May 312014
 
 Sultan Azlan Shah

Baginda Sultan Azlan Shah, yang dipertuan negeri Perak, Malaysia

Inalillahi Wainaillaihi Raji’un:
SANG PENDAMAI ITU TELAH TIADA

Mendung hitam menggayut dan berarak di atas langit Perak. Baginda Sultan Azlan Shah, yang dipertuan negeri Perak, Malaysia, telah mangkat..!

Kami baru saja menyelesaikan sesi syuting untuk persiapan promo tour di beberapa negara Timur Tengah, yang akan kami laksanakan menjelang bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba handphone saya berdering. Bos kami yang kebetulan masih berada di Jedah, meminta konfirmasi atas berita duka yang beliau terima dari sahabatnya di lingkungan Istana Sultan Perak. Mendengar berita yang amat mengejutkan, saya langsung menghubungi kenalan saya yang selama ini menjadi penghubung antara istana dengan beberapa hotel yang berada di bawah naungan management kami. Sungguh sebuah kabar duka yang amat dalam dan terasa begitu kehilangan atas mangkatnya Sultan Azlan Shah, sosok sultan yang amat dicintai rakyatnya karena kesederhanaan, kepedulian dan kecintaannya pada segenap rakyat Perak khususnya, dan Malaysia pada umumnya. Baginda mangkat pada usia 86 tahun.

Dalam sekejap mata, isak tangis terdengar di mana-mana. Puja dan puji melantun seiring doa yang khusyuk mengiring kepergian sang pemimpin yang telah berhasil merebut segenap hati rakyatnya. Untaian kenangan indah itu seolah kembali berirama di setiap sudut dan relung hati insan-insan yang pernah mengenalnya.

Sultan Azlan Shah, adalah individu berwibawa yang berhasil membawa Perak ke dalam kelompok wilayah elit dalam lingkungan negara persekutuan Tanah Melayu. Dengan sumber daya alam melimpah yang dimiliki wilayahnya, Perak pernah mencatatkan diri sebagai daerah penghasil timah terbesar, bukan saja di Malaysia, melainkan hingga ke tingkat dunia. Tidak heran jika kemudian hampir semua negara industri terkemuka dunia menempatkan Malaysia sebagai partner penting dalam pengembangan sektor industrinya. Bagaimana tidak, meskipun sejatinya Malaysia sendiri kaya akan sumber daya migas, nyatanya pada waktu itu, Malaysia dan atau Perak pada khususnya, lebih menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertambangan timah dan perladangan getah serta sawit(perkebunan karet dan kelapa sawit).

Hal yang sebaliknya, justru ditempuh Indonesia. Walaupun memiliki luas wilayah daratan yang sangat luas dan subur, serta pernah mendeklarasikan diri sebagai negara agraris, namun pemerintah Indonesia tidak serta merta menjadikan sektor pertanian sebagai sektor andalan dalam struktur ekonomi nasionalnya. Pemerintah, di awal kepemimpinan Soeharto lebih tertarik untuk mengeruk kekayaan dari sumber daya migas yang dimilikinya. Bisa dimaklumi, karena pada saat itu kita sedang memerlukan dana yang sangat besar untuk menggenjot pembangunan nasional di berbagai bidang. Berbeda dengan Malaysia yang mewarisi struktur dan infrastruktur ekonomi yang lebih baik pasca berakhirnya era kolonialisme bangsa Inggris, kita hanya mewarisi sedikit asset milik Belanda yang teronnggok saat dinasionalisasi, beberapa institusi pendidikan tinggi yang sama sekali tidak memiliki link dengan institusi serupa di belahan bumi lain, bahkan dengan institusi pendidikan tinggi sejenis yang ada di Belanda sekalipun, sarana transportasi yang minim, serta sistem hukum dan perundangan modern Belanda yang hingga ke hari ini masih terpakai, tapi tentu saja di balik segala kekurangan tersebut, kita masih bisa mewarisi sejarah dan semangat kebangsaan yang amat tinggi dari para leluhur dan para pendiri bangsa ini.

