Mar 102015
 

image

Gotheborg – SAAB AB, perusahaan industri sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan maritim Tanah Air.

“Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin waktu setempat.

Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU.

Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.

Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan “volume” ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.

Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.

Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.

Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.

Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.

Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. “Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145,” kata dia.

Tipe pesawat terbang “penggendong” yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop.

“Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya,” kata dia.

Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN.

Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, “Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi.” (Antara News).

Bagikan Artikel :

  89 Responses to “SAAB Swedia Tawarkan AEW&C Erieye ke Indonesia”

  1. pertamax..

    • Alhamdulillah,,
      meh seta0n dapat pertamax sekali..

    • Sales gripen Ni yee…!!!

    • xxx

    • Tp Bung, ganti pesawat, kalo beda jenis, berarti perlu ongkos pengenalan lg.
      Trus, operasional SU-35, jika dipake terus menerus buat ngeronda selama 5 taon, itu sebanding dgn biaya beli skuadron2 jet mutakhir baru, ato ‘real’ destroyer.

      Kalo kita beli Gripen, paling nggak tiap saat kita bisa ngeliat pilot2 tempur TNI-AU ngelintasi langit kita, di seluruh pelosok nusantara, & mungkin skali-kali landing buat say hello sambil isi bensin eceran deket pos ojek :D.

      • kalo cuma buat keliling ngeronda. T 50 G E. juga cukup lebih irit dari yang terus di bicarakan dan diributkan… dan kita sudah punya 1 skuadron…
        yang mau di beli saat ini figter buat penggebuk… bukan buat ngeronda… SU.35 atau Typhoon di gadang akan berlomba.

      • kalo bicara effect deterence ya SU-35 atau Thypoon namun perlulah kita menggarisbawahi masalah yang pernah membuat TNIAU nelangsa yaitu EMBARGO suku cadang….OK…griffen bagus begitu jg Thypoon, tp mampukah kita menekan mereka untuk tidak melakukan embargo jika suatu saat nanti ada kasus misal dianggap melanggar Ham yg mengakibatkan negara tertentu melakukan embargo secara politik maupun ekonomi..mengingat mesin griffen dr Amrik, Thypoon takkan lepas dr pengaruh Inggris. kedua negara inilah yg dulu melakukan embargo….masih mau kita memakai produknya? kalo saya sich seribu kali pikir…nggak tahu klo petinggi2 di kemenhankan….mudah2an para pengambil keputusan mengedepankan nasionalisme drpd balas budi ke negara dimana dulu mungkin pejabat2 itu mendapatkan beasiswa pendidikan atau pelatihan2 .kekhususan lainnya…

    • @bung panglima besar= dari bahasanya mirip2 Gripen-Indonesia,simple nya gini bung, user nya saja pengen SU35…..Atasannya juga….tinggal pengambil keputusan yang menentukan.

      satu lagi bung, RCS nya kok ga dimasukin di ulasan kelebihan2 diatas? supercruise,logistik,rudal mbda meteor… knp ga ditambahin RCS….

      • Istilah kampungnya: meskipun biaya operasional murah dan bisa latihan 24 jam sehari 7 hari seminggu, tapi kalo usernya ogah-ogahan karena bukan maenan favorit ya jam terbang juga sedikit, bayangin aja penggemar World of Tank dipaksa maen Rich Game :mrgreen:

      • ogah2an gimana, layangan kita cuman sedikit, pake males2an 🙁 , yg ada pilot kita haus jam terbang, pake sukhoi kalo tiap terbang dijatah dan disuruh mikirin biaya terbang, mana bisa puas.

      • @Janchockers = dulu ada artikel hiperbola kalo boleh saya bilang, mengenai RCS Gripen yang “katanya” nol koma sekian….. , saya seh bukaanya ga suka sama gripen.saya lebih suka kalo TNI AU punya Gripen dan SU35.

        @MJ = Nah , maksud ane spt itu bung

        @banza! = layangan sedikit?klo layangan banyak ga ada pilot nya gmn?mungkin masalah jam terbang jawabannya simulator.meskipun kurang maksimal.

