nya aja, karena infrastruktur peninggalan skuadron OV-10 bronco (mess utk pilot, bengkel, hangar, etc) ada di sana semua. Ntar kl mau patroli bisa kok tinggal dipindahin ke pangkalan aju di kalimantan atau papua. Pangkalan buat pesawat sifatnya dinamis bro, nggak statis.

          •  

            Belum sadar klo ngaco ya?.Maling ikan juga tau tidak semua ZEE Indonesia kaya ikan.
            Sebagian besar bisa dicover dari Pontianak, Manado, Ambon / Sorong.
            Berdasarkan statistik, pesawat yang jatuh di darat mayoritas fatal, yang banyak survive justru yang mendarat di air, yi. Garuda di Bengawan Solo. Pernah ada pesawat latih sipil / militer selamat dalam pendaratan darurat di darat?.
            Dunia militer itu mahal, makanya perlu berpikir ekonomis, tau gak filosofi dibalik JSF F-35? Itu satu pesawat maunya disambi buat AU, AL dan Marinir.
            Dephan aja nyewa transponder di Palapa (nyambi), integrasi radar sipil dan Kohanudnas (nyambi). Justru kalau UAV bisa transmisi jarak jauh, berarti teknologinya tersedia, bisa dibeli, Klo mikirnya terbang di atas laut mgumpanin hiu, gak bakalan ada dong jumbo jet?

          •  

            @Danu, situ pernah nyoba buka sekrup pake garpu nggak? Mungkin bisa tapi nggak cocok toh dan belum tentu berhasil (tergantung bentuk sekrupnya dan seberapa kencang terpasang). Lah ide ngaco sampeyan ya seperti itu, meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Udah ngaco ngeyel pula. Kan udh disampaikan kl utk patroli dan memonitor maling ikan kita udah ada pesawat patroli maritim Cassa 212-400 dan nanti ditambah CN-235 MPA. Sensornya udah lengkap semua itu. Nah, ngapain susah-susah ngoprek pesawat latih ditambahin sensor dan kamera segala kl kita udah punya pesawat yang memang didesain khusus untuk itu? Ngapain kita buka sekrup pake garpu kalau obeng udah punya? Statistik menunjukkan kecelakaan di darat mayoritas fatal? Coba tunjukkan sumber statistiknya, sy pgn liat! Justru yang sering terjadi pesawat atau helikopter TNI berhasil mendarat darurat di tanah lapang. Tapi jarang diberitakan karena yang diberitakan di media kan kalau terjadi kecelakaan, kalau selamat ya sudah nggak masuk berita. Situ pernah dengar apa ada pesawat TNI yang mendarat darurat di laut dan selamat? Faktor lain adalah, karena memang pendaratan darurat di laut itu jarang terjadi. Nggak ada negara yang cukup bodoh nyuruh pesawat latihnya ngiderin lautan buat patroli maling ikan. Coba mana negara di dunia ini yang menerapkan kebijakan pesawat latih merangkap jadi pesawat patroli maritim?? Kejadian bengawan solo itu beda dengan pendaratan darurat di laut bung. Di bengawan solo setelah pesawat jatuh penumpang bisa langsung menuju daratan karena sebagian sayap pesawat menyentuh tanah di pinggir sungai. Nah kalau mendarat di laut ya temannya ikan hiu.

