Okt 272016
 
SAAB GlobalEye (SAAB.com)

SAAB GlobalEye (SAAB.com)

Jakarta – Wilayah Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, namun kontrol dan pengawasannya belum maksimal. Hal ini disinyalir menjadi penyebab masih adanya kapal-kapal asing yang lalu lalang di perairan Indonesia tanpa terdeteksi oleh aparat.

Salah satu alasan paling mendasar dan klasik adalah masih kurangnya kemampuan negara untuk memberikan perlengkapan sistem pengawasan yang memadai bagi petugas, dalam hal ini TNI. Seperti halnya radar yang dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.

Hal ini disampaikan oleh Vice President Saab Indonesia Peter Carlqvist saat berbincang dengan sejumlah media di kantornya di Gedung Sequis Center, Kawasan Sudirman, Jakarta, (25/10/2016).

Saab merupakan pabrik senjata yang bermarkas pusat di Swedia dan telah membuka kantor cabang di berbagai negara. Peter mengatakan saat ini, perkembangan kekuatan militer di berbagai negara dan politik geografis dunia yang kian pesat harus diikuti oleh kemampuan TNI dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Berbagai ancaman di masa akan datang tidak selamanya dapat dihadapi dengan sistem persenjataan dan pengawasan yang dimiliki TNI saat ini.

“Perlu diketahui, berdasarkan yang kami pelajari, banyak kapal-kapal boat ilegal yang ingin menuju ke Australia kerap datang melintasi perairan Indonesia tanpa terdeteksi,” ujar Peter.

Dia menjelaskan sistem pengawasan atau radar yang sekarang dipakai TNI sudah waktunya untuk ditingkatkan. Semisalnya sistem radar yang ditempatkan di darat menjadi berbasis penggunaan pesawat.

Menurut Peter Carlqvist, dengan memasang radar di badan pesat akan membuat jangkauan radar menjadi semakin luas. Seperti misalnya platform yang ada pada salah satu produk unggulan SAAB yakni pesawat intai GlobalEye.

Dia menjelaskan, pesawat yang mampu terbang 11 jam nonstop tersebut bisa memantau wilayah Indonesia seluas 400 kilometer. “Ini aset yang mahal namun menjadi investasi jangka panjang bagi TNI AU untuk mengawasi wilayahnya dari illegal fishing, dan kapal boat asing,” ujarnya.

Selain itu, Campaign Director Saab Asia Pasific Magnus Hagman dalam kesempatan yang sama mengatakan, SAAB juga telah menawarkan solusi kepada TNI dalam mengoptimalkan alutsistanya. Seperti misalnya menawarkan pesawat tempur modern Gripen.

Dia menjelaskan, pesawat Gripen telah dilengkapi dengan berbagai kemampuan khusus, di antaranya kemampuan terbang yang lebih lama serta antivirus.

“Selain itu, biaya operasionalnya lebih murah daripada Sukhoi,” ujarnya.

Magnus mengatakan pesawat Gripen dan GlobalEye menjadi produk persenjataan unggulan SAAB yang akan mereka pajang di pameran senjata Indo Defence pada 2-4 November 2016 mendatang.

Sumber : JPNN.com

Bagikan:

  83 Responses to “SAAB Tawarkan GlobalEye dan Gripen ke Indonesia”

  1.  

    Sangat menarik….!!

  2.  

    Gripen 1 skuadron + Globaleye + SU 35 1 ska.. Moncer ni

  3.  

    Wajib beli

  4.  

    kalau cuma menangani kapal’ asing mungkin lebih efisien radar yg berbasis darat, yg di tempatkan di tempat’ strategis. beda lg dgn radar pemburu pesawat asing, mungkin pesawat GlobalEye solusinya..

  5.  

    Panjang garis pantai Indonesia 99093 km.
    Jika Indonesia memakai SAAB GlobalEye berarti hitungannya -+ seperti ini :
    99093 km : 400 km = 247 (pembulatan)
    247 x 2 = 494 (22 jam)
    494 unit SAAB GlobalEye kira-kira berapa…?

    Menurut saya lebih baik Indonesia menggunakan pruduct PT DI dan di instal perlengkapan GlobalEye jika memang SAAB berniat ToT dengan Indonesia.

    Jika ingin versi yang lebih extrime bila perlu menggunakan product Boeing Defense, Space & Security, hasil modifikasi dari 737-800 yang di peruntukan seperti Posaidon P8 Amerika.

    Silahkan WARJAG yang menentukan untuk vote yang mana sesuai dengan keinginan kalian… 🙂

  6.  

    untuk penjaga Pantai yang luas saya berhadap Kementrian Pertahanan tetap fokus ke basis CN 295…sedangkan untuk jet tempur medium… bolehlah adopsi ke SAAB…ya minimal tahap pertama 1 skuadron dulu.. jika nanti dalam perkembangannya banyak manfaat dan TOT lebih mudah tidak ada salahnya… diaplikasikan dan dikembangkan ke IFX yang sekarang sedang berjalan…minimal 2025 IFX sudah Produksi dan Teknology “GADO GADO” bisa digunakan…..