Dengan kebijakan pemerintah yang sangat pro migas, secara tidak langsung telah mendorong Pertamina tampil sebagai institusi bisnis milik negara yang paling diandalkan dalam penyediaan anggaran dana pembangunan nasional. Jumlah cadangan minyak yang kala itu masih relatif besar, konsumsi migas domestik yang masih rendah, total lifting yang spektakuler dan harga yang stabil, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara anggota Opec yang suaranya cukup diperhitungkan. Tidak heran jika Soeharto bisa memandang masalah swasembada pangan sebagai sebuah masalah berat yang tidak terlalu memberatkan. Alih-alih memikirkan swasembada pangan, di awal kepemimpinannya, Soeharto justru memilih untuk memulainya dengan program pengendalian dan pemerataan penyebaran penduduk. Pada awal dekade 1970an, kita mulai mengenal istilah transmigrasi dan Keluarga Berencana.

Presiden ke 2 Indonesia, Soeharto sedang  makan di sebuah gubuk

Presiden ke 2 Indonesia, Soeharto sedang makan di sebuah gubuk

Mengapa Soeharto tidak langsung menekankan pada cita-cita swasembada pangannya? Ternyata pada saat itu, kita dinilai belum memiliki tradisi dan kemampuan teknologi budidaya yang mumpuni. Sebagian besar lahan pangan yang kita miliki adalah sawah tadah hujan dan atau ladang berpindah. Melihat kelemahan yang ada, Soeharto pun memanfaatkan ASEAN sebagai media kerja sama dalam bidang peningkatan penguasaan teknologi sektor agrikultur dan holtikultura. Ilmu yang diperolehnya, sebagian diadopsi ke dalam paket transmigrasi, dan sebagian lagi disebar ke berbagai daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan, dan atau memiliki potensi untuk menjadi daerah penting penghasil bahan pangan. Tidak terhitung berapa waduk telah kita bangun, pabrik pupuk didirikan dimana-mana, penelitian dan pengembangan benih dan bibit unggul semakin ditingkatkan, peningkatan kemampuan para penyuluh pertanian, industri kimia dan pestisida dengan sengaja diundang untuk datang, ternyata semuanya tidak terlepas dari faktor kedekatan hubungan antara Soeharto dengan Sultan Azlan Shah.

Soeharto yang punya latar belakang kehidupan sebagai petani, dinilai oleh Sultan Azlan Shah, sebagai sosok penting dibalik lahir dan suksesnya industrialisasi Indonesia melalui Pertaminanya. Melihat kenyataan ini, maka baginda Sultan pun terdorong untuk saling bertukar ilmu dan pengetahuan dengan Soeharto. Perlahan-lahan kedua belah pihak mulai melupakan berbagai konflik di masa lalu. Apalagi Indonesia juga belakangan diketahui berada di balik kesuksesan Malaysia dalam mengusir komunisme dari Bumi Melayu, maka Malaysia pun semakin menaruh hormat dan kepercayaan pada Indonesia. Hal ini diejawantahkan melalui bimbingan langsung para ahli dan petinggi Pertamina dalam membidani kelahiran Petronas, perusahaan migas milik Malaysia. Sementara yang kita peroleh adalah berbagai teknologi bagi pengembangan industri karet dan sawit. Adapun di sektor pertambangan, beberapa perusahaan dan tenaga ahli dari Malaysia, berkolaborasi dengan beberapa perusahaan pertambangan logam, khususnya pertambangan logam timah. Tanpa terasa, jejak persahabatan yang telah terjalin begitu panjang itu, kini telah mampu memperlihatkan wajah ekonomi kedua bangsa dengan segala keunggulan dan kekhasan yang dimilikinya. Untuk sektor migas, Petronas berhasil keluar sebagai salah satu industri migas terbesar di Asia, sementara Pertamina, meskipun baru belakangan ini mampu mencatatkan prestasi yang amat membanggakan, namun nyatanya sudah sekian lama Pertamina menjadi sebuah perusahaan besar yang tidak pernah mampu terlepas dari masalah.

Di sektor perkebunan kelapa sawit, meskipun Indonesia belum mampu menggeser posisi Malaysia sebagai eksportir produk sawit terbesar dunia, namun akhirnya kita telah mampu menjadi negara produsen CPO terbesar di dunia. Begitupun dengan komoditi karet dan timah, kita tetap mampu bertahan di papan atas antara negara-negara produsen terbesar dunia dari kedua komoditi tersebut, sedangkan angka produksi milik Malaysia, terus mengalami penurunan. Untuk produksi beras, kita sudah mampu swasembada, sedangkan Malaysia masih terus import. Bahkan demi menjaga angka produksi berasnya, pemerintah Malaysia harus mengeluarkan kebijakan, dimana pihak kerajaan bukan hanya berhak mengelola jalur distribusi, melainkan juga punya akses langsung untuk mempertahankan besaran luas lahan sawah dan ladang produktif mereka melalui skema kepemilikan penuh kerajaan. Hal yang sama sekali belum pernah saya dengar di Indonesia, dimana Departemen Pertanian menguasai sejumlah area pesawahan. Hehehe..!

Presiden ke 2 RI, Soeharto

Presiden ke 2 RI, Soeharto

Berkat kegigihan Baginda Sultan Azlan Shah pula, kini Perak tampil sebagai daerah yang paling sukses mengembangkan sistem pertanian modern di Malaysia. Hal membanggakan yang pernah saya dengar dari ungkapan sang Putra Mahkota, Dr. Nazrin Shah, bahwa semua persahawan irigasi yang dikelolanya, menggunakan management produksi ala Indonesia, yakni Panca Usaha Tani. Namun dari pengamatan di lapangan, mekanisasi ala Perak sudah menyeluruh hingga ke tahapan panen, sehingga sangat efisien, karena bisa memangkas waktu pada masa panen, kualitas gabah tetap terjaga, karena semua proses pemanenan, pengeringan dan pengemasan bisa selesai dalam waktu satu hari. Indonesia belum mengaplikasikan teknologi ini secara menyeluruh. Hal yang mendorong Malaysia untuk total dalam usaha mekanisasi sektor pertaniannya, adalah karena ketersediaan sumber daya manusia yang menggerakan sektor pertanian di Malaysia sangat minim, sehingga tanpa bantuan mesin, sektor pertanian Malaysia akan terancam punah.

Sedangkan untuk bidang pengembangan Sumber Daya Manusia, Sultan Azlan Shah sudah sejak lama mengirimkan pelajar-pelajar terbaiknya untuk melanjutkan pendidikannya di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Karena itu jangan heran, apabila anda bisa dengan mudah menemukan warga Perak yang mencantumkan gelar akademik dari Indonesia…! Sungguh sebuah keakraban yang amat tulus, walau pun seringkali mendapatkan pembalikan arus sikap dari Putrajaya yang lebih politis dan populis.

Sekarang, kedua tokoh besar dari dua negara serumpun itu telah tiada. Meski kalangan masyarakat urban Indonesia masih antipati dengan kebesaran dinasti Soeharto, namun nyatanya bagi masyarakat pedesaan, kedudukan Soeharto seakan masih belum tergantikan. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari apa yang telah mereka lakukan adalah besarnya minat yang ditunjukkan untuk memajukan sektor pertanian di negaranya masing-masing. Swasembada pangan telah dilihat sebagai sebuah tuntutan bagi setiap bangsa dan negara manapun untuk tetap eksis sebagai negara yang berdaulat dengan kadar bargaining power yang tinggi.Swasembada pangan tidak bisa dipolitisasi, melainkan harus menjadi aksi nyata bagi setiap pembuat policy, untuk menjadikannya sebagai tujuan akhir dari berbagai program yang telah dirancang dan dimiliki. Swasembada harus berakhir pada terwujudnya sebuah kesejahteraan, bukan sekedar untuk meraih sebuah penghargaan. Swasembada pangan harus mampu menjadi potret kebesaran kaum tani, agar semua bisa bangga dengan kepala tegak berdiri.

Azlan Shah dan Soeharto telah mengisi ruang kepemimpinan yang membumi, melakukan diplomasi antara dua negara dengan semangat tani yang tinggi. Selanjutnya, pemimpin yang kita nantikan adalah pemimpin yang mampu menyulam semua dimensi kekuatan yang kita miliki, agar tidak lagi terlepas dari sumbu-sumbu kekuatan yang lainnya. Ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan alutsista serta ketahanan spiritual agama dan berbangsa, harus mampu menjadi kekuatan utuh yang manunggal bagi bangsa Indonesia, demi menyongsong hari esok yang cemerlang..!

Terima kasih Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY, kalian telah membawa dan memelihara kami untuk tetap menjadi bangsa yang santun dan berbudi pekerti. Terima kasih Tuanku Baginda Sultan Azlan Shah, untuk segala kerjasama damai yang dijalinkan dengan erat. Saya tahu, semua itu tidak mudah, tapi paduka telah berani memulainya. Doa dan cinta kami mengiringi kepergian Baginda, semoga senantiasa mendapatkan kebahagiaan dan tempat yang layak di sisi-Nya. Amien. Selamat jalan dalam damai..! Al Fatihah..! Salam hangat bung..! (by: yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 31 May 2014).

  119 Responses to “SANG PENDAMAI ITU TELAH TIADA”

  1.  

    penjaga hati@ klo mmg tni merasa lbh kuat dr tentara malaysia,pertanyaannya koq mereka berani..apa mmg mereka memancing tni utk memulai peperangan/meletupkan senjata..agar dunia memandang indonesia sbg bangsa bar bar..atau bs jd tni ragu akan kekuatan malaysia sebenarnya,jgn2 malaysia punya kekuatan tersembunyi yg bs memukul habis tni..

    •  

      Tuh, meletupnya keluar….hahah, malon deteck.!

    •  

      Betul bung Frans, Malay memang mempunyai kekuatan tersembunyi… FPDA ada Ausit ada UK bisa juga UK+NATO, tanpa itu saya g yakin mereka berani berulah.
      Kemungkinan kedua adalah kalau Malay tidak membanggakan sekaligus mengandalkan kekuatan-kekuatan gerombolan penyamun tsb berarti Malay adalah negara pongah nan tak tahu diri..

  2.  

    Innalillaahi Wainaillaihi Rojiun. Artikel yg menyejukan. Sebagai orang beragama kitu harus mendoakan orang yg sudah meninggal, bukan mencaci makinya. Baik atau Buruknya Presiden ke 2, dia adalah manusia biasa yg berusaha untuk memajukan negaranya. bagai mana dengan anda! apa yg telah anda berikan untuk negeri tercinta ini. salam NKRI.

  3.  

    frans itu kayaknya orang malaysia teman teman warjager,jadi low komen di sini seenaknya..

  4.  

    Walaupun sebagian besar rakyat dari bangsa ini marahnya sdh sampai di ubun2 oleh ulah Malingshit (kasus kecurangan Sipadan-Ligitan, Ambalat, TKI, pemukulan official olah raga, penyiksaan nelayan, claim budaya, dsb, dsb), Presiden SBY msh menenangkan bangsa ini supaya sabar dan tdk mudah menyulut api peperangan (dan bagaimanapun ini adalah sikap dan tindakan Presiden yg tepat). Sekarang pertanyaan saya, adakah pemimpin2 Malingshit (tdk terkecuali Alm Sultan Azlan Shah) berjiwa dan bersikap spt pemimpin2 kita? Mereka (pemimpin2 Malingshit) saya anggap dgn sengaja melakukan pembiaran atas timbulnya kebencian bangsa ini terhadap Malingshit/Malingsia.