          •  

            @Danu, pertanyaan kedua, kenapa nggak pake UAV aja? Di seluruh dunia, negara-negara itu utk patroli wilayah lautnya selain make patrol boat, bisa juga pake pesawat patroli maritim atau UAV. Patrol boat dan pesawat patroli maritim kita udah punya (UAV akan menyusul segera dibeli). Kenapa sampeyan malah ngeyel make metode yang nggak lazim dan tidak ekonomis? Padahal bisa pake UAV dan pesawat patroli maritim yang memang dari awal didesain utk itu. Daripada harus ngoprek2 pesawat latih dulu, belum lagi harus diuji kembali apakah setelah dipasang sensor tambahan itu pesawat latih nggak akan keberatan untuk terbang. Heli NB0 105 kita aja performa aerodinamisnya menurun drastis kok setelah dicoba dipasang sensor utk patroli maritim, akhirnya dilepas lagi. Kalau sampeyan ngeyel lagi gpp mahal karena dunia militer mahal, pertanyaan sy kenapa patrolinya nggak pake F-16 atau Su-30 aja sekalian? Sampeyan jg ngambil contoh F-35, bedanya adalah F-35 emang dari awal sudah didesain supaya mempunyai kemampuan melaksanakan fungsi2 tersebut, dengan kata lain fungsinya sudah terdefinisi sejak dari tahapan desain. Lah soal ide sampeyan, apakah Bravo/Grob, KT-1B, sm Hawk 53 dari awal sudah didesain untuk patroli maritim atau memonitor maling ikan? Lagipula F-35 yang didesain oleh produsen kondang Lockheed Martin aja molor terus pengembangannya dan biaya membengkak nggak ketulungan. Itu untuk ngembangin pesawat yang fungsi dan kemampuannya sudah terdefinisi dari awal dan yang ngembangin negara super kaya seperti Amerika. Sampeyan pikir Indonesia dan TNI punya duit sebanyak itu buat dihambur2in ngembangin pesawat latih yang bisa jadi pesawat patroli maritim jejadian, padahal pesawat patroli maritim murninya sendiri sudah punya?? Masih belum nangkap betapa ngaconya ide sampeyan?? Jangan jadi tipikal orang yang ngeyel lah, nggak peduli salah yang penting ngeyel. Negara kita kacau karena kebanyakan orang ngeyel kok.

          •  

            @Danu, jangan samain ide pesawat latih jejadian sampeyan dengan jumbo jet. Bukan soal terbang di atas lautnya yang jadi masalah, tapi siapa yang nerbangin. Pilot jumbo jet biasanya pilot senior yang kenyang pengalaman, sedangkan pilot pesawat latih kan masih dalam tahapan belajar dan harus ditemanin oleh instruktur. Bedanya lagi pesawat jumbo jet memang didesain untuk terbang jarak jauh, nggak seperti pesawat latih yang jangkauannya terbatas. Intinya adalah melakukan sesuatu pada tempatnya, sesuai fungsi azasinya. Pesawat jumbo jet memang didesain untuk mengangkut penumpang untuk jarak yang jauh (bahkan melalui lautan yang luas sekalipun), sedangkan pesawat latih TIDAK didesain untuk patroli maritim. F-35 bisa melaksanan multi fungsi karena memang didesain untuk itu, pesawat latih TIDAK didesain untuk alih fungsi jadi pesawat anti maling ikan. Ada lelucon belakangan ini di forum sebelah, anak SMK Trenggalek aja bisa kok bikin pesawat latih, fuselagenya bikin di Bekasi, kursinya pesan ke pengrajin ukiran kayu di Jepara. Jadinya pesawat odong-odong.

  9.  

    S-300 kalau hbisa beli, jangan di tunda lagi ayo. pasti kita punya cepat beli biar kuat. JANGAN DI TUNDA LAGI PAK

  10.  

    Dari sisi TNI, Arhanud sudah lama mengajukan pengadaan rudal jarak menengah dan sudah dikaji secara mendalam. Bahkan TNI AD sudah memasukkannya ke dalam daftar pembelian alutsista dan juga sudah meninjau rudalnya. Tapi Kayaknya pemerintah sedang berpikir dua kali tentang pembelian rudal ini. Bisa memicu perlombaan senjata di kawasan.

    •  

      mikirin orang terus…tuh pikirin pertahanan negara kita yang rapuh…kalo terjadi perang apa negara lain mau bantu?..

    •  

      Bisa memicu perlombaan senjata di kawasan? wah itu bisa seru dan menarik…..bisa2 kita akan punya ..tdk hanya S-300..tapi juga Mig 31 Foxhound….yg bisa digunakan utk menembak pesawat pengintai, bomber, dll……setidaknya mengurangi maling ikan, penyelundup dan penerbangan gelap….beserta efek samping politik yg lain…entah apa saja itu….

  11.  

    Apalagi klo bicara pada level doktrin Sishankamrata, seluruh rakyat bisa nyambi jadi komponen pertahanan negara. Pesawat latih nyambi gotong kamera air surveillance belum apa2 boss!

