Mar 282019
 

Salvo pencegat rudal berbasis darat (GBI) untuk menjatuhkan ICBM © MDA via Defense News

JakartaGreater.com – Badan Pertahanan Rudal (MDA) menganggap tes salvo pertama yang dilakukan hari ini dari sistem pertahanan rudal tanah air-nya terhadap ancaman rudal balistik antarbenua berhasil, seperti dilansir dari laman Defense News.

MDA terakhir kali menguji Ground-Based Midcourse Defense System (GMD) Ground-Based Interceptors (GBI) dalam uji penuh terhadap target ICBM pada bulan Mei 2017.

Pada saat itu, direktur MDA mengatakan bahwa agensi selanjutnya melaksanakan uji coba penembakan untuk melakukan tes salvo yang lebih kompleks yang melibatkan dua GBI terhadap ICBM karena menembakkan dua GBI terhadap satu target lebih realistis secara operasional dan penting dalam membuktikan efektivitas sistem secara keseluruhan.

Dalam pengujian tersebut, GBI pertama menghancurkan kendaraan masuk kembali ICBM “seperti yang dirancang untuk dilakukan”, menurut pernyataan MDA. GBI kedua “lantas mencari puing-puing yang dihasilkan dan objek yang tersisa, tak menemukan kendaraan masuk kembali (MIRV), lalu itu memilih objek paling mematikan berikutnya yang dapat diidentifikasi, persis seperti yang telah dirancang untuk dilakukan”, sebut pernyataan itu.

Rudal balistik antar-benua (ICBM) mobile, Dongfeng-41 (DF-41, CSS-X-10) © USS Defense News Youtube

Target ICBM diluncurkan dari Reagan Test Site di Kwajalein Atoll di Kepulauan Marshall, yang berjarak lebih dari 4.000 mil dari pencegat GBI yang terkubur dalam silo di darat di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, California.

“Ini adalah salvo GBI pertama yang berhasil mencegat target ICBM yang kompleks yang mewakili ancaman dan itu merupakan tonggak terpenting”, menurut Direktur Jenderal MDA Angkatan Udara Letjend Samuel Greaves dalam pernyataan itu.

“Sistem pencegat bekerja persis seperti yang dirancang untuk dilakukan, dan hasil tes ini memberikan bukti penggunaan praktis dari doktrin salvo dalam pertahanan rudal. Sistem Midcourse Defense (MDS) yang berbasis di darat sangat penting bagi pertahanan tanah air  dan tes ini menunjukkan bahwa kita memiliki penangkal yang mampu dan kredibel”, kata Greaves.

Sistem lainnya yang terlibat dalam pengujian ini meliputi sensor Sistem Pertahanan Rudal Balistik berbasis ruang angkasa, darat dan laut yang menyediakan data pelacakan dan juga pelacakan ke sistem Komando, Kontrol, Manajemen Tempur dan Komunikasi (C2BMC), yang merupakan otak pertahanan rudal global.

Ballistic Missile Defense System Overview © Missile Defense Agency via Wikimedia Commons

Exo-atmospheric Kill Vehicles (EKV) dari GBI yang bermasalah di masa lalu, kini berhasil dalam pengujian. Masalah dengan pencegat EKV, yang dirancang untuk menghancurkan target dengan tabrakan berkecepatan tinggi setelah berpisah dari roket pendorong, telah mengganggu program selama bertahun-tahun. Pencegat telah gagal selama pengujian di tahun 2010 dan 2013. Bahkan selama tes bulan Juli 2013, kendaraan pembunuh gagal berpisah dari roket pendorong.

Pada bulan Juni 2014, agensi melihat bahwa tingkat keberhasilan pencegat saat itu hanya 9 dari 17 tes yang dilaksanakan. Dan pada tes lebih lanjut Mei 2017 mengisyaratkan masalah dengan EKV sebagai sesuatu dari masa lalu. Tes salvo menambah lebih percaya diri dalam kinerja EKV.

MDA mendanai kendaraan pembunuh yang dirancang kembali dan juga mengembangkan kendaraan pembunuh multi-objek yang dapat menghancurkan banyak target ancaman. GBI terakhir untuk sistem GMD, yang dirancang mempertahankan tanah air AS terhadap kemungkinan ancaman ICBM dari Korea Utara dan Iran, telah ditempatkan di Fort Greely, Alaska, pada November 2017.

Tetapi MDA meningkatkan jumlah GBI menjadi 64 dalam silo di dua bidang rudal di Fort Greely setelah menerima dana khusus untuk melakukannya pada tahun fiskal 2019. MDA meminta US $ 1,2 miliar pada tahun fiskal 2020 guna melanjutkan perluasan sistem GMD dan akan melengkapi 20 GBI dengan RKV baru.

Bagikan: