Nov 032018
 

Jet tempur siluman F-35I Adir di Pangkalan Udara Nevatim, Israel, 12 Desember 2016 © Tech. Sgt. Brigitte N. Brantley of U.S. Air Force

JakartaGreater.com – Tambahan kehadiran baterai sistem rudal pertahanan udara S-300 buatan Rusia di Suriah semakin memperumit permasalahan bagi militer Amerika Serikat dan Israel dilapangan, seperti dilansir dari laman National Interest.

Rusia telah mengirimkan sejumlah sistem pertahanan udara dan rudal S-300 yang tangguh ke Suriah. Namun, masih diperlukan waktu hingga beberapa bulan bagi kru rezim Assad untuk belajar bagaimana mengoperasikan sistem pertahanan udara canggih di bawah pengawasan Rusia.

Sementara itu, sistem S-300 hampir pasti akan dioperasikan oleh penasehat militer Rusia. Dengan kehadiran pasukan Rusia ini, berarti bahwa Tel Aviv mungkin sementara dibatasi pergerakannya oleh baterai rudal S-300, dan memang cenderung demikian.

Namun dalam istilah militer yang ketat, kehadiran senjata-senjata canggih itu tidak selalu membatasi kemampuan Israel untuk melakukan serangan. Armada baru Israel, Lockheed Martin F-35i versi Adir dari Joint Strike Fighter (JSF) memberi Tel Aviv kemampuan untuk mengalahkan S-300 dengan relatif mudah.

“Kemampuan operasional Angkatan Udara Israel sedemikian rupa sehingga baterai (S-300) benar-benar tidak membatasi kemampuan angkatan udara untuk bertindak”, kata Tzachi Hanegbi, menteri kerjasama regional Israel kepada Reuters. “Kalian tahu bahwa kita memiliki pesawat tempur siluman, pesawat terbaik di dunia. Baterai S-300 bahkan tidak mampu mendeteksi mereka”, ungkapnya.

Salah satu misi utama F-35 sejak awal dirancang adalah untuk penindasan (SEAD) serta menghancurkan (DEAD) dari pertahanan udara musuh yang canggih seperti sistem S-300. Memang, F-35 hanya akan menjadi lebih tangguh dalam peran SEAD/DEAD seiring waktu dan pesawat diupgrade dengan kapabilitas operasional penuh Block 3F serta konfigurasi perangkat lunak dan perangkat keras Blok 4 berikutnya.

Tel Aviv bahkan mengumumkan operasi F-35 pada bulan Desember 2017 dan baru-baru ini menandatangani perjanjian pada bulan Februari dengan Lockheed Martin untuk bisa segera memasukkan modifikasi khusus Israel guna membawa armada 50 jet tempur yang ada ke konfigurasi Blok 3F+ pada bulan Desember 2021.

Bahkan tanpa kemampuan penuh Blok 3F, armada F-35 Tel Aviv akan menawarkan kepada Angkatan Udara Israel kemampuan yang kuat untuk menyerang S-300 yang baru diakuisisi Suriah, tentu saja dengan kemampuan yang lebih baik daripada yang ditawarkan oleh jet tempur konvensional. Namun, ada sedikit prospek bahwa Israel akan menyerang baterai tersebut saat Rusia masih belum melengkapi senjata-senjata itu dibawah kendali langsung mereka.

Peluncuran rudal dari sistem S-300 Rusia dalam latihan Vostok 2018 © Kemhan Rusia via Youtube

Menurut Rusia, dibutuhkan sekitar tiga bulan bagi mereka untuk melatih kru pertahanan udara S-300 Suriah. “Kami telah menyelesaikan perekrutan personil dan memulai melatih mereka”, kata Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada hari Selasa menurut kantor berita TASS.

Shoigu juga secara resmi menegaskan bahwa Rusia telah mengirim sistem S-300 ke Suriah. “Sesuai dengan keputusan presiden, kami telah mulai melakukan sejumlah langkah untuk memperkuat sistem pertahanan udara Suriah untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi prajurit kami”, kata Shoigu. “Kami telah menyelesaikan pengiriman sistem S-300. Ini termasuk 49 peralatan, termasuk radar, kendaraan pengendali dan empat peluncur”.

Sementara itu, pasukan Suriah sedang dilatih, pasukan Rusia cenderung mempertahankan kontrol S-300 dan mengoperasikan senjata-senjata itu di bawah pengawasannya langsung. Pengaturan seperti itu dapat mencegah tindakan terburu-buru oleh rezim Suriah dan juga mengerem rencana Israel untuk menyerang baterai rudal tersebut.

Namun, Israel mungkin mempertimbangkan untuk memngahcurkan baterai S-300 itu jika Rusia benar-benar menyerahkannya dibawah kendali Suriah. Itu bukan kesimpulan yang sebelumnya mengingat bahwa kru militer Assad kurang terlatih dan termotivasi menembak jatuh pesawat pengumpul intelijen Il-20M Rusia pada 18 September silam, yang memicu ketegangan saat ini antara Rusia-Israel.

Kehadiran tambahan baterai sistem S-300 buatan Rusia di Suriah ini mempersulit masalah bagi Amerika Serikat dan Israel. Washington mengecam langkah Rusia itu sebagai eskalasi.

“Saya pasti tidak akan berkomentar tentang niat kami, tentang bagaimana kami akan membahas itu, tetapi komentar saya sebelumnya benar”, kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo kepada wartawan pada 3 Oktober.

Ia menambahkan, bahwa setelah Rusia mengirim S-300 ke Suriah, memberikan risiko yang lebih besar bagi semua orang di wilayah tersebut yang terkena dampak dan juga stabilitas di Timur Tengah. Ia menganggap bahwa ini sebagai eskalasi yang sangat serius.

  8 Responses to “S-300 Suriah vs F-35i Israel, Siapa Unggul?”

  1.  

    S-300 di suriah macam gerbang masuk komplek
    perlu lapor satpam dulu mengutarakan keperluan klo mau masuk

    tergantung pak rt juga sih

  2.  

    Bukanya sudah ada yang kabur kena Lock???

  3.  

    Jika israel serang s300 Suriah, maka akan terjadi perang babak baru antara Suriah dgn israel, kira2 isis bela mana yah? … 😀

  4.  

    F35i Adir – the Unique Modifications of F-35A Lightning II

    https://www.youtube.com/watch?v=OO_UKMC_wd0

 Leave a Reply