    •  

      Kenapa nggak sekalian pesawat latihnya nyambi bawa bom nuklir? Atau pesawat latihnya sekalian dipasangin radar AWACS mini mungkin? Aneh, padahal kita udah punya pesawat patroli maritim dedicated yang udah punya kamera dan sensor lengkap, ni ada “pengamat” yang ngeyel maksain pesawat latih buat dipasangin kamera air surveillance yang connect ke op center :D

      •  

        Ide menarik. Kalau perkembangan mikro-elektronika sudah sedemikian rupa sehingga radome AWACS bisa
        diperkecil hingga sebesar piring, mungkin bisa ditaruh di atas ekor pesawat latih – di belakang canopy.

        Why not?

        •  

          Kebanyakan IF nya. Emang sekarang udh ada teknologi spt itu? Lets get real and get the facts straight first.

          Yawes lah, suka2 sampeyan aja. Sing waras ngalah. Pokoke pesawat latih setrooong! Mau dipasangi manpads, ATGM, standoff missile, JDAM, rail gun, tactical laser, bahkan nuclear tipped cruise missile bisa2 aja kok. Kan konsep pesawat jaman sekarang harus bisa omnirole, platform pesawat latih harus bisa menggantikan MPA, interceptor, bahkan air superiority sekalipun. Mau airframe rontok emang gw pikirin. Tinggal minta SMK buat modif, selama technically feasible pasti bisa2 aja kok (sarcasm mode:off)

          •  

            Itu kan bicara konsep-kalau, terus anda tanya ‘Emang sekarang..’ piye tho?

            ‘Kalau’ nya juga bukan imajinasi liar, ada konteks dan perspektifnya. Komputer pertama itu segede kamar den kemampuan komputasinya kalah dari laptop masa kini. Artinya dari perspektif mikroelektronik, material science dan teknologi miniaturisasi, masih mungkin radome AWACS dibuat lebih kecil. Kapan persisnya ya mbuh. Itu aja sih, tapi terus anda ngelantur lagi bicara ATGM, rail gun, JDAM, cape deh…

          •  

            Itu bukan ngelantur, tapi sarkasme.

            Konsep dan teori itu gampang, yang susah itu implementasinya. Anak kecil juga bisa berkhayal dan bisa bikin konsep mobil terbang atau pesawat dgn warp drive. Masalahnya bisa nggak konsep itu diterapkan dgn kondisi yang ada? Dengan teknologi yang tersedia, dengan iklim politik yang ada, dengan kondisi keuangan yang rill?

          •  

            Wah, ya gak tahu klo ide AWACS adalah ide anak kecil, wong saya cuma ndukung ide sampeyan hehe..

      •  

        Ojo nesuan toh Den”mas”bravo…hehehe…keep faith kang……

  12.  

    Denbravo, pola pikir anda tipikal think-inside-the-box, tahunya A ya A teruus sampai tuwek, mustahil berkembang jadi Ax bahkan Z. Sepertinya latar belakang anda bukan engineering, dimana mencari opsi yang lebih murah, menciptakan nilai tambah dengan memanfaatkan apa yang ada, udah kerjaan sehari-hari, klo bisa usaha 1, hasil 2.
    Sepertinya juga gak pernah / gak tertarik nonton Junkyard Wars di Discovery Science.

    Masalahnya simpel, apakah technically feasible pesawat latih nyambi sebagai pesawat intai?.
    Klo KT-1B, Hawk Mk-53, T-50 bisa berperan ganda sebagai pesawat tempur ringan , berarti sah2 aja pesawat latih dual-role. Klo sah, apakah wajib mati 2nd role hanya peran tempur, haram ada peran lain?. Itu aja dulu.

    Awalnya anda tanya berapa range pesawat latih? >Lebih dari cukup untuk pengamanan ZEE. Apakah pilot perlu melotot dengan mata telanjang? >Gak perlu samasekali. Apa mau dipasang senjata? > Kecuali Bravo, yang lain emang udah siap. Apa ada satelit komunikasi khusus militer? >Tidak, tapi udah lama Palapa disinergikan untuk kepentingan militer.
    Tapi terus ngeyel, melebar kemana-mana.

    Dari awal udah dibilang, pesawat latih mau gak mau harus terbang latihan, klo feasible nyambi peran intai, berarti sekali tepuk dua lalat, lebih ekonomis. Justru itu konsepnya. MPA (atau nanti UAV) bisa disiapkan sebagai back-up di darat. Gak nyambung klo bilang saya berpendapat gpp mahal, karena militer emang mahal, udah kebalik-balik gak karuan.

