Mar 182019
 

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf Rusia © Vitaly Nevar via TASS

JakartaGreater.com – Kepala Akademi Pertahanan Udara dan Antariksa Rusia, Letnan Jenderal Vladimir Lyaporov, mengatakan bahwa rudal pemukaan-ke-udara S-350 dan S-500 akan beroperasi pada “akhir tahun ini”, seperti dilansir dari laman AIN Online.

Pernyataan ini di depan rencana sebelumnya oleh Kementerian Pertahanan Rusia untuk membawa sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah dan jarak jauh nan canggih tersebut beroperasi pada tahun 2020.

Berbicara kepada surat kabar Red Star, outlet informasi untuk Kementerian Pertahanan Rusia, Lyaporov lebih lanjut menyatakan bahwa pusat pelatihan kru S-500 di Gatchina dekat Saint Petersburg sudah mempersiapkan prajuritnya untuk mengoperasikan S-500, seperti diberitakan oleh JakartaGreater pada awal Maret 2019.

“Pada 2019 kami akan memiliki lulusan dari grup petugas pertama yang menyelesaikan kursus sistem S-500. Meskipun sistem ini belum beroperasi, induksinya diperkirakan sebentar lagi”. Lyaporov juga menyatakan bahwa sistem S-350 pertama akan segera tiba pada pusat pelatihan Gatchina untuk digunakan dalam proses pelatihan.

Kepala Akademi itu berbicara beberapa hari setelah pengumuman Kemhan Rusia bahwa induksi S-350 dan S-500 direncanakan pada tahun 2019. Seperti S-400 dan Pantsyr-SM, sistem rudal tersebut juga menggunakan sasi kendaraan mobilitas tinggi BAZ dan elemen umum lainnya untuk interoperabilitas.

Sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah S-350E Vityaz © Courtesy Wikimedia Commons

Tahun ini, Kemhan mengharapkan Almaz-Antey Air dan Space Defense Corp. untuk dapat mengirimkan 10 baterai S-500 canggih. Untuk melindungi target-target politik, militer dan industri utama negara tersebut, Strategi Pertahanan Udara dan Luar Angkasa Rusia saat ini menyerukan sistem pertahanan anti-pesawat dan anti-rudal “berlapis” menggunakan beberapa tipe SAM yang akan beroperasi di bawah satu kesatuan kontrol.

Berita tentang S-500 segera memasuki layanan telah mendorong Ankara untuk mencari cara untuk memperoleh teknologi dan spesimen untuk membantu lokalisasi. Presiden Recep Tayyip Erdogan sudah meminta kepada mitra Rusia untuk membeli sistem rudal generasi selanjutnya S-400 pada bulan Oktober 2017 senilai $ 2,5 miliar. Pada Juni 2018, Erdogan mengatakan ia telah mendiskusikan dengan Putin cara untuk mengatur produksi bersama sistem S-500.

Pada 6 Maret 2019 Erdogan sekali lagi menyentuh tema: “Kami menyelesaikan masalah S-400, menandatangani kesepakatan dengan Rusia, dan akan memulai produksi bersama. Nanti, kami dapat melanjutkannya dengan S-500”. Pada kesempatan terpisah, ia berkata: “Di masa depan, kami telah mempertimbangkan untuk memproduksi bersama dan berbagi teknologi sistem S-500 dengan Rusia”.

Pembicaraan Rusia-Turki tentang S-400 dimulai tahun 2016. Dibutuhkan perundingan sekitar satu tahun untuk sampai pada kesepakatan kerangka kerja. Untuk memfasilitasi kesepakatan, Moskow mengatur batas kredit pada kondisi yang sangat menguntungkan. Ankara mengatakan program akuisisi terdiri dari beberapa tahap. Yang pertama akan melihat pembelian langsung peralatan yang siap pakai, yang kedua dan ketiga akan melibatkan lokalisasi dan produksi bersama.

Sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia © Alexei Malgavko via Sputnik

Sementara itu, Washington masih terus memberikan tekanan pada Ankara, menuntutnya membatalkan pembelian persenjataan Rusia yang canggih. Menurut Erdogan, Presiden AS Donald Trump secara pribadi memintanya untuk mundur dari S-400. “Kami menjawab bahwa ini adalah kesepakatan yang dilakukan. Kami tidak akan mengabaikan perjanjian kami dengan Rusia”. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa pengiriman akan dimulai pada Juli 2019. Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menekankan bahwa Ankara membeli S-400 adalah bukan sebuah pilihan tetapi sebagai kebutuhan. Dia mengharapkan unit S-400 pertama Turki akan beroperasi pada bulan Oktober 2019.

Berbicara dengan Komite Angkatan Bersenjata Senat, komandan sekutu tertinggi NATO, Jenderal Curtis Scaparrotti, mengatakan akuisisi Turki atas SAM Rusia akan “berpotensi merugikan banyak sistem lain”, termasuk F-35. Meskipun kurang interoperabilitas dengan peralatan NATO, S-400 adalah “masalah bagi semua pesawat kami dan khususnya F-35”.

Ia khawatir bahwa apabila Turki mengoperasikan SAM buatan Rusia ini, informasi kritis jet tempur siluman F-35 AS akan terbongkar, terutama informasi tentang tanda tangan radar F-35. Ankara telah berupaya mengakuisisi hingga 100 unit F-35, serta merupakan mitra industri dalam program ini. Pilot Turki saat ini menjalani pelatihan intensif di Luke AFB di Arizona, Amerika Serikat.

Washington telah menawarkan kepada Ankara kesepakatan $ 3,5 miliar dolar untuk SAM Patriot, yang sudah disetujui Kongres agar Turki mempertimbangkan kembali pembelian S-400-nya. Juru bicara Pentagon Charles Summers mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan Turki untuk memperoleh senjata canggih dari Rusia berarti bahwa mereka tak akan memiliki akses ke SAM Patriot dan F-35.

Bagikan: