Agu 282016
 

Ketika sirene terdengar, para pilot Angkatan Udara Inggris bergegas menuju cockpits pesawat tempur Typhoon mereka. Dalam beberapa menit, dua jet tempur melesat cepat ke langit, dengan sayap Typhoon yang dijejali bermacam rudal udara ke udara.

Selama setengah jam berikutnya, Komandan Wing Roger Elliott dan wingman nya akan membuat tiga intersep terpisah terhadap pesawat militer Rusia.

Para pilot dari Skuadron II, terpaut jauh dari pangkalan utama mereka di RAF Lossiemouth di Skotlandia tetapi kini mereka hanya berjarak 160 mil dari Rusia – atau tujuh menit waktu terbang menggunakan Typhoon dengan kecepatan penuh.

Saat ini empat Typhoon milik Royal Air Force (RAF) telah dikerahkan di pangkalan udara Amari di Estonia, membantu melindungi wilayah udara negara NATO dan tetangga Baltikn, Latvia dan Lithuania. Typhoon ini merupakan bagian dari ” Baltic Air Policing Mission” NATO, yang menjaga langit tiga negara Baltik anggota NATO.

Tugas mereka semakin bertambah setelah Rusia mencaplok Crimea dan menyerbu timur Ukraina pada tahun 2014, menimbulkan kekhawatiran Presiden Vladimir Putin mungkin mencoba petualangan serupa terhadap negara-negara Baltik lainnya. Di tengah meningkatnya ketegangan, pesawat tempur dan pembom Rusia rutin menyelidiki wilayah udara di sekitar Baltik sekutu NATO, menguji keterampilan dan kecepatan para pilot Inggris.

Para pilot Inggris sebenarnya sudah terbiasa berada di tim “Quick Reaction Alert“ di Inggris, menjaga langit dari penyusup tak dikenal. Tapi situasi di Estonia – tepat di sebelah Rusia memiliki tantangan yang jauh lebih besar.

Sejak tiba pada bulan April, para pilot skuadron II telah melakukan 19 kali mengintersep 40 pesawat Rusia. Berbeda saat di Inggris, dimana mereka melakukan kurang dari lima intersep selama tahun 2016 yang sebagian besar adalah pesawat sipil yang kesulitan atau kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara. Atau jika mereka menemukan pesawat Rusia, mungkin hanya pembom atau pesawat mata-mata, bukan pesawat tempur Rusia yang paling berbahaya karena tidak memiliki jangkauan untuk mendekati Inggris.

Tapi di Estonia, pilot Inggris hampir selalu bertemu dengan pesawat tempur Rusia, dimana Typhoon kadang menghadapi pesawat tempur terbaik Rusia, seperti Su-27 Flankers.

Para pilot pun bercerita selama periode tegang dimana pilot komandan Elliott dan wingman bergegas melompat setelah mendengar Alarm. “Bandara Amari sibuk pada hari itu sehingga kami harus take off di landasan pacu 06, “ingat Elliott.

“Kami mengejar dan datang dari arah ekor pesawat yang ternyata adalah ‘Cub’ ” yang dalam istilah NATO berarti pesawat angkut militer Rusia. “Kami mencegatnya, kami kemudian mengambil gambar dan mengawalnya. ”

Saat ia sedang terbang bersama ‘Cub’ pesan lain datang melalui radio, ada “bandit” – pesawat tak dikenal yang meninggalkan daerah kantong Rusia Kaliningrad ke selatan. Para pilot Inggris diperintahkan untuk menyelidikinya.

Meninggalkan pesawat Rusia di belakang, mereka mencegat pesawat transport militer Rusia lain yang diberi codename NATO sebagai Candid. “Intinya kami hanya membayanginya,” kata komandan Elliott.

Pada saat itu, “bandit” ketiga terdeteksi pada ketinggian tinggi dan Topan sekali lagi menuju ke arahnya, yang ternyata adalah ‘Curl’ yang berarti pesawat angkut Rusia.

Setelah mengidentifikasi ketiga bandit yang juga dikenal sebagai “zombie”, mengambil foto dan menetapkan ketiga pesawat tidak menimbulkan ancaman, para pilot Inggris kembali ke pangkalan Amari.

Ini ternyata menjadi misi rutin, tapi pilot Elliott, komandan Squadron II, menekankan bagaimana para pilot tak yakin insiden semacam ini akan berakhir.

Atau di lain waktu para pilot Skuadron II akan menemukan ancaman yang lebih berbahaya dari para “bandit” Rusia, termasuk formasi empat pesawat tempur Su-27 Flankers mengawal satu pesawat ‘Coot’.

Para pilot Inggris dengan didukung panduan dari kontrol darat melakukan intersepsi khusus, Para pilot masih ingat reaksi mereka.

“Pada saat itu, kami dengan dua Typhoon dikelilingi oleh pesawat tempur superioritas udara,” katanya. “Dan aku berpikir ‘wow’.” Dan dari semua intersepsi akhirnya berakhir tanpa insiden.

Bagikan:
 Posted by on Agustus 28, 2016