Des 052014
 

Kajian mengenai industri strategis kini kembali mengemuka seiring dengan definisi lama yang menyebutkan bahwa industri strategis hanya mencakup sejumlah industri yang memiliki kandungan teknologi tinggi, seperti sektor persenjataan, kapal, bahan peledak, pesawat terbang, dan elektronika.

Padahal di era kekinian, di mana nilai pertumbuhan ekonomi dapat dipengaruhi berbagai sektor industri, maka redefinisi industri strategis mutlak diperlukan.

Pasalnya, industri kreatif pun saat ini bisa berdekatan dengan teknologi, cepat berinovasi, dan memberikan nilai tambah ekonomi yang kuat bagi sebuah negara. Begitu pun dengan domain industri yang berbasis pada kekayaan hayati dan geologis yang bersumber dari daratan dan lautan. Namun, seraya tidak ingin terjebak pada pemakaian istilah, ada baiknya jika publik mengamati perkembangan sektor teknologi kedirgantaraan nasional.

Perhatian ini menjadi satu isu menarik, terlebih dengan munculnya Road Map Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional/Lapan) yang ingin merealisasikan visinya menjadi pusat unggulan di bidang teknologi roket yang maju dan mandiri. Lembaga nonkementerian ini juga berupaya ingin menjadi pusat rujukan teknologi penerbangan. Karena itu, tak berlebihan bila Lapan punya kemauan kuat supaya bisa mengirimkan roket sendiri ke antariksa pada 2039.

Target ini bukan sebuah khayalan semata jika pemerintah punya kehendak politik untuk terus mendukung, baik secara pembiayaan maupun pemberdayaan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang ini. Dalam beberapa tahun ini, melalui Lapan sebagai salah satu industri strategis nasional, teknologi kedirgantaraan terbukti mengalami perkembangan signifikan.

Setelah penantian selama 10 tahun, akhirnya Lapan lewat Pusat Teknologi Penerbangan mengembangkan pesawat perintis N-219. “PTDI menjual ide N-219 kepada Lapan dan akhirnya pemerintah memberikan dana,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat peresmian First Cutting Detail Part Manufacturing N-219, Selasa, beberapa waktu lalu di Hanggar Produksi KP II (Area Mesin Quaser 3 Axis) PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung.

Demi pengembangan pesawat N-219, Lapan mengucurkan dana senilai Rp390 miliar. Tahun ini ada dana besar dari Lapan sekitarRp300miliar, dantahun2015akan ada dana Rp90 miliar lebih. Dana tersebut akan menghasilkan dua pesawat N-219. Diprediksi pembangunan pesawat ini akan selesai tahun depan, tepat pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 10 Agustus 2015.

“Ada empat bidang utama Lapan, yaitu pengindraan jauh, teknologi dirgantara, sains antariksa, dan kebijakan dirgantara. Untuk mendukung kerjakerja ini, Lapan butuh dorongan maksimal dari pemerintah agar industri strategis ini bisa kembali bangkit dan terus melakukan inovasi,” tutur Thomas.

Prestasi Lapan dalam beberapa tahun ini bukan hanya melakukan pengembangan pesawat N-219, melainkan juga mendorong disahkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Dengan UU ini diharapkan bisa menjadi landasan hukum bagi setiap langkah mengembangkan dan mengoperasionalkan keantariksaan dan peningkatan penguasaan teknologi Indonesia.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan Jasyanto mengatakan, sebagai lembaga strategis yang melakukan pengkajian dan penelitian teknologi kedirgantaraan dan keantariksaan, Lapan membutuhkan dana yang lebih besar agar kerja-kerja penelitian bisa lebih maksimal. Selama ini terus terjadi pemotongan anggaran untuk Lapan, padahal sektor ini butuh dana yang besar untuk pengembangan teknologi kedirgantaraan secara berkelanjutan.