    • lebih baik terus mengembangkan CN295 versi AWACS , PT DI udah bisa merakit dan membuat sebagian airframe pesawat cn295 dan lini produksi pesawat cn295 udah dipindahkan 100% dari spanyol ke pt di ..
      terlalu banyak pilihan yg sebenarnya membuat tidak fokus pengembangan industri penerbangan ..
      semoga pemerintah dapat membuat pilihan yg tepat.. amien

    • memang banyak komplain dari pengguna sukhoi family dalam hal suku cadang.. kalo india itu negara yg belum mampu secara tekhnologi untuk membuat sukhoi dan itu hampir 80% bantuan rusia ..
      china negara yg mampu meng kloning sukhoi meski mesinnya kedodoran tapi suku cadang lengkap
      indonesia pengguna sukhoi dan sampe skrg tetap terbang tanpa ada komplain bahkan membeli mesin sukhoi 18 buah melebihi 16 pesawat yg kita miliki ..
      berarti ? sukhoi 35 pantas dan harus dibeli dengan harga 65jtUS dan lebih murah dari gripen ..

    • komentarnya copy paste dari artikel bung gripen tentang kelebihan grippen.. hehehe yg pernah di jawab dengan artikel juga oleh bung …. tentang kelebihan sukhoi 35 ..

    • Sales ngak ada nyerahnya “Never Give Up”

    • Bung panglima besar salam, sy pikir untuk berdiri kokohnya nkri dgn efek deterennya masalah biaya harusnya di kesampingkan yg penting bangsa kita di hormati Dan di Segani negara lain, untuk bangsa seperti kita yg kaya raya jgn Ada lagi kata mahal utk melindungi tumpah Sarah rakyat nkri, peralatan canggih harus mutlak kita punya tentu dgn harapan transfer tekhnologi, smg nkri Jaya segera, amin ….

    • Setuju banget bung ventura. Cari pesawat yg gahar n. Power full kayak su35, klo masalah biaya operasional toh klo bbuat ronda kita bisa pake f16. Trus betul juga masalah lifetime ngapain Cari yg umur sampe 30 tahunan, cukup 15 tahunan entar dijual n beli baru dengan teknologi baru. Trus masalah TOT coba cek tot gripen utk thailand? Ternyata tot nya tergantung dari kesiapan n kebisaan industri penerima di dalam negeri bukan TOT 100persen yg diiklankan slama ini. Terakhir, mending kita concern ke ifx jangan malahan dengan gripen kita “dialihkan” dari ambisi kemandirian produksi pespur ifx ini

    • biasa lah kalo barang belum ada , makelar maju terus ..kalo bisa sampe meratap biar di kasiani…..kasian2

    • Saya setuju 1 squadron grippen di beli , tapi saya juga setuju kalo SU35 rusky di beli jg. Pertimbangan saya adalah sehari2 yg di pakai patroli di wilayah indonesia sebaiknya grippen dan untuk mengejar pesawat2 illegal yg melintas di indonesia karena Cost of operasional grippen lebih murah sekali dari pada SU35. Untuk SU35 tetap perlu di beli karena untuk menjadi deterent ke negara2 lain dan SU35 di perlukan karena jangkauan lebih jauh dari pada grippen dan kecepatannya lebih tinggi dari pada Grippen.

    • yang perlu di kawatirkan dari segi EMBARGO..

    • Bung kucing semprul,
      ini ada sales gripen jadi di siram bensin gak tuh

    • Su-27/30/35 dan F-16 mungkin bisa melaju lebih cepat, tapi tidak bisa lama-lama karena afterburner memboroskan” bensin”.

      bensin..? bener itu apalgi bensin naik ke 6900rupiah.

      xixixixi

  2. Promosi

  3. 2 Pesawat bisa meng-cover 80% wilayah indonesia. Lumayan.
    Ada TOT-nya ga?

  4. S Band, kayak indovision :3 thailand aja udah punya, bungkus, biar gak pada “pecicilan”

  5. Bungkus
    Tp nga pke gripen

  6. Lawan potensial RI, Aus & Sing dg F35, Mal dg Hornet upgrade, China dg SU35 – dilawan dg gripen?? buang2 uang saja..

  7. Bungkussss

  8. Di saat kita sedang melirik su35 dan tiba-tiba di tikung saab padahal gak melirik sih, ini terlalu maksa dan upaya menggagalkan pembelian SU 35

  9. untuk Admin,

    maaf postingan dari “cetik meranen” sebaiknya harus segera dihapus. apa pun maksudnya, kalau gambar spt itu tampil di forum ini saya yakin akan mencederai wajah dan misi JKGR.

    saya perhatikan cetik ini kelihatannya org malaysia. sedang berusaha membuat degradasi forum ini secara HALUS.

