Saatnya Kedalaman Laut Indonesia Diteliti

Dok. Aceh Pasca-Tsunami (AusAID)

Jakarta – Ekspedisi Indonesia Prima (Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis) 2017 merupakan ekspedisi yang pertama kalinya dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk meneliti di kedalaman laut.

“Penelitian di bawah laut kedalaman itu baru juga sama sekali bagi kita,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya usai melepas ekspedisi di Dermaga Perikanan Muara Baru di Jakarta, Senin.

Andi menjelaskan perbedaan yang sangat konkret antara ekspedisi Indonesia Prima yang pertama dan kedua pada 2015 dan 2016 adalah hanya mengamati permukaan dan di atas misalnya terkait konsentrasi karbon di atmosfer, perubahan temperatur di permukaan serta keadaan curah hujan dan lainnya.

Sementara ekspedisi kali ini melakukan penelitian di dalam laut terutama untuk meneliti sesar (patahan) baru misalnya seperti patahan yang memicu gempa bumi di Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Desember 2016.

“Contoh yang paling konkret dalam gempa bumi ini kita harus memetakan sesar yang baru. Dengan fasilitas yang ada di Baruna Jaya VIII ecosounder kita bisa memetakan aktivitas dan fenomena laut sampai pada 7.000 meter di dalam laut,” tambah Andi.

Dia menjelaskan anggaran untuk ekspedisi kali ini mencapai Rp5 miliar untuk melakukan berbagai kegiatan seperti perawatan dan pembaruan buoy/mooring laut ATLAS yang merupakan bagian dari Program Penelitian RAMA (Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction) dengan memasang rangkaian buoy mooring laut dalam.

Dari ekspedisi kemaritiman tersebut diharapkan dapat diperloleh data-data kelautan yang nantinya berguna untuk mengkaji fenomena cuaca dan iklim yang kerap berdampak bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Seperti Fenomena El-Nino and Southern Oscillation (ENSO) di Kawasan Pasifik dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia sangat berperan pengaruhnya dalam mewarnai iklim wilayah Indonesia.

Bagi Indonesia, Indonesia Prima merupakan salah satu dari tiga program utama yang menjadi prioritas agenda pembangunan kemaritiman, yakni observasi laut.

Ekspedisi kelautan itu digelar bersama oleh BMKG, LIPI dan badan cuaca Amerika NOAA yang akan berlangsung sejak 20 Februari hingga 16 Maret 2017 menempuh dua rute, yaitu mulai dari Jakarta, Samudera Hindia, Sabang dan rute Sabang, Pidie, Selat Malaka Jakarta.

Kegiatan ini akan dilengkapi dengan open ship dan miniworkshop yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum pada saat kapal bersandar di Sabang.

Indonesia Prima 2017 merupakan kelanjutan dari misi sebelumnya kerja sama sains dan teknologi kelautan bersama dengan Amerika yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir.

Pada Ekspedisi kali ini, BMKG-NOAA-LIPI menggunakan kapal Baruna Jaya VIII akan membawa tiga pakar kelautan NOAA, 25 personil/peneliti BMKG dan P2O LIPI, dan 23 kru kapal dan teknisi.

Antara

Tinggalkan komentar