    •  

      @mlogic05 : Di rencanakan 50 unit jatah Indonesia program KFX/IFX (4++) lebih canggih dari F-16 broo…

      Jadi jika ingin ToT untuk IFX Block 2 minimalnya sudah masuk gen 5 kelas medium fighter…

  7.  

    ya minimal target dari 50 itu kan.. bisa ditambah untuk menambah skuadron baru. Gen 5 sepertinya masih jauh…tapi tidak tertutup kemungkinan Bangsa kita akan menemukan teknology baru untuk Gen 5…

    •  

      @mlogic05 : Saat ini dan kedepan Indonesia membutuhkan pespur kelas heavy fighter, karena kelas medium fighter TNI AU saat ini bertambah dan masih dalam range produktif.
      IFX sendiri memang di peruntukan untuk mengisi kelas medium fighter yang sebentar lagi akan memasuki masa tua.

      •  

        jadi hukumnya wajib ya bung..untuk Heavy Fighter…apakah ada kemungkinan dengan molornya pesanan ini akan menambah variasi SU selain SU35…Menhan bilang beli dikit dulu.. kan perkembangan Pesawat cepat…jadi kita akan beli yang uptodate…

      •  

        @mlogic : Menurut saya pribadi di bilang wajib sih masih 50 : 50
        Intinya begini bung…

        Negara Singapura dan Australia sudah ikat kontrak untuk membeli F-35 dari Amrik, jika TNI AU hanya mengandalkan F-16 dan Sukhoi SU27/30 kemungkinan agak sulit atau mungkin sulit menandingi F-35 tersebut.

        •  

          ya artinya butuh perimbangan di kawasan asia tenggara khususnya… ya syah syah saja kita sebagai negara berdaulat penuh… untuk bersikap dan siap mempertahankan tiap jengkal tanah air kita dari pihak luar.. diluar kejadian pulau yg pernah lepas ke negara tetangga… kalo saya bilang g 50 50..tapi sudah mendekati 70 30..hehehehe

  8.  

    Duitnya mana?

  9.  

    @Bung Rch.. Husss.. jangan keras keras… untuk urusan itu bisa ditanyakan ke Bu Sri dan Bu Susi…sumbernya darimana…hehehe

  10.  

    Baru kali ini globaleye digunakan utk illegal boat /fishing? Apa ga kemahalan itu?
    Lagian lebih efektif mana satelit nano lapan, satelit! BRISAT atau satelit militer TNI 2019 nanti?
    Trus magnus nawarin gripen c/d apa NG?

    •  

      @senopati pamungkas : Jika tidak salah baca di link lain, Gripen C/D yang akan jadi sekema ToTnya…

      •  

        Itu maksud saya Bung Wangsa,

        SAAB itu selalu mbolak mbalik klo nawarin Gripen.

        Klo ditanya delivery nya kapan, selalu dia omong nya Gripen C/D yg katanya satu tahun pun sudah bisa deliver. Yaa jelas bisa satu tahun deliver , wong disana sudah mau diskontinue dan ga ada yg beli versi ini.

        Nah giliran ditanya technologinya Gripen, yang di omongin SAAB yg type NG , tahun 2023 baru nyampe sini.

        Gw bingung ajah ama marketing mereka, suka lari-lari topiknya

    •  

      Ini betul…KEMAHALAN kalo cuman utk ilegal fishing…lebih baik pake FA 50+ C235 kita..tp sistem kerjanya seperti global eye ini…kan patroli…kecuali sebagai intercept ringan..ngomong2 intercept ringan MIG 35 kayaknya pas ya…ada yg lebih bagus?….

  11.  

    Semoga Indonesia beli gripen e dan globaleye aamiin

  12.  

    Banyak bangt yang nawarin..tp blm ada satupun yg deal nh…hadeehhh..

  13.  

    tp kalau kita beli global eye 2 biji bakalan dapet tot gax y ?

  14.  

    atau mungkin ada yang versi Hematnya…untuk kelas GlobalEye…untuk basis kan bisa pake CN 295 atau kedepan versi 245 itu juga jika waktunya cukup..menunggu kehadiran 245

  15.  

    gado gado nih lama lama sista kita

  16.  

    Ada apa dengan INDONESIA?! SAAB pantang menyerah tawarkan produknya..

    •  

      Pengen kue belanja tni. Liat aja perancis..denmark..jerman..ingris..belanda..swedia..korea selatan..amerika..rusia..cina..kebagian semua..karena non blok itu maka indonesia sangat sexi..uang nya..

  17.  

    grpen bgus untk patroli

  18.  