    Memposting Azlan Shah (alm) di JKGR ini saya anggap adalah sesuatu yg TIDAK PANTAS. Malingsia terbukti telah mencuri, mencurangi, dan melecehkan bangsa ini; jika anda tdk setuju dg kalimat saya tsb, pasti anda bukan seorang Bangsa Indonesia sejati. Apa yg berlaku terhadap bangsa dan negara ini (yg dilakukan Malingshit/Malingsia), (sedikit-banyaknya) pasti tdk terlepas oleh sikap dan tindakan para pemimpin Malingsia.

  5.  

    kawan sukro@itukan salah satu kemungkinan,msh byk kemungkinan lain(nyantai dong)..krn sdh sering terjadi insiden2 kecil tp indonesia cm berani protes keras,saya jd ingat petugas dkp yg di tangkap kemudian di tahan aparat malaysia,pemerintah cm braninya protes keras dan menghimbau agar petugas tsb di bebaskan..pdhl petugas dkp ditangkap di perairan indonesia(klaim indonesia),skrg br saya tahu klo itu yg anda maksud dgn indonesia “cerdas”,sipadan ligitan lepas jg krn “kecerdasan” indonesia,saya yakin suatu hari pasti natuna akan di ambil sm china,krn tahu indonesia itu cerdas hehe shalom,semoga TUHAN memberkati anda

    •  

      Kalaupun itu benar, toh Indonesia (Waktu itu) tidak berperang melawan Malaysit tetapi perang melawan UK, tetapi lebih tepatnya Indonesia di keroyok 3 negara. Kalaupun Indonesia gagal waktu itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Indonesia punya nyali

  6.  

    flanker bravo@maaf..mungkin saya org pertama yg tidak setuju komentar anda..sangat pantas utk mengungkap fakta hubungan masa lalu Indonesia& MALAYSIA yg terjalin baik,saling mengisi,membantu dan menghormati..malaysia mengagumi dan menghormati alm soeharto,sudah sepantasnya indonesia juga menghormati alm sultan azlan shah..klo perlu kita mengheningkan cipta dan bendera setengah tiang selama sebulan penuh..nyantai kawan(kabur ah,pasti ada yg ngamuk ni)

    •  

      Silahkan kalau anda atau masyarakat anda Malingsia mengagumi Soeharto atau siapapun dari kami (itu hak anda); tapi supaya anda tahu, tdk satupun dari kami yg mengagumi pemimpin2 anda Malingsia….tai kucing semua…pemimpin2 maling; penjilat2 pantat kaum imperialis!

    •  

      Menurut saya malay hanyalah duri dalam daging, jadi tinggal kita cabut dirinya, kan malay wilayahnya hanya sepetak, sepertinya halaman belakang kalimantan, jd malay bukanlah negara yang punya kekuatan tuk melawan tni

  7.  

    Inalillahi wainalillahi rojiun…, semoga amal baik beliau diterima disisinya, setuju soal pertanian penting…konon dua capres kita ingin memajukan sektor pertanian …semoga terbaik ditetapkan Allah SWT,
    Bener bung yayan….sepertinya dunia seperti roda berputar kdang kita di atas kadang pula di bawah, dulu kita di atas, mungkin di sektor pertanian keadaan kita tentu belum idieal dalam konteks ketahanan pangan maupun memajukan sektor pertanian.
    Dalam sektor perkebunan kelapa sawitpun sebenarnya malaysia lebih dulu belajar di sumatra utara, tapi sekarang cobalah lihat, Ndak usah jauh2 hari ini sebagian midle manajer ke atas perusahaan Kelapa Sawit banyak diisi orang malaysia (selain mungkin dominasi kepemilikan IUP/ Ijin Usaha Perkebunan sawit banyak beralih ke Perusahaan Malaysia)….hari ini mungkin kita menepuk dada total produktitas CPO nasional kita sudah melampaui malaysia namun sejatinya siapa sesungguhnya yang paling menikmati?