    Konsep MPA sendiri masih bisa ditinjau ulang. UAV Predator atau Reaper menembakkan rudal di Afghanistan, operatornya di mana? Di main land USA, boss!
    Artinya pesawat MPA cukup sebagai platform aneka sensor, data langsung di-relay ke darat, crew cukup dua, gak perlu ada operator atau console lain on-board, selain instrumen cockpit, pesawat bisa cari yang lebih kecil. Atau semua awak sekalian dihilangkan, jadi full UAV. Artinya apa? MPA konsep jadul, itu artinya.
    Tapi training must go on, gak/belum ada istilah jadul. Setidaknya sampai seluruh tipe pesawat AU full UAV – sepertinya feasible dan lebih murah. Gak perlu ada manusia on-board, yang memiliki kendala daya tahan gaya-G’

    Seharinya ada berapa Bravo, KT-1B dan Hawk harus terbang latihan? Belasan? Kalau yang belasan ini menyebar ke segala penjuru apa coverage-nya bisa ditandingi UAV?

    AC-130 gunship, ini jelas ide belakangan, dan bukti bahwa gak ada rumusnya klo desain awal untuk fungsi A wajib mati gak boleh dimodifikasi untuk peran A+x, B, C, dst.
    A-6 Intruder desain awalnya pesawat serang-pembom, carrier-based, belakangan keluar modifikasi tipe electronic warfare (EA-6B Prowler) bahkan tanker (KA-6). Idem F/A-18 dengan EA-18 Growler. B-747 apa desain awalnya untuk menggendong pesawat ulang-alik di punggung / piggy-back?, pesawat penumpang komersil Boeing apa desain awalnya untuk platform AWACS atau tanker AU?
    Sejak muncul F/A 18 Hornet yang dual role, A-6 dan F-14 Tomcat di-phase out. Artinya tipe2 pesawat dengan misi tunggal udah jadi konsep jadul, ini pertimbangannya biaya lagi. Gak ada rumusnya kalau udah ada pesawat A untuk misi X, tabu untuk pesawat C yang punya misi Y untuk sekalian merangkap misi X.

    Contoh seperti di atas gak ada habisnya di dunia penerbangan, salah kaprah-rah ngeyel bicara desain/misi awal sebuah pesawat, semua sah dimodifikasi, apapun jenisnya, untuk tujuan apapun. Paramemternya cuma satu: technically feasible.

    Klo anda bilang gak ada negara yang menugaskan pesawat latih sebagai pesawat intai, gak berarti yang pertama melakukannya bodoh, -ini paten logika ngaco.
    Orang pada pake PC/laptop, Steve Job punya ide bikin iPad, apakah Steve bodoh? Gak usah ngeles bilang itu ‘kan Steve Job -debat kusir.

    Mindset anda klo bicara pesawat latih pasti pilot yang masih belajar dan culun, padahal instrukturnya sama juga penerbang senior dan kenyang pengalaman, artinya tidak lebih rentan dari tipe pesawat AU manapun. Amelia Earhart tahun 1937 aja berani terbang solo keliling dunia, belum ada GPS. Masak calon pilot militer terbang dibimbing instruktur ke batas luar ZEE, terus balik lagi lagi ke pantai, dengan GPS in case of emergency, harus mikir 7 kali?
    Klo pertimbangannya takut jatuh terus, sekalian aja gak usah punya AU, pasti aman.

    Lagian 70% wilayah RI adalah laut, jadi bagus2 aja klo dari awal pilotnya ditempa terbang di atas laut.

    •  

      Think outside the box itu misalnya menggunakan alat utk menggantikan peran tangan, bukan gantiin tangan pake kaki. Itu namanya ngawur, wong tangan ada ngapain pake kaki? Wong MPA punya, ngapain pake ngoprek pesawat latih jadi MPA jadi2an?

      Situ mengklaim MPA konsep jadul? Bisa ngasih bukti di dunia nyata? Atau setidaknya ada dasar studi doktrin yg sudah diimplementasikan oleh salah satu negara? Kl nggak ada dasarnya, berarti klaim ente cuma pepesan kosong dong? Sebaliknya, kenapa hampir seluruh negara di dunia ini yg punya garis pantai dan militernya maju make MPA? Bahkan AS pun mengupdate MPA PC-3 Orionnya dengan P-8 Poseidon. Negara2 lain juga sampai detik ini masih make MPA dan belum pernah terdengar tuh ada negara manapun yg berencana mempensiunkan armada MPA mereka dgn alasan konsepnya sudah ketinggalan jaman. Terbukti bhw sampeyan pada dasarnya cuma punya pendapat pribadi bhw MPA itu konsep jadul tp ngeyelnya seolah2 expert di bidang doktrin militer.

      Sekarang kl sampeyan merasa benar, kasih bukti negara mana yg pernah atau berencana mengganti peran pesawat MPA mereka dgn pesawat latih yg dikonversi menjadi MPA? Dari pada debat kusir mending ngomong bukti nyata aja deh. Di dunia ini pasti ada ahli aviasi/militer yg pernah kepikiran menggunakan pesawat latih sbg MPA, tapi knp tdk pernah ada realisasinya beyond technical concept? Don’t tell me sampeyan merasa sbg satu2nya org yg pernah memikirkan soal ini.

      Sampeyan mungkin punya background di bidang engineering, but with all do respect di dunia nyata perlu lebih dari sekadar technical feasibility sebelum mengganti suatu sistem, apalagi yg terkait dgn dunia militer. Banyak banget tuh desain2 military hardware yg secara teknis bagus tapi akhirnya nggak kepake. Faktor financial feasibility, technological availability, dan political factors justru punya porsi lebih gede drpd sekedar technical feasibility. Contoh sederhana, sy yakin secara teknis mungkin2 aja kok kita mampu bikin kapal induk bertenaga nuklir, tapi nyatanya nyaris mustahil kan kita punya kapal induk dlm wkt dekat? Karena secara politis nggak ada negara yg mau memberi teknologi pembangkit nuklir, dan secara finansial anggaran militer kita jg nggak akan mampu mensupport maintenance dan acquisition costnya.

      Argumen yg sama bisa diterapkan untuk mengatakan bahwa ide sampeyan ttg kapal latih utk menggantikan MPA itu absurd. Is it technically possible? Perhaps. Is it doable in the real world right now (dgn mempertimbangkan faktor politis, finansial, doktrin militer, etc)? No.

      Transmisi data utk video feednya gmn? Kita punya teknologinya tidak? Yg pasti sampai saat ini tidak punya. Utk mendapatkannya nggak gampang, karena termasuk rahasia yg disimpan rapat oleh produsen UAV. Riset sendiri? Wani piro dan perlu brp tahun? Dgn asumsi teknologinya ada pun, masang sensor di pesawatnya pun nggak mudah karena masalah kompatibilitas dan integrasi. Belum lagi harus diuji kembali airworthiness pesawatnya itu sendiri setelah pemasangan sensor2. Pernah dengar kan NBO-105 kita gagal jadi heli ASW karena setelah dipasangi suite MPA/ASW ternyata performa aerodinamisnya menurun drastis, dgn kata lain helinya keberatan dipasangi alat yg beratnya cuma 150 kg. Sudah mempertimbangkan daya tahan airframe? Pesawat yg terbang di atas laut lebih cepat terkena korosi airframenya karena udara dia atas permukaam laut kaya dgn partikel garam yg bersifat korosif, karena itulah helikopter/pesawat naval berbeda material konstruksinya dibandingkan helikopter/pesawat land based. Nah, daripada menempuh semua ini apa nggak lebih simpel menggunakan solusi yang sudah tersedia, which is menggunakan alat yg sesuai dgn fungsinya yaitu pesawat MPA dan/atau UAV.

      Melempar ide itu fine, tapi jangan menggampangkan masalah dan ngeyel ketika ide tersebut di challenge oleh orang lain. Jangan spt argumen anggota DPR yg konyol ketika menolak kehadiran MBT, “kita kan udah bisa bikin panser anoa, tinggal ganti aja rodanya jadi rantai terus armor ditebelin dan ditambahim turet, jadi deh MBT buatan lokal. Ngapain impor?”

