Sarah al-Amiri dan Kisah Sukses Wahana UEA Mencapai Mars

Ketika misi wahana antariksa tanpa awak Uni Emirat Arab Al Amal (Hope) menuju Mars diluncurkan di Pusat Antariksa Tanegashima, Jepang, pada 20 Juli 2020, Sarah Al Amiri seketika menjadi pusat perhatian dunia.

Jakarta – Dalam webinar yang diadakan Laboratorium Atmosferik dan Fisika Ruang Angkasa (LASP), Universitas Colorado, Amerika Serikat, pada 28 Januari 2021, Sarah binti Yusuf Al Amiri menyebut pembentukan badan ruang angkasa Uni Emirat Arab (UEA) pada 2013 menjadi momen penting tatkala Timur Tengah menderita akibat esktremisme dan konflik berkepanjangan.

“Badan antariksa ini memberikan proposisi nilai yang berlainan dengan ekstremisme, pergolakan dan instabilitas,” kata al-Amiri yang menjadi otak di balik misi luar angkasa Hope atau Al Amal yang sukses mencapai Mars 9 Februari 2021 lalu.

Sebagai perbandingan, Indonesia jauh lebih dulu ketimbang UEA karena sejak 27 November 1963 sudah memiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), tetapi kemajuan yang dicapai UEA memang luar biasa.

Sarah Al Amiri, perempuan 34 tahun yang juga ibu 2 anak yang salah satunya bocah berumur 11 tahun penggemar berat film “Star Wars” itu, adalah juga menteri sains UEA, sekaligus kepala badan antariksa negara itu (UAESA) dan majelis ilmuwan UEA.

Ketika misi wahana antariksa Al Amal (HOPE) diluncurkan di Pusat Antariksa Tanegashima, Jepang, pada 20 Juli 2020, Sarah Al Amiri seketika menjadi pusat perhatian dunia.

Perhatian kepada perempuan yang sejak kecil antusiastis kepada ruang angkasa itu kian besar saja manakala Al Amal sukses mencapai Planet Mars sehingga UEA menjadi negara kelima di dunia yang berhasil mencapai Planet Merah. UEA juga menjadi negara Arab pertama yang meluncurkan misi antarplanet.

Keberhasilan Misi Mars itu tak hanya menguakkan lebih dalam siapa Sarah al-Amiri dan UEA, namun juga membangkitkan kembali romantisme Islam yang di masa lalu amat memuliakan sains namun kini gaungnya tertutup oleh bisingnya ekstremisme dan puritanisme.

Berhijab syar’i dan lulusan American University of Sharjah yang mendapatkan akreditasi dari Amerika Serikat, al-Amiri menjadi representasi utuh mengenai bagaimana UEA memuliakan wanita, kesetaraan, toleransi dan sains.

Ada kisah menarik ketika tim al-Amiri yang 30 persennya wanita pertama kali bekerja untuk merancang dan membuat wahana antariksa ke Mars di Boulder, Colorodo, Amerika Serikat. Cara berpakaian mereka yang membuat mereka tampak mencolok di mata rekan-rekannya dari AS saat itu.

“Hijab kami saat itu membuat kami menjadi perhatian,” kata Fatma Lootah, insinyur kimia yang mengerjakan spektrometer ultraviolet pada Misi Mars UEA. Namun itu tak lama karena mereka segera menyatu dengan tim yang warni warni budaya dan keyakinannya.

Mereka berbalik akrab, bahkan di luar proyek sains. Mereka berbagai data dan diskusi setiap waktu. Pakaian dan perbedaan keyakinan tak bisa memupus hasrat bersama memuliakan sains sampai akhirnya Al Amal selesai untuk kemudian diluncurkan di Jepang pertengahan tahun lalu.

Sejak kecil berminat dengan ruang angkasa.

Semasa kecil di Abu Dhabi, Sarah Al Amiri sudah terpesona kepada langit dan ruang angkasa. Tetapi saat dia kecil itu negaranya masih lah tahunan cahaya dari mencapai bintang gemintang.

Sarah Al Amiri kecil tak lepas memandang citra-citra dari galaksi nun jauh di angkasa luar sana. Dia terpesona oleh “bintang-bintang, tata surya, planet, semua objek di luar sana yang secara numerik tak bisa kita pahami”.

“Lebih-lebih lagi pada bagaimana ilmuwan menjelajahinya, baik dengan teleskop, pesawat ruang angkasa, maupun citra radio,” kata dia kepada AFP. Saat itu Abu Dhabi dan Dubai belumlah menjadi metropolitan yang penuh gedung pencakar langit seperti sekarang.

Namun kemudian, pembangunan besar-besaran yang dimodali minyak membuat UEA maju pesat dalam segala bidang sampai pada 2019 mereka berhasil mengirimkan astronot pertamanya, Hazza Al Mansouri, ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada 2019.