    Sebenarnya untuk ukuran areal Kebun kelapa Sawit dengan asumsi produktitas nasional yang masih 22 Ton/ Hektar /tahun jika bisa di tingkatkan…faktanya saya bisa mendapati IUP yang dikelola asing dengan multi source SDM (sd level manajer jg mixed) produktivitas bisa mencapai 33 Ton/Hektar/tahun dan justru capaian kinerja ini dihasilkan pada saat siklus puncak usia produktif usia tanaman sawit seharusnya menurun…..(maklum akuisisi pemodal asing baru terjadi sekitar kurang dari 4 tahun lalu)…artinya kinerja manejemen agroindustri yang handal juga mampu meningkatkan produktivitas.

    Lalu apa untungya buat kita jika produktivitas meningkat…selain sebagai faktor penggerak ekonomi daerah maupun nasional (Devisa & pajak ekspor CPO)…saya juga mengamati tingkat kesejahteraan masyarakat perkebunan kelapa sawit juga meningkat, maklun jika konsisten diterapkan regulasi Permentan yang mengatur minimal 20% IUP wajib dikelola berbasis perkebunan masyarakat (bahkan di Riu capaiin rata-ratanya sudah 40% kebun milik petani) maka tentu memberi dampak riil sember penghidupan di pedesaan. Dalam kasus perusahaan yang sama penghasilan petani mitra mencapai 10juta/kaplin/bulan (1kapling 2 Ha) bahkan tertinggi sampai 14 juta dan itu nettt setelah dipotong biaya produksi dll,……intinya kita balik ke mindset kita bagaimana kita mendapatkan nilai tambah semaksimal mungkin bagi masyarakat….., saya hanya terkesan dengan sikap sederhana pola pikir masyarakat transmigran (jawa) mereka punya pedoman 3N (telu en) yaitu, Niteni, Niru, lan Nambahi……artinya untuk suatu hal positif mereka cenderung untuk bersikap mengamati/mempelajari, meniru dan kalau bisa malah menambahkan hal-hal positif lain berdasarkan daya dukung lingkungan yang ada….

    Damai itu Indah…..NKRI harga Mati…..salam hormat bung Yayan

  8.  

    Malaysia berani klo indonesia it lemah…inget taun 2005 mereka petantang petenteng d ambalat krn mreka merasa superior dgn mesin perang mereka…sekarang berani g Malaysia kirim armada militer head to head dgn tni saat negara ini beli leopard marder caesar astross kh-178/179 yakhont kcr 40/60 pkr dll kliatan sx pda cra pandang militer mreka thp indonesia

  9.  

    Bung Yayan, yang selalu aku tunggu pencerahannya dari sudut pandang orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Memang seja era reformasi, Indonesia belum menemukan jati dirinya. Visi kebangsaan jadi tidak jelas. Berbeda sekali dengan era orde lama, dilanjutkan era orde baru dengan Visi Repelitanya. Tapi saya yakin dengan berbekal Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, bangsa Indonesia yg saat ini lagi menikmati era kebebasan yg kebablasan, akan menuju kepada era kebebasan yg berdemokrasi yg tertata. Memang saat ini budaya Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo Mbangun Karso, Tut Wuri handayani, malah muncul budaya yg negatif dari para pemimpin bangsa. Dampaknya ke bawah sangat luar biasa dasyatnya. Hukum rimba, siapa kuat siapa dapat, sopo sing iso, adigang adigung adiguno jadi budaya yang merasuki darah dan daging rakyat. Harapan rakyat, akan muncul Satrio Piningit yang akan meluruskan semua ini menuju kejayaan Indonesia Raya. Saya selalu menunggu Pencerahan Bung Yayan dari sudut pandang orang Indonesia di luar negeri, yg bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan rasa kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Salam bahagia buat Bung Yayan sekeluarga. Mohon maaf kalo mbulet, maklum bahasanya rakyat jelata penjual ayam di pasar.