      •  

        PS. Soal pesawat latih terbang di atas laut, masalahnya bukan soal takut jatuh atau takut nyasar. Tapi kalau terjadi kondisi darurat, masih ada peluang untuk menyelamatkan diri dan pesawat kl terbangnya di atas daratan krn bisa melakukan emergency landing di tanah lapang atau airstrip terdekat. Betul, banyak yg gagal dan tetap celaka tp banyak pula yg berhasil dgn selamat. Cb bandingin dgn mendarat darurat di laut, yg pasti pesawat pasti total loss krn tenggelam dan pilotnya udh babak belur ketika crash eh mesti harus berlama2 nyemplung di laut berenang sm ikan hiu. Petnah dengar nggak pesawat emergency landing di laut tp selamat baik pilot atau pesawatnya?

        Fakta tak terbantahkan bahwa dr segi safety, tingkat keamanannya lebih tinggi kl terbang di atas daratan dibanding terbang di atas laut. Bedakan antara tingkat keamanan dgn pasti aman. Menggunakan safety belt di mobil akan menaikkan tingkat keamanan berkendara, tapi bukan berarti pasti aman.

        Kl mau terus ngeyel, silahkan tanya ke pusdik penerbangan angkatan udara kenapa pesawat latih nggak dikasi sortie ke laut aja sambil patroli maritim, tp jangan heran kalau sampeyan diketawain para instrukturnya. Nggak percaya omongan sy soal ini jg gpp, pegang aja omongan mereka setelah sampeyan nanya knp selama ini terbang latih kebanyakan di darat dan tidak dirangkap sekalian patroli maritim. Kecuali kl sampeyan merasa lebih pintar drpd para pengambil keputusan di TNI-AU.

        Faktor lainnya jelas dr segi operasional, airframe dan usia pakai pesawat pasti akan jauh berkurang kl dipake patroli muterin lautan. Tentunya krn faktor korosi yg udh disebutkan sebelumnya.

      •  

        Maksudnya konsep MPA jadul, tingkat penguasaan teknologi saat ini sudah memungkinkan untuk tidak perlu mengirimkan awak ke angkasa, cukup platformnya plus deretan sensor dan detektor. Jangankan melacak kapal di laut lepas, melacak sekelompok manusia di gunung aja udah terbukti, contohnya ya UAV Predator, titik. Gak usah diperluas kenapa banyak negara masih menggunakan MPA, bisa aja pertimbangannya barangnya sudah terlanjur ada, service life masih panjang dst.
        BTW, X-47B UCAS (Unmanned Combat Air System Carrier Demonstration) rencananya akan uji coba tinggal landas dari kapal induk untuk pertamakali pada 2013. Unmanned combat aja bisa, apalagi
        unmanned patrol.
        Saya gak bilang pesawat latih jadi full-fledged MPA, tapi untuk memonitor maling ikan dan menciptakan military presence.

        Teknik video feed gak perlu riset lagi wong sudah dikuasai Lapan sejak 2007, saat kolaborasi dengan TU Berlin di proyek satelit Lapan-Tubsat. Sekarang Lapan (tanpa kolaborasi) tengah menyiapkan satelit Lapan A2 dan A3, keduanya juga dengan kemampuan video down-link. Bahkan R-Han 122 sudah dipasangi kamera video oleh ITB.

        Korosi di laut disebabkan oleh marine aerosol. Konsentrasi marine aerosol sendiri sudah mendekati 0 pada ketinggian 1 km. Lagian yang korosi langsung airframenya, padahal tertutup kulit pesawat yang notabene dicat?. Korosi lebih merupakan problem pesawat2 carrier-based.

        Browsing deh dulu sebelum nulis, do your home work first.

    •  

      malam bang Danu, merubah ‘spek’ pesawat udara dari fungsi awal is easy IF kita punya cukup ‘sdm’nya dan punya BANYAK UANG, seperti amrik, kondisi itu yang membatasi ruang gerak kita.
      merubah c130 menjadi ac130 gunship atau a6 jadi ea6b, perlu banyak perubahan secara sruktur mekanikal dan enjineringnya
      dan itu perlu biaya yang buanyaak…beda dengan hardware daratan…
      untuk perawatan saja tni au perlu kerja keras, apalagi pengadaan pesawat pesawat itu sulit… banyak hambatan… jadi penggu-
      naan pesawat2 ya sesuai fungsinyalah supaya umurnya panjang n memberi hasil maksimal…sebagian terbang…sebagian
      dirawat…diawet awet begitu bang. salam…

  13.  