“Tahun-tahun kemarin anggaran yang diterima Lapan berkisar Rp600 miliar- 700 miliar untuk penelitian, dana ini dirasa kurang terlebih kita punya target yang besar menjadi pusat rujukan teknologi kedirgantaraan,” jelas Jasyanto kepada KORAN SINDO kemarin. Tahun lalu Lapan juga mengembangkan pesawat baru, Lapan Surveillance Aircraft (LSA).

Pesawat dua awak ini memiliki fungsi untuk memotret wilayah Indonesia yang relatif besar. Pengembangan pesawat pengamatan ini sekaligusmembuktikanpenguasaanteknologi pesawat terbang di Indonesia. LSA ditargetkan beroperasi secara penuh pada 2015, sementara akhir 2013 lalu penerbangan perdana secara resmi telah dilakukan Lapan.
Mengenai pengembangan pesawat pengintai ini, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai, meski keberhasilan Lapan patut diapresiasi dan dibanggakan, kondisi pesawat tersebut belum secara detail terjelaskan apa dan bagaimana kemampuan pesawat tersebut.

“Apakah peralatan yang dibawa sudah dapat dipenuhi untuk disebut sebagai pesawat pengintai. Kita mesti kembalikan dulu, apa yang kita harapkan dari misi pengintaian tersebut. Apakah alat yang dibawa punya kemampuan untuk data kolektor, kemampuan terbangnya bagaimana, dan sejauh mana supaya tidak terdeteksi lawan,” kritik perempuan yang biasa disapa Nuning tersebut kepada KORAN SINDO kemarin.

Meski begitu, upaya yang telah dilakukan Lapan selama ini patut diapresiasi. Terlebih lembaga ini mampu menunjukkan fungsinya sebagai salah satu industri strategis yang mampu menciptakan peralatan berteknologi canggih. Hal ini sekaligus membuktikan kemampuan sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi tak kalah dengan sumber daya manusia negara lain.

Sumber : Sindo

Bagikan:
 Posted by on Desember 5, 2014

  76 Responses to “Saatnya Bangkitkan Industri Berteknologi Canggih”

  1.  

    Wooyy jumatan wooyy

  2.  

    Ada foto pembuatan N219 di hangar gak yaa ?

  3.  

    Pertamax,ditinggal sholat jum’at dulu,

  4.  

    Semoga hasil penelitian dan pengembangan teknologi dari LAPAN serta dukungan dana dari pemerintah membuat LAPAN semakin berjaya…

  5.  

    Apakah LAPAN bekerjasama dengan PT. DI dan PT Ragio Aviasi Industri (RAI) ataukah mempunyai program kerja sendiri yg berbeda dalam hal pembuatan pesawat2 sipil (komersil) maupun militer di Indonesia?… Mohon pencerahannya!

  6.  

    Juma’atan Dulu…..

  7.  

    Lembaga nonkementerian ini juga berupaya ingin menjadi pusat rujukan teknologi penerbangan. Karena itu, tak berlebihan bila Lapan punya kemauan kuat supaya bisa mengirimkan roket sendiri ke antariksa pada 2039.@ terlalu lama, seharusnya lapan bisa di 2025 untuk mengirimkan roketnya sendiri, di mulai dari sekarang, kalo 2039 berarti 24 tahun kemudian dan itupun kalo tidak mlorot sangat lama bener sangat lama targetnya, ada baiknya lapan di rombak sistem managament, dan para ahli perlu penambahan agar 10 tahun kedepan sudah bisa kirim roket sendiri ke antariksa

    •  

      Mungkin bisa bung lebih cepat! yaitu dgn riset dan percobaan rutin beberapa kali setiap bulannya oleh para tim ahli yg qualified s/d benar2 diketemukan apa yg menjadi kebutuhan penerbangan kita sekarang dan utk masa2 yad, namun hanya tinggal kebijakan pemerintah kita, apakah mau dan mampu menyediakan/mengalokasikan anggaran khusus untuk itu semua ?

