Mar 212018
 

Jet tempur Gripen E buatan Swedia © Saab via Youtube

JakartaGreater.com – Saab terus menyempurnakan desain jet tempur Gripen Maritime atau “Gripen M” yang dioptimalkan untuk kapal induk, karena ia melihat kemungkinan jangka panjang sebagai varian yang diusulkan kepada Brasil dan India, seperti dilansir dari laman Flight Global.

Berdasarkan Gripen E yang sedang dikembangkan, model ini akan mampu beroperasi dari atas kapal induk dengan operasi yang dikonfigurasikan untuk Short-Take-Off But Arrested Recovery (STOBAR) atau pun Catapult-Assisted Take-Off But with Arrested Recovery (CATOBAR).

“Kami memiliki desain yang sepenuhnya bersertifikat dan telah diteken oleh manajemen Saab untuk Gripen versi maritim. Ini ada dalam portofolio kami, tetapi itu hanya desain. Kami belum membawanya pada langkah penting berikutnya, yang mana akan membutuhkan pelanggan”, kata Tony Ogilvy, kepala pemasaran untuk Gripen M.

Latar belakang Ogilvy adalah penerbang kapal induk. Selama berkarier tiga dasawarsa di Angkatan Laut Kerajaan Inggris, ia menerbangkan Blackburn Buccaneer selama 12 tahun dan Sea Harrier selama enam tahun, termasuk dari beberapa kapal induk.

Dia berpendapat bahwa pendekatan rekayasa sistem berbasis model Saab menawarkan “tingkat kesetiaan yang sangat tinggi” seperti seharusnya, jika pelanggan Gripen M diperoleh, hasil dari sebuah peraga konsep yang berfungsi dengan baik pertama kali.

Untuk membantu menyempurnakan desainnya, Saab telah berkonsultasi dengan dua perusahaan spesialis “arresting gear” MacTaggart Scott dan Rolls-Royce Marine asal Inggris yang memiliki pengalaman dengan ketapel atau “catapult”.

“Kami telah kerjasama dengan kedua perusahaan dalam kontrak terpisah dan kecil untuk melihat cara pemodelan guna meningkatkan karakteristik peluncuran dan pemulihan, agar maksimum di kedua sisi, sehingga kami dapat lepas landas dengan muatan maksimum dan mendarat dengan aman”, kata Ogilvy.

Selain mengunci peluncuran, salah satu tantangan adalah berat. Desain Gripen M saat ini 500kg (1.100lb) lebih berat daripada Gripen E yang ditunjukkan oleh dokumen Saab dimana memiliki berat kosong sekitar 8 ton.

“Kami sekarang sedang mencari cara mengurangi berat badan pesawat itu. Kami berharap untuk tidak lebih dari 300 kg saja”, kata Ogilvy.

Berat ekstra berasal dari penguatan di sekitar pusat gravitasi jet tempur, dimana badan pesawat atau “airframe” akan terkena tingkat energi tinggi selama peluncuran memakai ketapel dan ketika ditangkap saat pendaratan. Roda “oleo strut” di bagian depan jet juga telah diperkuat dengan baja untuk menggantikan alloy.

Namun, Gripen M didukung mesin tunggal GE Aviation F414, sehingga ini lebih ringan daripada jet berkemampuan kapal induk buatan Barat lainnya. Dassault Rafale memiliki dua mesin Safran M88 dengan berat kosong lebih dari 10 ton, sedangkan figur untuk Boeing F/A-18E/F Super Hornet menggunakan dua mesin F414s dengan berat kosong 14,5 ton. Sementara itu F-35B STOVL buatan Lockheed Martin memiliki berat kosong 14,7 ton, sedangkan varian F-35C untuk kapal induk memiliki berat kosong 15,7 ton.

“Ukuran Gripen sedikit mirip dengan Sea Harrier. Ini tidak terlalu besar, dan itu cocok untuk setiap kapal induk yang ada saat ini. Ini adalah hal yang sangat penting, tetapi terkadang cenderung tidak terpikirkan. Gripen M akan mampu mencapainya tanpa sayap lipat”, kata Ogilvy.

Dalam hal karakteristik penanganan, Ogilvy mencatat bahwa desain jet tempur Gripen asli dioptimalkan untuk pendaratan kasar di jalanan Swedia. Pendaratan di kapal induk melibatkan pendekatan “low flare” yang sebanding dengan sudut yang relatif curam, katanya.

“Undercarriage Gripen M sedikit lebih panjang dan sedikit lebih besar. Selain itu sebuah pengait yang terselubung untuk menangkap dan memulihkan, pesawatnya sama persis, akan melakukan pekerjaan yang sama seperti Gripen E dalam setiap peran. Bila pesawat tidak berada di kapal induk, maka itu bisa menjadi armada Gripen di darat”, jelas Ogilvy.

