Jan 312019
 

JakartaGreater.com – Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan bahwa Moskow akan terus bekerja menuju penyelesaian perjanjian INF yang disengketakan, serta menambahkan bahwa masalah itu akan lebih sulit karena tenggat waktu 60 hari (dua bulan) yang ditetapkan oleh Washington adalah “sebuah permainan” untuk menutupi keputusan mereka keluar dari perjanjian, seperti dilansir dari laman Sputnik.

Sergei Ryabkov telah menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak benar-benar mengharapkan jawaban dari Rusia ketika menyampaikan “ultimatum 60 hari” yang menyerukan kepatuhan Moskow dengan Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF).

“Amerika Serikat memberlakukan periode selama 60 hari di mana kami harus memenuhi ultimatum mereka. Saya menyimpulkan bahwa AS tak mengharapkan keputusan apa pun dan semua ini adalah permainan yang dibuat untuk menutupi keputusan mereka untuk menarik diri dari Perjanjian INF”, kata Ryabkov.

Amerika Serikat pun tidak bereaksi terhadap tuntutan Rusia untuk menyelesaikan masalah sistem peluncur vertikal MK-41 (Mark 41), yang diyakini oleh Rusia bertentangan dengan Perjanjian INF.

“Tidak ada reaksi apa pun terhadap tuntutan kami terhadap sistem peluncuran universal MK-41 AS yang sudah dikerahkan di Rumania dan akan dikerahkan di Polandia sebagai bagian dari kompleks Aegis Ashore”, katanya.

Ryabkov juga mengatakan setelah pertemuan di Beijing dengan Deputi Menteri Luar Negeri Sekretaris AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional Andrea Thompson bahwa Washington telah mengambil posisi yang benar-benar destruktif dalam Perjanjian INF, dengan mengatakan bahwa penundaan nyata kewajiban AS akan terjadi akhir minggu ini.

Perwakilan dari lima kekuatan nuklir utama, China, Prancis, Rusia, Inggris dan AS, bertemu di Beijing pada hari Rabu untuk membahas masalah yang berkaitan dengan kontrol dan proliferasi senjata nuklir.

Pada tanggal 4 Desember, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa Rusia memiliki 60 hari untuk mulai mematuhi perjanjian, atau, jika tidak, Amerika Serikat dapat meninggalkan perjanjian pada 2 Februari.

Pada bulan Oktober 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan niat negaranya untuk mundur dari Perjanjian INF dengan Rusia. Perjanjian yang melarang pengembangan rudal balistik dan jelajah darat dengan jarak antara 500 hingga 5.500 km.

Dengan penarikan itu berarti bahwa AS sekarang dapat menggunakan sistem rudal darat di Asia, yang berdekatan dengan China. Pihak berwenang Rusia telah berkali-kali menekankan bahwa negara itu sangat mematuhi kewajiban yang diuraikan dalam perjanjian.

Perjanjian INF ditandatangani pada tahun 1987 oleh pemimpin Uni Soviet saat itu Mikhail Gorbachev dan Presiden AS Ronald Reagan. Para pemimpin sepakat untuk menghancurkan semua rudal balistik atau jelajah darat dengan jarak antara 500 – 5.500 kilometer.