Saab Tawarkan “Paket Kekuatan Udara Lengkap” Pengganti F-5

137
106
Pesawat tempur Saab JAS39 Gripen D berkursi tandem unjuk kemampuan dalam demo terbang khusus di hadapan para wartawan Indonesia di fasilitas khusus Saab di kota Linkoping, Swedia, Rabu (11/3).
Pesawat tempur Saab JAS39 Gripen D berkursi tandem unjuk kemampuan dalam demo terbang khusus di hadapan para wartawan Indonesia di fasilitas khusus Saab di kota Linkoping, Swedia, Rabu (11/3).

STOCKHOLM, KOMPAS — Menghadapi persaingan yang makin keras terkait program penggantian pesawat tempur F-5E Tiger II milik TNI Angkatan Udara, pabrikan pertahanan asal Swedia, Saab, memutuskan bertempur habis-habisan dengan menawarkan sebuah “paket kekuatan udara lengkap”.

“Berlawanan dengan apa yang ditawarkan Sukhoi, kami menawarkan paket kekuatan udara lengkap, tidak hanya pesawat. Sukhoi hanya menawarkan pesawat,” kata Peter Carlqvist, Wakil Presiden Saab dan Kepala Saab Indonesia, kepada para wartawan Indonesia, termasuk Kompas, di Stockholm, Swedia, Kamis (12/3).

Carlqvist mengaku telah mendengar bahwa TNI AU masih menginginkan pesawat tempur Sukhoi Su-35 karena ingin memiliki kemampuan daya angkut persenjataan yang besar dan daya jelajah yang tinggi. “Kami juga mendengar bahwa mereka juga akan gembira memiliki Gripen, tetapi itu terserah Kementerian Pertahanan dan Presiden (Indonesia) untuk memutuskan,” katanya.

Menurut dia, paket terbaru yang ditawarkan Saab saat ini meliputi jet tempur JAS39 Gripen, sistem peringatan dini dan kendali udara (AEW&C) Erieye, sistem tautan data taktis (tactical data link) yang bisa diintegrasikan dengan aset tempur matra lain, ditambah pusat perawatan pesawat dan pusat operasi penerbangan taktis (operation tactical flight center) untuk para pilot. “Karena ini bukan cuma soal pilot bisa lepas landas dan mendarat dengan pesawat itu. Mereka juga perlu tahu apa saja senjata dan sensor yang mereka bawa di pesawat,” ujar Carlqvist yang mengatakan, pilot akan dilatih melakukan operasi taktis, tidak sekadar bisa menerbangkan Gripen.

Paket itu juga meliputi berbagai pilihan senjata, termasuk rudal Meteor dan RBS-15. Terkait rudal RBS-15, Saab bahkan sudah menawarkan proses perakitan dilakukan di PT Dirgantara Indonesia di Bandung.

Selain itu, demikian kata Carlqvist, Gripen menawarkan biaya operasi yang jauh lebih murah, yakni 4.700 dollar AS per jam, dibandingkan Sukhoi Su-30 yang mencapai 40.000 dollar AS-49.000 dollar AS per jam. Ia juga mengklaim bahwa biaya operasi Gripen hanya seperempat dibandingkan biaya operasi pesawat Eurofighter Typhoon yang juga menjadi salah satu kandidat pengganti F-5 TNI AU.

Persaingan para calon pengganti Si Macan Terbang pun makin panas. (kompas.com)

137 KOMENTAR

  1. Hmmm..Hati-hati sama umpan sales gripen…mereka mencoba 1x dayung 3-4 pulau terlewati…:
    – ambil duit pembayaran dari indonesia
    – tot yg dikasih 1/2 ikhlas
    – bantu konco2 nya spy gak khawatir dengan pespur kita
    – pengiriman onderdil dihentikan karena HAM.

    Cuman terawang kemungkinan2 yg bisa teRjadi.

  2. Konsep pertahanan dan keamanan serta penyimpanan alutsista TNI bersifat Mistis dan Syock Teraphy. Mencoba KS US/Sekutu Asianya masuk Indonesia bisa tercium baunya. US + Sekutunya kesulitan analisa dr latihan, kekuatan tempur, stamina, strategi. Kenpap TNI latihan dng US + DLL jg kompetisi dng alutsista dlm negri. TNI punya alutsista Nuklir. Sssstt diam2 ya….Alutsista TNI di bawah gunung.

  3. Marketing / sales Saab memang bagus, mencoba menawarkan apa yang tidak ditawarkan / dipunyai Sukhoi.

    Produk Saab ada di lini darat dan laut juga, dan sudah dekat hubungannya dgn user di AD dan AL, jadi lebih mudah menawarkan produk tambahan yg tidak kalah menarik, misalnya integrasi radar dan informasi tempur ke sesama pesawat bahkan ke kapal laut dan stasiun darat.

    Tinggal masalah harga.

    Ayo RI, kilik2 Sukhoi biar kasih lebih lah. Jangan kalah dgn Saab!

  4. Sebagai pesawat tempur pertahanan udara dengan kemampuan manuver yang lincah, irit biaya operasional, Gripen cukup bisa diperhatikan, tentunya dengan keharusan untuk dirakit dan diproduksi di dalam negeri.

    Dengan ukuran yang ringkas, ramping, lincah dan gesit, Gripen mungkin diperlukan bagi kebutuhan TNI AL (penerbal) untuk menghadang konvoi kapal-kapal permukaan musuh yang bergerak maju (seperti perang laut di Malvinas) dan menghajar titik pijak pendaratan musuh (seperti pendaratan sekutu di normandi) dan kalau diperlukan, bisa juga dipakai untuk menabrak kapal induk musuh (seperti kamikaze pilot Angkatan Laut jepang di WWII)

    Tetapi harus diperhatikan bahwa Swedia adalah negara yang netral dan “belum” menjadi anggota NATO sehingga cukup berani bersikap dalam hal penegakan HAM, memberikan peringatan yang keras untuk ancaman pemberhentian kerjasama militer bagi negara-negara yang berpotensi melanggar HAM.

    Jika kemampuan teknologi Indonesia bisa dengan cepat merakit, meniru dan membuat segera Gripen beranak pinak, prinsip Swedia tentang HAM bukan masalah serius. Tetapi jika kemampuan teknologi Indonesia belum di level tersebut, sebaiknya hindari kerjasama militer dengan Swedia.

    Sebagai gantinya, Indonesia bisa fokus merakit dan memproduksi pesawat serang ringan dulu, semacam FA-50 Golden eagle.

  5. Tapi harus hati2juga swedia juga ngeTOP n mslh bokep juga.petinggi2 tni jago di lapangan belum tentu kalau di kamar..buat apa pangkat tinggi kalau urusan syahwat peltu??/(nempel metu)sorry oot harap anda maklum..bgtu lah dunia perdagangan.