  8.  

    boleh boleh mantap ngana pe poco poco

  9.  

    Yang menjadi kendala dlm produksi bermacam-macam peralatan adalah lemahnya penguasaan & riset teknologi material, baik material dasar, logam paduan, smp komposit non metal,,dulu kebayang untuk roket jarak menengah pasti terkendala elektronika kendali, tabung roket & nozzle pembakaran (kunci memperoleh energi kinetik saat hsl pembakaran hrs keluar cepat),,,utk elektronika sdh terpecahkan, tabung roket sdh relatif bagus (lumayan stabil luncurannya),,nahh Nozzle ini yg hrs tahan temperatur tnggi bs lbh dr 1500 celcius hrs diriset “ramuannya”. Negara lain gak bakal mau berbagi rahasia Kunci bagian propulsi ini..Kawan2, handai toulan yg bisa urun rembuk teknologi nozzle & materialnya sangat dibutuhkan ibu pertiwi..

  10.  

    syukurlah dg dana 800M sdh jadi 2 prototype N219 tinggal test trus siap produksi … cukup ekonomis neh.
    cuma mo kritik aja soal birokrasi … tanpa mengecilkan peran Lapan … apa bisa sebaiknya dana RnD utk bidang pesawat diberikan langsung ke PTDI, biar lbh cepat operate nya, toh 100% produksi dilaksanakan di pabrik PTDI, mungkin bung Jalo bisa info …

    •  

      Itu kan PT DI, Lapan dan sejumlah sub-kon yg kerjakan. Kalau PT DI, akan jadi bebean hutang yg akan terus gentayangan di otak manajemen PT DI. KARI badan antariksa Korea aja melakukan pendesainan hingga prototipe untuk KAI.

  11.  

    prof…???

  12.  

    gambar1, kok roketnya di iket-iket gitu takut ilang apa gimana?

  13.  

    Menentukan tanggal 1 qomariah saja LAPAN kesusahan, ini mau menyelesaikan roket ke bulan? #mikir

  14.  

    Melihat sifat anda aja, saya rasa bangsa ini akan susah untuk maju.

  15.  

    Roket RX 550 uji LUNCUR nya kapan y..??

  16.  

    prof sembelit bnyak nyocot loh

  17.  

    Sebenarnya gak perlu nunggu sampai 2039 sih. berita ini disatu sisi saya melihatnya hanya disinformasi sj. sebenarnya menurut saya 5 taon jg udh kelar. dan Indonesia sdh sanggup ngeluncurin satelit ke orbital. Masalahnya selain dari sisi teknologi dan anggaran yg msh kurang dan sebenarnya sdh bisa di selaikan dlm 5 tahun yg saya katakan. perlu jg di lihat sisi politisnya yg gak jg kalah ribetnya. negara2 yg paranoid dgn kemajuan Indonesia dibidang strategis sprt hal ini, akan bersiap dgn dan berupaya membanting Indonesia lg agar terpuruk. ingat settingan setiap Indonesia kelihataan lbh maju dari negara sekitar, maka selalu ada hambatan sprt kerusuhan disetiap daerah2 dan politik tingkat atas. ingat CN250 ? ingat Roket kartika yg menggebu2 dijaman orla dan letoy di jaman orba ? Saya pikir thn 2039 itu hanya disinformasi saja, agar negara2 sekitar tdk lgsg dagdigdug jikalau LAPAN mengumumkan lima tahun kedepan Indonesia sdh dapat meluncurkan Satelit ke angkasa. dan itu artinya lonceng siaga negara2 kawasan smkn berdentang kencang krn roket yg sdh mampu keluar angkasa sdh sama saja kita sdh sanggup membuat missil balistik. 😉
    Salam..

    •  

      I like u coment bung

    •  

      analisanya bung Pedro Baretta kereen dan saya setuju dengan pendapatnyaa..