  10. “Biaya operasional per jam
    Indonesia bisa menerbangkan 4 Gripen E
    dengan biaya per jam yang sama untuk
    menerbangkan Su-27/30/35”

    whaaat sama ???
    klo katamu sama ya ane milih sukhoinya lah mikir kok pakek dengkul

    • Artinya, kalo pake Gripen, pilot TNI-AU bisa sering2 terbang mengasah kemampuan sambil patroli ngawasin maling2 ikan meski duit TNI nipis habis dpake belanja senjata2 gahar laennya 😀

  11. rusia aew&c pake pesawat ap ya?

  12. “Bahkan, pijakan alias platform pesawat
    terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145,” kata dia.
    ————-
    Sangat fleksibel
    Sangat menarik karena terbuka kemungkinan sistem ini dipasang di CN-295
    Bisa disebut dengan teknologi yang mengerti anda hehe…

  13. Menurut saya Grifen bagus ko apa lagi di sandingkan dengan erieye
    Cuma beberapa tahun dari sekarang tetangga usil udah pada datangin pespur kelas berat,
    Nah disini kita butuh penyeimbang seperti SU 35s dan wajib akuisi T 50 FAK FA setelah ada line export nya
    Silahkan akuisi Grifen E/NG untuk patroli tapi saab harus sertakan Meteornya juga dan yang paling penting TEOTE ada tanpa harus akuisi 2 ska jadi berapapun yg ke beli harus beserta tetetoet…

  14. Bung, F-16 kita malah gak bisa (& gak dibolehin) pake rudal2 canggih setara punya tetangga. Blum radar & sistem networkingnya kalah jauh. Ngisi BBM di udara aja juga gak bisa dari tanker hercules kita sehingga jarak jangkaunya terbatas.

    Justru Gripen E jauh lebih baik krn kita punya kesempatan pake salah satu rudal BVR trbaik dunia saat ini (tp juga bisa pake rudal2 yg kita udah punya), ditambah networking, dibantu radar terbang canggih seperti di atas (yg mungkin nanti digendong CN-235 ato CN-295) ato radar darat serta laut bikinan SAAB (kayak di KRI Klewang), & bisa nyusu di hercules kita (ato ngisi bensin eceran di pinggir jalan).

    Maka jet kecil2 cabe rawit ini jd senjata yg mematikan. Ini blom kalo ntar maennya kroyokan terpadu (berkat networking canggih), tiba2 muncul dari tempat2 gak terduga dari segala pelosok pulau2 nusantara. Pilot2 F-35 ato SU-35 musuh yg udah merasa sukses ngebom lanud2 TNI & depo2 BBM bisa mati terkaget2 yg lalu panglima2nya nyalahin intelijen2nya yg gagal memprediksi & kelewat ngeremehin jet mungil bermesin satu rakitan & pengembangan PT DI 😀

  15. mendingan ngaa usah beli, inginkan ini itu tapi ngaa ada pastinya, lebih baik duitnya di kasih aja pada fakir miskin dan anak” terlantar yang jelas” membutuhkan

  16. gk ada pesawat AEW&C bermesin jet…?? knpa harus AEW&C bermesin turboprop

  17. Canggihan mana ya SAAB Erieye AEW&C ..VS… AP-3C Orion/P-8A Poseidon milik Ausi ???

    Apakah SAAB Erieye AEW&C bisa di padukan dengan alutsista prodok timur ???

    • Sama” canggih tapi beda peran bung, p3 ama p8 lebih di khususkan untuk maritime surveilance, asw dan asuw sedangkan erieye berperan sebagai sistem peringatan dini alias radar terbang. Kalo soal kecocokan ama alutsista blok timur tergantung dari sistemnya juga, rumornya sukhoi udah bisa di pake’ data link 16, kalo bener ya sukhoi bisa ngobrol juga ama si erieye

  18. Buatan Lapan 100% lebih bermutu. Tinggal kirim ke antariksa.. bagaimana kmajuan rxxx-nya? Tanya om Jalo

  19. Mending cn295 aew …klo pespur ane suka typhoon dicombine ma su 35 s…klo bwt tot ane resep typhoon dr engine ej 2000 buat ifx indonesia

  20. Kyknya wajib dibungkus nih.
    Jadikan seluruh langit RI terkaper, bhkn smp Darwin dan PNG bag barat. Siapa tahu f 35 sonotan memanfaatkan wil PNG jg. Hehehe!

