Mar 232018
 

Desain jet tempur masa depan hasil kerjasama Korea Selatan dengan Indonesia, KF-X/IF-X. © Aviation

JakartaGreater.com – Dalam upaya untuk merebut kesepakatan kapal patroli maritim di Korea Selatan, kontraktor pertahanan asal Swedia, Saab telah membuka kemungkinan transfer teknologi radar AESA canggih untuk KF-X, program pengembangan jet tempur pribumi Seoul-Jakarta, seperti dilansir dari Defense News.

Tawaran tersebut diberikan karena Saab berusaha meyakinkan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan atau DAPA, agar bisa memutuskan membuka tawaran kompetitif program akuisisi pesawat anti-kapal selam (ASW) senilai $ 1,8 miliar yang diharapkan akan memilih P-8A Poseidon yang ditawarkan oleh Boeing, AS.

Saab sedang mmeluncurkan pesawat patroli maritim (MPA) Swordfish, yang dibangun di atas platform pesawat jet bisnis Bombardier Global 6000, yang diklaim perusahaan Swedia memiliki 70% kesamaan dengan pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C) GlobalEye.

“Kami terbuka untuk membahas banyak bidang dengan DAPA dan pemerintah Korea Selatan. Jika kami datang ke meja untuk negosiasi dan diskusi penuh, kami terbuka untuk membahas bidang-bidang lain selain yang terkait dengan program pesawat patroli maritim”, tutur Richard Hjelmberg, kepala pemasaran dan penjualan pesawat ISR, Saab kepada Defense News dalam sesi meja bundar di Seoul, 20 Maret.

Aturan lokal terhadap program offset membutuhkan nilai dari setiap penawar kontrak senjata untuk memenuhi setidaknya 50 persen dari total biaya kesepakatan terkait.

Gary Shand, direktur penjualan dan pemasaran pesawat ISR, lebih spesifik lagi tentang daftar proposal pengimbangan Saab, termasuk dalam transfer teknologi radar Active Electronically Scanned Array atau AESA mutakhir.

“Kami telah berbicara tentang produksi suku cadang yang terjadi di Korea Selatan secara jelas. Kami telah berbicara tentang industri lokal yang ambil bagian dalam integrasi bagian-bagian tertentu dari sistem misi kami. Selain itu, saya pikir Saab memiliki berbagai macam produk dalam portofolio termasuk teknologi radar AESA untuk program KF-X. Ini bisa menjadi titik diskusi bagi kami untuk melihat kemungkinan dan beberapa kerjasama di bidang yang tidak terkait langsung dengan program MPA”, jelasnya

Ide transfer teknologi (ToT) AESA mutakhir Saab diharapkan dapat menarik perhatian utama dari pemerintah Seoul karena pengembang KF-X berusaha untuk memperoleh teknologi AESA yang telah terbukti.

Badan Pembangunan Pertahanan yang didanai negara, atau ADD dan bersama dengan Hanwha Systems, pengembang radar lokal, telah bergandengan tangan di tahun 2016 untuk membangun radar AESA domestik untuk dipasang pada jet tempur KF-X.

Jadwal pengembangan jet tempur tersebut molor beberapa tahun di luar tujuan awal karena kurangnya teknologi AESA, setelah pemerintah AS menolak terhadap transfer teknologi radar AESA menyusul pembelian 40 unit F-35A Korea Selatan.

Pada bulan Mei 2017, Sistem Elta Israel telah dipilih oleh ADD untuk bisa mendukung pengembangan radar AESA untuk KF-X. Berdasarkan kontrak senilai sekitar $ 36 juta, perusahaan Israel bertanggung jawab untuk menguji sistem radar AESA di setiap fase pengembangan dan mengintegrasikannya dengan prototipe KF-X.

“Elta pada awalnya ingin memperoleh teknologi AESA baik dari Saab atau Thales, tetapi rencana itu gagal karena permasalahan persyaratan dan anggaran”, menurut sumber pertahanan lokal yang terlibat dalam kompetisi radar mengatakan tanpa menyebut nama. “Elta, berpartisipasi dalam proyek ini, namun sebagian tetap skeptis terhadap kemampuan teknologi AESA Elta, karena perusahaan Israel tersebut masih belum benar-benar mampu mengembangkan radar AESA”.

Seorang pejabat Hanwha Systems, yang sebelumnya dikenal sebagai Samsung Thales, sedang berusaha menyingkirkan kekhawatiran tentang pengembangan AESA domestik yang sedang berlangsung namun mengakui manfaat dari mengambil teknologi AESA dari bangsa lain jika hal tersebut memungkinkan.