    •  

      Saya pun Juga …. Koment Iike ,
      ga ada bahasan dsini selain kasih Saran Untuk New comer ….

      g usah bahas ini dan itu , akhirnya bahasannya ga nyambung

      mau jadi Jago koment dsini silakan , asal Lulus anda membaca postingan Warjag 2 tahun sebelumnya
      karena setiap issue YAD , banyak ulasan prediksi -prediksi dari postingan rekan-2 sebelumnya

      Mending Silent reader … tapi hebat Ilmunya

    •  

      Kenapa selalu menyalahkan pihak lain setiap kali gagal? bukannya lebih baik introspeksi diri, kalau pola pikirnya seperti itu kita justru tidak akan pernah sukses, ciri-ciri orang gagal salah satunya pola pikirnya seperti bung pedro baretta.

      •  

        Sebenernya ane plg males nanggapi komen dgn nick odong2 kayak begini. kelihatan kalau ini org gak PD dan bertanggung jwb. pake dong nick asli ente, mari kita adu argumen bermutu bung? sekarang ane mau tau, dimana kegagalan CN250 sewaktu pemerintah orba mengumumkan tahapan repelita tahap akhir, yakni tahapan lepas landas dgn icon nya pesawat CN250 gatot koco yg mengudara dan sdh sangat laik terbang. trs dimana anda bilang gagalnya itu teknologi pesawat? selain campur tangan asing yg membuat krisis ekonomi dgn menjadiakan sang jagoan kapitalis liberal Mr george soross aktor yg membanting Indonesia menjadi terpuruk sampai akhirnya memporak porandakan konsep Lepas landas 50 tahun Indonesia merdeka yg digagas orba. begitu jg dgn nasib roket kartika yg sdh terbang bahkan lbh baik dibanding roket LAPAN yg sekarang, kenapa kita harus merayap lg jk dulu saja kita sdh menerbangkan roket ke angkasa? silahkan jawab kenapa bung ? Selain negara2 paranoid trs siapa lg yg bisa mengoyang perekonomian dan keamanan suatu negara selain Intelegen dari negara lain? silahkan dibabarkan pencerahannya dari yg ngaku intelek… ane masih primitip2 dlm soal ini 😛

  18.  

    bung PB benar, kadang kita hanya berfikir pendek tanpa mengetahui tujuan pemberitaan berkaitan dengan tetangga kita. Hubungan antar negara ga bisa disamakan dengan bertentangga. maaf klo salah

  19.  

    enaknya di jkgr gini nih….. bisa menilai dri berbagai sisi tpi tetep adem. bung pedro siip, prof berfikirnya out of the box. he he he mengolah pendapat 2 orang ni sudah dapat ilmu.

  20.  

    mending kita ibaratkan saja seperti padi d sawah coz semakin berisi semakin menanduk itulah bumnis kita mending kita santai,lihat & diam yakin pasti kedepanx sesuai cita2 pemenuhan alutsista dalam negri,gmn sesepuh jktgr ada yg mau nambahin g…???nkri harga mati….

  21.  

    ups maaf salah ketik bukan menanduk tapi merunduk hehehe…maaf oot

  22.  

    Jika 5 thn mngkin wajar,tp jk 2039 kwkwkwkwkwk alamat pr ahli kita tdk bekerja dgn maksimal,sya stuju dgn coment bung pedro dan juga profesor,,silent lg aja

    •  

      Sma2 bung profesor,,dan slm kenal buat smua warga jkgr

    •  

      Mungkin lebih baik bandingkan anggaran dan SDM Indonesia dengan negara lain contoh Malaysia. Untuk Bidang Propulsi, saya contohin dengan Taiwan, di kita yg bisa cuman 2 orang sisanya sedang dalam proses. Kalau diTaiwan ada 200 orang tenaga ahli di bidang ini, lalu anggaran mereka 150 kali lipat anggaran kita. Tanyakan kenapa?