  21. Apapun tawarannya sukhoi su 35 pilihannya

  22. Apapun tawarannya sukhoi su 35 pilihannya …cepat tepat ambil keputusan

  23. Mendengar kata swedia jd teringat hasan tiro

  24. SAAB Erieye AEW&C itu jangkauan radarnya 400-an km. Sedangkan Su-35 400 km, bisa jadi mini-AEW&C. Jadi buat apa beli Erieye? Mendingan tunggu versi AEW&C dari CN-295 bisa ToT paling nggak untuk airframenya.

  25. bagaimana dgn CN 235/295 versi AEW ???

  26. emang pesawat ini gak butuh satelit ya,,,,percuma kalo satelit masih numpang..ataw pake satelit komersil…kita harus punya satelit militer sendiri,,,titik!!!!!

    • komentar anda ini memang bner juga bung soalnya anda tidak tau apa yang sudah di kerjakan indonesia dan rusia 5tahun yang lalu yang sudah di terbangkan di papua dulu
      intinya jangan pernah meremehkan indonesia bung

  27. apapun tawarannya sukhoi su35 pilihannya…cepat tepat ga pakai lama ambil keputusan bos

  28. SU-35 for Fighter pemukul aja jangan buat patrol, SAAB Erieye AEW&C boleh juga, plus gripen OK, saya lebih suka gripen daripada si elang botak apalagi disertai TatetTOT, siip dah.

    • Setuju sekali Bung.

      SU-35 sebagai pesawat tempur pemukul kelas berat.

      Gripen NG sebagai tawaran SAAB dengan ToT 100% adalah pilihan yang paling rasional dan efisien. Jauh lebih tepat dibandingkan dengan KFX/IFX yang belum jelas yang akhirnya hanya akan menghasilkan pesawat tempur sekelas atau malah dibawah F-16.

      Amerika tidak akan pernah mengijinkan KFX lebih hebat dari F-16 atau F-18. ingat stock F-16/F-18 bekas nasional guard masih sangat banyak (ratusan) dan ketika F-35 operasional 100% mengantikan peran F-16/F-18, Amerika berkeinginan untuk menjual stock F-16/F-18 bekas nasional Guard ke negara kelas-3 sekutu mereka, Indonesia kebagian F-16, malaysia dan Philipina mungkin kebagian F-18, Korea selatan saja justru memesan F-35 sebagai pesawat tempur andalan mereka.

      Tawaran SAAB yang paling menjadi kebutuhan pokok bagi Indonesia adalah kemampuan mengintegrasikan semua produk mereka sehingga bisa saling berkomunikasi dan saling bertukar data. kemampuan berkomunikasi efektive dan “mandiri” antara pusat komando, radar darat, pasukan darat, kapal selam, kapal permukaan, pesawat tempur dan pesawat AEW&C itu adalah kebutuhan TNI yang sampai sekarang belum terpenuhi.

      • coba cek lagi berapa milyar baht yang harus dikucurkan lagi oleh thailand terkait konektifias antar matranya. tidak murah lho bung biaya akuisisinya. bisa2 dapat min 1sq itu sendiri.

        • Tetapi kemampuan berkomunikasi antar matra secara “mandiri” itu sudah menjadi syarat mutlak untuk peperangan profesional di masa depan.
          kita bisa melihat pengalaman operasi seroja di east timor, banyak antar pasukan saling lirik, kopasus+raider vs marinir, marinir vs KRI yang memberi bantuan tembakan, atau Pilot bronco VS pasukan di darat.

          Kemampuan berkomunikasi antar matra itu memang mahal tetapi sudah menjadi kebutuhan pokok bagi TNI.