Mengingat bahwa Angkatan Bersenjata Swedia tak memiliki rencana untuk kapal induk, dua pasar potensial untuk Gripen M tersebut adalah Brasil dan India.

Angkatan Udara Brasil telah memesan sebanyak 28 unit Gripen E berkursi tunggal dan 8 unit Gripen F berkursi tandem yang dikembangkan bersama-sama dengan Embraer. Jet tempur barunya akan dikirim antara 2019 dan 2024, itu termasuk 8 Gripen E dan 7 Gripen F yang dibangun di Brazil.

Bagikan:

  24 Responses to “Saab Terus Sempurnakan Gripen Maritim”

  1.  

    Ogah, Pilih F-16V 4+ Saja Krn mampu menggabungkan Kemampuan Manuver Dog Fight & BVR, DR Pemikiriannya Sdh Di Luar Jangkauan/Akal Sehat Krn Terjangkit Penyakit BVR

  2.  

    Sama-sama mesin tunggal, lebih baik f16-V

  3.  

    Itu gripen gado gado baiknya dicemplungin ajja kelaut, klu tidak? Tn phd yg akan nyempulunginya kelaut

    Hahhaahaaaaaa

  4.  

    Gripen gila juga ya… ga punya kapal induk tetapi menciptakan pesawat untuk kapal induk…

  5.  

    Saab 30% saham milik inggris

    •  

      Sebagai catatan itu Gripen pakai mesin buatan AS, dan rawan embargo. Alutsista yang menggunakan komponen buatan AS sangan berisiko tinggi di masa depan. salah satu contohnya adalah kesepakatan alutsista Prancis kemarin… dengan dalih MTCR, alasan akan selalu ada dan dicari-cari untuk itu.

      Meski saat ini dibawah Trump ada perubahan utk penjualan alutsista AS, tetapi setelah Trump tidak berkuasa apakah itu masih bisa berlaku? AS itu bisa dengan mudah merevisi UU demi keuntungan AS baik jangka pendek maupun jangka panjang.

      Salah satu contohnya adalah revisi UU penjualan drone bersenjata

  6.  

    Gripen X bakal bisa melaju sejauh 2000 km dgn kecepatan max 2200 km per jam, cukup dgn BBM 50 liter

    😎

  7.  

    gripen m cocok untuk kapal induk kecil
    apalagi kapal induk besar pasti sangat cocok
    bahkan untuk kapal induk yang dijangkar permanen pun cocok
    cuma
    siapa yang butuh gripen m
    kapal induk aja cuma bayangan nya yang mirip dari balik cakra wala
    kecuali kalau diobral seribu tiga plus t o t pasti minat rame

  8.  

    Nyari tot bung kalo kulitas nanti aja mikir kuantitas kaya china dong entah itu ee atau air kencing di tot bung wkwkwkwkw apa kaya korea selatan juga

  9.  

    sebenarnya kalau beli apa2 takut kenak embargo ya gak usah beli, TNI suruh nyeker aja
    sebenarnya saya gak suka juga dengan politik amerika yang suka embargo sepihak dan seluruh tetek bengek nya, tapi di sisi lain kita butuh juga sama dia
    gak usah jauh2 Ifx aja itu mesinnya dari amerika di impor
    meskinya kalau TNI takut di embargo gak usah kerja sama dengan korsel buat pespur yang udah jelas2 copy teknologi LM

  10.  

    Wkkkk… Udah lama ga liat artikel gripik xixixi…

    Pilihan yg tepat untuk yg punya anggaran terbatas dan wilayah yg kecil karena Area patroli nya pasti lebih kecil jadi Double engine tidak lah diperlukan… Combat Range yg rendah dan External storage yg sangat terbatas juga tidak masalah karena pesawat bisa lebih cepat kembali ke pangkalan buat Re arm kembali benar2 pilihan yg tepat… Bagaimana kalau kita borong Gripik untuk di tukar dng F-15 upil yg wilayahnya seupil pasti cocok… Buat apaan pespur Double engine buat wilayah seupil?? Kecuali kalau wilayahnya kek Kanada atau Indonesia pastinya xixixi…

    Si upil pasti akan lebih cocok dan bahagia dng Gripik, Pespur Smart dan murah geto loh… Smartnya ga tau deh tapi murah?? Iya sih C/D murah tapi Gripen NG tidak akan Murah pastinya xixixi…

  11.  

    Getol jg SAAB menggarab pasar pespur single engine.

 Leave a Reply