“Elta bertanggung jawab untuk mengesahkan setiap tahapan dari desain dan proses pengembangan radar AESA, dan kerjasama dengan perusahaan Israel telah cukup berhasil. Tetapi jika kita mendapatkan teknologi AESA yang lebih canggih, waktu untuk pengembangan akan meningkat pasti”, sebut pejabat yang tak ingin disebut namanya.

Saab telah menjadi mitra pengembangan eksplorasi radar AESA untuk KF-X ini dalam kemitraan dengan ADD dan LIG Nex1, produsen senjata berpanduan presisi lokal. Perusahaan Saab, Swedia masih memiliki kontrak dengan mitra Korea Selatan untuk kerjasama pengembangan perangkat lunak AESA, menurut juru bicara ADD.

“Saab adalah perusahaan luar negeri pertama yang berpartisipasi dalam proyek radar KF-X, jadi perusahaan itu jelas menjaga chemistry yang baik dengan tim Korea Sekatan. Namun beberapa tahun kemudian, pengembang lokal berubah dan pengembangan AESA dimulai kembali dengan mitra asing yang baru. Tapi masih belum jelas bagaimana masa depan pengembangan AESA yang ditawarkan”, tutur Kim Dae-young, seorang peneliti di Institut Penelitian Korea untuk Strategi Nasional.

Dipimpin oleh Korea Aerospace Industries (KAI), pengembangan skala penuh jet KF-X dimulai pada tahun 2016 dengan tujuan menghasilkan enam purwarupa pada tahun 2021. Perusahaan pertahanan pelat merah dari Indonesia, PT Dirgantara Indonesia adalah satu-satunya mitra untuk proyek senilai $ 8 miliar, dan bertanggung jawab atas 20 persen biaya pengembangan.

  51 Responses to “Saab Mau Berikan ToT Radar AESA untuk KF-X, Asal …”

  1.  

    asal …borong gripik…xixi

    •  

      Lah, kemaren ada yg bilang bahwa elta cuma ngetes aja… trus ini maksudnya apa ya?

      “Elta pada awalnya ingin memperoleh teknologi AESA baik dari Saab atau Thales, tetapi rencana itu gagal karena permasalahan persyaratan dan anggaran”…

      Apakah itu diluar konteks kerjasama dengan program KF-X

      •  

        kalo masalah itu , biar om senopati ajah yah om…xixi peace…

        •  

          Nah iya, kemarin bung SP yg bilang..

          Jadi apapun ceritanya, bila Elta sebagai “konsultan”, tentu mereka menguji sistem yang ada berdasarkan rambu-rambu teknologi mereka dong, dan gak mungkin mereka pakai rambu-rambu teknologi lain yang tidak mereka ketahui utk uji AESA LIG Nex1.

          •  

            seandainya,..andaikata…misalkan…len di kasih anggaran yg cukup plus sdm yang mampu trus di kasih target sekaian taun harus jadi..kira2 bisa gak yah bung…?
            #seriusnanya

          •  

            Menurutku sih bisa, tapi kayaknya bakal di tekan kita secara Radar AESA adalah teknologi terkini dan hanya beberapa negaralah yang tau dan lagi pasti mahal dan butuh R&D yang lama kecuali memang dapet bocoran daei beberapa pihak meski lebih mahal tapi jadi cepet…

            lebih bagus cari Antidotnya, biasanya antidotnya lebih murah, simple dan terkadang tidak butuh resource besar untuk produksinya…

        •  

          Berdasarkan kontrak senilai sekitar $ 36 juta, perusahaan Israel bertanggung jawab untuk menguji sistem radar AESA di setiap fase pengembangan dan mengintegrasikannya dengan prototipe KF-X……….
          maaf ga bisa ngobrol banyak, gi ada acara di rumah

  2.  

    ifx is the best

  3.  

    lebih baik wujudkan prototype no 1 + 2 + 3, suruh belajar terbang dulu, baru pilih variasi radar nya …

    •  

      sblm masuk produksi
      ada 5 model prototype
      c103 (twins engine, wing tail,
      non canard?
      c203 (twins engine,delta wings,
      canard)
      c202E (single engine, delta
      wings, canard)
      c202I
      c202T
      nah dr 5 prototype nanti di uji coba satu persatu jd Ribet, Kalo Saya Simpulkan Kelamaan Mending Bikin 2 Jenis Prototype Yg Kfx/ Block 1 dan Block 2, Jd Lbh Menghemat Waktu Lebih Cepat Lebih Baik Selama Asean & Pasifik Masih Damai, Mungkin Ini Keinginan Pemerintah

    •  

      munkin ada pertimbangan dana disana… ntah untuk menghemat atau sengaja memperbesar dana… ah entahlah…