    Sebaiknya Pertahanan udara RI harus rutin berpatroli ,
    karena negara tetangga sudah perlahan lahan sudah memasuki wilayah indonesia…..
    Seharusnya ada 3 pesawat F-16 yang menghalau pesawat F-18 US .
    Meskipun mereka meng “Lock” salah satu pesawat indonesia , kita jga harus bertindak keras sebagai Tuan Rumah jangan kalah sama pilot amerika ,
    pilot kita kan paling unggul bermauever paling jago di banding kan dgn negara tetangga….

  14.  

    S-300+TOT=BERDIKARI
    MANTABBB!!!!

  15.  

    Sebenar adalah, ya Indonesia telah memiliki paling banyak 6 kilo class submarine, terakhir kedatangan pada tanggal 26 September 2010.

    Pada saat penghantaran pertama , semua negara di region asia Pasifik telah resmi mengeluarkan pernyataan dan pertanyaan tertulis , tercatat Australia dan Jepang menerima keberadaan Indonesian Kilo class dengan catatan pertanyaan:
    Mengapa ,Indonesia yang sedang tidak dalam keadaan berperang mengakuisisi 4 unit dari 12 Kilo dan Lada class subs (waktu itu) senjata lethal bawah air.
    (11 September 2007-Voice of America)
    Telah dijawab tertulis dan lisan melalui perwakilan di UN dan masing-masing Pemerintahan secara incognito

    Begitu kerepotan militer indonesia pada saat ada beberapa leak oleh forum sipil dan pengamat ,iliter independen yang terlalu bersemangat , tentang terlihatnya barge dan kapal tug penarik subs dengan spesifikasi Kilo class,Leaks dari kointraktor tentang pembangunan dan letak pangkalan dan lainnya

    Keyakinan akan kepemilikan senjatta ini oleh sipil dapat mebuat arms race di region meningkat ke level melampaui yang tidak perlu dengan mulai di amatinya beberapa pangkalan kapal selam Indonesia di daerah Timur dan Java bagian tengah

    Penyelidikan , untuk masa sekarang tidak akan dilakukan militer Indonesia, mereka yang terlibat dalam pembelian ini, meyakinkan beberapa perwira muda dengan posisi strategis mereka bahwa Subs ini adalah senjata rahasia ,
    pihak Sipil juga mencoba membuat beberapa disinformasi , semua semata hanyalah untuk menutup betapa besar nilai project yang terjadi dan kebocoran yang terjadi sangat luar biasa,

    Tidak ada kerahasiaan , yang ada adlah kepentingan agar biaya pengadaan ini tetap menjadi biaya pengadaan “rahasia demi kepentingan negara.”

    Kita akan tunggu sampai perwira2 muda yang idealis itu mempunyai jabatan tertinggi di militer dan sipil
    Lebih dan kurang , YA, Indonesia mempunyai Subs dalam jumlah diatas ideal , cukup untuk berperang.

  16.  

    Made in Rusia ini agaknya memiliki kematangan tehnologi dan wibawanya brow, pastinya amat angker dan serem tuh… Iya khaan…nyoook kite dukung barengan rame2 tapi yg sepenuh hati yee, begitu, agar pemerintah secepatnye memiliki alat tempur Rusia ini, agar rakyat dan bangsa kite gak melulu dihinaaaaa terus brrooo…. Apabila DPR masih saja ribet ruwet ngeblinger, nyampah melulu ampek jelek kepret aj…. usir aja mrk dari gedung milik bangsa, milik rakyat tuh ……

  17.  

    Dewan Pimpinan Ranting PARTAI AMANAT NASIONAL Pondok Karya Pondok ArenTangsel Banten mendukung penuh TNI.AD dan TNI.AU agar memiliki min 5 baterai rudal s.300,5 baterai rudal HQ.12 dan HQ.16 china.Kalau TNI.AL dah memiliki rudal yakhont,dan melirik rudal brahmos.Tetapi rumah serta kesejahteràan prajurit.Tetapi peasan kami agar warga prajurit dapat menjaga sikap dan perbuatan.