    Biasalah sales??? Selalu produknya nomer 1 buat ditawarkan. Kalo negaranya seluas singapore gripen solusi terbaik ketimbang sukhoi. Tapi kalo negaranya seluas indonesia perlu berapa skadron gripen utk mengcover wilayah udara nkri? Sukhoi walau 1 skadron udah mampu mengkonver seluruh wil nkri. Mungkin perlu 2 unit gripen utk mengcover area seluas 1 unit sukhoi,hasilnya sama aja boros!!! Belum lagi nilai perawatannya 1:2,efek deterennya terhadap alutsista negara sekitar yg bakalan diisi f35,j15,j20,f15 dll mampu ga gripen? Medium fighter tetap medium fighter gak bisa disamakan dg heavy fighter. Dengan super hornet, f15 se atau sukhoi mkm milik tetangga sebelah RI aja masih diragukan kalo dogfight,kalo tak mampu mengalahkan dan dikalahkan ujung2nya return to base for refueling gas.

    •  

      Sebenarnya tidak ada masalah jika indonesia ingin membeli ini paspur asalkan belinya jangan nanggung misalakan langsung beli minunal 40 atau 30 biji kan lumayan buat disebar keberapa pulau di indonesia, dan perawatannya juga cukup murah dibandingkan dengan paspur yang lainnya, lagi pula jika membelinya tidak tanggung kan totnya pasti lebih mudah didapat, tapi permasalahannya untuk gripen seri NG itu perlu delai sampao 2023 karena masih memenuhi kebutuhan angkatan udara suwedia dan berzil, kecuali jika RI pesen tipe C dulu 10 biji baru nantinya NGnya nyusul dan totnya jangan minta perakitan pesawat di PT. DI karena sebentar lagi PT di bakalan membuat ifx mungkin bisa meminta tot pembuatan radar AESA yang tdk diberi oleh AS jadi lumayan buat dicangkokin ke ifx. karena saya rasa untuk paspur hevy fighter jika sukses kan indonesia bakalan diperkuat IFX kebayang nanti perawatan dan bbm yang dihabiskan jika semua paspur RI semuanya hevy fighter! Jadi pada akhirnya tergantung pada tot diberikan dan pada kebijakan pemerintah untuk mempercepat kemandirian bangsa (edisi ijut nganalisis) xixixzi

  19.  

    Negara seukuran upil macam singapore aja masih memikirkan kemampuan strike hebat dg mengakuisisi f15 apalagi seluas nkri dan aussie??? Bikin dulu yg dobel engine dg kemampuan jelajah jauh,daya angkut senjata lebih banyak,mumpuni dalam hal kemampuan manuver dan avionik yg canggih baru tawaran ke indonesia.

  20.  

    ngirit lagi Gatotkaca saja suruh terbang nenteng radar keliling seantero Nusantara, dikedipin aja nyungsep tu rudal balistik musuh, kapal induk mah cuma ditiup kelempar kembali ke negaranya

  21.  

    Melangkah terlalu jauh Indonesia kl memaksakan pengadaan global eye.
    Satellite Dan radar utama..

    Penuhin dulu elemen dasar dari bertahan….
    Saya warga malay meliat byk kebijakan yg aneh dilakukan militer indonesia.

    Ingat negara kami intens melakukan penelitian di bidang perudallan
    Pada waktunya rudal rudal kami akan mampu mendatangi rumah rumah kalian jika patok perbatasan tak mau digeser

    Kah kah kah

    Mana berani kalian mengganggu kami
    Kamilah yg akan selalu setia mengganggu kalian…
    Karena kami bernyali dan mampu utk itu sementara kalian sibuk rebutan kekuasaan

  22.  

    bung diego..ane ada usul..tpi sebelumnya ane minta maaf kalu salah..
    menurut ane gimana klu nama Jakarta Greater di ganti dgn Indonesia Greater biar kedengarannya lebih gahar..salam 1 jiwa..

  23.  

    Seharusnya, TNI AU sudah mengoperasikannya sejak lama

  24.  

    @wangsa kencana, muhun kang, lumayanlah 2biji karet oge, setidakna biji karetna impor, hehe

  25.  

    Dapet potongan harga dari SAAB kalau ambil gripen sama GlobalEye nya kali ni ..
    Mumpung si seles belom berubah pikiran. Kan lumayan hahaha ..
    edisi ngerogoh kantong liat sisa saldo hahaha ..

  26.  

    Komentar yang tadi kok pada iang?

  27.  

    Email ini nyangkut di saya

  28.  

    P>

  29.  

    lama tak jumpa mbah bowo……

    bakar menyan dulu ah……. bowooooo keluar……. wess eweess eweess …….

  30.  

    kan Mbah Bowo lagi sibuk persiapan Pilkada…Tim Sukses lagi buat brosur sama spanduk

 Leave a Reply