  10.  

    “Pak Harto itu jasanya besar, tapi dosanya lebih besar, kita maafkan , tapi jangan lupakan kesalahannya” ~Abdurahman Wahid~ Indonesia saatnya dipimpin Generasi Ketiga, Generasi Reformasi.

  11.  

    ########### DIHAPUS ##########

    Peringatan!!!!

    Mohon komentar yg santun, tanpa merendahkan harga diribangsa Indonesia

    Admin

    •  

      Frans…,
      “kita ” ??? Saya akan lebih respek bila Anda mengaku sebagai WNA atau WNI dengan sebenar-benarnya. Bila pun Anda warga negara Malaysia, kenapa harus menutupi jati diri . Apakah Anda tidak bangga terhadap Tanah air Anda ?
      Setelah itu kita bisa lanjutkan diskusi . Terus terang saya kesulitan bagaimana diskusi dengan orang yang plin-plan , kadang ikut kelompok A dan kadang ikut kelompok B .

  12.  

    Siapapun yg menjadi president di Indonesia itu kan hanya tuntutan rakyat yg ingin mengembalikan citra rasa kepedulian terhadap rakyat yg selalu menjadi korbanya tak terbayangkan bila bawahan president yg selalu ada yg bersih dan ada yg kotor dari korupsi seakan-akan Uang yg menjadi patokan bukan Harga Diri lagi atau Moral.

    Apalagi bila suatu politik dimainkan tak ubahnya saudara seperti bukan saudara lagi.
    arti Nasionalisme NKRI dan Beraneka Ragam Budaya dan Agama Tak ubahnya menjadi korban yg sia* bila Genderang Politik sudah dimainkan, apalagi melihat media/TV* sekarang ini yg mempertontonkan antara pendukung capres yg satu dengan yg lainya seperti mau memakan satu sama lainya seolah-olah rakyat disuruh memusuhi saudaranya sendiri.

    Padahal kalau menurut silsilah Rakyat Indonesia sudah banyak belajar berbagai masalah* yg timbul baik dari jaman kerajaan,kolonial,Perjuangan,Revolusi,Reformasi dan seterusnya Apakah kita* ini sebagai keturunanya bangsa yg banyak belajar ini banyak berfikirnya seperti katak didalam tempurung dan semu serta majemuk…??

    Marilah pembesar* negara dan pemerintahan bangkitkanlah semangat juang yg dulu direbut dari waktu ke waktu oleh Nenek Moyang kita bisa dirasakan kebersamaaan untuk membangun Alutsista yg modern untuk generasi penerus bangsa yg kuat dan disegani tanpa ada perhitungan uang dan anggaran untuk membeli alutsista yg memadai bila terjadi perangpun Pemuda-Pemudinya sudah siap dengan genggaman alutsista yg Modern…

  13.  

    kawan awan@saya jelas wni sejati,klo ditanya cinta sm negri ini? Jwbnya bgt..tp pengalaman pribadi(pekerjaan) saya yg byk mengenal kawan2 dr malaysia,singapore,china,yg membuat saya memiliki byk perbedaan pandangan sm kwn2 disini..tp buat saya ga masalah,mo menyerang pribadi atau apa saya anggap itu bagian dr pembelajaran..mungkin saya keliru,tp itu manusiawi krn tdk ada manusia yg sempurna..tp kadang saya jg orgnya iseng sih,suka bikin panas hati org..hahaha

    •  

      suka bikin panas hati org itu ga baik lho bung…perbedaan pergaulan dan lingkungan akan menyebabkan perbedaan cara pandang juga…anda saat ini berkerja dimana dan bidang apa??