          • kelihatannya murah diawal paket gripen c/d + erieye seharga usd 1++ b. begitu implementasinya karena tidak semua perusahaan alutsista memberikan data-nya. ya terpaksa harus beli converternya. harapannya kita beli punya thales saja yang sudah dominan di radar dan peralatan perang kita. karena sesama thales otomatis tidak perlu converter. jika tidak perlu converter otomatis lebih murah dan minimize bug. lagi pula thales juga sudah biasa kerja sama dengan rusia. walaupun saab bisa memberikan harga termurah diakuisisi awal. hanya saja masalah compatibility equipment antar nato saja masih dimungkinkan ada bug apalagi dengan sistem rusia di kemudian hari. lain halnya jika kita ikut 100% std nato otomatis kans saab akan lebih besar. coba dibaca lagi soal trimaran yang mewajibkan 100% system dari saab. mengapa tidak bisa gado2 ? misalkan cms control dari len dan saab sebagai sub kontraktor saja. kalau beli banyak kan katanya sanggup memberi 100% tot. mengapa tidak berlaku untuk case trimaran

    • Dengan kemampuan Irbis E yg sangat bagus, maka terbuka taktik menggunakan satu dua Su-35 sebagai mini AEW&C, dimana di belakangnya mengintil satu skadron pemukul. Lihat komen saya no. 27.
      Jangan salah, saya tidak pernah tulis Su-35 sebagai pengganti AEW&C. Untuk itu, lebih baik tunggu CN-295 versi AEW&C kan sudah dapat ToT airframenya.

  29. Bagusnya Gripen buat pengganti Hawk atau Tukino aja………

  30. Karena platform pesawatnya bisa di sesuaikan maka tentu pilihan Indonesia memakai C295 .Pesawat ini akan di produksi di Indonesia,keuntungannya tentu selain uintuk pakai sendiri dan bisa juga di jual C295 versi AEW&C kenegara lain.

  31. baca yang baik ya : duit banyak aja ditolak apalagi yang pas2an

    Sweden ends military ties with Saudi Arabia

    Sweden will not renew a military cooperation agreement with Saudi Arabia, effectively ending defence ties due to mounting concerns over rights issues.

    “It will be broken off,” Prime Minister Stefan Loefven said on public radio of a 2005 Saudi-Swedish agreement.

    The Social-Democrat premier spoke a day after Sweden’s Foreign Minister Margot Wallstroem accused Saudi Arabia of blocking her speech at an Arab League meeting.

    Saudi Arabia is the third largest non-Western buyer of Swedish arms. In 2014, Riyadh bought equipment worth 338 million kroner (€37m).

    The deal, which was due for renewal for another five years in May, has come under fire within Loefven’s Social Democrats, while Green Party partners oppose it categorically.

    Ms Wallstroem has rarely commented on Saudi Arabia but in January she slammed the kingdom’s treatment of blogger Raef Badawi, who had been sentenced to 1,000 lashes and 10 years in prison for insulting Islam.

    http://www.rte.ie/news/2015/0310/686084-sweden/

    • Berita diatas lebih ke arah Politik mas
      Ngak ada hubungannya dengan Uang

      Hukum disana sangat mengerikan, dan saya kira itu Bukan Hukum Islam, Tapi adat/hukum Arab, Karena di Jaman Rosul ngak ada yang seperti itu

      Berapa banyak TKW kita yang dihukum mati karena membela diri karena diperkosa ?
      disana Nyawa dibayar Nyawa, atau denda sesuai keinginan keluarga yang mati.
      disana ada keturunan pengikut Rosul dan ada keturunan Abu Lahab (pembenci Islam)

  32. kalau pengen bagaimana meracik makanan enak itu harus mencoba semua makanan, dari situ kita bs improvisasi membuat makanan lebih maknyus….
    gripen bs diambil jika ada teknologi yang belum kita punyai, sama dengan sukhoi juga.

  33. untuk pesawat AEW&C ambil ajalah trus minta ToT untuk bisa dikembangkan di CN295 PT. DI .
    Tapi kalau untuk gripen mikir” dulu

  34. mau nanya sama bung jalo/diego kira2 pesawat patroli tni au/al jenis casa bisa di pasang radar aesa jarak jauh nggak ya? salam kenal bung jalo/diego

  35. Selama blum twin engine

    Jangan lirik gripen lah

    Utamakan
    Keselamatan sahabat ksatria langit kita

    Pilot2 TNI AU

    Nyawa tidak bisa

    Diganti Ongkos op

    mesin mati

    …..

    …..

    .,..,..

    Lompat atau

    GAME OVER

  36. Hati2 blunder, ingat embargo pihak barat

  37. ARAB SAUDI YANG IMPORT JOR JORAN DARI SWEDIA DI EMBARGO DENGAN ALASAN HAM,
    APALAGI INDONESIA?
    SALES GRIPEN KELAUT SANA. !!!

 Leave a Reply