Satelit Lapan Diluncurkan 27 September 2015

Satelit Lapan A2/Orari (kiri) menjalani persiapan akhir di Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Rancabungur, Bogor, Senin (31/8/2015). Mikro satelit dengan berat 78 kilogram itu akan diluncurkan pada 27 September 2015 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, India. (Lastri Kurnia/Kompas)

Satelit Lapan Diluncurkan 27 September 2015 1

Setelah tertunda 3 tahun, satelit LAPAN A2/ORARI buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akhirnya siap diluncurkan 27 September 2015. Dilepas oleh Presiden Joko Widodo Kamis (3/9/2015) dari Pusat Teknologi Satelit LAPAN di Rancabungur, Bogor, satelit siap berperan menjaga kedaulatan Indonesia dari antariksa.

Kepala Pusat Teknologi satelit LAPAN, Suhermanto, mengatakan, satelit berukuran 50 cm x 47 cm x 38 cm itu punya instrumen Automatic Identification System (AIS). Dengan instrumen tersebut, LAPAN A2/ORARI mampu memantau laut Indonesia hingga rentang jarak 2.000 kilometer.

“Satelit bisa menangkap data-data yang ditransmisikan oleh kapal-kapal. Data-data yang ditangkap direkam dan saat satelit melintasi wilayah kita, kita bisa mengunduhnya,” ungkap Suhermanto. “Kita bisa tahu kapal-kapal yang melintasi perairan Indonesia.”

LAPAN memang tidak memiliki wewenang secara langsung dalam bidang kemaritiman. Namun, data-data satelit itu bisa diserahkan ke ororitas maritim seperti direktorat perhubungan laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan pihak berwenang lainnya.

“Saat ini pemantauan kapal yang lewat itu dari pelabuhan. Kendalanya kalau dengan cara itu jangkauannya terbatas, hanya beberapa kilometer. Dengan satelit ini maka jangkauan pemantauannya lebih luas,” ujar Suhermato kepada Kompas.com.

Suhermanto menambahkan, LAPAN A2/ORARI juga memiliki instrumen Automatic Packet Reporting System (APRS). Bila dipadu dengan instrumen pemancaar di darat, maka satelit bisa mengetahui lokasi dan kondisi daerah tertentu. Ini berguna untuk pemantauan wilayah terluar Indonesia dan area yang terdampak bencana.

“Ke depan dengan ORARI kita berencana memasang menara di daratan pulau-pulau terluar. Ketika satelit lewat, data tentang lokasi dan kondisi pulau terluar bisa dipancarkan. Terkait kedaulatan, itu membantu kita mengatakan bahwa pulau itu sidah tercatat dalam data satelit kita,” jelasnya.

Pakar kelautan dari Institut Pertanian Bogor, Alan F Koropitan, mengapresiasi keberhasilan LAPAN dalam pengembangan satelit. “Satelit LAPAN A2 tentunya sangat bermanfaat untuk pemantauan laut dan juga darat, selain memantau pergerakan kapal dan juga radio amatir berbasis APRS.”

Alan mengungkapkan, satelit di masa depan memang sangat dibutuhkan untuk mendukung kedaulatan laut. Penanganan perikanan ilegal menurut Food and Agricultural Organization (FAO) yang mensyaratkan adanya log book perikanan, vessel monitoring system, dan lainnya membutuhkan sistem komunikasi yang aman.

“Untuk menunjang kedaulatan maritim, misalnya penanganan IUU Fishing dan juga pertahanan keamanan, kita membutuhkan sistem komunikasi yang aman. Ini hanya bisa dilakukan jika kita memiliki satelit komunikasi sendiri,” kata Alan. “Tidak bisa meminjam satelit negara lain.”

LAPAN A2/ORARI sebenarnya telah selesai dikembangkan tahun 2012. Namun, masalah fasilitas peluncuran membuat operasi satelit ini tertunda. Satelit ekuatorial berbobot 78 kilogram itu akan melewati wilayah Indonesia 14 kali dalam sehari sehingga data-data yang dihasilkan bisa terus diperbarui dengan cepat walaupun tidak real time.

Usai LAPAN A2, LAPAN kini tengah menyiapkan satelit LAPAN A3. Berbeda dengan A2 yang memantau dengan kamera video, A3 menggunakan imager. Fokus LAPAN dalam pengembangan A3 adalah pembuatan satelit polar yang stabil. Rencananya, A3 akan diluncurkan pertengahan tahun depan.

Kompas.com

Leave a Reply