Pencapaian itu disempurnakan oleh Al Amal dengan sukses mencapai Mars 3 hari lalu yang seketika melontarkan lagi Sarah Al Amiri sebagai inspirasi bangsanya dan dunia Arab dalam merangkul sains.

BBC bahkan memasukkan dia dalam daftar 100 wanita paling inspiratif dan berpengaruh di dunia pada 2020. Dia juga telah menjadi wajah lain dari budaya paternalistik UEA yang bersanding amat serasi dengan pemuliaan perempuan di mana wanita diagungkan sebagai subjek, bukan objek.

Misi Al Amal juga menjadi kemenangan kaum wanita UEA, apalagi 34 persen anggota misi Mars UEA adalah wanita, sedangkan perempuan mengambil porsi 80 persen dari tim sains di negeri itu.

Sarah Al Amiri telah menjadi inspirasi kaum wanita dan generasi muda UEA, bahkan dunia Arab, untuk mendalami pula sains, sekalipun mereka sadar pada posisi istimewa perempuan dalam keluarga, termasuk sebagai ibu.

Walaupun representasi wanita di dunia kerja rendah, hanya 28 persen, namun di bidang sains, wanita UEA mengambil porsi 56 persen lulusan sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM). Angka ini di atas rata-rata dunia.

70 persen sarjana di UEA adalah perempuan. Dan memang, seperti disebut Maya El-Hachem dari Boston Consulting Group di Dubai, kaum wanita negeri ini lebih antusiastis mengejar pendidikan tinggi ketimbang kaum prianya yang lebih suka berbisnis.

Sebagian wanita memilih tak bekerja karena tradisi bahwa perempuan harus di rumah juga masih kuat. Tetapi, menurut Sarah Al Amiri keadaan ini berubah drastis dalam 50 tahun terakhir.

“Pandangan mengenai peran wanita menjadi semakin liberal setiap tahun,” kata Sarah Al Amiri seperti ditulis jurnal Nature. Salah satu gambarannya, dalam 10 tahun terakhir peran wanita dalam pemerintahan meningkat pesat di mana kini dua per tiga pegawai negeri di UEA adalah wanita. Pun dalam kabinet, di mana seperempatnya diisi perempuan, termasuk Al Amiri saat ini.

Bukan kemewahan, bukan gimik.

Sarah Al Amiri berkata, “Misi Mars Emirat ini telah menginspirasi bangsa dalam menatap masa depan dan menatap angkasa.” Padahal resonansi inspirasi Misi Al Amal jauh melewati UEA karena juga mendorong dunia Islam mendekati kembali sains.

Misi Al Amal menjadi pesan amat kuat bagi dunia Muslim agar merangkul pendidikan dengan cara yang lebih fokus dan berorientasi pada inovasi.

Misi Al Amal memicu kerja keras dunia Muslim guna mengambil kembali posisi unggul dalam penelitian dan inovasi ilmiah agar menempati lagi ruang yang dulu dimiliki umat Islam dalam pemajuan dunia.

Negara-negara Muslim mesti mengikuti langkah UAE menggunakan sumber dayanya dengan lebih cermat dalam pendidikan, pembangunan dan kemajuan, ketimbang terus terlibat dalam pertengkaran politik dan aliran yang tak berujung yang tak saja mengeraskan perbedaan namun juga membuat tertinggal dari bagian dunia lainnya.

Faktanya, seperti disebut jurnal Nature, demam ruang angkasa kini menyebar ke seantero kawasan. Arab Saudi dan Bahrain mengikuti UEA mendirikan badan antariksanya beberapa tahun lalu.

Lalu awal 2020, UEA memimpin konsorsium 11 negara Arab untuk membuat satelit pengawas cuaca di Pusat Sains dan Teknologi Antariksa Nasional (NSSTC) di Universitas UEA.

UEA bahkan ambil bagian dalam proyek kolonisasi Mars pada 2117. Tapi sebelum ke situ, mereka berambisi memancangkan dulu tonggak penting dengan mendaratkan manusia di Bulan pada 2024.

Tetapi bagi UEA yang berambisi membentuk generasi yang mampu merancang dan membuat misi ruang angkasanya sendiri, ambisi antariksa bukanlah demi gengsi, melainkan tuntutan alamiah bagi bangsa yang dipaksa memikirkan alternatif dan skenario masa depan di mana minyak tak bisa lagi ditambang.

“Bagi kami, ini bukan kemewahan. Ini bukan gimik. Ini kebutuhan mutlak dalam mengembangkan keterampilan dan kemampuan serta pembangunan sebuah bangsa secara keseluruhan,” kata Sarah Al Amiri.

Sungguh pandangan jauh ke depan yang amat berani dari negara kecil nan kaya raya yang patut diadopsi siapa pun, termasuk oleh Indonesia yang sejak 1963 sudah memiliki LAPAN, dirilis Antara (Jafar M Sidik / Fitri Supratiwi), Jumat, 12-2-2021.