  18.  

    Aku males ni lama2 baca Alutsista. Skrg pmrntah cma bsa bcara doang. Leopardnya juga cman dtg 1 . Katanya akhir 2012 dtg 30 leopard. Jelas2 F16 kita di lock oleh AS waktu cegat mereka. kok msih dipakai ya.? Logika nya kurang jalan. Mending beli Persenjataan zaman Rusia. Dulu Zaman Soekarno Indonesia sudah memiliki pswat pembom yang mampu bawa Bom Atom. Skarang jangankan pembom, pesawat tempur aja gk bsa nembak. malah dilock. Coba aj amerika ngelock Sukoi 35. Susah atau bhkan gk bisa. Itu pasti. CERDAS ITU

  19.  

    kalau kita pengen cepet-cepet mengakuisisi Rudal s -300 / bahkan s- 400,harus nunggu pemilu 2004 dulu
    nyari pemimpin yng berani bkan yang pimplan kaya sekarang mikir’y kelamaan akibat di dikte ma negara
    amerika+sekutunya.

  20.  

    Jangka pendek Beli saja Apache AH64D Longbow untuk benchmark PTDI membuat heli serang seperti Gandewa, jangka panjang segera buat Gandewa sekelas super cobra atau kamov T-52, jangan lupa beli rudal SS 300 dari Rusia untuk pertahanan udara nusantara,

  21.  

    Berikan persenjatan kedalam negeri, baik peluru kendali sekalipun kalau perlu kita beli buat dipelajari system nya dan setelah itu dibuat saja di Pindad, Inti, Inka, PAL. dengan demikian rakyat dpt kerjaan, Litbang Teknology kita tertantang bias mengembangkan pikirannya demi Merah Putih (NKRI)………bagaimana Pak Pur ? dan bapak-bapak para Jenderal ?…………………………………..

  22.  

    moga2 ini barang segera bisa diambil. Kalo ada beginian kan, biar sukro tetangga bisa bawa termos kemana-mana, tetep pede kitanya :)

  23.  

    semoga TNI mau beli S-300 dari Rusia, ane mau nyumbang untuk beli kalau TNI nda ada uang……

  24.  

    Setuju beli s300 kalau bisa S400 atau versi baru dari s300 yaitu S350,agar indonesia punya wibawa sebagai negara besar,jangan sampai negaranya aja yang besar tapi tidak berdaulat saat ada pesawat asing mundar mandir atau kapal selam asing mundar mandir di perairan indonesia sistem pertahanan kita hanya bisa bengong,tahu tapi tdk bisa berbuat apa apa.

  25.  

    Sebagai negara kepulauan terbesar didunia, dengan 17.508 pulau, dimana hanya 6000 pulau yng berpenghuni, meliputi jarak 5.236 km dari Sabang s/d Merauke, 1950 km dari Miangas ke Rote…serta total luas wilayahnya 1.919.440 Km2 yang perlu kita jaga/awasi terus menerus, maka apabila dikaitkan dgn sistem Hankam dan Alutsista kita….. khususnya kebutuhan Rudal terkini, maka harus diperhatikan jarak wil.perairan maupun pulau2 yg terdekat, yg menengah dan yg terjauh sekalipun!….mengingat kebuthan rudal jarak pendek sdh terpenuhi, rudal jarak menengah hampir terpenuhi, ..tetapi kita sama sekali belum mempunyai/memproduksi rudal jarak jauh diatas 500 Km yg juga sangat diperlukan, mengingat jarak dan luasnya wilayah laut dan kepulauan kita…Maka, disituasi yang mendesak adanya ancaman bahkan agresi dari pihak luar yg datang dari sudut manapun, kita memerlukan kecepatan bertindak dirantai komando serta kelengkapan Alutsista yg Presisi, efektif dan efisien.

  26.  

    Pkoknya di bikin sangat militer kita biar tetangga2 yg kurang ajar itu panas dingin alias demam…coba dwit negara kga pda di tilep tikus2 berdasi pasti tdk sulit membeli alutsista yg canggih dan tentunya sambil mengembangkan produk dalam negri.

  27.  

    jangan tanggung2 bro…sekalian aja S 400…biar ausie kaga tenang atinya…hahaha