    •  

      Proyek F-35 Cuma 2 demonstrator X-32 & X-35, Sdngkan Jepang F-3 Cuma 1 demonstrator Advanced
      Technology Demonstrator – X
      (ATD-X), Maaf KFX/IFX Jd Ribet Terlalu Byk Prototype Yg Akan Di Uji

      •  

        Yang jadi pertanyaan kenapa mereka buat Prototipe segitu banyaknya? jika memang mereka merasa kondisi sekitar panas harusnya sadar untuk mempercepat 1 atau maks 2 prototipe untuk di uji selanjutnya prod. massal…

        •  

          Itulah Sy Bingung Bung Apa 5 Desain Protoptype di atas Kertas Kemudian Di Uji Coba/testing Secara Simulasi Komputer Atau Bikin 5 Prototype secara bertahap Lalu di uji coba satu persatu atau sekaligus

          •  

            Entahlah sayapun bingung, mungkin bung Senopati, TN Phd pada tau penyabanya…

          •  

            Ini mungkin yaa bung…saya rasa beda desain awal atau prototipe dengan keseluruhan pesawat…bisa jadi yang banyak prototipenya adalah desain awal pengujianya juga terbatas…bila protipe keseluruhan maka akan memakan banyaknya dana(biaya)dan pengujiannya juga keseluruhan sebelum masuk lini produksi…ini menurut hemat saye…!!!

        •  

          mungkin maksud nya sbb.:
          Korsel ingin varian sendiri … 2 prototype.
          Indonesia varian sendiri …… 2 prototype.
          sisa 1 prototype ?

  4.  

    Komposisi Modal Pesawat KFX/IFX Lebih Menguntungkan Korea Selatan

    Proyek pembuatan pesawat tempur Indonesia dan Korea Selatan sejak awal banyak dikritik. Kritikan pertama datang dari dalam negeri Korea, parlemen negeri gingseng tersebut mempertanyakan tentang besaran modal yang lebih banyak ditanggung Korea daripada Indonesia.

    Kritikan kedua dari Indonesia, para pemerhati dirgantara mempertanyakan, bisa apa Korea dalam hal teknologi sistem avionik pesawat tempur?. Terbukti permintaan transfer teknologi untuk empat item utama pesawat tempur ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat pada 2015. Yaitu, active electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer. Alasan penolakan pemerintah Amerika Serikat ini dikarenakan masalah keamaan nasional yang terkait dengan teknologi sensitive.

    Tapi gegap gempita suara KFX/IFX telah membangkitan uforia nasionalisme yang membuat banyak pihak di Indonesia silap. Pokoknya proyek ini pasti menguntungkan, karena setoran modal Indonesia lebih kecil dari Korea.

    Dalam kerja sama ini, Pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat. Sisanya ditanggung KAI (PTDI-nya Korea) 20 persen dan kemudian pemerintah Indonesia hanya 20 persen. Dari kontribusi ini, Indonesia akan mendapatkan 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16, sementara 150 pesawat untuk Korea Selatan.

    Komposisi Modal Tak Sebanding, Korea Selatan Lebih Untung

    Sekilas, Indonesia untung banyak sekali. Cuma setor 20% dari modal bisa dapat 25% dari total output proyek. Sedangkan Korea Selatan yang setor 80% modal hanya dapat 75% dari total jet tempur yang dibuat, rugi 5%.

    Dalam proyek IFX ini, sukses atau gagal Korea Selatan bakal untung sangat besar. Negeri gingseng ini tidak mengincar output pesawat tempur dalam proyek IFX. Mereka sedang membeli SDM dan teknologi pesawat dengan harga yang sangat murah dari Indonesia.

    KAI adalah perusahaan pesawat milik pemerintah Korea yang masih “bau kencur”, baru berdiri tahun 1999. Baru pada tahun 2005 KAI bisa membuat pesawat fixed wing yaitu Pesawat Latih Tempur T-50i Golden Eagle lisensi dari Lockheed Martin.

    Sebagai perusahaan baru, KAI sangat kekurangan Insinyur Pesawat. Jika menyekolahkan anak-anak Korea hingga jadi Insinyur butuh waktu yang lama 10-15tahun, bisa ada kekosongan generasi. Sembari menunggu mereka selesai menyerap ilmu, KAI bersama Pemerintah Korea mencoba mencari negara yang memiliki banyak Insinyur Pesawat berpengalaman untuk bekerja di KAI.

    Pilihan awalnya adalah Turki, namun bertepuk sebelah tangan. Lalu Indonesia adalah pilihanya. Negara dengan pengalaman membuat pesawat yang diakui dunia.

    Dengan proposal pembuatan pesawat tempur bersama. Korea (pemerintahnya dan KAI) siap menanggung 80% biaya pengembanganya asalkan Indonesia mau mengekspor para insinyur pesawat tempur di PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk bekerja di Pabrik KAI, di Korea Selatan.