  14.  

    Innalillahi wa innalillahi rojiun …
    Ketika kita berjalan sesekali kita menoleh kebelakang sekedar untuk ‘introspeksi diri’ apakah sesuai dengan rencana kita. Tapi ketika berlarut-larut menoleh kebelakang itu ‘pertanda’ kita akan stagnan atau berbalik arah akan kebelakang. Kalau kita ingin maju menatap masa depan … Mari bergerak SINGSINGKAN LENGAN BAJU, kita raih mimpi kita dengan memaksimalkan peran-peran kita demi masa depan yang lebih cerah …
    Janganlah bercerai berai, ambil hal yang positif dari tiap pemimpin bangsa ini, buang hal yang negatif dari mereka.
    Tidak usah saling mencela, baik buruknya seseorang tinggal pengadilan akhirat yang menentukan.
    Kita pun belum tentu menjadi lebih baik dari orang yang kita cela, apabila ditangan kita diberikan kekuasaan, harta, wanita … dll, kekuasaan yang lama, bisa jadi kita lebih jahat.
    JAS MERAH …
    Wassalam …
    MERDEKA …!!!

  15.  

    dewa kembar@hehe mmg terlalu berlebihan jg ga baik sih..cm saya kurang sreg saja jk byk kwn2 yg terlalu berlebihan jg menghujat bangsa lain,seolah2 bangsa ini sdh sempurna,sdh hebat,tdk perlu belajar dr bangsa lain..nasionalis ok,tp tdk harus dgn mencaci maki bangsa lain,msh byk tata bahasa yg lbh santun utk memukul lawan(belajar dgn kawan satrio)..menghujat,mencaci maki,merusak/membakar simbol2 negara lain sdh menjadi pemandangan yg biasa di negri ini,tp keuntungannya japa?tdk ada,justru menambah rusak citra bangsa di mata dunia,menjadikan indonesia salah satu negara yg tdk layak/aman utk dikunjungi,byk vendor2 besar yg batal berinvestasi di negri ini..hm sampoerna(philip morris) menutup bbrp pabrik skt yg menyerap byk tenaga kerja kita,ada rencana toyota utk memindahkan pabriknya ke vietnam/thailand,sungguh menyedihkan..jgn gara2 nila setitik rusak susu sebelanga,puji tuhan msh banyak warga negara indonesia yg memiliki budi pekerti dan menghargai perbedaan..hub dagang dan ekonomi yg baik di tingkat masyarakat seperti antar warga m’sia-s’pore-indonesia-thai dll adlh bukti bahwa mereka tidak terpengaruh dgn hasutan2 yg mengajak utk saling bermusuhan,sbg pelaku psr rasa saling membutuhkan dan saling menghargai antar bangsa itu yg paling penting buat saya dan org2 yg berfikiran sama dgn saya..
    tak mungkin memaksakan kehendak bahwa musuhku adlh musuhmu..musuhmu adlh musuhku..shalom GBU

  16.  

    Membaca tulisan bung yayan bagi saya benar benar bermakna untuk saya pribadi, saya pernah 2,5 th tinggal di malaysia, nomaden di kl dan d’heaven di klang.. selain sangat mengandung makna dan pesan yg sangat tinggi tulisan2 anda yg saya baca selama ini benar2 membuka memori saya seperti tampak nyata didepan mata saat membaca nya.. jalan2 di bukit aman sampai pinggiran jalan pudu raya sampai ke pasar caukit, simpang udang bahkan jalan menuju batas sampai karen nampak nyata.. saya ucapkan terimakasih untuk tulisan2 anda, semoga anda bisa terus menulis dan menginspirasi seluruh anak bangsa agar makin mencintai negara REPUBLIK INDONESIA.. salam hangat dari saya untuk anda dan keluarga semoga tetap lancar dan sukses selama bertugas disana..

    Salam NKRI..
    Merdeka!!!!!!

 Leave a Reply