      Setidaknya optimis itu masih ada, sekali-kali baca buku Von Braun Van Java, biar tahu permasalahan yg terjadi di negara kita.

  23.  

    Semua butuh proses, iya. 24 tahun dengan pencapaian roket antariksa, terlalu lama memang. Coba lihat AS dan Rusia. Memang pengembangannya berdasarkan penelitian Jerman. Tapi tetap saja lebih cepat.
    Mengambil pelajaran dari AS dan Rusia, maka harus ada bbrp hal sbb:
    1. Kemauan
    2. Dukungan nyata
    3. Manajemen yang efisien
    Nah, 2 hal terakhir ini sebenarnya yang mjd masalah. Dukungannya masih setengah-setengah. Sementara manajemennya masih berbasis birokrasi yang lambat dan tak terarah. Mau tak mau 24 tahun adalah target realistis.
    Menurut saya, metode Pak Habibie sebenarnya manjur untuk melakukan lompatan teknologi. Sayangnya, ujung akhir PT DI adalah pesawat propeler berbadan tambun. Maka jangan berharap ada pengembangan mesin turbojet sampai ramjet. Begitu pula dengan LAPAN. Jika ujung akhir yang ingin dicapai ‘hanya’ meluncurkan satelit, perusahaan swasta di AS sudah melakukannya tanpa perlu waktu 24 tahun lamanya.
    Satu hal lagi yang perlu dikritisi. Konvergensi. Masing-masing bekerja mengerjakan produk yang mirip atau hampir sama secara fungsi tapi berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing bikin drone, bikin LSU/LSA, bikin PTA. Mengapa tidak dikonvergensikan saja? Mengapa tidak bekerja untuk satu frame yg sama? Mengapa tidak bekerjasama berdasarkan standar yang sama? Arah yang sama? Dan saling mengisi satu sama lain?
    Ibarat mau menyejahterakan rakyat, bikin kartu macam-macam, fungsinya beda-beda. Mengapa tidak gunakan e-KTP saja? Biki e-KTP yang sekaligus punya fungsi spt kartu ATM, plus kartu kredit, juga kartu jaminan sosial. Jangan bilangnya e-KTP tapi gak ada fungsinya sama sekali, tetap saja kemana-mana difotokopi. Akhirnya diperiksa KPK. Benar ada yang bilang, orde kartu. Edun!
    *maap, nggladrah..

    •  

      Benar yg anda sampaikan bung..!
      Semoga sj Indonesia ini banyak pikirannya terbuka dan smart sprt anda, saya optimis Indonesia dalam 5 tahun pasti maju pesat. 😉
      Salam..

    •  

      pendapat orang mungkin beda2 bung- ini pendapat saya
      1- mungkin persero A kembangkan model a dengan prototype yang dibeli dari negara A
      2- mungkin persero B kembangkan model b dengan prototype TOT dari negara B
      3- mungkin persero C kembangkan model dari dalam negri
      dst

      bila dilihat itu hamir sama proyek ss1 pindad dulu kita bung
      jgn kawatir nanti ujungya meyatu dan hasil luarbiasa

    •  

      Bung Averosis, saya mau batasi di konteks pesawat propeller. Saya lihat bahwa untuk pesawat jet atau pengembangannya, bisa saja ahli di sini riset dan mengembangkan pesawat semacam itu. Tapi kalau dilihat perkembangan terakhir, Pak Habibie pun lebih memilih semacam kompromi, yakni mengembangkan R-80. Yang saya ikuti berbagai artikel tentang R-80, teknologi di situ juga terus berkembang, dan menilik kesuksesan ATR70, maka prediksi Pak Habibie di tahun 90-an tentang pasar pesawat komuter propeller terbukti.
      Jadi rasanya letaknya bukan di bisa atau tidak secara teknologi, tapi juga memasukkan pertimbangan bisnis. Artinya, pesawat yang dibuat beserta semua biaya pengembangannya harus bisa dibiayai oleh hasil produksinya.
      Terakhir kabar PTDI berniat mengembangkan N2140 yang dikatakan mempunyai kecepatan terbang mendekati pesawat subsonik tapi dengan bahan bakar yang lebih hemat dan kebisingan yang bisa ditekan dengan teknologi tertentu, maka itu juga sinyal bahwa bisa jadi pesawat propeller ternyata bisa menjadi tambang emas penghasilan. Saya bayangkan jika itu benar terwujud, kita bisa menjadi salah satu raja pesawat propeller yang ternyata sama handalnya, sama amannya, sama nyamannya dengan pesawat Boeing 737 tapi lebih efisien karena lebih hemat bahan bakar dan lebih murah perawatannya. Jadi ini masalah pilihan prioritas. Sembari mendulang uang dari pesawat propeller kita menjalankan pengembangan pesawat jet yang murah biaya operasinya. imho.

    •  

      Kemudian tentang meluncurkan satelit. Coba dilihat lagi berapa biaya pembuatan dan peluncuran satelit, tinggi sekali. Juga manfaat satelit, amat luas. Jika Lapan dan perusahaan lain di Indonesia bisa menjadi salah satu pemain pembuatan dan peluncuran satelit, kita akan bisa juga melangkah ke yang lebih jauh sekaligus mendapat pemasukan yang signifikan. Sebenarnya model pengembangan SS2 Pindad bisa jadi contoh mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan dan berpotensi menjadi tambang emas penghasilan. Road map begini bisa diterapkan juga untuk bidang antariksa. Misalnya rencana Lapan mengembangkan satelit mikro atau satelit kecil dengan sensor SAR, bisa jadi menjadi produk andalan yang akan sangat berguna bagi pemanfaatannya secara langsung, untuk menjadi proses belajar yang efektif dan efisien ke arah satelit besar, dan untuk menghasilkan pendapatan. imho.

  24.  

    LAPAN wajib belajar dari pengalaman negara lain, dengan belajar dari pengalaman orang lain kita jadi bisa menghemat waktu karena kita nggak perlu pengalami masalah yang sama, kalau cara berpikirnya orang-orang lapan kayak gitu sampai kiamat kayaknya kita baru bisa bikin roket peluncur sattelit, sekarang saja cina sudah bisa bikin stasiun luar angkasa, Amerika sudah mau bikin koloni di Mars, lah lapan bikin nozzle supaya nggak meleleh aja belum becus, kita harus licik, kalau nggak licik kita tidak akan pernah bisa seperti cina apa lagi mamarika.

  25.  

    jangan hanya bisa mencela bung,..
    selama ini apa sumbangsih anda. untuk negara tercinta kita ini?? sudahlah berikan kesempatan untuk para insinyur dan profesor negara kita bekerja,…

  26.  

    diliat dr program LAPAN, mungkin terlalu banyak yg mau & akan dilakukan.
    Apa tidak bisa difokus ke program (misalkan roket & satelit) yg benar2 dibutuhkan oleh negara dgn melihat situasi ancaman kedaulatan.

    •  

      Sesuai namanya ada unsur penerbangan. Jadi Lapan memang sudah sesuai mengembangkan penerbangan. Polanya Lapan sebagai lembaga riset, dana riset pengembangannnya dipegang Lapan. Nanti hasilnya dikerjakan oleh PTDI, supaya PTDI sebagai perusahaan tidak terbebani biaya pengembangan. Jadi kemampuan pengembangan didapat (kolaborasi Lapan dan tenaga ahli PTDI) juga manfaat bisnis (PTDI). imho

  27.  

    ijin nyimak…!!!

    ada yg bisa d tau ada juga d simpan rapat2 memding diam & cukup tau aj…

  28.  