    Saat ini, sudah 70 insinyur PT DI berada di KAI. Hingga akhir 2016 diharapkan ada 90 insinyur yang dikirim ke KAI, dan hingga 2021 ditargetkan terus bertambah menjadi 200 orang.

    Hasilnya, reputasi KAI langsung meroket di dunia industri dirgantara. Airbus dan Boeing mempercayakan pembuatan sayap padanya. Di tengah tingginya permintaan pada pesawat penumpang, pesanan sayap dari Airbus dan Boeing mendatangkan untung berlipat bagi KAI dan Korea. Pabrik KAI bahkan harus kerja lembur 24jam nonstop karena banyaknya pesanan.

    Sedangkan PT DI jatuh sakit terkena denda berkali-kali karena gagal memenuhi target penyelesaian pesanan pesawat atau Helikopter dari TNI walau sudah dibayar lunas.

    Ahhh andai tak ada proyek IFX bareng Korea/KAI. Bisa jadi PT DI sekarang ini lagi kelarisan order sayap pesawat dari Airbus dan Boeing. Sehingga tak perlu lagi minta fasilitas kredit bagi negara asing calon pembelinya. (baca: negara asing yang berminat pada produk PT DI adalah negara miskin yang bisanya beli kredit tanpa uang muka atau karena gak ada pilihan lain)

    Bila proyek KFX/IFX gagal pada 2026: Korea Selatan sudah mendapat banyak limpahan experience dari para Ilmuwan Indonesia, nama KAI juga moncer dan ilmuwan muda korea tinggal melanjutkan saja.

    Indonesia? PT DI entah apakah masih sehat atau malah sekarat karena proyek pengerjaan pesanan yang molor melulu. Reputasinya juga sangat jelek bahkan mungkin saat itu TNI pun juga sudah tak mau lagi memesan padanya.

    Itu adalah kemungkinan terburuk, semoga tidak terjadi.

    •  

      sama2 untung lah bung, mereka punya banyak duit, kita punya banyak insinyur,
      insinyur gak bisa gerak kalau gak ada duit buat riset

      •  

        yg jadi pertanyaan, apa yg bisa dilakukan oleh insinyur yang gak punya modal? meskipun tahu cara membuat pesawat? yang ada bisa jadi mereka di rekrut oleh perusahaan yang punya modal… 😛 hehehehe

    •  

      Ada untungnya lagi loh bung… bagaimanapun juga pengalaman R&D, pengalaman kerja di luar apalagi Korsel yang terkenal disiplin, dll itu akan berguna ketika kelak mereka kembali kesini…
      yah untuk pesanan order part by part dari pesawat komersil kayak Airbus dan Boeing sih aku rasa tergantung kesiapan perusahaan Dirgantara itu sendiri. apakah sanggup apa tidak dia membuat segitu banyaknya, waktu terbatas, dll tapi tetap quality no 1. itu kuncinya…

    •  

      terimah kasih pencerahannya bung

      lama gak nemu komen kyak gini di era kesesatan fanboyisme

    •  

      Seandainya Indonesia tidak menjalin joinan dengan negara lain dalam mengembangkan pesawat tempur, apakah sampai tahun 2030 Indonesia sudah mampu merancang dan membangun pesawat tempur?

      Demikian saya hanya bertanya.

  5.  

    SAAB sangat ambisius dlm memasarkan dagangannya!he3

  6.  

    Aku percaya ini gak jadi,kalo jadi ini pesawat abal abal mudah rusak karena kurang anggaran, mending tot gripen aja deh kualitas entaran yang penting bisa buat wkwkwkwkk

  7.  

    Entah kenapa mulai bertebaran bau gripik… dan entah kenapa pula sepertinya si DR mulai akan atau udah bkin suatu artikel yang bakal nyangkut ifx lagi… 😀
    sepertinya salah satu keinginan dan hitungan bung tn phd mulai terwujud… xixixixi…

  8.  

    Gak gampang ya buat radar AESA ??? Cuma beberapa negara saja yg bisa buat

  9.  

    Utk Radar KFX/IFX Nggak Mesti Beli Produk Saab, Langsung Beli 85% Offset & T.o.T Code Source RAVEN ES-05 Ke Produsen Radarnya Leonardo di Milan, Italia

  10.  

    terlepas dari fanatisme terhadap rusia, memang ada kemungkinan gripen diakuisisi tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat, karena dari beberapa sumber yang saya baca indonesia dan swedia sudah menandatangani kerjasama di bidang pertahanan, tapi tidak disebutkan secara spesifik, sampai saat ini setau saya produk yang paling di banggakan sama swedia ya gripen sama kapal selamnya
    ini menurut saya loh, mohon koreksinya yang lebih ahli