    Buat info aja, tanggal 20-an besok Lapan akan menguji terbang salah satu roket besar. Mari kita doain bersama-sama semoga berjalan lancar ya, amieen…

    •  

      Amien bung..
      Setelah program roket berhasil, tinggal tugas pemerintah menjaga dgn baik pertumbuhan ekonomi dibarengi penegakan hukum agar situasi menjadi kondusip dan itu akan membuat para antek2 asing dan inteligen mrk sulit mengoyang indonesia kembali terpuruk dan satu hal yg paling penting ttp selalu menjaga persatuan agar tdk dapat diadu domba pihak2 yg ingin Indonesia ini ttp lemah dan mdh di intervensi negara lain.
      Salam bung Jalo.. 😉

  29.  

    untuk bung jalo usa pernah modifikasi f 16 mjd tanpa awak, kira2 ilmuwan2 kita bisa modifikasi pesawat yg hampir digrounded utk di jadikan pesawat tanpa awak kaya usa? salam kenal

    •  

      Itu pernah kita bahas bung manut. Sampai sekarang tim lapan masih belajar di jerman untuk masalah autonomos pesawat terbang. Rencananya ilmu ini akan diterapkan di pesawat LSA seperti yg dilkakukan Safran pada pesawat stemme 15. Kalau nantinya tim lapan berhasil menerapkan di pesawat LSA, saya yakin kita bisa. Tapi membutuhkan waktu untuk merealisasikan itu

  30.  

    Bung Jalo, bisakah program pembuatan UAV ini disinergikan antar lembaga dan antara lembaga dengan kalangan industri? Selama ini bahkan antar lembaga saja berjalan sendiri-sendiri. Padahal jika bisa bekerja sama dengan industri, tentu akan lebih baik. Misalnya untuk komponen. Industri punya standar dan alat produksinya. Sehingga UAV bs diproduksi dalam jumlah besar dan cepat serta harga menjadi murah. Juga masalah biaya, bisa saja turut disokong oleh industri, sehingga beban biaya R&D bisa ditanggung bersama.
    Saya juga teringat bagaimana Jerman dulu sebelum PD2 menyiapkan industrinya untuk menjadi industri pembuat alutsista dengan segera setiap saat jika dibutuhkan.

  31.  

    jadi teringat diskusi seru dimana salah satu sumber berkata tentang r-han 122 yang aslinya dari penelitian rkn yang gagal pleh lapan kemudian diambil tni menjadi mlrs kaliber tunggal sprt grad

    ia justru curhat ttg manajemen penelitian roket lapan yang serampangan yang tdk punya visi-misi yang jelas. ada contoh suatu roket yg dibangun oleh sebuah tim yang berhasil mencapai ketinggian tertentu di atmosfir yang terjadi justru menjadi rebutan tim penelitian lain dengan input & tujuan maunya sesuai ego masing2. ada yang minta ukuran roket diperbesar, ada yang minta penambahan beban tertentu dll yang membuat perkembangan riset roket lapan menjadi pemberontakan. istilah beliau ambisi tinggi kemampuan kurang

    rx230 & rx330 yang belum jelas progressnya malahan menurut beliau datanya justru diambil alih oleh tni mengembangkan mlrs multi kaliber sprt astros & himars kini malahan lapan akan membangun rx450 memulai riset dari nol

    ada bbrp hal yang membuat kami tercengang & bingung buruknya manajemen riset di lapan. akankan lapan membutuhkan reformasi??!!

  32.  

    Assalamualaikum wr.wb.
    lebih baik yang pertama adalah program satelit nasional.
    karena ini mendesak, dulu memang kita punya satelit tapi entah kenapa tiba-tiba hilang :mrgreen:

  33.  

    ambil alih aja prof… prof kan hebat hehehehe

  34.  

    SAYANG
    kami telah menerima rincian akun Anda dan Anda dapat pergi ke depan dan mengirim uang untuk pendaftaran Anda dan membuat pastikan Anda mendapatkan kembali kepada kami dengan memindai salinan barat slip pembayaran serikat
    salam
      mrs shakirat usani

 Leave a Reply